cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Acta Pharmaceutica Indonesia
ISSN : 0216616X     EISSN : 27760219     DOI : -
Core Subject :
Acta Pharmaceutica Indonesia merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu farmasi sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): farmasetika, kimia farmasi, biologi farmasi, bioteknologi farmasi, serta farmakologi dan farmasi klinik. Acta Pharmaceutica Indonesia is the official journal published by School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung. The journal covers all aspects of pharmaceutical issues which includes these following topics (but not limited to): pharmaceutics, pharmaceutical chemistry, biological pharmacy, pharmaceutical biotechnology, pharmacology and clinical pharmacy.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 42 No. 1 (2017)" : 7 Documents clear
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL AKAR, BUNGA, DAN DAUN TURI (SESBANIA GRANDIFLORA L. POIR) Neng Fisheri Kurniati; Afrillia Nuryanti Garmana; Nur Aziz
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPada masa kini semakin banyak ditemukan kasus infeksi terhadap bakteri dan jamur termasuk terhadap mikroba yang resisten. Pengembangan agen antimikroba baru perlu dilakukan dan salah satunya dapat berasal dari bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan antijamur ekstrak etanol akar, bunga, dan daun turi (Sesbania grandiflora L. Poir) terhadap mikroba uji, di antaranya Staphylococcus aureus, Methicilin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Candida albicans. Aktivitas antibakteri dan antijamur ditentukan dengan metode mikrodilusi untuk mendapatkan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) masing-masing ekstrak terhadap mikroba uji. Selanjutnya dilakukan penentuan sifat kombinasi dari ekstrak yang potensial sebagai antimikroba dengan obat sintetik seperti vankomisin atau meropenem dengan metode difusi agar menggunakan pita kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga ekstrak etanol bagian tanaman turi, hanya bagian daun yang memiliki aktivitas antimikroba, yaitu terhadap S. aureus, MRSA, dan C. albicans. Aktivitas ekstrak etanol daun turi terhadap MRSA memiliki KHM dan KBM yang paling rendah secara berturut-turut yaitu 64 dan 2048 μg/mL. Kombinasi ekstrak etanol daun turi dengan vankomisin atau meropenem terhadap MRSA bersifat aditif.Kata kunci: Antibakteri, Antijamur, Sesbania grandiflora L. Poir, KHM, KBMANTIBACTERIAL AND ANTIFUNGAL ACTIVITIES OF ETHANOL EXTRACT OF THE ROOTS, FLOWERS, AND LEAVES OF TURI (SESBANIA GRANDIFLORA L. POIR)ABSTRACTNowadays, the cases of infection by bacteria and fungi including resistant microbes are increasing. The development of new antimicrobial agents needs to be done and one of them can be derived from natural sources. This study aims to determine antibacterial and antifungal activity of ethanol extract of the roots, flowers, and leaves of turi (Sesbania grandiflora L. Poir) against some microbes including Staphylococcus aureus, Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, and Candida albicans. Antibacterial and antifungal activity was determined by microdilution method to obtain the value of Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal/Fungicidal Concentration (MBC) of each extract against tested microbes. Furthermore, the determination of the extract with potential activity in combination with synthetic drugs (i.e. vancomycin or meropenem) using agar diffusion method by using paper strips. Of the three ethanol extracts of different part of turi, only the leaves part have a potential antimicrobial activity against S. aureus, MRSA, and C. albicans. The lowest values of MIC and MBC were showed in the ethanol extract of turi leaves against MRSA which were 64 dan 2048 μg/mL, respectively. The combination of the ethanolextract of turi leaves with vancomycin or meropenem against MRSA showed an additive interaction.Keywords: Antibacterial, Antifungal, Sesbania grandiflora L. Poir, MIC, MBC
EVALUATION OF DRUG MANAGEMENT AND SERVICE QUALITY OF SEVERAL PUBLIC PRIMARY HEALTH CARE PHARMACIES IN BANDUNG Rizki Siti Nurfitria; Akhmad Priyadi; Sepriantina Sepriantina
