cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17 No 2 (2010)" : 7 Documents clear
3D Nonlinear Parallel FEM for Analyzing Dynamic Response of the Large- Scale Saturated Soil Layers-Civil Structures Interaction Problem (Part I: Formulation and its Numerical Solution) Jafril Tanjung
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.1

Abstract

Abstract. In this analytical study a 3D nonlinear parallel FEM algorithm was developed to overcome the physical limitation of a single processor computer when analysing the dynamic response of interaction between a large-scale saturated soil layers and civil structures. The parallel algorithm was derived based on the Domain Decomposition Method (DDM) such that a boundary value problem can be converted into an interface problem. The DDM was used to partite a whole of analytical domain into several non-overlapping subdomains. One feature of the current algorithm is most parts of the computation processes are performed in subdomain basis without interprocessor communication. The interprocessor communication is only take place when solving the interface problem. An iterativesolver of the Conjugate Gradient (CG) algorithm incorporating with the interprocessor communication based on hypercube networking was used to solve it interface problem. Abstrak. Dalam studi analitik ini, algoritma paralel elemen hingga non-linier dikembangkan untuk mengatasi kelemahan dari kemampuan komputer berprosesor tunggal dalam menganalisis tanggap dinamik pada masalah interkasi antara lapisan tanah jemuh dan struktur sipil dalam skala besar. Algoritma paralel dijabarkan berdasarkan motode dekomposisi domain untuk mengubah masalah nilai batas ke masalah interfes. Metode dekomposisi domain digunakan untuk membagi keseluruhan domain yang dinalisis menjadi beberapa subdomain yang tidak saling overlap. Keungulan dari algiritma yang dikembangkan ini adalah sebagian besar proses perhitungan dilakukan dalam basis subdomain tanpa adanya komunikasi antar prosesor. Komunikasi antar prosesor hanya dilakukan ketika menyelesaikan masalah interfes. Metode iteratif Conjugate Gradient, yang digabungkan dengan komunikasi antar prosesor berbasiskan jejaring hypercube, digunakan untuk menyelesaikan masalah interfes tersebut.
Distribusi Vektor Aliran Air Tanah Dua Dimensi dalam Media Rekahan di Big Gossan, Tembagapura, Papua Lambok M. Hutasoit; Mudrik R. Daryono; Lilik Eko Widodo; Toddy Syaifullah
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.2

Abstract

Abstrak. PT. Freeport Indonesia (PTFI) berencana membuka tambang bawah tanah baru di Big Gossan dengan metode stope mine, yang menuntut daerah yang akan ditambang berada dalam kondisi kering. Di beberapa lokasi uji, air tanah keluar dari beberapa lubang stope dengan debit yang cukup mengganggu, tetapi di beberapa lokasi lainnya lubang berada dalam kondisi kering. Pemodelan hidrogeologi terdahulu, yang mengasumsikan bahwa akifer adalah media antar butir, tidak dapat menjawab variasi keberadaan air tanah tersebut. Akifer di daerah ini disusun oleh rekahan-rekahan. Dalam penelitian ini, dilakukan kembali pemodelan hidrogeologi dengan penekanan bahwa akifer adalah media rekahan dan pada titik-titik perpotongan antara sesar dan sungai terjadi peresapan. Dalam pemodelan ini, pertama-tama dilakukan analisis geometri dan orientasi rekahan. Hasil analisis digunakan untuk menghitung distribusi muka air tanah dengan Metode Gale dan konduktivitas hidrolik akifer dengan Metode Oda dkk. Kedua parameter tersebut digunakan untuk melakukan pemodelan hidrogeologi dalam dua dimensi, untuk mengetahui distribusi vektor aliran air tanah. Dari penelitian ini diperoleh bahwa konduktivitas hidrolik di daerah ini adalah heterogen, bukan homogen, seperti asumsi dalam pemodelan terdahulu. Hasil pemodelan hidrogeologi menunjukkan bahwa aliran air tanah terkonsentrasi disebelah barat laut dari Stope # 6.Abstract. PT. Freeport Indonesia (PTFI) is planning to open a new underground mine at Big Gossan by using stop mine method which requires dry mining area. In some pilot areas, groundwater flowed from some stope holes significantly, while in other areas, some holes were dry. Previous hydrogeologic modeling, assuming that aquifers were intergranular media, cannot answer the variation of the groundwater occurrence. The aquifers in the study area are composed of fractures. In this research, hydrogeology of the area is remodeled, stressing that the aquifers are fractured media and recharge takes place at the intersections of faults and rivers. In this modeling, fracture geometry and orientation are analysed first. The results are used to calculate groundwater table distribution by using Gale Method and hydraulic conductivity by using Oda et.al. Method. Both parameters are used to construct two dimensional hydrogeological modeling, to know distribution of groundwater flow vector in the research area. This research reveals that hydraulic conductivity in this area is heterogeneus, not homogeneous, as was assumed in the previous modeling. The hydrogeologic model shows that groundwater flow is concentrated to the northwest of Stope # 6.
Pemodelan Retak pada Struktur Beton Bertulang Nuroji Nuroji; Mohamad Sahari Besari; Iswandi Imran
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.3

