cover
Contact Name
Natris Idriyani
Contact Email
natrisidriyani@uinjkt.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
natrisidriyani@uinjkt.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia (JP3I)
ISSN : 20896247     EISSN : 26545713     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia (JP3I) adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurnal ini bertujuan untuk memfasilitasi interaksi, diskusi, dan gagasan di antara para ilmuwan psikologi Indonesia. Jurnal ini difokuskan pada Psikologi Pengukuran.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 4 (2014): JP3I" : 5 Documents clear
Uji Validitas Konstruk Alat Ukur Ucla Loneliness Scale Version 3 Astrid Febry Nurdiani
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol 3, No 4 (2014): JP3I
Publisher : Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v3i4.9322

Abstract

AbstractUCLA Loneliness Scale Version 3 is a most used measurement to detect loneliness. The aim of this study was to testing construct validity from UCLA Loneliness Scale Version 3. Data collected from 170 adolescent from a certain orphanage in South Tangerang. Confirmatory factor analysis (CFA) was conducted to analyze data using Lisrel 8.7 software. Result showed that some of UCLA Lonelines Scale Version 3 items was measuring more than one factor. AbstrakUCLA Loneliness Scale Version 3 merupakan salah satu alat ukur yang popular dan paling banyak digunakan dalam mendeteksi perasaan kesepian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konstruk dari alat ukur tersebut. Data yang digunakan adalah data yang diperoleh dari 170 remaja pada salah satu panti asuhan di Tangerang Selatan. Metode analisis yang digunakan adalah Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan bantuan software Lisrel 8.7. Hasil pengujian membuktikan bahwa terdapat beberapa item dalam UCLA Loneliness Scale Version 3 yang mengukur lebih dari satu faktor.
Kerancuan Dalam Penggunaan Istilah “Construct Reliability” Jahja Umar
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol 3, No 4 (2014): JP3I
Publisher : Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v3i4.9323

Abstract

AbstractIn the classic theory where “true-score” for every person that had been tested cannot be obtained, the reliability coefficient is needed so that test result user can see how far the data can be trusted. For example, like making “confident interval” for true score in test score that already obtained. Next, researcher that will be analyzed the result data statistically, with regression analysis for example, can even use reliability coefficient test score to check bias in regression coefficient because of the low score of varible coefficient that used as predictor. So, when the data that analyzed is total-score, researcher have to report the reliability coefficient. Most popular reliability coefficient is Cronbach, that can estimate if some of the assumption is required, one of them is that all test item is parallel and assumption that error measurement cannot be corelated. With the advancement of psychometry subject over years, reliability coefficient can be estimate more accurate even when one or many of the assumption cannot be required. One of them is the reliability that measure each item’s representation, that many called it “construct reliability”. The word “construct” is happened to misleaded it. This article explain that commonly there are no difference between coefficient and the “new” coefiecient. AbstrakDalam teori tes klasik di mana “true-score” untuk setiap orang yang di tes tidak dapat diperoleh, koefisien reliabilitas diperlukan agar pengguna hasil tes dapat melihat sejauh mana data yang dimiliki dapat dijadikan pegangan / dipercaya. Misalnya dengan membuat “confident interval” untuk true-score bagi skor tes (yang dalam hal ini adalah skor total dari skor item) yang diperoleh. Selanjutnya, peneliti yang akan menganalisis data hasil tes secara statistik, misalnya dengan analisis regresi, bahkan dapat menggunakan koefisien reliabilitas skor tes tersebut untuk mengkoreksi bias yang terjadi pada koefisien regresi akibat rendahnya reliabilitas skor variabel yang dijadikan prediktor. Oleh sebab itu, ketika data yang dianalisis adalah skor tes (skor-total) seorang peneliti atau pengguna tes harus melaporkan koefisien reliabilitas itu. Koefisien reliabilitas yang sangat populer adalah Cronbach , yang dapat di estimate jika beberapa asumsi terpenuhi, diantaranya asumsi bahwa seluruh item tes adalah paralel dan asumsi bahwa kesalahan pengukuran tidak saling berkorelasi. Seiring dengan kemajuan di bidang psikometri, misalnya dengan dikembangkannya metode Analisis Faktor Konfirmatorik (CFA), koefisien reliabilitas dapat diestimasi dengan lebih akurat meskipun satu atau beberapa dari asumsi tersebut tak dapat terpenuhi. Salah satunya adalah koefisien reliabilitas jika asumsi paralelitas tak terpenuhi, yaitu koefisien dengan memperhitungkan bobot setiap item, yang kemudian ada yang menyebutnya dengan istilah “construct reliability”. Penggunaan kata “construct” di sini ternyata telah menimbulkan kesalahan dalam menafsirkan istilah tersebut. Tulisan ini berisi uraian untuk menjelaskan bahwa pada dasarnya tak ada perbedaan yang mendasar antara koefisien seperti Cronbach  dan sejenisnya dengan koefisien “baru” tersebut.
Adaptasi Dan Validasi Skala Political Trust Dan Political Efficacy Restiani Fauzie
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol 3, No 4 (2014): JP3I
Publisher : Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v3i4.9319

Abstract

AbstractThe aim of the study is to test the construct validity of political trust scale modified from Loeber (2011) and political efficacy scale modified from Craig, Niemi, and Silver (1990). Political trust consists of three dimensions, 1) trust with politician, 2) political trust with institution, and 3) trust with democracy. Political efficacy consists of two components, internal political efficacy and external political efficacy. Data were collected from 337 participants. Confirmatory factor analysis was used as factor analysis method using Lisrel 8.70. Validity testing of political trust scale was conducted with four analysis model and three analysis model to test the validity of political efficacy scale. The result showed that three dimensions of political trust were significantly fit while tested using three factor model and second order method, and not fit when using one factor model. Similar result was applied to the validity of political efficacy scale. AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji validitas konstruk dari skala kepercayaan politik yang dimodifikasi dari skala yang disusun oleh Loeber (2011) dan efikasi politik yang dimodifikasi dari Craig, Niemi, dan Silver (1990). kepercayaan politik terdiri dari tiga dimensi: kepercayaan terhadap politisi, kepercayaan terhadap instituai, dan kepercayaan terhadap demokrasi, sedangkan efikasi politik terdiri dari dua komponen: efikasi politik internal dan efikasi politik eksternal. Data berasal dari subyek sebanyak 337 orang. Metode yang digunakan adalah analisis faktor konfirmatorik. Pengujian validitas skala kepercayaan politik pada penelitian ini dilakukan dengan empat model analisis. Sedangkan untuk pengujian skala efikasi politik dilakukan dengan tiga model analisis. Berdasarkan pengujian melalui model per-dimensi, tiga faktor dan orde dua didapatkan semua subskala signifikan mengukur political trust namun ada tiga item yang bersifat multidimensional. Sedangkan pengujian melalui model satu faktor tidak cocok karena terlalu banyak korelasi antar kesalahan item. Pengujian validitas konstruk skala efikasi politik melalui model per-dimensi dan dua faktor didapatkan semua subskala signifikan mengukur efikasi politik namun ada satu item yang bersifat multidimensional. Saat dilakukan pengujian melalui model satu faktor didapatkan empat item yang tidak fit dan modifikasi panjang harus dilakukan untuk memperoleh model yang fit.
Uji Validitas Konstruk The Modified Mini Mental State-Test (3MS) Gevi Khairunnisa; Pricillia Putri; Febbealya Cheerson; Fenny Junita; Christiany Suwartono; Magdalena Halim
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol 3, No 4 (2014): JP3I
Publisher : Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v3i4.9320