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTIn national health coverage era, public primary health care pharmacy must be supported by good drug management and service quality. These include human resources, pharmaceutical inventory management, and pharmacy service quality. This paper empirically evaluates the drug management that consist of planning, procurement, storage, distribution, and documentation aspects; and also how patients perceived pharmacy service quality. The research used observational descriptive design through triangulation method (observation, interview and checklist) for drug management evaluation in two primary public HCs and a self-completion Likert-scale SERVQUAL questionnaire was developed using a convenience sampling technique, given to 794 patients from three Primary public HCs that received medicine from pharmacy. This survey included five service quality dimensions; tangibility, reliability, responsiveness, assurance and empathy. The drug management in two primary public HCs had been categorized as having excellent management with the mean score 88.89% and 89.58% of all aspects and gap analysis showed mean gap score for five service quality dimensions of -0.98; -0.83 for responsiveness, -0.91 for reliability, -0.81 for assurance, -1.47 for empathy, -0.89 for tangibility, showing that patient expectation was still not met. Satisfaction level for pharmacy service was 79.53 % which is categorized as excellent. This paper provides useful information to primary public health care provider that the pharmacy unit is not providing service quality level expected by patients and needs improvement in many variables.Keywords: Drug Management, Service Quality, Pharmacy, Public Primary Health Care, EvaluationEVALUASI PENGELOLAAN OBAT DAN KUALITAS PELAYANAN KEFARMASIAN DI BEBERAPA PUSKESMAS DI KOTA BANDUNGABSTRAKDi era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), unit farmasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama milik pemerintah dalam hal ini Puskesmas, harus didukung oleh pengelolaan obat dengan kualitas pelayanan yang baik. Hal ini meliputi sumber daya manusia (SDM), manajemen persediaan obat dan kualitas pelayanan farmasi. Penelitian ini mengevaluasi pengelolaan obat yang terdiri dari aspek perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan pencatatan serta mengevaluasi kualitas pelayanan farmasi di Puskesmas. Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif melalui metode triangulasi untuk mengevaluasi pengelolaan obat dua Puskesmas (observasi, wawancara dan checklist) dan kuesioner SERVQUAL dengan skala Likert untuk mengevaluasi kualitas pelayanan yang diberikan kepada 794 pasien yang memperoleh obat di tiga Puskesmas secara convenience sampling berkaitan dengan lima dimensi kualitas: bukti langsung, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati. Pengelolaan obat di dua Puskesmas dikategorikan sangat baik dengan nilai rata-rata seluruh aspek 88,89% dan 89,58%. Hasil analisis celah menunjukkan nilai celah rata-rata seluruh dimensi kualitas -0,98; daya tanggap -0,83, kehandalan -0,91, jaminan -0,81, empati -1,47, bukti langsung -0,89, mengindikasikan bahwa harapan pasien belum terpenuhi. Tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan farmasi 79,53 % dan dikategorikan sangat baik. Penelitian ini memberikan informasi yang berguna bagi Puskesmas bahwa unit farmasi terkait belum dapat memberikan taraf kualitas pelayanan yang diharapkan oleh pasien dan memerlukan perbaikan dalam berbagai aspek.Kata kunci: Pengelolaan Obat, Kualitas Pelayanan, Unit Farmasi, Puskesmas, Evaluasi
ISOLATION AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF SOIL-DERIVED FUNGI FROM TAMAN BOTANI NEGARA, SHAH ALAM, MALAYSIA Marlia Singgih; Elin Julianti; Muhammad Daniaal Radzali
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTFungi are eukaryotic organisms that consist of unicellular organisms, namely molds and yeasts, and multicellular organism known as mushrooms. In the medical field, fungi have a significant contribution as they are widely used as sources for discovering a lot of novel antibiotics. As the preliminary study, this paper presents the isolation of soil-derived fungi from Malaysian forest as resources for finding the new antibiotics and their test of antibacterial activity against Bacillus subtilis and Escherichia coli. The fungi their selves were isolated by using Sabouraud dextrose agar (SDA) medium. The pure fungi isolates were screened for their antibacterial activity by using disk diffusion method. The active fungi were fermented in Sabouraoud dextrose broth (SDB) medium for 21 days. Culture media and mycelium were separated by filtration method. The culture broth was extracted by liquid-liquid extraction and mycelium was extracted by maceration method using ethyl acetate. The antibacterial activity of the dried extracts was determined by using the microdilution method. The isolation step resulted in five fungal strains