Articles
16 Documents
Search results for
, issue
"Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008"
:
16 Documents
clear
VAKSIN DNA SEBAGAI PENDEKATAN BARU DALAM TEKNOLOGI VAKSIN
Dewi N.N., Ayu
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Vaksin DNA mulai berkembang sejalan dengan kemajuan di bidang imunologi dan biologi molekuler. Vaksin DNA merupakan pendekatan baru dalam vaksinasi dengan menggunakan satu atau lebih gen yang menyandi protein dari suatu patogen. Teknik ini memiliki keunggulan dapat menginduksi imunitas seluler atau humoral terhadap antigen tertentu, ataupun keduanya; suatu tujuan yang tidak dapat dipenuhi oleh vaksin-vaksin konvensional yang ada. Saat ini perkembangan vaksin DNA masih dalam tahap penelitian dan uji klinik.
DAYA HEPATOPROTEKTOR EKSTRAK BUAH JAMBU BIJI, BUNI DAN WORTEL PADA MENCIT YANG DIINDUKSI DENGAN CARBONTETRACHLORIDA
N, Arcana;
GM, Adioka;
DM, Wihandani
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sel-sel hati rentan terhadap serangan radikal bebas. Pada keadaan adanya beban bahan-bahan oksidatif (oksidative stress) maka pemberian antioksidan-alami seperti vitamin C, derivat flavonoid dan lain-lainnya secara oral mampu melindungi dan mencegah kerusakan sel-sel hati. Buah dari tanaman jambu biji, buni dan wortel diketahui mengandung vit C maupun flavonoid namun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai antioksidan oleh karena kurangnya data pendukung dalam bukti manfaat maupun dosisnya. Telah dilakukan penelitian eksperimental dengan rancangan ?pre-post test control group design? di Laboratorium Biokimia dan Laboratorium Farmasi FK UNUD. Mencit sebagai unit penelitian sebanyak 25 ekor di bagi menjadi 1 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan diberikan ekstrak buah jambu biji, buah buni, umbi wortel dan campuran ketiga ektrak, untuk membuktikan bahwa pemberian ekstrak buah tersebut mampu menurunkan kadar SGPT mencit yang di induksi carbontetrachlorida (CCl4). Hasil uji statistik pada ? = 0,05 menunjukkan bahwa kadar SGPT mencit pada 4 kelompok perlakuan lebih kecil secara bermakna dibandingkan kelompok kontrol. Ini menunjukkan bahwa ekstrak dari buah jambu biji, buah buni, umbi wortel dan campuran ketiga ektrak mempunyai khasiat sebagai hepatoprotektor.
PEMANFAATAN EKSTRAK KUNCI PEPET (KAEMPFERIA ANGUSTIFOLIA L) SEBAGAI GEL REFLEKTAN TERHADAP NYAMUK AEDES AEGYPTI
Budhi, M.;
Tengah, I G P;
Harjosuwito, B.A.
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian tentang Pemanfaatan Ekstrak Kunci Pepet sebagai gel reflektan terhadap nyamuk Aedes aegypti bertujuan untuk mengetahui ekstrak bagian tanaman serta konsentarasi ekstrak kunci pepet yang efektif berperan sebagai reflketan terhadap nyamuk aedes aegypti dan mencari bahan pembentuk gel dengan konsentrasi ekstrak yang terbaik sebagai gel reflektan terhadap nyamuk. Penelitian dilakukan secara bertahap. Terdiri atas dua tahap Masing-masing penelitian didesain dengan menggunakan acak lengkap (RAL) pola percobaan factorial Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa ekstrak umbi maupun akar batang kunci pepet mengandung insektisida alami. Ekstrak umbi kunci pepet pada konsentrasi ekstrak 15% dan 20%, mempunyai kemampuan bio-insektisida (menolak atau membunuh nyamuk) tertinggi (skor 7, tidak ada nyamuk menempel pada obyek sasaran, ada nyamuk yang teller, ada yang mati , aktifitas sedang / rendah) yang berbeda nyata (P<0,01) dan cenderung lebih baik dibanding bagian akar batang pada konsentrasi ekstrak 5 -15%. Semakin lama aplikasi ekstrak kunci pepet pada obyek sasaran semakin menurun daya insektisidanya terutama yang diperoleh dari bagian akar batang dan juga bagian umbi yang aplikasinya menggunakan konsentrasi 5 dan 10%. Hasil penelitian tahap kedua menunjukkan bahwa jenis bahan pembentuk gel yang terbaik adalah CMC, dengan kombinasi konsentrasi ekstrak 15% menghasilkan gel ekstrak umbi kunci pepet yang bermutu baik dengan karakteristik mampu mencegah nyamuk menempel pada sasaran, menekan aktivitas nyamuk pada taraf rendah dan bahkan menyebabkan pingsan hingga mati, dari jam ke-1 sampai jam ke-8.
LAMELLAR ICHTHYOSIS (COLLODION BABY)
IGE, Paramarta;
W, Retayasa;
M, Kardana;
AAGP, Wiraguna;
S., Herman
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The ichthyosis are a heterogeneous group of hereditary and acquired disorder of keratinization which affected the epidermis characterized by presence of visible scales on the skin surface in the absence of inflammation. It can occur as a disease limited to the skin or in association with abnormalities of other organ systems. Lamelar ihthyosis (LI) is one of two mayor autosomal recessive ichthyosis with an incidence of approximately one in 300,000. The diagnosis is based on clinical and pathologic finding. Infection is the most common complication, while prognosis of LI is depends on severity and complication of the disease. A case of lamellar ichthyosis in 0 day Balinese female baby was reported. The skin of the body was thick, plate-like appearance, scaling on the entire body, some of the thick skin was ruptured on chest and extremities. There were eclabium on the mouth and ectropion on the eyes. Histopathology examination showed hyperkeratosis without perivascular infiltration lymphocyte. The baby was given breast feeding, antibiotic, hydrocortisone cream and olium olivarum. The prognosis of the baby is good.
NUTRISI PARENTERAL TOTAL PADA BAYI KURANG BULAN
Gustawan, I W;
Kardana, M;
Retayasa, W;
Suandi, IKG;
Sidiartha, IGL
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pemberian nutrisi pada penatalaksanaan bayi kurang bulan (BKB) merupakan hal yang sangat penting untuk tercapainya pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal dengan pemberian semua komponen nutrisi secara adekuat. Dewasa ini nutrisi parenteral telah menjadi sarana penunjang utama perawatan bayi sakit berat maupun berat lahir sangat rendah (BBLSR) di Unit Perawatan Intensif Neonatus. Tujuan nutrisi parenteral adalah menyediakan energi dan nitrogen yang cukup untuk mencegah katabolisme dan mencapai keseimbangan nitrogen positif, mencegah defisiensi asam lemak esensial dan menyediakan komposisi nutrisi yang tepat untuk mencapai pertumbuhan normal seperti saat di dalam kandungan. Nutrisi parenteral total menyediakan semua nutrien untuk metabolisme basal dan pertumbuhan, mengandung cairan, energi, makronutrien dan mikronutrien.
