cover
Contact Name
Eko Suhartono
Contact Email
esuhartono@ulm.ac.id
Phone
+6281251126368
Journal Mail Official
jbk@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Health, Science,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 34 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2014)" : 34 Documents clear
Tingkat Pengetahuan Tentang Penyaki Menular Seksual pada Siswa SMA Negeri di Banjarmasin Dwiputra Tesan Panenga; Robiana M. Noor; Triawanti Triawanti
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.962

Abstract

ABSTRACT:Sexually transmitted disease is a disease transmitted primarily through sexual intercours. Sexually transmitted diseases have become a serious problem for teenagers around the world. In 2012 obtained the age of 15-24 years 37 cases of STDs in hospitals Ulin Banjarmasin. Knowledge of sexually transmitted diseases is regarded as one of the methods that can be used to reduce the prevalence of this disease. The purpose of this study was to determine the level of knowledge about sexually transmitted diseases in high school students in the country Banjarmasin. This study is a descriptive study with cross sectional approach. A total of 380 high school students selected as a sample country using cluster random sampling technique. The data was collected using a questionnaire. The results of this study indicate that as many as 213 people (56.05%) students had a sufficient level of knowledge, 114 people (37.89%) less knowledgeable, and only 23 people (6.05%) were both knowledgeable about sexually transmitted diseases. Education and outreach are needed to increase students' knowledge about STDs. Key words: sexually transmitted diseases, knowledge, teens, high school students ABSTRAK: Penyakit menular seksual  (PMS) adalah penyakit yang ditularkan terutama melalui hubungan seksual. Penyakit menular seksual telah menjadi masalah serius bagi remaja di seluruh dunia. Pada tahun 2012 didapatkan pada usia 15-24 tahun sebanyak 37 kasus PMS di RSUD Ulin Banjarmasin. Pengetahuan tentang penyakit menular seksual dianggap sebagai salah satu metode yang dapat digunakan untuk mereduksi prevalensi penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang penyakit menular seksual pada siswa SMA negeri di Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 380 orang siswa SMA negeri dipilih sebagai sampel dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 213 orang (56,05%) siswa memiliki tingkat pengetahuan yang cukup, 114 orang (37,89%) berpengetahuan kurang, dan hanya 23 orang (6,05%) yang berpengetahuan baik tentang penyakit menular seksual. Pendidikan dan sosialisasi dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang PMS. Kata-kata kunci: penyakitmenularseksual, pengetahuan, remaja, siswa SMA
Perbedaan Kadar Ureum Serum Pasien yang Menderita Diabetes Melitus Tipe 2 kurang dari 5 Tahun dan lebih dari sama dengan 5 Tahun: Studi Kasus di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013 Lucky Bintang Kharismawati; Miftahul Arifin; Meitria Syahadatina Noor
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.957

Abstract

ABSTRACT: Diabetes mellitus (DM) is uncontaminated diseases which has chronic progressive characteristic. Type 2 diabetes patients with a long duration can lead to microvascular complication, one of which is diabetic nephropathy. Serum urea levels are significant parameters for kidney function tests. Kidney damage caused by type 2 DM can lead to elevated levels of serum urea. This study aimed to determine differences between serum urea levels of patients who suffered type 2 DM for < 5 years and ≥ 5 years in RSUD Ulin Banjarmasin period June-August 2013. The research used observational analytic with cross sectional approach. Method of sampling used by purposive sampling. A total of 72 subjects based on inclusion and exclusion criteria, consisting of 33 people who suffered type 2 DM < 5 years and 39 people who suffered type 2 DM ≥ 5 tahun. Research showed that  the mean serum urea levels who suffered type 2 DM was 44,67 mg/dL and the mean serum urea levels who suffered type 2 DM was 58,05 mg/dL.  Data were analyzed by unpaired T-test with 95 % confidence level showed that there was difference serum urea levels of patients who suffered type 2 DM for < 5 years and ≥ 5 years in RSUD Ulin Banjarmasin period June-August 2013. Key words: serum urea, diabetes mellitus type 2 ABSTRAK: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang bersifat kronik progresif. Pasien DM tipe 2 dengan durasi yang lama dapat menyebabkan terjadinya kompilkasi mikrovaskular, salah satunya adalah nefropati diabetik. Kadar ureum serum adalah parameter yang signifikan untuk tes fungsi ginjal. Kerusakan ginjal yang disebabkan oleh DM tipe 2 dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar ureum serum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar ureum serum pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun dan ≥ 5 tahun di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Cara pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling. Sebanyak 72 subjek penelitian sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang terdiri dari pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun sebanyak 33 orang dan pasien yang menderita DM tipe 2 ≥ 5 tahun sebanyak 39 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar ureum serum pada pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun sebesar 44,67 mg/dL dan rerata kadar ureum serum pada pasien yang menderita DM tipe 2 ≥ 5 tahun sebesar 58,05 mg/dL. Hasil analisis data menggunakan uji T tidak berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar ureum serum pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun dan ≥ 5 tahun di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013. Kata-kata kunci: ureum serum, diabetes melitus tipe 2
Ensefalitis Herves Simplex pada Anak Nurul Hidayah; Ruslan Muhyi
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.968