coded S1-S5. The antibacterial assay showed that the extract of fungal broth medium of S3 had the highest antibacterial activity against B. subtilis with MIC value of 64 μg/mL and S1 against E. coli with MIC value of 32 μg/mL. Based on these MIC values, these can be classified as significant antibacterial activities as well. Thus, these extracts could be potentially useful for the development a new therapeutic agent bacterial infections.Keywords: antibacterial activity, Bacillus subtilis, Escherichia coli, fungi, isolation.ISOLASI DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI JAMUR ASAL TANAH TAMAN BOTANI NEGARA, SHAH ALAM, MALAYSIAABSTRAKJamur merupakan organisme eukariotik yang terdiri dari organisme uniseluler yaitu kapang dan ragi, dan organisme multiseluler yang dikenal sebagai jamur. Jamur memiliki kontribusi yang besar terhadap bidang kesehatan karena merupakan sumber yang banyak digunakan dalam pencarian kandidat antibiotik baru. Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi jamur yang berasal dari tanah hutan Malaysia sebagai sumber pencarian antibiotik baru dan menentukan aktivitas antibakterinya terhadap Bacillus subtilis dan Escherichia coli. Isolasi jamur dari sampel menggunakan media agar Sabouraud dextrose (SD). Skrining aktivitas antibakteri dilakukan terhadap isolat jamur murni dengan metode difusi agar. Isolat jamur yang aktif selanjutnya di fermentasi dengan medium cair SD selama 21 hari. Kultur media dan miselia dipisahkan dengan menggunakan metode filtrasi. Bagian kultur media di ekstraksi dengan ekstraksi cair-cair (ECC) sedangkan bagian miselium diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etil asetat. Ekstrak kering diuji aktivitas antimikrobanya terhadap bakteri uji dengan metode mikrodilusi. Hasil dari penelitian ini diperoleh lima strain jamur yang diberi kode S1-S5. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak kultur media jamur S3 mempunyai aktivitas antibakteri yang paling tinggi terhadap B. subtilis dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 64 μg/mL dan jamur S1 terhadap E. coli dengan KHM sebesar of 32 μg/mL. Berdasarkan nilai KHMnya kedua jamur tersebut diklasifikan mempunyai aktivitas antibakteri yang signifikan. Ekstrak jamur tersebut berpotensi berguna untuk pengembangan senyawa terapetik yang baru untuk melawan infeksi bakteri.Kata kunci: aktivitas antibakteri, Bacillus subtilis, Escherichia coli, isolasi, jamur
FORMULASI DAN UJI POTENSI ANTIOKSIDAN NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) RETINIL PALMITAT Framesti Frisma Sriarumtias; Sasanti Tarini Darijanto; Sophi Damayanti
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Retinil palmitat (RP) merupakan golongan retinioid, yaitu ester vitamin A (Retinol) yang memiliki gugus palmitat pada ujung rantainya. Retinil palmitat banyak digunakan sebagai antioksidan dan anti kerut dalam industri kosmetika. Hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi RP yaitu menjaga stabilitas dari panas, cahaya dan oksigen, sehingga perlu dicari sistem yang mampu melindungi RP dari degradasi. Salah satunya dibuat dalam sistem Nanostructured lipid carriers (NLC), sebagaimana diketahui bahwa NLC merupakan sistem penghantaran obat yang bisa meminimalisir degradasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem penghantaran NLC untuk meningkatkan stabilitas serta potensi antioksidan dan meningkatkan difusi RP melalui kulit. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan NLC dengan metode teknik mikroemulsi yaitu 4% PEG-8 beeswax dan 4% Isopropil miristat sebagai lipid padat dan lipid cair, 13% Polisorbat 80 sebagai surfaktan, dan 10% Sukrosa stearat sebagai kosurfaktan. Karakterisasi yang dilakukan yaitu pengukuran ukuran partikel dan polidisperistas indeks, efisiensi penjerapan, uji difusi dengan Franz diffusion cell, karakterisasi morfologi dengan Transmission electron microscopy (TEM) dan uji aktivitas antioksidan dengan DPPH. NLC-RP memiliki ukuran partikel 65,63±1,09 nm, indeks polidispersitas 0,32±0,07, efisiensi penjerapan 94,55±0,76%, hasil uji difusi tertinggi yaitu pada NLC-RP 52,58±4,37%, diikuti krim NLC-RP 36,36±1,46%, krim RP 18,70±2,13% dan emulsi RP 18,22±1,50%. Uji stabilitas fisika dan kimia NLC-RP disimpan selama 60 hari pada suhu 25°C RH 65% dan 40°C RH 75% menunjukan bahwa tidak ada perubahan pada kondisi tersebut. Dari penelitian ini didapat kesimpulan bahwa NLC-RP mampu menjaga stabilitas retinil palmitat. Sedangkan NLC-RP yang dimasukan kedalam krim mengalami penurunan kadar sebanyak 58,15% pada suhu ruang dan 70,05% pada suhu 40°C serta