cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Extension Course Filsafat ( ECF )
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
ECF adalah singkatan dari Extension Course Filsafat. ECF merupakan kegiatan non-profit yang mengejawantahkan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. ECF diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar Bandung sejak tahun 2004. Program ECF ini dilandasi oleh kebutuhan sebagian masyarakat yang ingin mencicipi studi filsafat tetapi karena keterbatasan waktu mereka tidak bisa mengikutinya secara formal. Selain itu, adanya kebutuhan juga akan pendekatan yang lebih mendasar dan kritis untuk menelaah fenomena kultural dan kemanusiaan kontemporer, yang bukan hanya dalam konteks Indonesia saja, tetapi konteks peradaban yang lebih luas.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " No 2 (2014): ECF Filsafat Humor" : 8 Documents clear
Analogi Permainan Ricoeur dalam Imajinasi Sastra : Imajinasi Melampaui Sangkar Moral Haryatmoko, Haryatmoko
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.
HUMOR DAN DUNIA MANUSIA Sugiharto, Bambang
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor memang khas dunia manusia, namun ternyata tak mudah untuk dipahami hakekat terdalamnya secara tunggal. Barangkali karena humor memang banyak jenisnya, sekaligus berragam pula kedudukan dan fungsinya. Di Yunani humor banyak dianggap negatif, maka bagi Plato dalam suatu negara ideal komedi harus dikontrol. Tapi di abad Pertengahan humor digunakan sebagai bumbu retorika (Cicero, Quitillian). Lalu bersama dengan bangkitnya penghargaan terhadap tubuh di era Renaissance, humor lebih dilihat sebagai bagus untuk kesehatan tubuh dan jiwa. Pada abad modern, humor dilihat sebagai respons intelektual dan emosional atas situasi tragis. Humor menjadi semacam worldview yang memperlihatkan kemampuan manusia mentransendensi kondisi konkritnya. Di jaman postmodern saat ini humor dan ironi dilihat sebagai permainan bebas, bahkan segala hal dilihat sebagai „permainan” , yang terus-menerus membuka persepsi baru atas realitas.
Humor dan Homo Ludens Rahmat, Agus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.
Humor dan Homo Ridens Heatubun, Fabianus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2014 ini ditandai dengan meninggalnya sejumlah komedian atau pelawak yang kesohor di tingkat internasional dan juga nasional. 13 Agustus 2014 Robin Williams mati bunuh diri cukup mengejutkan dunia tontonan. 4 September 2014 Joan Rivers meninggal meski dalam usia tua, namun menjadi pembahasan di mana mana, terutama kontroversi tentang dia yang pro dengan Israel tinimbang prihatin terhadap kemanusiaan di Palestina. 6 Maret 2014 pelawak senior Djodjon dari Jayakarta Group meninggal yang disusul oleh Mamiek Prakoso pada 3 Agustus 2014 sang pelawak Srimulat dengan ciri khas rambut bercat putih-hitam meninggal secara tiba-tiba. Kematian para pelawak ini bisa dianggap normal saja. Akan menjadi peristiwa yang istimewa dan penting ketika vokasi mereka sebagai komedian atau pelawak kita perkarakan. Bahwa ada profesi hidup sebagai pelawak dan profesi tersebut amat dibutuhkan oleh pemirsa di manapun. Jadwal acara TV akan terasa cemplang bila tidak disisipi tayangan yang bertema komedi. Masyarakat butuh tertawa. Entah untuk mentertawakan kekonyolan orang lain (para pelawak) atau mentertawakan diri sendiri ketika tontonan adalah proyeksi jiwa sang penonton. Pertanyaan yang sifatnya pragmatis, utilitaristik dan ekonomis mungkin lebih mudah untuk dijawab. Mengapa pelawak itu memilih profesi sebagai pelawak, karena pasar membutuhkannya. Namun bila petanyaan bergeser sedikit ke wilayah ontologis, barulah mengalami kesulitan untuk menjawab. Sulit karena memang tidak pernah, paling tidak jarang, untuk diperkarakan. Selain mengapa mesti diperkarakan. Namun sebagai „tracker‟ intelektual yang gemar menelusuri lorong-lorong gelap dan nyaris jarang ada orang yang melewatinya, kadang merasa asyik juga menjelajahinya
Humor sbg ‘World-view’; atau Humor dan Kebudayaan Laksana, Bagus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.
KARAKTERISTIK HUMOR INDONESIA Nugroho, Garin
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor merupakan bagian dari budaya hidup manusia. Sebuah humor akan lekat hadir dalam kehidupan bangsa yang memiliki banyak masalah di dalamnya. Jenis humor yang seperti ini sering kali mendapat julukan “humor gelap“. Masyarakat yang penuh dengan kontradiksi dan masalah tersebutlah yang melahirkan humor tersebut. Dan humor tersebutyang berkembang semarak dan melahirkan sensitivitas terhadap berbagai gejala yang dihadapi bangsa. Humor-humor tersebutlah yang melahirkan suatu kultur yang menarik yaitu yaitu kultur humor dimana komedian dan masyarakat playful tumbuh.Sebuah hal yang unik ketika kembali melihat bahwa humor hadir dalam wilayah budaya tertentu, sehingga juga mempengaruhi gaya atau cerita humor disetiap budaya yang diusung oleh para komedian ataupun masyarakat. Humor yang tumbuh dalam budaya tersebut muncul karena adanya paradoks kebudayaan itu sendiri, yaitu mengenai hal yang kuno dengan yang baru. Hal yang kuno dan yang baru inilah yang kerap kali menjadi bagian dari sebuah materi untuk melucu.
HUMOR DAN POP-CULTURE Yossie, Yossie
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.
Humor dan Bahasa : LANTAS, APA SALAHNYA KETAWA? Sylado, Remy
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.

Page 1 of 1 | Total Record : 8