Abstract

Abstract: Herpes simplex virus is a cause of encephalitis in human whose high fatality rate. Herpes Simplex Encephalitis (EHS) can occured in all range of ages  without sex predilection with case incidence about 1 in 250.000-500.000 populatation/years. About 40% patients hospitalized in coma state. Coma is a very poor prognostic factors, because patients with coma often died or recovered with severe sequelae. Mortality usually occured in first 2 weeks. In children, this disease has an unspesified clinical manifestation therefore in order to diagnose EHS, a strong clinical suspicion is needeed. In a simple way, we can suspect a children with EHS possibility  if a child suffer from febrile, seizure (especially focal seizure) dan other focal neurological symptoms such as hemiparesis or disphasia with progrressive lost of consciousness.Key words: encephalitis, herpes simplex, child Abstrak: Virus Herpes simplex adalah penyebab ensefalitis pada manusia yang seringkali berakibat fatal. Ensefalitis  herpes simplex dapat menyerang semua umur, tanpa predileksi jenis kelamin. Angka kejadian adalah 1 dalam 250.000-500.000 populasi per tahun. Empat puluh persen pasien datang di rumah sakit dalam keadaan koma.  Koma merupakan faktor prognosis yang sangat buruk, pasien yang mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh dengan gejala sisa yang berat. Kematian biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama. Manifestasi klinis sangat tidak spesifik terutama pada anak dan diagnosis EHS sangat memerlukan kecurigaan klinis yang kuat. Secara praktis, fikirkan kemungkinan EHS bila menjumpai seorang anak dengan demam, kejang terutama kejang fokal dan gejala neurologis fokal lain seperti hemiparesis atau disfasia dengan penurunan kesadaran yang progresif. Kata-kata kunci : ensefalitis, herpes simplex, anak Ensefalitis Herves Simplex pada Anak
Hubungan Aktivitas Pendonor dengan Kejadian Malaria Berdasarkan Hapusan Darah Pendonor di PT. Pama Kecamatan Kintap Barra Gerry Prakoso; Nelly Al Audhah; Istiana Istiana
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.963