penurunan potensi antioksidan akibat keberadaan basis krim.Kata kunci: antioksidan, DPPH, nanostructured lipid carrier, retinil palmitatRETINYL PALMITATE NANOSTRUCTURED LIPID CARRIER (NLC) FORMULATION AND ANTIOXIDANT POTENTIAL TEST ABSTRACT Retinyl palmitate (RP), member of retinoid family is an ester of retinol with palmitate functional group at the end of the chain. RP is commonly used as antioxidants and anti-wrinkle component in cosmetic industry. RP instability requires a formulation system which makes it stable against heat, light and oxygen, such as Nanostructured Lipid Carriers (NLC). NLC is known as notable drug delivery system to minimize degradation. The aim of this research is to develop NLC delivery system to improve stability and antioxidant activity and increase RP diffusion through the skin. Materials used in NLC formulation were obtained using microemulsion technique are 4% PEG-8 beeswax and 4% isopropyl myristate as lipids in solid and liquid form, respectively; 13% polysorbate 80 as surfactant and 10% sucrose stearate as cosurfactant. Characterization NLC were evaluated using particle size measurement, polydispersity index, entrapment efficiency, in vitro diffusion testing using Franz diffusion cell, morphological characterization using Transmission Electron Microscopy (TEM) and antioxidant activity using DPPH. Particle size of NLC-RP was 65,63±1,09 nm, polydispersity index of 0,32±0,07, entrapment efficiency of 94,55±0,76%. Penetration result showed liquid NLC-RP difusion the highest 52,58±4,37%, followed by NLC-RP in cream 36,36±1,46%, RP in cream 18,70±2,13% and RP in emulsion 18,22±1,50%. Physical and chemical stability testing NLC-RP were stored for 60 days at 25°C RH 65% and 40°C RH 75%, the results shown there are no changed in these condition. Research results showed NLC-RP is able to maintain stability of RP, meanwhile NLC RP in cream formulation shows 58.15% amount decrease in room temperature and 70.05% amount decrease at 400C, and antioxidant activity decrease due to cream formulation.Keywords: antioxidant, DPPH, nanostructured lipid carrier, retinyl palmitate
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI LIMA BELAS JENIS MUTU TEH HITAM ORTODOKS ROTORVANE DAN TEH PUTIH (CAMELLIA SINENSIS VAR. ASSAMICA) PADA STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 6538 Muhamad Insanu; Ida Maryam; Dadan Rohdiana; Komar Ruslan Wirasutisna
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKCamellia sinensis (L.) Kuntze atau teh merupakan tumbuhan yang berasal dari suku theceae, digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.  Secara tradisional teh digunakan sebagai obat kumur hal ini diperkuat oleh beberapa penelitian sebelumnya yang membuktikan aktivitas antibakteri terhadap bakteri yang ada pada rongga mulut antara lain Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakteri dari lima belas mutu teh hitam dan teh putih yang diekstraksi dengan pelarut yang berbeda kepolaran. Serbuk simplisia daun teh diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut dengan kepolaran yang meningkat, yaitu n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak difraksinasi menggunakan ekstraksi cair-cair. Seluruh ekstrak dan fraksi diuji aktivitas antibakterinya terhadap Staphylococcus aureus ATCC6538 menggunakan metode mikrodilusi dan difusi agar. Fraksi yang paling kuat aktivitas antibakterinya diuji menggunakan biaoautografi. Hasil percobaan menunjukkan ekstrak etanol teh putih memiliki aktivitas antibakteri yang paling kuat dengan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) 78,13 μg/mL, sedangkan berbagai macam ekstrak teh hitam KHM-nya bervariasi antara 625-2500 μg/mL. Fraksi etil asetat dari ekstrak etanol teh putih memiliki aktivitas paling kuat dengan nilai KHM 156,25 μg/mL. Hasil bioautografi fraksi etil asetat menunjukkan hambatan pertumbuhan bakteri S. aureus pada nilai Rf 0,5 dan 0,76. Berdasarkan reaksi warna kedua nilai Rf ini termasuk golongan  flavonoid.Kata kunci: antibakteri, Staphylococcus aureus, teh putih, teh hitam orthodoxEVALUATION ON ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF FIFTEEN DIFFERENT CLASSES OF ORTHODOX ROTORVANE BLACK TEA AND WHITE TEA (CAMELLIA SINENSIS VAR. ASSAMICA) AGAINST STAPHYLOCOCCUS AUREUS ATCC 6538ABSTRACTCamellia sinensis (L.) Kuntze or tea is a plant belonging to Theaceae family. It can be classified into four different classes, which are black tea, oolong tea, green tea and white tea. Traditionally, tea was used as a mouthwash. It was strengthened by previous researches; tea had antibacterial activity especially against bacteria that live in the oral cavity such as Staphylococcus aureus. The aim of this study was to evaluate the antibacterial activity of 15 different classes of black tea and white tea which were extracted by various organic solvents. The crude drugs were obtained by maceration using three different solvents, which were n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The extract was fractionated by liquid-liquid extraction. All extracts and fractions were evaluated their antibacterial activity using microdilution and disc diffusion. The strongest antibacterial fraction was continued to bioautography assay. Based on the result the ethanol extract of white tea showed the strongest activity with the Minimum Inhibition Concentration (MIC) was 78.13 μg/mL while the other extracts of black tea were ranged between 625-2500 μg/mL. Ethyl acetate fraction of white tea ethanol extract had MIC value which was 156.25 μg/mL.  Bioautography showed the rf values of 0.5 and 0.76 inhibited the growth of bacteria. Based on spot test, they were flavonoid compounds.Keywords: antibacterial, Staphylococcus aureus, white tea, orthodox black tea
ANALISIS KESESUAIAN DOSIS PADA PASIEN GANGGUAN FUNGSI GINJAL DI SUATU RUMAH SAKIT PENDIDIKAN DI KOTA BANDUNG Zulfan Zazuli; Tomi Hendrayana; Bhekti Pratiwi; Cherry Rahayu
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenurunan fungsi ginjal dapat memicu masalah terkait obat akibat terjadinya akumulasi senyawa obat dan timbulnya gangguan patologis lain. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian dosis yang terjadi pada pasien gangguan fungsi ginjal dan menilai sensitivitas pustaka acuan dalam mendeteksi ketidaksesuaian dosis. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi retrospektif pada 266 sampel pasien rawat inap dengan gangguan fungsi ginjal di suatu rumah sakit pendidikan di Kota Bandung pada periode Januari-Maret 2015. Pasien yang diteliti adalah pasien yang menggunakan salah satu atau lebih obat yang diteliti dengan kriteria obat memerlukan penyesuaian dosis, paling banyak digunakan, dan obat untuk komorbid. Kriteria Penggunaan Obat (KPO) untuk 10 obat yang diteliti kemudian dibuat berdasarkan AHFS 2014, DIH 2015 dan Seyffart 2011 dan digunakan sebagai dasar dalam analisis kesesuaian dosis. Dari 176 pasien yang memiliki data mencukupi, terdapat kejadian hari tidak tepat dosis sebesar 54,59% berdasarkan pustaka AHFS-DIH dan 34,96% berdasarkan pustaka Seyffart dari total hari pemberian obat untuk setiap pasien (p<0,05). Pustaka AHFS dan DIH lebih sensitif dalam mendeteksi ketidaksesuain dosis daripada Seyffart. Tingginya persentase ketidaksesuaian dosis menunjukkan diperlukannya pemantauan penggunaan obat terutama dalam aspek pemberian dosis secara terus menerus untuk mengurangi kejadian masalah terkait obat dan memperlambat progresivitas penyakit.Kata kunci: masalah penggunaan obat; gangguan fungsi ginjal; asuhan kefarmasianANALYSIS OF DOSE ADJUSTMENT IN PATIENTS WITH RENAL DYSFUNCTION AT A TEACHING HOSPITAL IN BANDUNGABSTRACTRenal impairment might lead to drug related problems resulted from drug accumulation of drug and other pathological disorders. This study aimed to identify inappropriate dosage on renal impairment patients and investigate sensitivity of literature used for the dosage adjustment. A restrospective observational study was conducted on 266 sample of inpatients with impaired renal function in an academic hospital in January "“ March 2015 period. The patients studied were patients who used one or more selected drugs with the criteria of drugs requiring dose adjustment, most widely used drugs, and drugs to treat comorbids. The Drug Use Criteria (KPO) for the 10 drugs studied was then made based on AHFS 2014, DIH 2015 and Seyffart 2011 and used as a basis for dose conformity analysis. From 176 patients with sufficient data, there was a 54.59% and 34.96% of the total inpatient days was found to have inappropriate dosing based on AHFS-DIH and Seyffart respectively (p<0.05). The AHFS and DIH libraries are more sensitive in detecting dose nonconformities than Seyffart. The high percentage of dose discrepancy indicates the need for monitoring of drug use especially in the aspect of continuous dosing to reduce the incidence of drug related problems and slow the progression of the diseaseKeywords: drug-related problems; kidney disease; pharmaceutical care
Front Matter Vol 42 No 1 (2017) Acta Pharmaceutica Indonesia
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 42 No. 1 (2017)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 7