Abstract

AbstractDecline in cognitive function is a clinical manifestation occurs as part of the aging process which is inevitable in elderlies. Decline in cognitive function is often referred to as dementia. One of the measuring devices made to measure cognitive function was MMSE by Folstein, Folstein, and McHugh. As the MMSE had shortcomings such as floor and ceiling effects, also the failure to distinguish between mild and severe dementia, in 1987 Teng and Chui made the Modified Mini Mental State (3MS) which also measured cognitive function. Therefore, this study aims to adapt and create norms in accordance with the conditions in Indonesia and to test the construct validity of 3MS. The data was obtained from 152 elders lived in Jakarta and surrounding areas. The method of analysis used is Confirmatory Factor Analysis (CFA) with the help of software LISREL 8.7. The test results proved that Indonesia 3ms version consists of 3 factors. AbstrakSetiap manusia akan mengalami proses penuaan pada usia lanjut yang berakibat pada penurunan fungsi kognitif. Penurunan fungsi kognitif yang terjadi secara terus-menerus disebut dengan demensia. Salah satu alat ukur yang dibuat untuk mengukur penurunan fungsi kognitif adalah Mini Mental State Examination (MMSE) oleh Folstein, Folstein, dan McHugh (1975). MMSE memiliki kekurangan seperti floor and ceiling effect serta gagal membedakan demensia ringan dengan demensia berat. Oleh karena itu, untuk mengatasi kekurangan MMSE, Teng dan Chui (1987) membuat The Modified Mini Mental State (3MS) yang juga mengukur fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan mengadaptasikan, membuat norma, dan menguji validasi 3MS versi Indonesia yang dibuat peneliti. Peneliti menggunakan data 152 lansia yang berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Faktor Eksplanatori dengan bantuan SPSS dan Analisis Faktor Konfirmatorik dengan bantuan Lisrel 8.8. Hasil analisis membuktikan bahwa 3MS versi Indonesia ini valid dan terdiri dari 3 faktor.
Uji Validitas Konstruk Alat Ukur Diabetes Quality Of Life (DQOL) Emiria Farahdina
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol 3, No 4 (2014): JP3I
Publisher : Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v3i4.9321

Abstract

AbstractQuality of life is a concept that related with life satisfaction according to culture, life experience, and value which is used to explaining someone’s life aspects generally or specifically with an illness, for example Diabetes Mellitus Type 2. DM2 affects health condition decreasing and overall QoL. Diabetes Quality of Life (DQoL) is a measurement of QoL DM2 specific recommended by previous researchers to measure QoL of DM2 patient. But, this scale need to be adjusted with research sample characteristics in Indonesia. This research was conducted to testing construct validity of DQoL scale which has been adapted with Indonesian culture. Research sample was 161 elderly from a certain hospital in Bogor. Data was collected with non-probability sampling technique. Result showed that overall DQoL has unidimensional items. So that, DQoL is important for improving QoL of DM2 patients.AbstrakQuality of Life merupakan konsep yang berhubungan dengan kepuasan pribadi akan kehidupannya berdasarkan konteks sistem budaya, pengalaman hidup, dan nilai dan digunakan untuk menjelaskan aspek kehidupan seseorang secara keseluruhan maupun yang berkaitan dengan penyakit tertentu, misalnya Diabetes Mellitus Tipe 2 (DM2). DM2 mempengaruhi penurunan kondisi kesehatan dan QoL secara keseluruhan.  Diabetes Quality of Life (DQoL) merupakan instrumen pengukuran QoL spesifik diabetes yang banyak direkomendasikan oleh peneliti sebelumnya untuk mengukur QoL penderita DM2. Namun, penggunaan skala ini perlu disesuaikan kembali sesuai dengan karakteristik sampel penelitian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas konstruk dari skala DQoL yang telah disesuaikan dengan budaya Indonesia. Sampel dalam penelitian ini berjumlah I61 lansia yang diperoleh dari salah satu rumah sakit di Bogor, diambil dengan menggunakan teknik sampling non-probabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum item-item dalam DQoL sudah mengukur konstruk yang didefinisikan (unidimensional). Oleh karena itu, skala DQoL penting dikembangkan dalam rangka peningkatan QoL penderita DM2.

Page 1 of 1 | Total Record : 5