Abstract

ABSTRACT: Malaria is most disease caused by plasmodium in the bloodstreams. Plasmodium be carried in the bloodstreams from Anopheles mosquito bites. Transmission of malaria depending on the level of immunity. Malaria symptoms are high fever, anemia, and enlargement of the spleen. The incident of malaria determined by exposed of malaria as a carrier of disease. The aim of this research was to figure out the relationship activity donors with the incident of malaria at endemic areas and counting of the incident of malaria on donors by smear of blood transfusion. It was a descriptive analytic study with cross-sectional approach. All subjects were 46 persons at August 2013. The data were analyzed by chi-square test statistics with 95 % confidence interval. The result showed infected with malaria 4,34%, Most activity there daytime were 87%, indoor activities were 58,7%, long-time activity >6 hours 58,7%. Based on the uji fisher statistic analysis, it could be concluded that there is no relationship between kind of activity (p=0,165) and time of activity (p=0,246) about the incident of malaria based blood smear at PT. PAMA Kecamatan Kintap Key words: activity, incident of malaria, donors. ABSTRAK: Malaria adalah penyakit yang sebagian besar penyebabnya adalah Plasmodium yang berada di dalam aliran darah. Plasmodium dibawa ke aliran darah dari gigitan nyamuk Anopheles. Penularan malaria tergantung dari tingkat imunitas. Malaria ditandai dengan demam tinggi, anemia, dan pembesaran limpa. Terjadinya penyakit malaria ditentukan oleh seberapa besar kemungkinan kontak dengan nyamuk sebagai vektor pembawa penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Aktivitas pendonor dengan kejadian Malaria di daerah endemis malaria dan menghitung angka kejadian malaria berdasarkan hapusan darah pendonor. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subyek penelitian sebanyak 46 orang pada periode Agustus 2013. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-squere dengan tingkat kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian malaria sebanyak 4,34%. Aktivitas terbanyak terdapat pada siang hari 87%, aktivitas di luar ruangan 58,7%, lama aktivitas >6 jam 58,7%. Berdasarkan analisis statistik uji fischer dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna untuk jenis aktivitas (p= 0,165) dan waktu aktivitas (p= 0,246) terhadap kejadian malaria berdasarkan hapusan darah pendonor di PT. PAMA Kecamatan Kintap. Kata-kata kunci: aktivitas, kejadian malaria, pendonor
Hubungan Penggunaan Helm dengan Beratnya Cedera Kepala Akibat Kecelakaan Lalu Lintas Darat di RSUD Ulin Bulan Mei - Juli 2013 Inas Tsurayya Fadilla Lahdimawan; Agus Suhendar; Siti Wasilah
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.958

Abstract

ABSTRACT: Head injury is one of the leading cause of morbidity and mortality in the world and the seventh cause of mortality in Indonesia . Head injury is one of the most top 10 diseases in Ulin General Hospital. The increasing number of motorcycle leading head injury to occur more often, considering that road traffic accidents are the most frequent cause of head injury. Lack of public awareness in helmet use leads it to be the primary factor of head injury. The objective of the research is to identify the relationship between helmet use and head injury severity caused by road traffic accidents. The method of the research is descriptive analytical with cross-sectional approach and it took place at Ulin General Hospital from May – July 2013. Total samples of 73 people taken based on inclusion criteria. The most frequently age group was between the age 15-24 (41,1%). Males frequently injured than female with male to female ratio was 1,9:1. Most of them were non-helmeted motorcyclist (53,4%). The most frequent head injury severity was mild head injury (64,4%). The data were statistically analyzed by Chi-square test showed p = 0.041 (α = 0.05). Based on the research there is a significant relationship between helmet usage and the severity of head injury caused by road traffic accidents. Keywords: head injury, helmet, road traffic accidents ABSTRAK: Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian di dunia dan ke-7 di Indonesia. Cedera kepala termasuk 10 penyakit terbesar di RSUD Ulin Banjarmasin. Meningkatnya angka kendaraan bermotor menyebabkan cedera kepala semakin sering terjadi, mengingat salah satu penyebab tersering cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan helm menjadi faktor utama terjadinya cedera kepala. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara penggunaan helm dengan beratnya cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas darat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional bertempat di RSUD Ulin bulan Mei – Juli 2013. Jumlah sampel sebanyak 73 orang  diambil berdasarkan kriteria inklusi. Kelompok usia terbanyak yaitu 15-24 tahun (41,1%). Jenis kelamin laki-laki banyak mengalami cedera kepala daripada perempuan dengan perbandingan 1,9:1. Status penggunaan helm terbanyak adalah tidak menggunakan helm (53,4%). Beratnya cedera kepala terbanyak adalah cedera kepala ringan (64,4%). Data dianalisis statistik dengan uji Chi-square menunjukkan p = 0,041 (α = 0,05). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan bermakna antara penggunaan helm dengan beratnya cedera kepala akibat kecelakaan lalu lintas darat. Kata-kata kunci: cedera kepala, helm, kecelakaan lalu lintas darat
Imunitas Selular – Netrofil Huldani Huldani
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.969

Abstract

Abstract: Neutrophils play a role in nonspecific cellular immune system which can be found in circulation. Neutrophils are white blood cells (leukocytes) are characterized histologically by its ability to stained by the dye neutral and functional with its role in mediating the immune response against infectious microorganisms. . Neutrophil granules are usually pink or purple - blue with dye. Neutrophil Approximately 50 to 80 percent of all white blood cells in the human body. Neutrophils are quite uniform in size with a diameter between 12 and 15 micrometers. The core consists of 2-5 lobes joined together by the hairlike filaments. Neutrophils move by amoeboid movement. In neutrophils migrate to the area of the body to infection or tissue injury. Tensile strength which determines the direction in which neutrophils will move known as chemotaxis and is associated with substance released from the damaged tissue. Neutrophils are active phagocytes that engulf bacteria and other microorganisms and microscopic particles. The granules of neutrophils is a powerful enzyme that can digest various types of cellular material. During the inflammatory response, chemotactic factors of different origin and proinflammatory cytokine signals attracting neutrophils to the site of infection and / or injury. Injured area will issue a neutrophil chemo attractant attractive to the injured area, followed by the formation of reactive oxygen species (ROS) which is used as the body's defenses. Neutrophils also synthesize and secrete small amounts of several cytokines including IL-1, IL-6, IL-8, TNF-α, and GM-CSF. Keywords: Cellular Immunity - Neutrophils - Chemo attractant Abstrak: Netrofil  berperan dalam sistem imun nonspesifik selular yang dapat ditemukan dalam sirkulasi. Neutrofil adalah sel darah putih ( leukosit ) yang ditandai secara histologi oleh kemampuannya untuk ternoda oleh pewarna netral dan fungsional dengan perannya dalam mediasi respon imun terhadap mikroorganisme menular. . Granul neutrofil biasanya berwarna merah muda atau ungu - biru dengan zat pewarna . Netrofil Sekitar 50 sampai 80 persen dari semua sel darah putih dalam tubuh manusia. Neutrofil cukup seragam dalam ukuran dengan diameter antara 12 dan 15 mikrometer . Inti terdiri dari 2-5 lobus bergabung bersama oleh filamen mirip rambut . Neutrofil bergerak dengan gerakan amoeboid. Dalam tubuh neutrofil bermigrasi ke daerah infeksi atau cedera jaringan . Kekuatan tarik yang menentukan arah di mana neutrofil akan bergerak dikenal sebagai kemotaksis dan berhubungan dengan zat yang dilepaskan dari tempat kerusakan jaringan. Neutrofil adalah fagosit aktif yang dapat menelan bakteri dan mikroorganisme lain dan partikel mikroskopis . Granul neutrofil merupakan  enzim kuat yang mampu mencerna berbagai jenis bahan selular. Selama respon inflamasi, faktor chemotactic asal yang berbeda dan sinyal sitokin proinflamasi menarik neutrofil ke tempat infeksi dan / atau cedera. Daerah yang mengalami cedera akan mengeluarkan chemo attractant yang menarik neutrofil ke daerah cedera tersebut, diikuti pembentukan reactive oxygen species (ROS) yang digunakan sebagai pertahanan tubuh. Neutrofil juga mensintesis dan mensekresi sejumlah kecil beberapa sitokin termasuk IL-1, IL-6, IL-8, TNF-α, dan GM-CSF. Kata-kata Kunci : Imunitas Selular – Netrofil – Chemo attractant
Pengaruh Lama Paparan Kebisingan Menurut Masa Kerja terhadap Nilai Ambang Dengar Pekerja : Studi Observasional di PT PLN (Persero) Sektor Barito PLTD Trisakti Banjarmasin Huldani Huldani
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.955

Abstract

Abstract: PT PLN (Persero), Trisakti Banjarmasin diesel Barito sector is an industry that uses diesel power to electric power generation using the machine and work tool that has a loud voice so that it will increase the noise exposure and increase the risk of harm to the workers. To determine the effect of long exposure noise according to the service life of the hearing threshold value workers of PT PLN (Persero) Sector Barito diesel Trisakti Banjarmasin, conducted observational study with a cross sectional study of the population of all workers at PT PLN (Persero) Sector Barito diesel Trisakti Banjarmasin. Determination of the respondents used the quota sampling with 30 responden.Hasil research found that the intensity of the noise in the diesel> 85 dB, there are 3 respondents (10%) increase in NAD and the average rate of loss in the case of the respondents is hearing loss in long service life (> 5 years) of 3 respondents (20%) and normal hearing as many as 12 respondents (80%) of the 15 respondents, while the new work (≤ 5 years) as many as 15 respondents (100%) of the 15 respondents. Mann-Whitney U analysis with a level of 95% between the long exposure noise according to the working lives of the employees hearing threshold value p value = 0.07 (p> 0.05). It can be concluded that there is no difference in the increase in NAD workers of PT PLN (Persero) diesel Barito Sector, Trisakti Banjarmasin on years of ≤ 5 years and> 5 years. Key words: noise, period of employment, the value of hearing threshold.  Abstrak: PT PLN (Persero) Sektor Barito PLTD Trisakti Banjarmasin merupakan industri yang menggunakan tenaga diesel untuk pembangkit tenaga listrik dengan menggunakan mesin dan alat kerja yang mempunyai suara keras sehingga akan meningkatkan pemaparan kebisingan serta menambah risiko bahaya pada pekerja. Untuk mengetahui pengaruh lama paparan kebisingan menurut masa kerja terhadap nilai ambang dengar pekerja PT PLN (Persero) Sektor Barito PLTD Trisakti Banjarmasin, dilakukan penelitian observasional analitik dengan studi pendekatan cross sectional dengan populasi seluruh pekerja di PT PLN (Persero) Sektor Barito PLTD Trisakti Banjarmasin. Penentuan responden digunakan dengan quota sampling dengan jumlah 30 responden.Hasil penelitian didapatkan bahwa intensitas kebisingan di PLTD > 85 dB, terdapat 3 responden (10%) peningkatan NAD dan rata-rata tingkat pendengaran pada responden adalah terjadi gangguan pendengaran pada masa kerja lama (> 5 tahun) sebanyak 3 responden (20%) dan pendengaran normal sebanyak 12 responden (80%) dari 15 responden sedangkan masa kerja baru (≤ 5 tahun) sebanyak 15 responden (100%) dari 15 responden. Analisis U-mann whitney dengan taraf kepercayaan 95% antara lama paparan kebisingan menurut masa kerja terhadap nilai ambang dengar pekerja didapatkan nilai p= 0,07 (p > 0,05). Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan peningkatan NAD pekerja PT PLN (Persero) Sektor Barito PLTD Trisakti Banjarmasin pada masa kerja ≤ 5 tahun dan > 5 tahun. Kata-kata kunci: kebisingan, masa kerja, nilai ambang dengar.
Gambaran Kejadian Insomnia pada Wanita Menopause di Kelurahan Teluk Dalam Tahun 2013: Kajian Berdasarkan Usia Responden dan Lama Menopause Devita Wijayanti; Achyar Nawi Husein; Syamsul Arifin
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.966