Abstract

Abstrak. Paper ini menyajikan pemodelan retak pada struktur beton bertulang dengan menggunakan nonlinear finite element. Pemodelan retak yang digunakan dalam studi ini adalah discrete crack untuk mensimulasikan diskontinuitas regangan. Discrete crack dimasukkan ke dalam struktur ketika tegangan utama tarik pada titik nodal telah mencapai kuat tarik beton. Penerapan discrete crack ini hanya dilakukan jika hasil kombinasi tegangan didominasi oleh tegangan normal tarik. Meskipun demikian, jika tegangan utama tarik pada Gauss point telah melampaui tegangan tarik beton, retak diperlakukan sebagai retak tersebar dengan merubah perilaku material dari isotropik menjadi orthotropik. Untuk menggambarkan arah dan pola retak retak yang benar, pemasukan discrete crack ke dalam struktur tidak hanya dilakukan dengan melakukan pemisahan titik nodal yang tegangannya telah mencapai kuat tarik beton, tapi juga merotasi retak ke arah tegak lurus terhadap arah tegangan utama tarik dan menggeser titik nodal di ujung retak sejauh perambatan retaknya. Beberapa benda uji dengan kasus yang berbeda yaitu Beam J4 (Burns and Siess 1962), Beam OA (Bresler dan Scordelis 1963) dan Beam A4 (Ahmad et al. 1986). dianalisis untuk memvalidasi model. Model ini bukan hanya mampu menunjukkan bahwa respon struktur dari model sangat mendekati hasil pengujian eksperimental, tapi juga dapat menggambarkan pola retak yang benar.Abstract. This paper presents a crack model for reinforced concrete structures by using nonlinear finite element method. The crack model used in this study is a discrete crack to simulate strain discontinuity, Discrete cracks are inserted into the structure when the principal tensile stress of nodes have reached the tensile strength of concrete. Insertion of discrete cracks into the structure is only performed when resulting stress combinations are dominated by normal tension stress. Nevertheless, if the principle tension stress on a Gauss point has exceeded the tensile strength of concrete, the craks is treated as a smeared crack with a change in material behavior from one isotropic to another orthotropic character. To find the appropriate direction and pattern of cracks, insertion of discrete cracks into the structure is not only performed by node separation at nodes which have reached the tensile strength of concrete, but also by rotation of the crack perpendicular to the direction of the principle tension stress and dragging the crack-tip node as far as the crack has propagated. Some specimens with different cases e.i Beam J4 (Burns and Siess 1962), Beam OA (Bresler dan Scordelis 1963) and Beam A4 (Ahmad et al. 1986) were analyzed to validate the model. The model is not only able to shows that the structure response is very close to the experimental test, but also can describe the proper crack pattern.
Peningkatan Kinerja Jaringan Irigasi Melalui Penerapan Manajemen yang Tepat dan Konsisten pada Daerah Irigasi Ciramajaya Roni Komarudin
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.4

Abstract

Abstrak. Optimasi penggunaan air agar dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien, sebagai jawaban atas semakin meningkatnya permintaan akan air untuk kebutuhan tanaman maupun air bagi peruntukan lainnya. Permasalahan yang sering dihadapi dalam operasional jaringan irigasi yang dapat dijadikan indikasi atas rendahnya kinerja jaringan diantaranya efisiensi distribusi air masih rendah terutama di tingkat jaringan tersier, manajemen operasional irigasi kurang tepat penerapannya sehingga dapat menimbulkan konflik, biaya operasi dan pemeliharan tidak mencukupi sehingga fungsi jaringan cepat menurun. Untuk mengatasi hal tersebut perlu melakukan analisis berdasarkan pemilihan alternative manajemen operasional irigasi yang tepat dan konsisten meliputi prosedur penentuan alokasi air, metoda alokasi air ke jaringan tersier, metoda distribusi air pada jaringan utama dan sistem kontrol aliran yang paling tepat diterapkan pada daerah studi, dengan menggunakanmetode kartu skor (scoring card method) sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja sistem jaringan irigasi yang telah dibangun, jika belum/ tidak sesuai bagaimana semestinya yang harusĀ  diterapkan agar kinerjanya dapat ditingkatkan.Abstract. The optimum of water usage should be done effectively and efficiently, as the answer to the increase of water demand for plantation or other purposes. The problems that accur in the operational of irrigation channel that can be an indication of low production channel are among others the low efficiency of water distribution especially in tertiary channel, the inaccurate of the implementation of channel operational management that can create conflict, the expenses of operational and maintenance is not sufficient so it can decrease the channel function. To overcome such problems, an analysis should be done based on the selection of accurate and consistent alternative of channel operational management covering the procedure of determining water allocation, the method of water allocation to tertiary channel, the method of water distribution to primary channel and the accurate channel control system implemented to the study area using scoring card method so it is expected to increase the production of existing irrigation channel system, if it is not in line, what kind of system that can increase the production.
Studi Pengembangan Peta Indeks Resiko Banjir pada Kelurahan Bukit Duri Jakarta Muhammad Syahril Badri Kusuma; Harkunti P. Rahayu; Mohammad Farid; M. Bagus Adityawan; Tia Setiawati; Rasmiaditya Silasari
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.5

Abstract

Abstrak. Banjir merupakan bencana yang sering terjadi di ibukota DKI Jakarta dengan kejadian terbesar pada tahun 2007. Penentuan langkah yang tepat dalam menyelesaikan masalah banjir dapat dibantu dengan pemetaan resiko banjir. Daerah studi kasus dalam penelitian ini adalah Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta yang terletak di hulu pintu air Manggarai. Penelitian difokuskan pada estimasi bahaya banjir, kerentanan, kapasitas, dan resiko di daerah studi. Peta genangan banjir dikembangkan dengan model matematis aliran 1-D tak tunak DUFLOW dengan hidrograf banjir tahun 2007. Limpasan hidrograf banjir akan membebani daerah retensi dan menyebabkan variasi genangan. Indeks bahaya banjir dianalisis berdasarkan peta genangan dengan diverifikasi data lapangan. Analisis indeks kerentanan menggunakan parameter jaringan pipa dan kabel, jenis bangunan, sebaran populasi, dan potensi bahaya kolateral. Analisis indeks kapasitas memakai parameter kondisi pompa, tanggul, dan intervensi (peningkatan kewaspadaan banjir). Peta resiko dievaluasi menggunakan GIS dalam skenario optimis dan pesimis dengan persamaan: resiko = bahaya x kerentanan / kapasitas. Intervensi pada skenario optimis menunjukkan penurunan resiko signifikan di beberapa daerah, sedangkan pada skenario pesimis tidak berbeda dibandingkan kondisi eksisting. Peta resiko kondisi eksistingĀ  dianalisis serupa dengan keadaan aktual, dimana daerah studi merupakan daerah beresiko banjir tinggi karena perumahan penduduk yang padat dan kapasitas penanggulangan banjir yang tidak memadai.Abstract. Flood is a frequent disaster in DKI Jakarta with the worst event occurred in 2007. Determining right steps to resolve flooding problem can be assessed by developing flood risk map. Case study area observed is Kelurahan Bukit Duri, Tebet Subdistrict, Jakarta, at Manggarai floodgate upstream. This study emphasizes on the estimation of flood hazard (inundation), vulnerability, capacity, and risk of case study. Inundation map is developed with 1-D steady flow mathematical model DUFLOW with 2007 flood hydrograph input. Overflow water from flood hydrograph will inundate retention area and create inundation. Flood hazard index is based on inundation depth and verified with field data. Vulnerability index parameters are infrastructure lifeline network, building quality, population distribution, and possible source of collateral hazard. Capacity index parameters are pump and dike conditions and intervention (flood awareness improvement). Risk map evaluation uses GIS in optimistic and pessimistic scenarios with equation: risk = hazard x vulnerability / capacity. Intervention in optimistic scenario shows significant risk reduction in some areas, while pessimistic scenario shows similar result with existing condition. Existing condition risk map is able to present actual condition of high flood risk in case study area caused by dense residential area and inadequate flood prevention capacity.
Pengerjaan Metoda Inversi Integral pada Perumusan Persamaan Muka Air Gelombang Air Nonlinier Syawaluddin Hutahean
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.6

