cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Extension Course Filsafat ( ECF )
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
ECF adalah singkatan dari Extension Course Filsafat. ECF merupakan kegiatan non-profit yang mengejawantahkan salah satu bentuk Tri Darma Perguruan tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. ECF diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat Unpar Bandung sejak tahun 2004. Program ECF ini dilandasi oleh kebutuhan sebagian masyarakat yang ingin mencicipi studi filsafat tetapi karena keterbatasan waktu mereka tidak bisa mengikutinya secara formal. Selain itu, adanya kebutuhan juga akan pendekatan yang lebih mendasar dan kritis untuk menelaah fenomena kultural dan kemanusiaan kontemporer, yang bukan hanya dalam konteks Indonesia saja, tetapi konteks peradaban yang lebih luas.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian" : 9 Documents clear
Filsafat Kematian Heidegger F. Budi Hardiman
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.1995.6-10

Abstract

Renungan tentang kematian terletak di jantung Sein und Zeit.  Sebagai keseluruhan dari keseluruhan struktur Dasein, Sorge  merupakan suatu gerak atau dinamika yang belum definitif. Bahwa salah satu momennya sich vorweg (mendahului) berarti  bahwa Sorge adalah penyingkapan terus-menerus. Ada dari  Dasein adalah kemungkinan (Seinkoennen), maka ia lebih  merupakan suatu gerak terus-menerus menuju dirinya daripada merupakan sesuatu yang sudah jadi. Rumusan filosofisnya adalah demikian: Manusia itu lebih ‘menjadi’ (Werden) daripada ‘ada’  (Sein). Dalam arti ini, “selama Dasein sebagai Mengada ada, dia  tak pernah mencapai ‘keseluruhan’nya.”
Kematian: Inspirasi dari Neuroscience Ignatius Bambang Sugiharto
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.2000.%p

Abstract

PERSOALAN DASAR: makna kematian tergantung pada masalahadakah ‘hidup sesudah mati’ ?apakah KESADARAN tergantung pada OTAK ?Kini telah RATUSAN JUTA orang mengalami NDE, OBE, automatic writing, medium, dll . RIBUAN telah terdokumentasi dan dikaji.
E. KUEBLER-ROSS : TANDA & TAHAP MENJELANG KEMATIAN Agus Rachmat
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.1996.11-15

Abstract

EKB meneliti proses kematian dari para pasien yang mengalami “natural death”kibat usia tua dan penyakit terminal. Akibatnya, uraiannya mungkin tidak seluruhnya berlaku bagi  orang yang mengalami “violent death,” yakni para korban yang mati mendadak sebagai korban kejahatan, kecelakaan atau serangan fatal seketika penyakit tertentu. Tambahan lagi, para pasien yang diamati EKB itu mendapat perawatan medis dan bimbingan psiko-spiritual saat menempuh perjalanan akhir hidupnya. Mungkin tidak setiap orang bisa mendapoat fasilitas  dan keberuntungan semacam itu. Kendati demikian, uraian EKB trentang tanda & tahap kematian itu tetaplah berguna sebagai bahan refleksi pribadi kita dan panduan bagi interaksi kita dengan orang-orang yang berada di ambang maut, agar  merejka bisa meninggakl dengan tenang dan bermartabat.EKB juga menandaskan bahwa kelima tahap itu berlaku dan berguna bukan saja bagi orang yang dihadang oleh krisis kematian, melankan juga bagi memahami setiap krisis kehidupan yang dialami manusia pada umumnya. Krisis adalah “lifechanging events,” saat dan peristiwa yang membawa perubahan yang besar dalam cara hidup kita, misalnya: cacat, lumpuh, perceraian, patah hati, drop-out, PHK, bankrut, menopause, pensiun dan pikun etc. Dinamika bertahap yang serupa, dengan intensitas yang berbeda, mungkin bisa terjadi saat kita mencoba untuk bangkit dari aneka krisis semacam itu.
“Mengintip Dunia Arwah: Perspektif Mistik” Ki Padmo Bagus
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.2001.%p

Abstract

Bagaimana dan seperti apa dunia arwah.
PANDANGAN FILOSOFIS TIONGHOA MEMANDANG MATI BAGAIKAN HIDUP Ardian Cangianto
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.1997.%p

Abstract

Jalan untuk keluar dari lingkaran kematian dan kehidupan adalah dengan pencerahan. Zen buddhisme maupun Taoisme dan Ruisme mengenal konsep pencerahan. “Langit selalu bergerak membangun, seorang junzi ( manusia sejati ) tiada henti memperbaik diri” ada dalam kitab Yijing, jadi sebagai manusia yang hidup harus selalu memperbaiki diri demi  kebaikan alam semesta ini. Tidak perlu berpikir jauh apa yang terjadi setelah mati, jalani saja hidup ini. Agana mengajarkan kebenaran dan kebenaran itu harus dilaksanakan setiap hari. Ini yang  menyamakan semua agama. Tapi asal muasal, tujuan hidup dan kemana pergi setelah mati itu yang berbedabeda. Inilah yang membedakan konsep-konsep agama. Demikian juga berbagai budaya dan mitos yang bernarasi tentang manusia selalu berbeda-beda.
Menghadapi Kematian Riil dan Sadar: Kasus Terpidana Mati Bali Nine Yuventius Fusi Nusantoro
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.2002.%p

Abstract

Sharing pengalaman dalam mendampingi kasus terpidana mati Bali Nine.
THE SHADOW OF DEATH, THE SHADOW OF IMMORTALITY Yohanes Slamet Purwadi
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.1998.%p

Abstract

The shadow of death dan the shadow of immortality sama-sama kuat sebagai kecenderungan eksistensi manusia. Karenanya, “situasi batas” tidak boleh hanya dipandang sebagai hantu yang bergentayangan yang mengintai hidup manusia. Ia serentak merupakan kesempatan eksistensial; situasi itu sendiri harus dipahami sebagai realitas yang  berlimpah makna, bersifat konkret, baik secara fisik maupun  psikologis. Ditopang oleh immortalitas jiwa, hidup dikukuhkan  sebagai kesempatan emas untuk menyadari dan merogoh  serpihan-serpihan makna. Hidup tak pernah habis menyediakan “kesempatan kedua dan ketiga dan seterusnya” dan ini semua harus dikelola dengan kebebasan untuk  merealisasikan diri. Dengan cara itulah kita menghayati hidup secara otentik.
Kematian Ignatius Bambang Sugiharto
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.1994.1-5

Abstract

Manusia tidak hidup dengan fakta saja (natural environment) melainkan, terutama dengan makna (environment of the mind).MASALAH : cerita ttg kematian berubah-ubah bersama sejarah, perubahan sosial, dan perkembangan iptek.
Konsep Filosofis Reinkarnasi dan Argumentasinya Bikshu Suddmasilo
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 2 (2015): ECF Filsafat Kematian
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i2.1999.%p

Abstract

Dalam kehidupan manusia ini sering kali timbul pertanyaan, “setelah kehidupan ini berakhir, kemanakah kita akan pergi?” Pertanyaan ini tentunya menjadi salah satu misteri terbesar dalam kehidupan umat manusia. Kematian adalah pasti, apa yang terjadi sesudah kematian masih merupakan tanda tanya besar karena mereka yang sudah mendahului kita tidak lagi “mengupdate” status facebook atau tweet di tweeter  dimanakah mereka berada setelah kematian datang menjemput. Kita tentunya memiliki banyak “jawaban” terhadap pertanyaan tersebut, dimana setiap “jawaban” itu berasal dari berbagai tulisan (kitab, situs, ukiran, artifak, dan sebagainya) atau secara lisan dari seorang guru ke murid dan diteruskan turun temurun. Semua jawaban tersebut adalah berbeda beda, walaupun ada yang memiliki kemiripan.

Page 1 of 1 | Total Record : 9