cover
Contact Name
Auliya Ridwan
Contact Email
aridwan@uinsby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jpai@uinsby.ac.id
Editorial Address
Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Jl. A. Yani 117 Surabaya Jatim 60237
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
ISSN : -     EISSN : 25274511     DOI : https://doi.org/10.15642/jpai.xxxx.xx.x.xx-xx
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) (print-ISSN: 2089-1946 & Electronic-ISSN: 2527-4511) is a peer-reviewed journal published by Islamic Education Teacher Training Program of UIN Sunan Ampel Surabaya. The journal issues academic manuscripts on Islamic Education Teaching and Islamic Education Studies in either Indonesian or international contexts with multidisciplinary perspective: particularly within scholarly tradition of classical Islam, Educational Studies, and other social sciences. The manuscripts are published in Bahasa Indonesia, English, and Arabic with abstract in both Bahasa Indonesia and in English. This is an open-access journal so that all parties are allowed to read, to download, to copy, to distribute, to print, or to link some or all parts of articles without any charge and without prior permission from either authors or journal editorial team. All articles in this journal have Document Object Identifier (DOI) number.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2015)" : 9 Documents clear
DESAIN MATERI PENDIDIKAN KOSMOLOGI (KAWNIYYAH) PERSPEKTIF AL-QURAN Ah. Zakki Fuad
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.972 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.137-156

Abstract

Bahasa Indonesia:Eksploitasi dan pemanfaatan sumber kekayaan alam yang berlebihan dan tidak terkendali di Indonesia telah mengakibatkan banyak  bencana alam yang menelan  korban jiwa dan harta. Bencana alam ini tidak akan terjadi apabila manusia mempunyai hubungan dan pengetahuan yang baik tentang alam semesta. Hal yang harus dilakukan adalah menyiapkan generasi masa depan dengan bekal ilmu yang cukup tentang kosmos/alam semesta/kawniyyah melalui lembaga-lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai desainer harus menyiapkan materi pendidikan kosmologi bagi peserta didik yang baik dan aplikatif. Materi pendidikan kosmologi banyak ditemukan dalam ayat-ayat kawniyyah  dalam al-Quran, tetapi ayat-ayat tersebut masih belum didesain sebagi sebuah teori yang aplikatif bagi lembaga pendidikan. Dengan pendekatan tematik (mawdhu’i)  ayat-ayat al-Quran yang masih sangat luas bisa dibuat menjadi desain materi pendidikan kosmologi bagi lembaga pendidikan. Materi pendidikan kosmologi dalam al-Quran dibagi menjadi tiga jenis; 1) Kosmologi daratan yang meliputi bumi, tanah, tumbuh-tumbuhan dan hewan. 2) Kosmologi lautan yang meliputi air dan perikanan. 3) Kosmologi angkasa yang meliputi matahari, bulan, bintang, awan, hujan dan angin. Pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang kosmologi akan menghindarkan manusia dari musibah dan bencana alam.  English:Uncontrolled exploitation and utilization of natural resources in Indonesia has caused several natural disasters with victims and financial-material loss. The disasters would not happen if human beings has better understanding about the universe. Therefore, the next generations must be prepared with cosmology/kawniyyah in educational institutions. A more applicative cosmology in school is urgently needed. In a framework of thematic approach, Quranic verses is widely opened for the instructional material in educational institutions. Cosmological mystery in the Quran is defined into the following three categories: (1) land cosmology involving the earth, soil, plants, and animals; (2) sea cosmology including water and fishes; and (3) space cosmology mentioning the sun, the moon, clouds, rains, and winds. Better understanding of cosmology prevents human beings from natural disaster.
INOVASI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES Titin Nurhidayati
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (919.413 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.23-56

Abstract

Bahasa Indonesia:Teori Multiple Intelligences (MI) muncul sebagai bentuk krtitik terhadap teori Intellectual Quotient (IQ) yang membatasi kecerdasan hanya pada kecerdasan Logis-Matematis dan Linguistik saja. Sementara dalam teori MI terdapat Sembilan kecerdasan manusia yakni: (1) Kecerdasan Liguistic, (2) Kecerdasan Logis-Matematic, (3) Kecerdasan Visual-Spasial, (4) Kecerdasan Kinestetik, (5) Kecerdasan Musik, (6) Kecerdasan Interpersonal, (7) Kecerdasan Intrapersonal, (8) Kecerdasan Naturalis, (9) Kecerdasan Eksistensialis. Teori ini menyadari betul bahwa setiap anak yang lahir ke dunia memiliki keunikan tersendiri yang berhak mendapatkan pengakuan dan diapresiasi dalam kehidupan utamannya dalam pendidikan. Sebab pendidikan merupakan wadah bagi siswa untuk membentuk dan mengembangkan potensi untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi dan membawa rahmat bagi seluruh alam ini. Pembelajaran berbasis MI merupakan suatu bentuk inovasi pembelajaran yang dapat menjadi pilihan bagi guru Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Mengimplementasikan pembelajaran berbasis MI berarti menggunakan pendekatan interdisipliner dalam mengembangkan materi pembelajaran, menggunakan multimodel pembelajaran, dan penilaian autentik dalam evaluasi pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk mewadahi keberagaman kecerdasan yang dimiliki oleh siswa.English:Multiple Intelligences (MI) emerged as a critical response to Intelligence Quotients (IQ) which limits the definition of intelligence in logical-mathematical and linguistic areas. The MI theory defines nine intelligence of human being such as (1) the linguistic, (2) the logical-mathematical, (3) the visual-spatial, (4) the kinesthetic, (5) the musical, (6) the interpersonal, (7) the intra-personal, (8) the natural, and (9) the existential. This theory recognizes the fact that every child has his/her own uniqueness and deserves appreciation in his/her education. This is important for the reason that education is a mode of developing students’ potentials in purpose of implementing their caliphate roles and bringing God’s mercy in the world. MI-based learning is an alternative in teaching Islamic education as a school subject in Indonesia. Implementing MI-based learning means implementing interdisciplinary approach in developing learning materials, making use multi-model of learning activities, and authentically assessed the learning itself. This purposes to accommodate the diversity of students’ intelligences.
URGENSI PEMBINAN IKLIM DAN BUDAYA SEKOLAH Lailatu Zahro
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.541 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.157-186

Abstract

Bahasa Indonesia:Pengembangan sekolah yang efektif, efisien, produktif dan akuntabel perlu ditunjang oleh perubahan berbagai aspek yang terkait dengan pendidikan, termasuk iklim sekolah. Perubahan iklim sekolah perlu dilakukan untuk merespons kondisi pendidikan yang semakin terpuruk. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, yang menuntut penyesuaian pendidikan dan iklim sekolah yang kondusif yang menunjang terhadap pembelajaran yang bermakna. Iklim dan Budaya sekolah yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman dan tertib sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Iklim dan budaya sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa senang dan bersikap positif terhadap sekolahnya, agar guru merasa dihargai, orang tua dan masyarakat merasa diterima dan dilibatkan. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif, hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghormati di antara satu dengan yang lain.  English:School development with the idea of effectiveness, efficiency, productivity, and accountability needs to go along with changing in educational settings, including the school climate. The climate transformation is urgently needed to respond degraded educational situation.  This is also required as the fundamental changing exists in every human life aspects, which requests for educational transformation and conducive school climate for meaningful learning at school. Conducive school climate is indicated by a safe, comfortable, and well-regulated school environment for effective learning. This circumstance is quite important so that students consider positively their schools, teachers feel appreciation for themselves, and parents are well-accepted and involved in school. This atmosphere can be developed through creating new positive habits and norms and teamwork under the umbrella of respects within the team member.
PENDIDIKAN ISLAM MASA MAJAPAHIT DAN DAKWAH SYEKH JUMADIL KUBRO Isno Isno
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.598 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.57-80

Abstract

Bahasa Indonesia:Membahas sosok Syekh Jumadil Kubro, tidak lepas dari perdebatan panjang dalam menemukan sejarah utuh tentang asal usulnya. Dari manakah dia? Bagaimanakah kehidupannya? Di manakah dia bersemayam pada akhir hayatnya? Berpijak pada pertanyaan-pertanyaan tersebut, menjadi menarik ketika membahas sebuah sarasehan dalam peringatan haul ke 632 Syekh Jumadil Kubro yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Mojokerto. Dari sejumlah pakar, baik dari ahli arkeologi, sejarahwan maupun dari kalangan ulama yang diundang ada benang merah dalam menyepakati sosok Syekh Jumadil Kubro. Syekh Jumadil Kubro adalah tokoh nyata dan benar adanya dan bukan tokoh fiktif. Jika melihat konversi besar-besaran penduduk Jawa kepada Islam, maka sah untuk menyatakan kehebatan dan kelihaian Syekh Jumadil Kubro di dalam mengatur dakwah Islamnya. Bagaimana tidak, kekuatan Hindu-Majapahit yang begitu kokoh dengan didukung nama besar kerajaannya mampu “ditaklukan” dalam cengkraman aqidah Islam. English:The discussion of Syekh Jumadil Kubro figure cannot be denied from a long debate regarding its comprehensive history. Where he came from, how his life was, and where he buried in are still debatable. Beginning from the previously mentioned questions, it is interesting to discuss about a seminar within the event of 632nd annual commemoration of Syekh Jumadil Kubro which was conducted by Department of Tourism and Culture of Mojokerto District. The discussion by archeologist, historian, and ulamas ended up with a conclusion regarding the syekh figure. The figure was real. From mass conversion from Hinduism to Islam in Java, it was concluded that the syekh had a very effective missionary strategy so that the Hindus-Majapahit transformed into a Muslim society.
POTRET PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH UMUM Abd. Rouf
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.547 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.187-206

Abstract

Bahasa Indonesia:Praktik pendidikan agama Islam di sekolah (umum) amatlah minim atau kurang maksimal. Secara umum, jumlah jam pelajaran agama di sekolah rata-rata 2 jam per minggu. Dengan alokasi waktu seperti itu, jelas tidak mungkin untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agama yang memadai. Oleh karena itu, harus dilakukan strategi alternatif dalam memenuhi kebutuhan peserta didik akan pendidikan agama di sekolah umum, antara lain: melalui kegiatan ekstra kurikuler berbasis keruhanian, tambahan-tambahan materi kegamaan di luar jam pelajaran, menyisipkan muatan keagamaan kedalam semua bidang studi umum, dan lain sebagainya. Sumber daya guru agama Islam juga perlu terus ditingkatkan kualitasnya, baik dari segi content maupun metodologi. Di samping itu, proses pelaksanaan pendidikan agama Islam harus selalu dilaksanakan dengan baik dan maksimal. Evaluasinya tidak cukup hanya menilai aspek kognitif siswa, tetapi harus juga melihat dan menilai aspek afektif dan psikomotoriknya. Ketiga domain (kognitif, afektif, psikomotorik) pendidikan agama Islam harus dilihat dalam pelaksanaan penilaian, sehingga bersifat komprehensif. English:Islamic education subject in secular school is quite minimal in its duration. Generally, it takes only two credit hours per week in such kind of school. Due to the time allocation, it is clearly impossible to hand down student standard religious knowledge, attitude, and skills. Therefore, the school needs to find an alternative way to respond the needs of standard religious education in secular schools. Some of the implemented strategies are the religious extra-curricular program, extra hours for the subject, and integrated the religious messages in non-religious subjects. Religious teaching staff must also be upgraded in terms of the quality, either the subject matter enrichment or the instructional process. In addition, the instructional process needs optimal implementation. The evaluation should cover the cognitive, affective, and psychomotor areas. The three previously mentioned domain in Islamic education subject must be carefully and comprehensively assessed.
MODEL PENDIDIKAN TOLERANSI DI PESANTREN MODERN DAN SALAF Ali Maksum
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (625.02 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.81-108

Abstract

Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan mengetahui model pendidikan toleransi di pesantren modern dan di pesantren salaf. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan setting dua pesantren, yakni pesantren modern Gontor Ponorogo dan pesantren salaf Tebuireng Jombang. Teknik pengumpulan datanya dengan wawancara dan dokumentasi. Untuk analisis data digunakan teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Pesantren Darussalam Gontor merupakan pesantren modern, dengan ciri khas berupaya memadukan tradisionalitas dan modernitas pendidikan. Sistem pengajaran wetonan dan sorogan diganti dengan sistem klasikal (pengajaran di dalam kelas) yang berjenjang dan kurikulum terpadu diadopsi dengan penyesuaian tertentu. Sistem pendidikan yang digunakan di pondok modern dinamakan sistem Mu’allimin, atau terkenal dengan nama Kulliyatul-Mu'allimin al-Islamiyah (KMI). Sedangkan sistem pendidikaan di pondok pesantren Tebuireng, dilihat dari segi sistem pendidikan dan pengajarannya sepenuhnya tidak dapat disebut sebagai pesantren salaf murni. Karena di pesantren Tebuireng masih mempertahankan sistem pendidikan  salaf, juga menerapkan sistem pendidikan modern. Oleh karena itu, untuk sekarang ini lebih tepat apabila menyebut Pondok Pesantren Tebuireng dengan sebutan Pondok Pesantren Campuran atau Pondok Pesantren Terpadu (antara khalaf dan salaf).  (2) Baik di pondok pesantren modern dan salaf, Islam yang dipahami dan diaktualkan adalah Islam yang inklusif, ramah, tidak kaku, moderat, yakni Islam yang bernuansa perbedaan dan sarat dengan nilai-nilai multikultural. Mendakwahkan Islam yang  seperti inilah yang menjadikan Islam bisa bersentuhan dengan multikultur. Untuk membentuk santri yang toleran kedua pesantren ini mengajarkannya melalui kurikulum pendidikan dan keteladanan hidup sehari-hari.  English:This research purposes to examine tolerant education model in both modern and salafis pesantren. This qualitatively descriptive study involves two pesantren settings, the modern pesantren Gontor Ponorogo and the salafis pesantren Tebuireng Jombang. Data is collected through interviews and documentations. From an inductive analysis, this research shows the following results. First, the Gontor modern pesantren acculturate preserved traditional value of pesantren in the modernity of educational systems. Particular teaching methods such as wetonan and sorogan are transformed into more standardized grades in classical way. Classic curriculum is still preserved in the class with some adaptations. This system is later called Mu’allimin or more popular as Kulliyatul-Mu'allimin al-Islamiyah (KMI). On the other hand, educational system in the pesantren of Tebuireng cannot be considered as the pure salafis category as the pesantren is still conducted the salafis education and the modern one separately. Therefore, the Tebuireng is now more exactly called “mixed pesantren” or integrated pesantren –between the khalafis and salafis. The next result of this result shows the fact that both salafis and integrated pesantrens actualize inclusive, peaceful, flexible, ad moderate Islam in which diversity and multiculturalism is in it. Islamic missionary in this way sustain Islam to live together with multi-culture. Curriculum of education and good-model leadership create santris with high tolerance.
EKSISTENSI KURIKULUM PESANTREN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN Ahmad Saifuddin
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.378 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.207-234

Abstract

Bahasa Indonesia:Sebagai lembaga pendidikan Islam asli Indonesia, pondok pesantren sudah menunjukkan keberhasilan dalam menjaga eksistensi diri. Sejak zaman sebelum merdeka sampai orde reformasi, pesantren semakin diakui keberadaannya dalam perundang-undangan Indonesia, terutama terkait pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren memiliki unsur kyai, santri, pondok, masjid, metode pembalajaran dan kitab kuning. Variasi pondok pesantren menjadi salafiyah dan khalafiyah. Namun keduanya tetap memakai ketiga metode pembelajaran, yaitu sorogan, bandongan dan wetonan. Kurikulum pesantren merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan yang mencerminkan pandangan hidup bangsa. Lingkungan kebijakan pendidikan adalah ruang lingkup yang berada pada lingkungan dari sistem pendidikan tersebut, baik terpusat maupun bersifat lokal. Masalah dan agenda kebijakan pendidikan terdiri dari isu-isu yang sedang dibahas serius dalam hubungan domain kebijakan di bidang pendidikan. Sistem dan prosedur perumusan kebijakan pendidikan meliputi fungsi alokasi, fungsi inquiri dan fungsi komunikasi. Kajian metodologi dalam kebijakan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan mengenai subtansi pendidikan itu sendiri. Pondok pesantren –meskipun merupakan model pendidikan asli pribumi- namun dalam dinamikanya selalu tidak dapat lepas dari kebijakan pendidikan secara nasional. English:As a native Islamic educational institution in Indonesia, Pesantren has showed its success in preserving its existentialism. From the colonial period to the reformation period, Pesantren is getting more recognition in Indonesian legal system, particularly in the act of national education. As an Islamic educational institution, Pesantren has several element in its body, such as the kyai (the orthodox teacher), santri (the disciples), pondok, (the dorms), mosque, teaching methods, and kitab kuning (the yellow scriptures). The Pesantren has the salafiyah and khalafiyah as the variants. However, both of them implement the same teaching methods such as sorogan, bandongan, and wetonan. The Pesantren curriculum is a way of achieving educational goals and a direction of education with nation philosophies. The educational policy area in the Pesantren education exists both in national and local level. Issues and policy of education consist of actual problems in educational policy domain. The system and procedure of educational policy making involves several functions, such as allocation, inquiry, and communication. Methodological discourse in educational policy cannot be separated from the discourse of education itself. Pesantren –despite as a native educational system- cannot be separated from the dynamics of national education policy.
PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA PERSPEKTIF ISLAM Mufatihatut Taubah
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.4 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.109-136

Abstract

Bahasa Indonesia:Pendidikan anak yang pertama dan paling utama dalam Islam adalah pendidikan dalam keluarga yang berperspektif Islam. Pendidikan dalam keluarga yang berperspektif Islam adalah pendidikan yang didasarkan pada tuntunan agama Islam yang diterapkan dalam keluarga yang dimaksudkan untuk membentuk anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia yang mencakup etika, moral, budi pekerti, spiritual atau pemahaman dan pengalaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu wujud amar makruf nahi munkar dalam kehidupan keluarga, yaitu dengan  memberikan pendidikan kepada putra putrinya berdasarkan ajaran Islam. Anak dalam menuju kedewasaannya memerlukan bermacam-macam proses yang diperankan oleh bapak dan ibu dalam lingkungan keluarga. Pola atau metode pendidikan agama dalam  Islam pada dasarnya mencontoh pada perilaku Nabi Muhammad SAW dalam membina keluarga dan sahabatnya. Karena segala apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan manifestasi dari kandungan al-Qur’an. Adapun dalam pelaksanaannya, Nabi memberikan kesempatan pada para pengikutnya untuk mengembangkan cara sendiri selama cara tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh Nabi SAW. English:The first and the prime education for children in Islam is the Islamic family education. This family education is based upon Islamic guidance in purpose of building children’s faith, piety, highest endeavor –including ethics, morality, and spirituality, and the practice of religious values in daily life. This effort is a kind of amar makruf nahi munkar in family scope. Children needs family model for their future mental and spiritual development. The model and methods of Islamic education in the family scopes are adopted pretty much from the way of our prophet Muhammad taught his family and his companions. Muslim believes that whatever done by the prophet is the manifestation of Quranic essence. In the implementation level, the prophet let his companions and his follower to develop the teaching as long as the development itself in line with educational principles by the prophet.
PENYELENGGARAAN SEKOLAH INKLUSI DI INDONESIA Abd. Kadir
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.15 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2015.3.1.1-22

Abstract

Bahasa Indonesia:Keragaman warga negara Indonesia merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Namun semua warga negara Indonesia mempunyai hak dan kewajiban mendapatkan pendidikan. Peserta didik normal dapat mengakses pendidikannya di sekolah reguler, sedangkan  peserta didik disable di Sekolah Luar Biasa. Tidak semua penyandang disable dapat mengakses pendidikannya secara baik di SLB, sehingga pemerintah mengupayakan pendidikan mereka di sekolah terdekat dengan tempat tinggalnya yang diprogram secara khusus dan disebut dengan sekolah inklusi. Di sekolah ini diselenggarakan berbagai macam model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka dalam belajar bersama peserta didik normal. Untuk hal tertentu mereka belajar secara khusus dengan bimbingan khusus pula. Kebersamaan mereka belajar di kelas yang sama memberikan peluang bagi satu sama lain untuk saling menjadi sumber belajar. Tetapi untuk memudahkan dalam hal penyelenggaraannya sebagian pendidikannya diserahkan kepada keluarganya yang telah dipersiapkan. English: The diversity in Indonesia is an inevitable fact. Along with that, every single Indonesian deserves education as their human right. Students with disability may pursue their education in schools for the disabled. It is the fact that the disabled -for some reasons- cannot go to the school they should be in. As a result, they sit in regular school with specific program for disabled. This school is later called the inclusive. In the school, learning activities are provided for disabled with particular treatment. This goes together with learning activities for non-disabled. For particular subjects, the disabled needs particular assistance. The situation in inclusive school provides opportunities for both the disabled and the non-disabled in learning from each other. However, some learning activities for disabled are conducted by their family under school directions.

Page 1 of 1 | Total Record : 9