Abstract

Abstrak. Pada paper ini persamaan muka air dari gelombang air diperoleh dengan mengintegrasikan persamaan syarat batas kinematik permukaan terhadap waktu. Integrasi dilakukan dengan metoda inversi integral dimana operasi integrasi diganti dengan operasi diferensiasi. Persamaan muka air yang dihasilkan merupakan superposisi dari sejumlah gelombang dengan amplitudo gelombang yang berbeda-beda, mempunyai karakteristik breaking dan dispersif.Abstract. In this paper water surface equation due to water wave is formulated by integrating kinematic surface water boundary condition equation with respect to time using integration inversion method, where integration operation is changed by differentiation operation. The resulted water surface equation is superposition of several wave with different amplitude and has breaking characteristic and dispersive.
Determining Regencial Road Handling Priority Using Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP) and TOPSIS Method (Case Study: Badung Regency - Bali) D. M. Priyantha Wedagama
Jurnal Teknik Sipil Vol 17 No 2 (2010)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2010.17.2.7

Abstract

Abstract. Determining road handling priority is considered as a complicated multicriteria decision making problem. In so doing, the Analytic Hierarchy Process (AHP) has been widely used to weight the importance. Fuzziness and vagueness however, are typical in many decision-making problems, so that fuzzy sets could be integrated with the pairwise comparison as an extension of the AHP. This study uses Fuzzy Analytic Hierarchy Process (FAHP) and TOPSIS method in determining regencial road handling priority for road links under severe circumstances in Badung regency in Bali province. Data are taken from a previous study, which had also been conducted for Badung regencial road handling priority using the AHP and SK.NO.77/KPTS/Db/1990 method. The weights of main and sub criteria are determined using FAHP and subsequently the ranking of road links is determined using TOPSIS method. The AHP method gave somewhat different result to 'SK.NO.77/KPTS/Db/1990' method. On the other hand, FAHP and TOPSIS method produce the same result to 'SK.NO.77/KPTS/Db/1990' method. This is probably best explained by the fact that they similarly considered traffic volumes as the most significant factor. FAHP and TOPSIS method however, are preferred to the AHP and SK.NO.77/KPTS/Db/1990 method in determining regencial road handling priority in Badung regency.Abstrak. Prioritas penanganan jalan merupakan salah satu tugas berat dan penting yang dihadapi oleh pengambil keputusan pada pemerintah daerah. Pada kenyataannya, penentuan penanganan jalan dapat dilihat sebagai permasalahan pengambilan keputusan yang melibatkan banyak kriteria yang bersifat kompleks. Metode proses hirarki analitik (AHP) telah banyak digunakan untuk menentukan bobot kriteria di dalam penentuan prioritas penanganan jalan. Akan tetapi karena keragu-raguan merupakan hal yang lazim terjadi di dalam pengambilan keputusan, maka teknik fuzzy dapat dikombinasikan ke dalam metode AHP. Pada studi ini penentuan prioritas penanganan jalan kabupaten untuk kondisi rusak berat di Kabupaten Badung, Bali dilakukan dengan metode Fuzzy AHP (FAHP) dan TOPSIS. Data penelitian digunakan dari studi sebelumnya di Kabupaten Badung yang menggunakan metode AHP dan SK.NO.77/KPTS/Db/1990. Metode FAHP digunakan untuk pembobotan kriteria sedangkan metode TOPSIS digunakan untuk penentuan urutan ruas jalan yang akan mendapat penanganan. Metode AHP memberikan hasil yang sedikit berbeda dengan metode SK.NO.77/KPTS/Db/1990. Sementara itu FAHP dan metode TOPSIS memberikan hasil yang sama dengan metode SK.NO.77/KPTS/Db/1990. Hal ini kemungkinan karena kedua metode tersebut menggunakan volume lalu lintas sebagai faktor yang paling berpengaruh pada penelitian ini. FAHP dan metode TOPSIS lebih disarankan untuk digunakan di dalam penentuan prioritas penanganan jalan di Kabupaten Badung.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue