cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue " Vol 10, No 2 (2003)" : 4 Documents clear
Kajian Termis pada Beberapa Material Dinding untuk Ruang Bawah Tanah Kusuma, I Gusti Bagus Wijaya
Jurnal Teknik Sipil Vol 10, No 2 (2003)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.821 KB)

Abstract

Abstrak. Karena terbatasnya lahan yang tersedia di kodya Denpasar, pembangunan ruang bawah tanah khususnya pusat perbelanjaan dan perkantoran dewasa ini telah semakin meluas. Banyak bangunan komersial yang kini telah memiliki ruang bawah tanah, namun karena perencanaan pengkondisian udaranya yang kurang baik, menyebabkan kurang optimalnya penggunaan ruang bawah tanah tersebut untuk aktivitas dan egiatan manusia.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan besarnya pertukaran panas pada dinding bangunan di bawah tanah. Pertukaran panas tersebut selanjutnya dipergunakan untuk mengetahui tingkat kenyamanan termis dari penghuni dengan jalan menghitung laju metabolisme tubuh manusia. Material selubung bangunan yang baik adalah material yang mampu mempertukarkan kalor sekecil – kecilnya serta menghasilkan laju metabolisme tubuh yang serendah – rendahnya. Dalam penelitian ini akan diuji beberapa kombinasi material dinding bangunan agar mampu memenuhi kriteria tersebut. Kajian terhadap kombinasi material ini untuk mencari susunan terbaik dari material penyusun selubung bangunan. Ditemukan bahwa kombinasi semen dan pasir, batu bata dan batu palimanan memberikan pertukaran panas terkecil dan kenyamanan termis terbaik bagi metabolisme tubuh.Abstract. Due to the land limitation in Denpasar area, development of underground especially for shopping malls and offices was growth rapidly. Most commercial buildings have underground area, but the failure on the design of air conditioning system caused the un-optimize of underground area for activity and human living. This research aims to compare the heat transfer rate on the wall of underground buildings. The heat transfer rate is used to understand the thermal comfort level of occupants by taking into account the human metabolic rate. The best material of buildings envelope must be able to transfer the smallest heat between the room to its surrounding and produce the smallest metabolic rate of occupants. This research compares several kinds of material in order to find those criteria. It found that combination of cement, brick and palimanan stone have been able to produce the smallest heat transfer rate and metabolic rate of occupants.AbstrakKarena terbatasnya lahan yang tersedia di kodya Denpasar, pembangunan ruang bawah tanah khususnya pusatperbelanjaan dan perkantoran dewasa ini telah semakin meluas. Banyak bangunan komersial yang kini telahmemiliki ruang bawah tanah, namun karena perencanaan pengkondisian udaranya yang kurang baik, menyebabkankurang optimalnya penggunaan ruang bawah tanah tersebut untuk aktivitas dan kegiatan manusia.Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan besarnya pertukaran panas pada dinding bangunan di bawahtanah. Pertukaran panas tersebut selanjutnya dipergunakan untuk mengetahui tingkat kenyamanan termis daripenghuni dengan jalan menghitung laju metabolisme tubuh manusia. Material selubung bangunan yang baikadalah material yang mampu mempertukarkan kalor sekecil – kecilnya serta menghasilkan laju metabolismetubuh yang serendah – rendahnya. Dalam penelitian ini akan diuji beberapa kombinasi material dinding bangunanagar mampu memenuhi kriteria tersebut. Kajian terhadap kombinasi material ini untuk mencari susunanterbaik dari material penyusun selubung bangunan. Ditemukan bahwa kombinasi semen dan pasir, batu batadan batu palimanan memberikan pertukaran panas terkecil dan kenyamanan termis terbaik bagi metabolismetubuh.AbstractDue to the land limitation in Denpasar area, development of underground especially for shopping malls and officeswas growth rapidly. Most commercial buildings have underground area, but the failure on the design of airconditioning system caused the un-optimize of underground area for activity and human living. This researchaims to compare the heat transfer rate on the wall of underground buildings. The heat transfer rate is used tounderstand the thermal comfort level of occupants by taking into account the human metabolic rate. The bestmaterial of buildings envelope must be able to transfer the smallest heat between the room to its surroundingand produce the smallest metabolic rate of occupants. This research compares several kinds of material in orderto find those criteria. It found that combination of cement, brick and palimanan stone have been able to producethe smallest heat transfer rate and metabolic rate of occupants.
Evaluasi Wilayah dan Pengenalan Lokasi untuk Keperluan Rekayasa Ismullah, Ishak Hanafiah
Jurnal Teknik Sipil Vol 10, No 2 (2003)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.215 KB)

Abstract

Abstrak. Berbagai macam karakteristik kondisi permukaan wilayah sangat penting bagi ilmuwan atau siapapun yang bergerak di bidang tanah, khususnya geologist, geografer, teknik sipil, urban dan perencanaan tata ruang,arsitek, pengembang real estate dan semua yang ingin mengevaluasi suatu wilayah untuk berbagai penggunaan lahan. Teknik Interpretasi foto udara dan citra satelit untuk keperluan rekayasa sudah dimanfaatkan lebih dari tiga dekade, akan tetapi penggunaan citra radar dan metoda radar apertur sintetik interferometri baru saja dimulai dan sangat menjanjikan, khususnya untuk wilayah Indonesia dimana 20% dari wilayah Indonesia selalu tertutup awan sepanjang tahun. Tulisan ini mencoba menjelaskan pemanfaatan foto udara, citra satelit dan teknik radar untuk evaluasi wilayah.Abstract. For the scientist or people who dealing with a certain area, the landform is really important, especially for the geologist, geographer, civil engineer, urban and regional planner, architect, real estate developer and all those who will evaluate the area for the certain land use. Aerial photo and satellite image interpretation techniques applied to engineering studies have been used since more than three decades, however the use of radar imageries and Interferometric Sinthetic Aperture Radar (INSAR) methode has just begun and become one of the promising techniques for Indonesia, this is due to 20% of Indonesia region is covered by cloud all year long. This paper explained the use of aerial photo, satellite imagery and radar techniques for terrain evaluation.
Pengaruh Overconsolidation Ratio (OCR) dan Kadar Organik (Oc) Terhadap Koefisien Tekanan Tanah Kesamping “at Rest” (Ko), Tanah Gambut Berserat Halus Rusdiansyah, Rusdiansyah; Mochtar, Noor Endah
Jurnal Teknik Sipil Vol 10, No 2 (2003)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.701 KB)