Abstract

ABSTRACT: Insomnia is a sleep disorder which manifest as difficulty to start sleep, difficulty to maintain sleep or wake up with feeling of dissatisfied sleep. Women showed the higher prevalence of insomnia than men due to the occurrence of menopause is associated with declining of estrogen levels in postmenopausal women. The aim of this study was to describe the incidence of insomnia in menopausal women based on menopausal age and menopausal periode in Teluk Dalam Area in Banjarmasin 2013 . The research method was descriptive with  cross - sectional approach . The number of samples according to Fraenkel and Wallen were 100 people with cluster random sampling technique. The results between menopausal women showed 60 % had insomnia and 40 % did not have insomnia . Based on the menopausal age, the incidence of insomnia in menopausal women aged 45-46 years old were 6.7 % , 47-48 years old were 8.3 % , 49-50 years old were 13.3 % , 51-52 years old were 8.3 % , 53-54 years old were 15 % and the most common age were 55 years as 48.4%. Based on the menopausal periode, 58.3%  women who experienced insomnia were less than five years and 41.7% were more than five years. It can be concluded that the most common age of woman who experienced insomnia was 55 years old and the most common menopausal periode of woman who experienced insomnia was less than 5 years.Key words: menopause, insomnia, usia, periode menopause. ABSTRAK: Insomnia merupakan gangguan tidur yang dapat berupa kesulitan untuk memulai tidur, kesulitan mempertahankan tidur atau bangun pagi dengan perasaan tidak puas tidur. Wanita menunjukkan prevalensi insomnia lebih sering dibanding pria disebabkan terjadinya menopause yang berhubungan dengan menurunnya kadar estrogen pada wanita menopause. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kejadian insomnia pada wanita menopause berdasarkan usia menopause dan lama menopause di Kelurahan Teluk Dalam Banjarmasin Tahun 2013. Metode penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel menurut Fraenkel dan Wallen sebanyak 100 orang dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 60% mengalami insomnia dan 40% tidak mengalami insomnia. Berdasarkan usia menopause yang dialami, kejadian insomnia pada wanita menopause usia 45-46 tahun sebanyak 6,7%, usia 47-48 tahun sebanyak 8,3%, usia 49-50 tahun sebanyak 13,3%, usia 51-52 tahun sebanyak 8,3%, usia 53-54 tahun sebanyak 15% dan paling banyak terjadi pada usia 55 tahun sebanyak 48,4%. Jumlah responden yang mengalami insomnia berdasarkan lama menopause, maka pada wanita yang mengalami menopause kurang dari lima tahun sebanyak 58,3% dan pada wanita menopause lebih dari lima tahun sebanyak 41,7%. Kesimpulan penelitian ini yaitu jumlah wanita menopause yang paling banyak mengalami insomnia adalah pada usia 55 tahun dan pada wanita yang mengalami menopause  kurang dari 5 tahun. Kata-kata kunci: menopause, insomnia, age, menopausal periode
Efek Pajanan Kadmium (Cd) terhadap Kadar Malondialdehyde (MDA) pada Ovarium Tikus Putih (Rattus norvegicus) Muhammad Hendy Arizal; Eko Suhartono; Mohammad Bakhriansyah
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.953

Abstract

ABSTRACT: Cadmium (Cd) is heavy metal that pollutant in the environment. Chronic intake of Cd induces toxicity on liver, kidney, and ovary. Cd could damage the tissue with stress oxidative damage mechanism. Malondyaldehyde (MDA) is the product of lipid peroxidation used as a measure of lipid peroxidation and stress oxidative damage. This was an experimental laboratoric using two groups. The control group P(0) was given aquadest 2 ml per day for 4 weeks and the exposure group P(1) was given a solution of Cd with a concentration of 1.2 x 10-2 mg for 4 weeks. The results showed the mean of MDA level in the P(0) and the P(1) were 214.80 μM and 232.00 μM, respectively. Statistical analysis using Unpaired Test-T obtained the result p = 0.016 (p<0.05). It can be concluded that Cd causes increased MDA levels in rats ovary. Keywords: Cadmium, malondialdehyde, ovarium, oxidative stress, rats. ABSTRAK : Kadmium (Cd) merupakan logam berat bersifat polutan yang mencemari lingkungan. Paparan kronik Cd berefek toksik terhadap hati, ginjal, dan ovarium. Cd merusak jaringan melalui mekanisme stres oksidatif. Malondialdehyde (MDA) merupakan produk akhir dari peroksidasi lipid  yang menjadi parameter dalam mengukur kerusakan oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pajanan Cd terhadap kadar MDA ovarium tikus putih. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik yang dilakukan pada 2 kelompok, yakni kelompok kontrol P(0) yang diberi aquadest sebanyak 2 ml selama 4 minggu dan kelompok perlakuan P(1) yang diberi Cd dengan konsentrasi 1,2 x 10-2 mg dalam 2 ml aquadest setiap hari selama 4 minggu. Hasil penelitian didapatkan rerata pada kelompok kontrol P(0) sebesar 214,80 ± 22,90 μM dan pada kelompok perlakuan P(1) sebesar 232,00 ± 20,40 μM dengan nilai p = 0,016 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa Cd menyebabkan peningkatan kadar MDA pada ovarium tikus putih. Kata-kata kunci: Kadmium, malondialdehyde, ovarium, stres oksidatif, tikus putih. 
Pola Resistensi Bakteri Kontaminan Luka Pasien di Bangsal Bedah Ortopedi RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juli-September 2013: Tinjauan In Vitro Pola Resistensi Isolat Bakteri Kontaminan Asal Swab Luka Pasien di Bangsal Bedah Ortopedi RSUD Ulin Banjarmasin Terhadap Gentamisin, Kloramfenikol, Sefotaksim dan Seftriakson Akbar Rihansyah; Husna Dharma Putera; Lia Yulia Budiarti
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.964

Abstract

ABSTRACT: Surgery, trauma, burns, and other factors can affect the defense/skin barrier against bacterial contamination that can cause infection. The risk of infection must be remained of the rational use of prophylactic antibiotics. Rational use of antibiotic susceptibility test results obtained by antibotic against bacteria. The aim of this research was to figure out the resistance pattern of bacteria contaminant in patient’s wound at Orthopaedic Ward of RSUD Ulin Banjarmasin to selected antibiotics i.e. gentamicin, chloramphenicol, cefotaxime and ceftriaxone from July-September 2013. This was descriptive research. The samples were taken with consecutive sampling technique according to inclusion criteria. This research used wound swab bacteria contaminant isolates i.e. Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, and Streptococcus sp. Antibiotic susceptibility test was done in vitro with Kirby-Bauer diffusion method. The radical zones were measured and compared to CLSI 2011 standard. The antibiotic susceptibility test result showed that Staphylococcus aureus was sensitive to gentamicin (100%) and cefotaxime (66,67%), resistant to chloramphenicol (44,44%); Staphylococcus epidermidis was sensitive to cefotaxime (28,75%), resistant to gentamicin (85,71%) and chloramphenicol (57,14%); Pseudomonas aeruginosa was sensitive to cefotaxime (33,33%), resistant to ceftriaxone (66,67%); Streptococcus sp. was sensitive to cefotaxime (50%), resistant to gentamicin (50%), chloramphenicol (100%) and ceftriaxone (50%). Key words:   Antibiotic susceptibility, wound bacterial contaminant. ABSTRAK: Tindakan operasi, trauma, luka bakar dan beberapa faktor lain dapat mempengaruhi pertahanan/barier kulit terhadap kontaminasi bakteri yang dapat menyebabkan infeksi. Risiko terjadinya infeksi harus tetap diwaspadai dengan penggunaan antibiotik profilaksis yang rasional. Penggunaan antibiotik rasional didapatkan berdasarkan hasil uji kepekaan antibotik terhadap bakteri penyebab. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola resistensi bakteri kontaminan pada luka pasien di Bangsal Bedah Ortopedi RSUD Ulin Banjarmasin terhadap beberapa antibiotik yaitu gentamisin, kloramfenikol, sefotaksim dan seftriakson periode Juli-September 2013. Penelitian ini bersifat deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling menurut kriteria inklusi. Penelitian ini menggunakan isolat bakteri kontaminan hasil swab luka pasien yaitu Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, dan Streptococcus sp. Uji kepekaan keempat jenis bakteri tersebut dilakukan secara in vitro dengan metode difusi Kirby-Bauer. Zona radikal yang terbentuk diukur dan dibandingkan dengan standar CLSI 2011. Hasil uji kepekaan antibiotika menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus sensitif terhadap gentamisin (100%) dan sefotaksim (66,67%), resisten terhadap kloramfenikol (44,44%); Staphylococcus epidermidis sensitif terhadap sefotaksim (28,75%), resisten terhadap gentamisin (85,71%) dan kloramfenikol (57,14%); Pseudomonas aeruginosa sensitif terhadap sefotaksim (33,33%), resisten terhadap seftriakson (66,67%); Streptococcus sp. sensitif terhadap sefotaksim (50%), resisten terhadap gentamisin (50%), kloramfenikol (100%) dan seftriakson (50%). Kata-kata kunci : Kepekaan antibiotika, bakteri kontaminan luka.

Page 3 of 4 | Total Record : 34