TINGGINYA KONSENTRASI HIGH SENSITIVITY C-REACTIVE PROTEIN SEBAGAI RISIKO KEJADIAN PENYAKIT ARTERI PERIFER PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 LANJUT USIA
Kuswardhani RA, Tuty;
Wardhana, Wisnu
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pada orang lanjut usia (Lansia) yang menderita diabetes melitus (DM) tipe 2, tingginya konsentrasi penanda inflamasi sistemik High Sensitivity C-Reactive Protein (hs-CRP), dapat memprediksi kejadian penyakit kardiovaskular dan stroke. Tidak diketahui apakah tingginya konsentrasi hs-CRP juga berhubungan dengan terjadinya Penyakit Arteri Perifer (PAP) pada DM tipe 2 lansia. Dengan menggunakan rancangan penelitian kasus kontrol untuk mengukur konsentrasi hs-CRP pada pasien DM tipe 2 lansia yang berobat di Poliklinik Geriatri RSUP Sanglah Denpasar dan terjadinya PAP/ Penyakit Arteri Perifer (nilai Ankle Brachial Index ??0.90) atau non PAP. Subjek di eksklusi apabila pasien (pria maupun wanita) menderita penyakit ginjal kronis (serum kreatinin >3 mg/dl) dan menderita kondisi-kondisi yang berpotensi mempengaruhi konsentrasi hs-CRP contohnya penyakit autoimun, infark miocardium, keganasan dan juga infeksi akut (konsentrasi hs-CRP >10mg/L). Variabel confounding adalah profil lipid (High Density Lipoprotein (HDL), Low density lipoprotein (LDL), Triglyceride (TG) and Total Cholesterol), hipertensi dan obesitas sentral. Subjek yang dimasukkan dalam kelompok kasus dan kontrol telah melalui proses matching (berdasarkan umur dan jenis kelamin). Terdapat 24 kasus dan 21 kontrol yang memenuhi kriteria tersebut. Tidak ditemukan adanya perbedaan rerata pada karakteristik kelompok kasus dan kontrol berdasarkan umur (p=.185) dan jenis kelamin (p=.183). hubungan antara tingginya konsentrasi hs-CRP (cut off point 1 mg/l) sebagai faktor risiko terjadinya PAP pada DM lansia tidak signifikan (OR=2.000, Pvalue=.205). Hal ini diperkirakan karena kuantitas sampel yang didapat tidak mencukupi kriteria dari analisis statistik atau mungkin hubungan itu sendiri terlalu lemah. Bukti tingginya konsentrasi hs-CRP dapat memprediksi risiko terjadinya PAP pada DM tipe 2 lansia pada penelitian ini belum terbukti perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih banyak.
PENGARUH METFORMIN DOSIS RENDAH JANGKA PENDEK TERHADAP RISIKO BERKEMBANGNYA MENJADI DM TIPE-2 PADA PREDIABETES NON OBES
Hardiman, Djoko
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Metformin was reported to decrease the risk of type-2 DM establishment in the obese prediabetic individual. While whether low-dose short-term metformin administration decrease the risk of type-2 DM establishment in the non-obese prediabetic individual was not yet reported so far. The study was to determine if insulin resistance control by low-dose short-term metformin administration in the non-obese prediabetic individual might decrease the risk of type-2 DM establishment. The present study was prospective, experimental study with pretest-posttest control group design. It was conducted on the first degree relative of the type-2 DM patient who met the criteria of non obese prediabetic individual. Subjects were randomly classified into treatment group (designed for metformin administration), and the control group (designed for placebo administration). The prediction of atherosclerosis risk was based on the formula of Insulin Resistance In dex (IRI). The results show that significant difference between pre and post metformin administration term were p=0.003, p=0.051 and p=0,259 for insulin level, insulin 2 hrs postprandial and IRI in the treatment and control group, respectively. While for the fasting glucose level and glucose 2 hrs post-prandial level, the significant differences were p=0.004 and p=0.395 in the treatment and control group, respectively. The study concluded that the low-dose short-term metformin administration might significantly decrease the risk of type-2 DM establishment in the non-obese prediabetic individual.
EVENTRATION OF DIAPHRAGM
Eka Pratiwi, I G A P;
Purniti, P Siadi;
Subanada, IB;
Putu Yasa, Ketut
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Eventration of diaphragm (ED) refers to an abnormally high position of part or all of the diaphragm, but intact diaphragm, usually associated with a marked decrease in muscle fibers and a membranous appearance of the abnormal area with only the peripheral thoracic attachments showing normal muscle. Etiologically ED is congenital or acquired. Congenital diaphragmatic abnormalities occur in 1 per 2000 to 4000 birth, which 7% is diaphragmatic eventration. Most children with ED are asymptomatic when incidentally first seen, will not need theraphy. Those with symptoms develop acute respiratory distress, feeding difficulties, and recurrent pneumonitis. If the patient need assissted ventilation or cannot be weaned off the ventilator, she or he should be plicated. Failure to achieve extubation within a week of plication is an ominous prognostic sign. We reported a case of one month and four days old girl who was dispnea, feeding difficulty and bronchopneumonia caused by right ED with acquired etiology. Plication was done to repaired the symptom. But unfortunately this was not succeded because there was complication of postoperative treatment.
SKRINING PENDENGARAN PADA BAYI BARU LAHIR
Suardana, W
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Cacat dengar pada anak-anak masih banyak dijumpai. Identifikasi anak menderita cacat dengar harus dilaksanakan sedini mungkin. Apabila anak cacat dengar tidak dideteksi sejak awal maka akan mengganggu perkembangan kemampuan berbahasa, bersosialisasi dan bahkan mengganggu perkembangan keterampilan kognitif, dimana akan menjadi dasar perkembangan di sekolah dan bahkan keberhasilan anak untuk bermasyarakat dikemudian hari. Telah dibuktikan bahwa intervensi dini anak dengan cacat dengar menunjukkan adanya kemajuan, dan menjadi lebih berhasil dalam perkembangan di sekolah, bahkan menjadi anggota masyarakat yang lebih produktif. Deteksi dini bayi baru lahir dapat dilaksanakan dengan tes sederhana yaitu dengan auropalpebral reflex, rising heart beat, cessation reflex, grimacing, Moro reflex. Tes lebih canggih adalah dengan melakukan tes auditory brainstem response (ABR), otoacustic emissions (OAEs) dan automated ABR. American Academy of Pediatrics, American Academy of Audiology, Joint Committee on Infant Hearing, dan National Association of the Deaf merekomendasikan agar melaksanakan skrining semua bayi baru lahir sebelum meninggalkan rumah sakit. Bagaimana di Indonesia? Data-data tentang cacat dengar pada bayi dan anak masih sangat langka. Alangkah baiknya rekomendasi diatas menjadi pertimbangan sehingga dilaksanakan pemeriksaan rutin bayi baru lahir dengan tes sederhana dan bahkan bila bayi lahir dengan risiko maka dilakukan tes canggih menggunakan OAE dan ABR, sebelum bayi meninggalkan rumah sakit.
PENGARUH AIR SABUN DAN DETERJEN TERHADAP DAYA TETAS TELUR AEDES AEGYPTI
Sudarmaja, I Made
Medicina Vol 39 No 1 (2008): Januari 2008
Publisher : Medicina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Demam berdarah dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti merupakan masalah kesehatan yang makin menjadi perhatian dengan kasus yang terus ada sepanjang tahun, walaupun tidak musim penghujan. Ini terkait dengan keberadaan vektornya yang terus ada sepanjang tahun dan berhubungan pula dengan keberadaan tandon yang mengandung air, baik air jernih dan mungkin pula air limbah rumah tangga seperti air sabun dan air deterjen. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan menetas telur Aedes aegypti bila kontak dengan kedua jenis air limbah tersebut. Penelitian eksperimental ini dengan rancangan acak lengkap mendapatkan bahwa rata-rata telur yang menetas menjadi larva pada hari ke-7 pada kelompok kontrol sebanyak 14,48%, pada air sabun dalam konsentrasi 0,5 gram/liter sebanyak 58,9% dan pada air sabun dalam konsentrasi 1 gram/liter sebanyak 42,77 % . Uji statistik mendapatkan bahwa air sabun pada kedua konsentrasi mempercepat dan meningkatkan jumlah larva yang terbentuk bila dibandingkan dengan kontrol. Pada air yang mengandung detergen konsentrasi 1,75 gram/liter dan 3 gram/liter tidak ditemukan telur Aedes aegypti yang menetas.