Abstract

Abstrak. Koefisien tekanan tanah kesamping “at rest” (Ko) untuk setiap jenis tanah tidak sama; tanah inorganic mempunyai harga Ko lebih besar dari pada tanah organik. Harga Ko tersebut juga masih dipengaruhi oleh overconsolidation ratio (OCR). Untuk tanah anorganik, harga Ko dapat ditentukan dengan formula yang telah tersedia; tetapi untuk tanah gambut harga Ko masih harus ditentukan dengan melakukan test di laboratorium.Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian yang menunjukkan hubungan antara Ko, OCR, dan Oc (kadar organik) tanah gambut berserat halus. Sampel yang diteliti dibuat dengan kandungan organik bervariasi (55%, 65%, 71%, 85%, dan 99%); tipe seratnya hanya serta halus saja. Ukuran sampel yang di test adalah : tinggi 15cm dan diameter 7 cm. Besar beban yang diberikan adalah 50, 100, 200, dan 400 kPa; harga OCR yang dipilih adalah 1, 2, 4, dan 8. Harga Ko ternyata makin membesar dengan meningkatnya harga OCR dan kandungan organik. Hubungan antara Ko dan OCR merupakan dua garis lurus patah yang mempunyai kemiringan berbeda. Pada OCR ≤ 2 peningkatan harga Ko terhadap harga OCR adalah sedikit lebih besar jika dibandingkan pada OCR > 2.Abstract. Coefficient of lateral earth pressure at rest (Ko) is different for each soil type; anorganic soil has higher value of Ko than organic soil. The ko value is also affected by the overconsolidation ratio (OCR) of the soil. For anorganic soil, the Ko value can be determined using the available formula; for peat soil, however, a laboratory testing has to be carried out in order to get the Ko value of the peat. In this paper is presented the research result that show correlation between Ko, OCR, and Oc (organic content) of fine fibrous peat. The soil sample was prepared with different organic content (55%, 65%, 71%, 85%, and 99%); the fibers chosen were only the fine ones. The sample size was 15 cm height and 7 cm in diameter. The loads applied were 50, 100, 200, and 400 kPa; the OCR values chosen were 1, 2, 4, and 8. The study results show that the Ko value is getting higher with the increase of the OCR value and the organic content. The correlation between Ko and OCR shows as two broken straight lines with different slope. At OCR ≤ 2 the increase of Ko is slightly higher compared to the one at OCR > 2.
Split Ring Connection of Coconut and Bangkirai Lumber Awaludin, Ali
Jurnal Teknik Sipil Vol 10, No 2 (2003)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.202 KB)

Abstract

Abstrak. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan mengenai kuat tarik sambungan komposit Glugu-Bangkirai yang dilakukan oleh Awaludin & Triwiyono (2003). Hal baru yang dilakukan pada penelitian ini adalah penggunaan cincin belah sebagai alat sambung, sedangkan pada penelitian sebelumnya (Awaludin & Triwiyono, 2003), alat sambung yang digunakan adalah dua baut 15.6 mm (5/8 inchi). Selain kuat tarik sambungan hasil pengujian, kuat tarik sambungan juga dianalisis dengan persamaan dari Euro Code 5 dan Awaludin & Triwiyono (2002). Diameter dan panjang cicin belah yang dipergunakan berturut-turut adalah 40 mm dan 30 mm, sedangkan diameter baut pengaku adalah 12.5 mm (½ inchi). Pada setiap sambungan terdapat dua cincin belah sebagai alat sambungnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kuat tarik sambungan dengan alat sambung cincin belah lebih tinggi 30% dari pada kuat tarik sambungan dengan alat sambung baut. Sesaran pada sambungan dengan alat sambung cincin belah lebih kecil yaitu 67% dari pada sesaran sambungan dengan alat sambung baut. Kuat tarik ultimit sambungan hasil pengujian tersebar disekitar kuat tarik ultimit dari Euro Code 5 dan Awaludin & Triwiyono(2002).Abstract. This research was a further research on tensile load of three-member connection of Coconut and Bangkirai lumber (Awaludin & Triwiyono, 2003). The new thing done in this experiment is the use of split ring as the connector of the connection. In the previous research (Awaludin & Triwiyono, 2003), two bolts of 15.6 mm were used as the connectors in each connection. Besides the result from experiment, the ultimate tensile load of split ring connection was also analyzed with equations from Euro Code 5 and Awaludin & Triwiyono (2002). The dimension of split-ring connector was 40 mm in diameter, 30 mm in length, and bolt of 12.5 mm was used to tight the connection. Two split ring connectors were placed in every connection. The result shows that the ultimate tensile load of split-ring connection was thirty percent higher than the bolted connection. The displacement of split ring connection was only 67% of the displacement of bolted connection. The ultimate tensile load of experiment was scattered closely to the result of Euro Code 5 and Awaludin & Triwiyono (2002).

Page 1 of 1 | Total Record : 4


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue