cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 08532982     EISSN : 25492659     DOI : 10.5614/jts
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18 No 1 (2011)" : 8 Documents clear
Group Action Factor of Nail Fastener on the Wood Connection With Plywood Sides Plate Johannes Adhijoso Tjondro; Evan Kurnia Rosiman
Jurnal Teknik Sipil Vol 18 No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2011.18.1.1

Abstract

Abstract. The group action factor was observed in this experimental study. The 18 mm thickness of plywood was used as side's plate and the main members were made from meranti (shorea sp.) and sengon (paraserianthes falcataria) species. The correlations of group action factor with a number of nails in a row was investigated under uni-axial compression loading test with one to ten nails variation in a row. The member connections with multiple 3 rows with 3, 6, and 9 nails in each row were also tested both under uni-axial compression and tension loading. The group action factor correlated to the number of nails for single row was obtained using the regression analysis. The regression equations presented was group action factor at the proportional limit (Cgp), group action factor at the 5% offset diameter (Cg5%), and group action factor at the ultimate load (Cgu). The connection strength at 5% offset diameter and proportional limit was closed to the strength design based on the draft of Indonesian Timber Code 2000. The ultimate strength is extremely higher than the design value, giving a sufficient safety factor. Based on this result, a simplified group action factor equation for connection with plywood side's plate was proposed.Abstrak. Faktor aksi kelompok diteliti dalam studi eksperimental ini. Plywood dengan tebal 18 mm digunakan sebagai pelat penyambung sisi dan kayu utama terbuat dari meranti (shorea sp.) dan sengon (paraserianthes falcataria). Korelasi antara faktor aksi kelompok dengan jumlah paku dalam satu baris diteliti dari pengujian dengan beban tekan uni-aksial dengan variasi satu sampai dengan sepuluh buah paku. Sambungan dengan 3 baris majemuk dengan 3, 6, dan 9 paku dalam satu baris juga diuji dengan uji beban tekan dan tarik uni-aksial. Faktor aksi kelompok yang dikorelasikan dengan jumlah paku untuk satu baris didapat dari analisa regresi. Persamaanpersamaan regresi yang disajikan adalah faktor aksi kelompok pada batas proporsional (Cgp), faktor aksi kelompok pada 5% offset diameter (Cg5%) dan faktor aksi kelompok pada batas ultimit (Cgu). Kekuatan sambungan pada 5% offset diameter mendekati kekuatan sambungan dari harga disain berdasarkan draft Peraturan Kayu Indonesia 2000. Kekuatan ultimit sambungan jauh lebih tinggi dari harga disain, memberikan faktor keamanan yang memadai. Berdasarkan hasil kajian ini, suatu persamaan sederhana untuk perhitungan faktor aksi kelompok dengan pelat penyambung sisi plywood disarankan.
Persepsi Risiko Terhadap Penyediaan dan Pengelolaan Tenaga Kerja dalam International Joint Venture pada Proyek Infrastruktur Puti Farida Marzuki; Shirly Susanne Lumeno
Jurnal Teknik Sipil Vol 18 No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2011.18.1.2

Abstract

Abstrak. Risiko kontraktor akibat penyediaan dan pengelolaan tenaga kerja merupakan tantangan pada international joint venture (IJV) pada proyek karena tenaga kerja domestik dan asing dengan latar belakang dan pola pikir yang berbeda harus bekerja sama di dalam aliansi yang baru untuk mencapai tujuan proyek. Makalah ini membahas persepsi terhadap faktor risiko penyediaan dan pengelolaan tenaga kerja melalui suatu studi kasus pada suatu proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia yang dilaksanakan oleh dua mitra yang bergabung di dalam suatu IJV. Data dikumpulkan dengan melakukan survei melalui suatu kuesioner yang diisi oleh tenaga kerja kedua mitra tersebut. Hasil penelitian mengenai persepsi ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan antara masalah penyediaan dan pengelolaan tenaga kerja yang dihadapi oleh mitra asing, mitra domestik serta berbagai level manajemen dalam IJV. Perbedaan ini terutama terdeteksi melalui persepsi mereka terhadap permasalahan yang terkait dengan peraturan dan perizinan, pengetahuan dan pengalaman kerja, serta kompensasi/reward. Adanya indikasi perbedaan persepsi antar mitra dan antar level manajemen mengenai faktor risiko yang berpeluang merugikan kontraktor dapat mempengaruhi kinerja joint venture yang harus dicerminkan oleh kualitas kerja, produktivitas kerja, dan hubungan kerja. Identifikasi persepsi responden ini selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk merancang mitigasi terhadap risiko kerugian yang dihadapi IJV pada proyek akibat pengadaan dan pengelolaan tenaga kerjanya. Abstract. Contractor's risk involved with the recruitment and management of workers is a challenge in project based international joint ventures (IJV) as domestic and foreign workers with different backgrounds and diverse mind set have to collaborate in a new alliance and face a dynamic situation in a relatively short period to achieve the project's objectives. This paper analyzes the perception of the contractors' workers on this risk through a case study of an infrastructure project executed by an IJV in Indonesia. A questionnaire is completed by the IJV partners' workers to collect data. The results indicate that the foreign and domestic partners in the IJV as well as its management levels face different problems of workers recruitment and management. This is mostly revealed through their different perceptions on problems related to regulations, work knowledge and experience, as well as compensation/reward. Meanwhile, it is also shown that consolidation, communication, language, and work environment are perceived as the main important factors to achieve the expected project's performance. Perception differences among the joint venture partners and management levels have the potential to influence performance. This perception identification can be further used in decision making by an IJV to mitigate the risk involved with workers procurement and management.
Studi Daya Dukung Pondasi Dangkal pada Tanah Gambut dengan Kombinasi Geotekstil dan Grid Bambu Soewignjo Agus Nugroho
Jurnal Teknik Sipil Vol 18 No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2011.18.1.3

Abstract

Abstrak. Pembangunan konstruksi di atas tanah gambut mempunyai banyak masalah, diantaranya adalah daya dukung tanah yang rendah dan penurunan yang besar. Penggunaan kombinasi grid bambu dan geotekstil diharapkan akan dapat mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kapasitas daya dukung dengan variasi kedalaman letak perkuatan, lebar perkuatan, spasi antara grid bambu dan geotekstil, dan sudut penyebaran beban. Perbedaan daya dukung antara tanah tanpa perkuatan dengan menggunakan perkuatan dinyatakan dalam Bearing Capacity Ratio (BCR). Dari studi model di laboratorium diperoleh hasil BCR maksimum sebesar 4,32 pada rasio L/B, d/B, dan s/B berturut-turut adalah 3, 0,25 dan 0,5. Sudut penyebaran beban maksimum sebesar 78,79° pada L/B dan d/B (B adalah lebar pondasi) berturut-turut adalah 4 dan 0,25. Peningkatan BCR dan sudut penyaluran beban sebanding dengan penambahan dimensi perkuatan dan berbanding terbalik dengan jarak perkuatan dari dasar pondasi. Abstract. The construction on peat soil have many problems, Two significant problems are low bearing capacity and high construction settlement. The usage of grid bamboo and geotextile as a composite system is expected to overcome those problems. The purpose of this research is to check the relationship of bearing capacity with depth of the reinforcement layer, width reinforcement layer and spacing of reinforcement layers between of grid bamboo and geotextile, and to the angle of stresses distribution. The difference of the bearing capacity between unreinforced soils and reinforced soils referred as Bearing Capacity Ratio (BCR). From study model at laboratory the result indicate that maximum BCR is 4.32 at ratio L/B, d/B and s/B are increasing 3, 0.25, and 0.5. Maximum the angle of distribution is 78.79° at L/B and d/B (B is width of footing) are increasing 4 and 0.25. The increasing of BCR and angle of stress distribution is proportional by the increasing of reinforcement dimension and it diversely correlated with depth of reinforcement.
Perbandingan Gerusan Lokal yang Terjadi di Sekitar Abutment Dinding Vertikal Tanpa Sayap dan dengan Sayap pada Saluran Lurus, Tikungan 90°, dan 180° (Kajian Laboratorium) Agung Wiyono; Joko Nugroho; Widyaningtias Widyaningtias; Eka Risma Zaidun
Jurnal Teknik Sipil Vol 18 No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2011.18.1.4

Abstract

Abstrak. Fenomena kerusakan jembatan akibat gerusan pada pondasi pier atau abutment sulit diamati secara langsung. Salah satu metode untuk menyederhanakan adalah dengan pemodelan fisik di laboratorium. Tujuan penulisan jurnal ini adalah membandingkan gerusan yang terjadi di sekitar abutment dinding vertikal tanpa sayap dan dengan sayap pada saluran lurus, tikungan 90o, dan 180o. Perbandingan difokuskan pada gerusan lokal jenis live -bed scour dan terjadinya transportasi sedimen sepanjang pengaliran debit 4, 5, 6, dan 7 liter/detik pada model saluran. Penelitian dilakukan dengan membangun model saluran terbuka dengan dinding fiberglass dan dasar saluran terbuat dari semen, saluran memiliki bagian lurus serta sudut tikungan 90° dan 180°. Hasil parameter fisik berupa kecepatan dan kedalaman gerusan, dibandingkan secara analitik dengan menggunakan Formula Laursen (1960), Froehlich (1989), dan Mellvile (1997). Hasil perbandingan menunjukkan bahwa pada abutment dinding vertikal tanpa sayap, hasil perhitungan Formula Laursen paling mendekati hasil pengamatan dengan persentase kesalahan 20,02%. Sedangkan untuk abutment dinding vertikal dengan sayap, persentase kesalahan terkecil sebesar 28,17%, dengan menggunakan Formula Froehlich (1989). Untuk abutment dinding vertikal tanpa sayap, kedalaman gerusan maksimum terjadi di sekitar hulu abutment, dan segmen tengah abutment untuk abutment dinding vertikal dengan sayap. Untuk kedua tipe abutment sedimentasi tertinggi terjadi di sebelah hilir. Abstract. The damage phenomenon of the bridge due to scour on pier foundation or abutment is difficult to observe directly. One of the methods to simplify this phenomenon is modeling in the laboratory. The purpose of this research is to compare scouring around vertical wall and vertical wing-wall abutment in straight channel, 90o, and 180o curve channel. Scouring comparison focused on the live-bed scour and the occurrence of sediment transport along the 4, 5, 6, and 7 liters / second discharge on the channel model. Results of physical parameters such as velocity and depth of scouring compared with the analytical using Laursen (1960), Froehlich (1989), and Mellvile (1997) formula. The result from each calculation will be compared with the observation data. The result shows that maximum scouring for vertical wall and vertical wing-wall abutment occurred in upstream and middle of abutment respectively. Furthermore, sedimentation for both of types is around downstream of abutment. From the analytical comparison, Laursen’s Formula gives closer accuracy for vertical wall abutment than others formulas, with the percentage of error is about 20,02%. While, Froehlich’s Formula gives 28,17% for wing-wall abutment.
Perbandingan Hidrograf Satuan Teoritis Terhadap Hidrograf Satuan Observasi DAS Ciliwung Hulu Indra Agus; Iwan K. Hadihardaja
Jurnal Teknik Sipil Vol 18 No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2011.18.1.5

Abstract

Abstrak. Banjir dan kekeringan dalam suatu wilayah (DAS) terjadi akibat fenomena iklim yaitu distribuasi curah hujan dengan intensitas tinggi atau periode kemarau yang terjadi lebih panjang. Penyebab banjir berasal dari masukan (hujan) dan sistem DAS. Masukan (hujan) meliputi faktor intensitas hujan, lama hujan dan distribusi hujan. Sedangkan sistem DAS meliputi faktor topografi, jenis tanah, penggunaan lahan dan sistem transfer hujan dalam DAS. Perkiraan debit banjir yang berdasarkan hujan lebat dapat diklasifikasikan dalam tiga cara yaitu, dengan cara rumus empiris, dengan cara statistik (kemungkinan) dan dengan cara hidrograf satuan. Curah hujan dan debit adalah dua hal penting untuk mendapatkan himpunan hidrograf hasil observasi dan teoritis. Curah hujan merupakan nilai yang efektif dan dihitung menggunakan metode indeks. Aliran langsung (limpasan langsung) didapat dari segregasi total limpasan dengan baseflow dan dengan menerapkan metode Straight Line. Ordinat hidrograf hasil observasi dihasilkan dengan membagi ordinat aliran langsung (direct overflow) dengan hujan efektif. Hasil dari satuan hidrograf observasi dibandingkan dengan satuan hidrograf teoritis dan dihitung dengan menggunakan metode Least Square, Forward Subtitution dan Linear Reservoar Cascade. Pebandingan dilakukan terhadap Time base (Tb), Time peaks (Ts), Q peak. Abstract. Flood and dryness in a region watershed was caused by a climate phenomenon, that is high intensity rainfall distribution or longer drought period. Flood is the existence of rainfall input and watershed system. Rainfall covers rain factor of stress intensity, rainfall duration and rain distribution. System watershed covers topography factor, soil type,land use and rain system transfer in watershed. Flooding debit approximation based on torrential rains can be classified in three ways such empiric formula, statistic or probability and unit hydrographer. Rainfall and discharge are important things in getting observed and theoretical hydrographer set. Applying Rainfall is the effective precipitation calculated using index method. Whereas direct overflow (direct  run off) was earned by total run off segregation with base flow applies Straight Line Method. Observed Hydrographer ordinates is created by dividing direct overflow ordinate with effective rain. Observed unit hydrograph result was compared with teoritic unit hydrograph and calculated by using Least Square Method, Forward Subtitution Method and Linear Reservoar Cascade Method. Comparation was done to Time base (Tb), Time peaks (Ts), Q peak.
Spatial Autocorrelation Analyses of the Commuting Preferences by Bus in the Sydney Metropolitan Region Putu Alit Suthanaya
Jurnal Teknik Sipil Vol 18 No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2011.18.1.6

Abstract

Abstract. Decreasing public transport use and increasing car dependence have been experienced in many cities in the world. The environmental impact caused by this trend is alarming. In order to achieve sustainable city, one of the targets is to increase the use of public transport and reduce VKT (Vehicle Kilometer Traveled). It is therefore important to study the commuting behavior of residents. Using Journey-to-Work (JTW) Census data for Sydney region (Australia), this paper focused on analysis of commuting preferences by bus. Two techniques were applied to study commuting behavior by bus, i.e. preference functions and Moran's I spatial statistic. Preference function was used to measure resident's commuting behavior by bus whilst Moran's I spatial statistic was applied to study the spatial association or interaction amongst zones and to test their statistical significance. The results showed that the commuting behavior of the workers was not stable spatially. This indicates that the use of one global parameter to estimate future travel is not appropriate. The change in the commuting preferences by bus toward distance maximization has led to the increase of travel distance and VKT. Spatial statistic showed that the interaction was positive for journey-to-work by bus.Abstrak. Penurunan penggunaan angkutan umum dan peningkatan ketergantungan pada pemakaian kendaraan pribadi telah dialami oleh banyak kota di dunia. Akibat negatifnya terhadap lingkungan sangat mengkhawatirkan. Untuk mencapai kota yang berkelanjutan, salah satu targetnya adalah dengan meningkatkan penggunaan angkutan umum dan mengurangi kendaraan-kilometer. Untuk itu sangat penting untuk mengkaji perilaku komuter. Dengan menggunakan Sensus Perjalanan ke Tempat Kerja di Kota Sydney (Australia), paper ini difokuskan untuk menganalisis preferensi komuter dalam melakukan perjalanan dengan bis. Dua metode diaplikasikan yaitu fungsi keinginan dan statistik spasial Moran I. Fungsi keinginan dipergunakan untuk mengukur perilaku komuter yang menggunakan bis, sedangkan statistik spasial Moran I dipergunakan untuk mengkaji keterkaitan spasial atau interaksi antar zona serta untuk menguji signifikansinya secara statistik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perilaku komuter dari para pekerja tidak stabil secara spasial. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan satu parameter global untuk memperkirakan perjalanan di masa mendatang tidaklah tepat. Perubahan preferensi komuter dengan bis kearah memaksimalkan jarak telah mengakibatkan peningkatan jarak perjalanan dan kendaraan-kilometer. Statistik spasial memperlihatkan bahwa terjadi interaksi positif untuk perjalanan kerja dengan menggunakan bus.
Design Formulae of Wave Transmission due to Oblique Waves at Low Crested Structures I Gusti Bagus Siladharma
Jurnal Teknik Sipil Vol 18 No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2011.18.1.7

Abstract

Abstract. Low crested structures, including submerged breakwaters, may be provided to protect the beach from wave attack. These structures can be built parallel to the shoreline and the crest is set up at or below water levels. It function is to protect the beach from wave action by reducing or by acting as a barrier to the waves. Wave transmission on structures has been subject for flume tests by many researchers and come up with several 2D wave transmission formulas. Oblique wave attack rarely involve on the formula since only a few tests conducted on 3D model. Using 3D test data conducted by Seabrook (1997), wave-structure interaction relation in 3D effect was modeled and transmission formula for low crested structures was developed. The interaction of wave-structure in the 3D modeling is more complex. The complex, three dimensional wave-structure interactions include diffraction of the wave. Results show the relative crest height, relative wave height and crest  width are the most important parameters. The model was developed by statistical analysis method, includes parameters that are considered to be representing physical processes such as water depth fluctuation, hence is related to wave breaking, wave overtopping, dissipation by surface friction, and transmission through the breakwater. Abstrak. Pemecah gelombang ambang rendah, termasuk pemecah gelombang tenggelam, dapat dipergunakan sebagai pelindung pantai dari serangan gelombang. Stuktur dengan ambang lebar ini dibangun sejajar pantai dengan puncak berada pada muka air atau sedikit di bawahnya. Fungsi utama dari bangunan ini adalah melindungi pantai dari gelombang dengan cara mereduksi energi gelombang datang atau sebagai penghalang gelombang. Bangunan ini berfungsi dengan baik dengan meredam sebagian energi gelombang. Transmisi gelombang pada pemecah gelombang ambang rendah tumpukan batu sudah banyak diteliti dan menghasilkan beberapa formula yang dihasilkan dari tes 2 dimensi. Gelombang yang datang menyudut terhadap struktur tidak diperhitungkan karena sangat terbatasnya penelitian transmisi gelombang dalam kondisi 3D. Menggunakan data 3D dari Seabrook (1997), analisis dilakukan untuk interaksi gelombang-struktur dan formula empiris transmisi gelombang diturunkan. Interaksi gelombang-struktur dalam model 3D lebih komleks dari model 2D. Kekompleksan dalam model 3D termasuk adanya proses difraksi pada ujung-ujung pemecah gelombang, Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi puncak relatif, tinggi gelombang relatif, dan lebar puncak merupakan parameter yang sangat berpengaruh terhadap proses transmisi Rumus empiris diturunkan berdasarkan analisis statistik. Rumus transmisi gelombang memasukkan parameter-parameter yang merepresentasikan proses-proses fisik seperti fluktuasi muka air, yang berkorelasi dengan gelombang pecah, overtopping gelombang, disipasi akibat gesekan permukaan, dan transmisi gelombang melalui bangunan.
Penentuan Parameter Geoteknik Tanah Residual Tropis Melalui Pengujian Dilatometer Hadi U. Moeno
Jurnal Teknik Sipil Vol 18 No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2011.18.1.8

Abstract

Abstrak. Pengujian dengan Dilatometer (Flat Dilatometer: ASTM D 6635-01) atau DMT telah banyak dilakukan oleh para praktisi geoteknik, untuk mendapatkan parameter-parameter geoteknik in-situ khususnya untuk tanah sedimen. Untuk melihat keuntungan yang dapat diperoleh dari pengujian ini, maka dilakukan penelitian terhadap tanah residual vulkanik tropis yang banyak tersebar di Indonesia. Lokasi penelitian dipilih di Resor Dago Pakar Bandung untuk 2 lokasi yaitu Graha Permai dan Graha Kusuma yang berjarak kurang lebih 1 km. Pekerjaan yang dilakukan adalah pengujian Dilatometer (DMT), Pemboran Inti yang disertai pengambilan contoh tanah, pengujian Pressuremeter (PMT) dan pengujian sifat fisik dan teknik di laboratorium. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar nilai parameter geoteknik yang dihasilkan dari pengujian DMT masih realistis sebagai nilai parameter yang biasa dipakai dalam bidang geoteknik. Oleh karena itu pengujian DMT masih bisa digunakan pada tanah residual minimal sebagai data awal yang dapat dipakai sebagai rujukan untuk tahap investigasi yang lebih rinci. Namun demikian, parameter geoteknik yang diperoleh harus diuji lebih lanjut, untuk menjawab pertanyaan apakah formula dasar dari Marhetti masih berlaku dalam menentukan parameter geoteknik tanah residual tropis, karena pengaruh disturbansi pada pengujian laboratorium dan sifat sementasi pada tanah residual menjadi faktor penting untuk dipelajari, sehingga korelasi yang mungkin dihasilkan dari pengujian DMT dan laboratorium dapat berlaku.Abstract. Examination with Dilatometer (Flat Dilatometer; ASTM D 6635-01) had done many times by the Geotechnic practitioners, to get geotechnic in-situ parameters especially for sedimentary soil. To see benefit which can be taken from DMT examination, this research was done on tropical residual soil which were spread wide enough in Indonesia. The research's location is Resor Dago Pakar at 2 (two) areas Graha Permai and Graha Kusuma with the distances approximately 1 km each others. The investigation consists of dilatometer test (DMT), Core drilling and sampling, Pressuremetr test (PMT), and index and engineering laboratory tests. The results of this research showing that most of geotechnical parameters calculated from dilatometer test still in the range of realistic values as geotechnical parameter's generally using in the geotechnical areas, Therefor the dilatometer test (DMT) still can be used for testing in the residual tropical soils, minimum as the first data    for references values for the following detail investigation. However geotechnic parameters obtained still have to be checked to answer question which is fundamental formula from Marchetti admittance of applied determination of geotechnic parameters of residual soil, because the influences of the disturbances in labotaroty test and cementation in tropical residual soils become as important factor for studied, so that the correlation obtained between DMT and laboratory test results is valids.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 3 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 32 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 32 No 1 (2025): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 31 No 3 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Desember Vol 31 No 2 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi Agustus Vol 31 No 1 (2024): Jurnal Teknik Sipil - Edisi April Vol 30 No 3 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 2 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 30 No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 3 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 2 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 29 No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 3 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 28 No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil Vol 27 No 3 (2020) Vol 27 No 2 (2020) Vol 27 No 1 (2020) Vol 27, No 1 (2020) Vol 26, No 3 (2019) Vol 26 No 3 (2019) Vol 26, No 2 (2019) Vol 26 No 2 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 26 No 1 (2019) Vol 26, No 1 (2019) Vol 25 No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25, No 3 (2018) Vol 25 No 2 (2018) Vol 25, No 2 (2018) Vol 25 No 1 (2018) Vol 25, No 1 (2018) Vol 24 No 3 (2017) Vol 24, No 3 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24 No 2 (2017) Vol 24, No 2 (2017) Vol 24, No 1 (2017) Vol 24 No 1 (2017) Vol 23, No 3 (2016) Vol 23 No 3 (2016) Vol 23 No 2 (2016) Vol 23, No 2 (2016) Vol 23, No 1 (2016) Vol 23 No 1 (2016) Vol 22 No 3 (2015) Vol 22, No 3 (2015) Vol 22, No 2 (2015) Vol 22 No 2 (2015) Vol 22 No 1 (2015) Vol 22, No 1 (2015) Vol 21 No 3 (2014) Vol 21, No 3 (2014) Vol 21, No 2 (2014) Vol 21 No 2 (2014) Vol 21 No 1 (2014) Vol 21, No 1 (2014) Vol 20 No 3 (2013) Vol 20, No 3 (2013) Vol 20, No 2 (2013) Vol 20 No 2 (2013) Vol 20 No 1 (2013) Vol 20, No 1 (2013) Vol 19, No 3 (2012) Vol 19 No 3 (2012) Vol 19 No 2 (2012) Vol 19, No 2 (2012) Vol 19, No 1 (2012) Vol 19 No 1 (2012) Vol 18, No 3 (2011) Vol 18 No 3 (2011) Vol 18 No 2 (2011) Vol 18, No 2 (2011) Vol 18 No 1 (2011) Vol 18, No 1 (2011) Vol 17, No 3 (2010) Vol 17 No 3 (2010) Vol 17 No 2 (2010) Vol 17, No 2 (2010) Vol 17, No 1 (2010) Vol 17 No 1 (2010) Vol 16 No 3 (2009) Vol 16, No 3 (2009) Vol 16, No 2 (2009) Vol 16 No 2 (2009) Vol 16 No 1 (2009) Vol 16, No 1 (2009) Vol 15, No 3 (2008) Vol 15 No 3 (2008) Vol 15, No 2 (2008) Vol 15 No 2 (2008) Vol 15, No 1 (2008) Vol 15 No 1 (2008) Vol 14 No 4 (2007) Vol 14, No 4 (2007) Vol 14, No 3 (2007) Vol 14 No 3 (2007) Vol 14 No 2 (2007) Vol 14, No 2 (2007) Vol 14, No 1 (2007) Vol 14 No 1 (2007) Vol 13 No 4 (2006) Vol 13, No 4 (2006) Vol 13 No 3 (2006) Vol 13, No 3 (2006) Vol 13, No 2 (2006) Vol 13 No 2 (2006) Vol 13, No 1 (2006) Vol 13 No 1 (2006) Vol 12 No 4 (2005) Vol 12, No 4 (2005) Vol 12, No 3 (2005) Vol 12 No 3 (2005) Vol 12 No 2 (2005) Vol 12, No 2 (2005) Vol 12 No 1 (2005) Vol 12, No 1 (2005) Vol 11, No 4 (2004) Vol 11 No 4 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 3 (2004) Vol 11, No 3 (2004) Vol 11 No 2 (2004) Vol 11, No 2 (2004) Vol 11 No 1 (2004) Vol 11, No 1 (2004) Vol 10, No 4 (2003) Vol 10 No 4 (2003) Vol 10, No 3 (2003) Vol 10 No 3 (2003) Vol 10 No 2 (2003) Vol 10, No 2 (2003) Vol 10 No 1 (2003) Vol 10, No 1 (2003) More Issue