cover
Contact Name
Eko Suhartono
Contact Email
esuhartono@ulm.ac.id
Phone
+6281251126368
Journal Mail Official
jbk@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Health, Science,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2016)" : 32 Documents clear
RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER AKIBAT PAJANAN KADMIUM MELALUI PENGUKURAN KADAR KOLESTEROL DAN CIRCULATING ENDOTHELIAL CELLS DARAH TIKUS PUTIH Anindya Anindya; Ruslan Muhyi; Eko Suhartono
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.881 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1863

Abstract

Abstract: Coronary Heart Disease (CHD) is a disease caused by narrowing of the coronary arteries of heart due to the process of arteriosclerosis. Broadly speaking CHD triggered by two factors, ie factors that can be modified and controlled. One factor that can be controlled are environmental factors, including exposure to heavy metals, such as cadmium (Cd). Patomekanisme Cd in the trigger CHD until now has not known for certain, but suspected by his activity in the trigger endothelial dysfunction and interfere with cholesterol metabolism. This study aimed to assess the effect of Cd exposure to an increased risk of CHD, by measuring the levels of circulating endothelial cell (CEC) and blood cholesterol the liver of mice. This study was purely experimental design with Post Test Only with Control Group Design. The subjects used were 15 rats (Rattus novergicus) male, Sprague-Dawley, normal activities, aged 3-4 months, weighing 300 ± 10 grams. The research subjects were divided into three groups with the number of each of 5 mice per group, which consists of one control group (P0), and the 2 treatment groups (P1 and P2). Group P0, that rats fed a commercial feed only, P1, namely rats fed a commercial feed + Cd at a concentration of 3 mg / l in drinking water for 1 day (acute), and P2, the mice were fed a commercial + Cd with concentration 3 mg / l in drinking water for 4 weeks (subacute). Each end of the exposure period, rats from each group will do the surgery, to take blood samples. Furthermore, the CEC will be measured and blood cholesterol levels. Data were analyzed statistically using One Way ANOVA and Tukey HSD Post Hoc. The results showed that Cd exposure may affect kada CEC and kolseterol significantly (P <0.05). The results also showed that there were significant differences between the levels of blood CEC each treatment group (P <0.05). Based on the results of this study concluded that Cd exposure may increase the risk of developing CHD by elevated levels of CEC and blood cholesterol.Keywords: Cadmium, Circulating Endhotelial Cells, Blood Cholesterol Abstrak: Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan penyakit yang disebabkan oleh penyempitan arteri koronaria jantung akibat proses ateriosklerosis. Secara garis besar PJK dipicu oleh dua faktor, yaitu faktor yang dapat dimodifikasi dan dikendalikan. Salah satu faktor yang dapat dikendalikan adalah faktor lingkungan, termasuk pajanan logam berat, seperti kadmium (Cd). Patomekanisme Cd dalam memicu PJK sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun diduga melalui aktivitasnya dalam memicu disfungsi endotel dan mengganggu metabolism kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pajanan Cd terhadap peningkatan risiko PJK, melalui pengukuran kadar Circulating Endothelial Cell (CEC) dan kolesterol darah hati tikus putih. Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan rancangan  Post Test Only with Control Group Design. Subyek yang digunakan adalah 15 tikus putih (Rattus novergicus) jantan, galur Sprague-Dawley, beraktivitas normal, berumur 3-4 bulan, dengan berat 300±10 gram. Subyek penelitian kemudian dibagi menjadi 3 kelompok dengan jumlah masing-masing 5 tikus per kelompok, yang terdiri dari 1 kelompok kontrol (P0), dan 2 kelompok perlakuan (P1 dan P2). Kelompok P0, yakni tikus yang diberi pakan komersial saja, P1, yakni tikus yang diberi pakan komersial+Cd dengan konsentrasi 3 mg/l dalam air minum selama 1 hari (akut), dan P2, yakni tikus yang diberi pakan komersial+Cd dengan konsentrasi 3 mg/l dalam air minum selama 4 minggu (subakut). Setiap akhir periode pemajanan, tikus dari masing-masing kelompok akan dilakukan pembedahan, untuk mengambil sampel darah. Selanjutnya, akan dilakukan pengukuran kadar CEC dan kolesterol darah. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistic menggunakan uji One Way Anova dan Post Hoc Tukey HSD.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajanan Cd dapat mempengaruhi kada CEC dan kolseterol secara bermakna (P < 0,05). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna kadar CEC darah antar masing-masing kelompok perlakuan (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pajanan Cd dapat meningkatkan risiko terjadinya PJK melalui peningkatan kadar CEC dan kolesterol darah. Kata - Kata Kunci: Kadmium, CEC, Kolesterol Darah
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANTIFUNGI ANTARA EKSTRAK METANOL KULIT BATANG KASTURI DENGAN KETOKONAZOL 2% TERHADAP Candida albicans IN VITRO Muhammad Baihaqi Siddik; Lia Yulia Budiarti; Edyson Edyson
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.094 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1877

Abstract

Abstract: Candida albicans is the most common cause of candidacies. Ketoconazole is one of the main options treatment of candidiasis, but is reported to have experienced resistance and hepatotoxic. Extract methanol bark of kasturi contains the same active substance with, Mango that is phenolic groups, terpenoids, and saponins that are antifungal. The purpose of this study was to determine differences in the concentration of the methanol extract of the bark of kasturi with ketoconazole 2% against Candida albicans in vitro. This study was true laboratory experimental  by using randomize post test-only group designs, which consisted of 9 treatments, ie EMKBK concentration of 25%, 50% to 37.5%, 62.5%, 75%, 87.5%, 100%, ketoconazole 2% and 70% methanol (control) repetition 3 times with diffusion test. Data analysis using ANOVA and post hoc LSD test (α = 0.05). The result showed mean inhibition zone the methanol extract of the bark of kasturi against Candida albicans at a concentration of 25%, 37.5%, 50%, 62.5%, 75%, 87.5% and 100% is 7 mm; 9 mm; 10 mm; 12 mm; 16 mm; 19 mm, 22 mm and ketoconazole 2% is 15 mm and there is a significant difference between the treatment EMKBK with ketoconazole 2%. Keywords: antifungal, extract methanol bark of kasturi, ketokonazole 2%, Candida albicans  Abstrak: Candida albicans merupakan penyebab tersering kandidiasis. Ketokonazol merupakan salah satu pilihan utama untuk mengobati kandidiasis, tetapi dilaporkan telah mengalami resistensi dan bersifat hepatotoksik. Ekstrak metanol kulit batang kasturi mengandung zat aktif yang sama dengan mangga yaitu golongan fenolik, terpenoid, dan saponin yang merupakan antifungi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan konsentrasi ekstrak metanol kulit batang kasturi dengan ketokonazol 2% terhadap Candida albicans In Vitro. Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris murni dengan mengunakan randomize post test- only group designs , yang terdiri dari 9 perlakuan, yaitu EMKBK konsentrasi 25 %, 37,5 % 50 %, 62,5 %, 75 %, 87,5 %, 100 %, ketokonazol 2% dan metanol 70% (kontrol) pengulangan 3 kali dengan uji difusi. Analisis data mengunakan uji ANOVA dan uji post hoc LSD (α=0,05). Hasil penelitian didapatkan rerata zona hambat ekstrak metanol kulit batang kasturi terhadap Candida albicans pada konsentrasi 25%, 37,5%, 50%, 62,5%, 75%, 87,5% dan 100% adalah 7 mm; 9 mm; 10 mm; 12 mm;16 mm; 19 mm, 22 mm dan ketokonazol 2% adalah 15 mm dan terdapat perbedaan bermakna antara perlakuan EMKBK dengan ketokonazol 2%. Kata – kata kunci: antifungi, ekstrak metanol kulit batang kasturi, ketokonazol 2%, Candida albicans
DISTRIBUSI POLA DIET PASIEN KANKER KOLOREKTAL DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE AGUSTUS OKTOBER 2015 Emma Rahmadania; Agung Ary Wibowo; Lena Rosida
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.347 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1872

Abstract

Abstract: Colorectal cancer is a malignancy of epithelial cells of the colon or rectum. Factors associated with an increased risk of this type of cancer include eating habits. The purpose of this study was to determine distribution the dietary patterns in colorectal cancer patients at hospitals Ulin Banjarmasin period from August to October 2015 by a review of fat dietary, protein dietary, fiber dietary  by age and gender. This research is a descriptive observasional with  cross sectional approach. Data was collected using a food frequency questionnaire and interviews. Sampling was conducted with consecutive sampling technique to obtain the sample amounted to 30 patients in accordance with the inclusion criteria. Obtained the age group of patients when first diagnosed with colorectal cancer is highest in the age group 41-60 years (50%) as many as 15 people. Sex ratio of colorectal cancer patients in hospitals Ulin Banjarmasin the period August-October 2015 that men of 15 people (50%) and women of 15 people (50%). Of the 30 respondents, there are 28 (93.4%) patients with colorectal cancer who rarely consume fat, there are 25 (83.4%) patients with colorectal cancer who rarely consume protein, and there were 25 (88.7%) patients with colorectal cancer are rare consuming fiber. Distribution of pattern dietary (fat, protein, fiber)by age and sex obtained the same result that most are in the rare category. Keywords: colorectal cancer, fat, protein, fiber. Abstrak: Kanker kolorektal adalah suatu keganasan dari sel epitel kolon atau rektum. Faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker jenis ini antara lain kebiasaan makan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi pola diet pasien kanker kolorektal  di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus-Oktober  2015 dengan tinjauan terhadap diet lemak, diet protein, diet serat berdasarkan usia dan jenis kelamin. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif observasioal dengan pendekatan cross sectional. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar kuesioner food frequency dan wawancara. Pengambilan sampel  dilakukan dengan teknik consecutive sampling sehingga didapatkan sampel berjumlah 30 pasien yang sesuai dengan kriteria inklusi. Didapatkan kelompok usia pasien saat pertama kali terdiagnosis kanker kolorektal terbanyak adalah pada kelompok usia 41-60 tahun (50%) yaitu sebanyak 15 orang. Rasio perbandingan jenis kelamin pasien kanker kolorektal di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus-Oktober 2015 yaitu laki-laki sebanyak  15 orang (50%)  dan perempuan sebanyak 15 orang (50%). Dari 30 responden, terdapat 28 (93,4%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi lemak, terdapat 25 (83,4%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi protein, dan terdapat 25 (88,7%) pasien kanker kolorektal yang jarang mengkonsumsi serat. Distribusi pola diet (lemak, protein, serat) berdasarkan usia dan jenis kelamin didapatkan hasil yang sama yaitu paling banyak berada pada kategori jarang. Kata-kata kunci: kanker kolorektal, lemak, protein, serat
PENGARUH INFEKSI KECACINGAN TERHADAP STATUS GIZI PADA ANAK DI SDN 2 BARABAI DARAT KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2015 Aulia Azizaturridha; Istiana Istiana; Lisda Hayatie
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.331 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1864

Abstract

Abstract: Worm infection is an infectious disease caused by one or more intestinal parasitic worms from the class of intestinal nematodes. Worm infection can disruption of nutrients such as deficiency calories, protein, and blood loss. The aim of research is to know the effect of worm infection on nutritional status in SDN 2 Barabai Darat's children South Kalimantan 2015. This research is an observational analytic with cross sectional approach. The total samples is 85 children from class 3 and 4, obtained by purposive sampling fit the inclusion criteria. Data collected by stool examination and measurement of nutritional status, the data were analyzed by Fischer's Exact test. The results showed were 5,9% children with worm infections. Statistical analysis showed that there was not any effect of worm infection  on nutritional status based on BB/U (p = 1,000), based TB/U (p = 0,154), and based on BMI/U (p = 1,000). Conclusion from this research is not any effect of worm infection on nutritional status in children at SDN 2 Barabai Darat (p> 0,05). Keywords: worm infection, nutritional status, SDN 2 Barabai Darat Abstrak: Infeksi kecacingan adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh satu atau lebih cacing parasit usus dari golongan nematoda usus. Infeksi kecacingan dapat menimbulkan gangguan zat gizi berupa kekurangan kalori, protein, dan kehilangan darah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh infeksi kecacingan terhadap status gizi pada anak di SDN 2 Barabai Darat Kalimantan Selatan tahun 2015. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 85 anak dari kelas 3 dan 4, didapat secara purposive sampling  sesuai kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan feses dan pengukuran status gizi, sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Fischer's Exact. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5,9% anak yang positif terinfeksi cacing. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh infeksi kecacingan terhadap status gizi berdasarkan BB/U (p=1,000), berdasarkan TB/U (p=0,154), dan berdasarkan IMT/U (p=1,000). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat pengaruh infeksi kecacingan terhadap status gizi pada anak di SDN 2 Barabai Darat (p>0,05). Kata-kata kunci: kecacingan, status gizi, SDN 2 Barabai Darat
HUBUNGAN KONDISI VENTILASI RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU DI WILAYAH PUSKESMAS KELAYAN TIMUR Ferdy Ricardo Sinaga; Farida Heriyani; Husnul Khatimah
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.221 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1878

Abstract

Abstract : Pulmonary TB is an infectious disease which is transmitted through air contaminated by Mycobacterium tuberculosis. TB remains a main health problem in all over the world and also one of leading causes of death from infectious disease. Enviromental characteristic is the key factor to the risk of transmition. Ventilation condition is one factor that contributes to the house’s environmental characteristic. This research aims to know the correlation between ventilation condition and the incidence of pulmonary TB in working area of Kelayan Timur Community Health Center. This is an analitic observasional research with study design of case control. Subjects were selected using the simple random sampling technique. Subjects were divided into 2 groups, 30 subjects for the case group and 30 subjects for the control group. Data was analyzed using Chi Square test with 95 % confidence interval. The result shows that 29 of 30 houses (96,67 %)  from the case group have an inproper ventilation meanwhile only 9 of 30 houses (30 %) from the control group which have an inproper ventilation. The analysis shows a significant correlation between ventilation condition and the incidence of pulmonary TB with ρ = 0,000.  Keywords: ventilation condition, pulmonary TB, Kelayan Timur Community Health Center. Abstrak : TB paru merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui udara yang terkontaminasi Mycobacterium tuberculosis. TB masih menjadi masalah utama kesehatan di seluruh dunia dan merupakan salah satu penyebab kematian akibat penyakit infeksi. Keberlangsungan hidup kuman TB ditentukan oleh karakteristik lingkungannya. Kondisi ventilasi rumah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi karakteristik lingkungan dalam rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi ventilasi rumah dengan kejadian TB paru di wilayah Puskesmas Kelayan Timur. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain studi kasus kontrol. Subjek penelitian dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Subjek penelitian terdiri dari 2 kelompok yaitu 30 sampel kelompok kasus dan 30 sampel kelompok kontrol. Data dianalisa menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan 29 dari 30 kelompok kasus (96,67 %)  memiliki kondisi ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat, sedangkan hanya 9 dari 30 kelompok kontrol (30 %) yang memiliki kondisi ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat. Hasil analisa mendapatkan nilai ρ=0,000 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi ventilasi rumah dengan kejadian TB paru. Kata-kata kunci: kondisi ventilasi, TB paru, Puskesmas Kelayan Timur.
PENGARUH LANSOPRAZOL DAN OMEPRAZOL TERHADAP AKTIVITAS ENZIM KATALASE HEPAR TIKUS Eria Sartika; Eko Suhartono; Agung Biworo
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1875

Abstract

Abstract: Lansoprazole and omeprazole is a Proton Pump Inhibitor class of drugs that are often used for the treatment of peptic ulcers. Lansoprazole and omeprazole have an influence on the various target organs exposed. Mechanism of lansoprazole and omeprazole in influencing the activity of the enzyme catalase is competing with absolute catalase enzyme substrate (H2O2) in the binding of the enzyme active site. This study aims to determine the effect of lansoprazole and omeprazole against liver catalase enzyme activity. This study was a laboratory experimental study conducted in three groups, namely the control group (P0), the treatment group (P1) is given lansoprazole 30 mg and a treatment group (P2) given omeprazole 20 mg. The result showed the value of Km of the control group (P0) of 13.482 mmol/dm3, the treatment group (P1) of 11,227 mmol/dm3 and the treatment group (P2) of 6,327 mmol/dm3. Analysis of statistical data shows the regression correlation value of p for P1 was 0,01 adn for P2 was 0,02 (p <0.05) and the R value approaching 1 with a linear graph Lineweaver Burk meaningful. Concluded that lansoprazole and omeprazole may affect the activity of the liver enzyme catalase. Keywords: lansoprazole, omeprazole, enzyme catalase, rat liver Abstrak: Lansoprazol dan omeprazol merupakan obat golongan proton pump inhibitor yang sering digunakan untuk pengobatan tukak lambung. Lansoprazol dan omeprazol memiliki berbagai pengaruh terhadap organ target yang terpajan. Mekanisme lansoprazol dan omeprazol dalam mempengaruhi aktivitas enzim katalase adalah berkompetisi dengan substrat absolut enzim katalase (H2O2) dalam mengikat sisi aktif enzim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lansoprazol dan omeprazol terhadap aktivitas enzim katalase hepar. Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimental yang dilakukan pada 3 kelompok, yakni kelompok kontrol (P0), kelompok perlakuan (P1) diberikan lansoprazol 30 mg dan kelompok perlakuan (P2) diberikan omeprazol 20 mg. Hasil penelitian didapatkan nilai Km pada kelompok kontrol (P0) sebesar 13,482 mmol/dm3, pada kelompok perlakuan (P1) sebesar 11,227mmol/dm3 dan pada kelompok perlakuan (P2) sebesar 6,327mmol/dm3. Analisis data statistik korelasi regresi menunjukkan nilai p pada P1 0,01 dan pada P2 0,02 (p<0,05) serta nilai R mendekati 1 dengan grafik linear Lineweaver Burk yang menanjak. Disimpulkan bahwa lansoprazol dan omeprazol dapat mempengaruhi aktivitas enzim katalase hepar mencit. Kata-kata kunci: lansoprazol, omeprazol, enzim katalase, hepar mencit
EFEK ANTIOKSIDAN IKAN SALUANG (Rasbora spp.) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) OTAK TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MALNUTRISI Yuli Rakhmawati; Triawanti Triawanti; Ari Yunanto
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1873

Abstract

Abstract: Malnutrition because of protein deficiency on diet caused antioxidant deficiency state and oxidative stress on brain that marked by increased MDA level. The aim of this study was to analyze the antioxidant effects of saluang (Rasbora spp.) on brain MDA level in malnourished rats. This was an experimental study with a Posttest Only with Control Group Design, consisted of malnutrition control group (M), group that feed with saluang (S), group that given standard feeding (P), and group that given standard feeding added with DHA supplement (D). Brain MDA level measured with TBARS method in spectrophotometer. Mean brain MDA level for each group in a row is M = 210,750 μΜ, S = 194,125 μΜ, P = 202,625 μΜ, and D = 200,875 μΜ. Kruskal-Wallis and Mann Whitney test showed that there were significant differences between the group that feed with saluang and the other groups (p<0.05). Based on this research, concluded that the administration of saluang (Rasbora spp.) significantly affects the decrease of brain MDA level in malnourished rats. Keywords: antioxidant, saluang fish, MDA, malnutrition Abstrak: Malnutrisi karena defisiensi protein akan menimbulkan keadaan kekurangan antioksidan dan menimbulkan stres oksidatif pada otak yang ditandai dengan peningkatan kadar MDA. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efek antioksidan ikan saluang terhadap kadar MDA otak tikus putih malnutrisi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Posttest Only with Control Group Design, terdiri dari kelompok kontrol malnutrisi (M), kelompok pemberian pakan saluang (S), kelompok pemberian pakan standar (P), dan kelompok pemberian pakan standar yang ditambah suplemen DHA (D). Kadar MDA otak diukur dengan menggunakan metode TBARS secara spektrofotometer. Rerata kadar MDA otak masing-masing kelompok perlakuan berturut-turut adalah M = 210,750 μΜ, S = 194,125 μΜ, P = 202,625 μΜ, dan D = 200,875 μΜ. Uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok yang diberi pakan saluang dengan kelompok lainnya (p<0,05). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian ikan saluang (Rasbora spp.) berpengaruh secara bermakna terhadap penurunan kadar MDA otak tikus putih malnutrisi. Kata-kata kunci: antioksidan, ikan saluang, MDA, malnutrisi
HUBUNGAN ANTARA MASA GESTASI DAN KEJADIAN SEPSIS NEONATORUM DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE JUNI 2014-JUNI 2015 Fitri Nur Dini; Pudji Andayani; Lena Rosida
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.209 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1865

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is a clinical syndrome characterized by symptoms of bacteremia and systemic signs and positive blood cultures showed that during the first month of life. Prematurity and postmaturity risk of morbidity and mortality are high on the gestation age for the occurrence of neonatal sepsis. This study aims to determine the relationship between gestational age and the incidence of neonatal sepsis in Ulin Hospital Banjarmasin. The design of this study using cross sectional study with retrospective approach. The way the sampling is the purposive sampling were obtained from medical records of patients, then performed statistical analysis using chi-square test with 95%. The number of samples that fulfilled the criteria inclusion in this study as many as 246 cases. The incidence of neonatal sepsis is more common in infants born at 37-42 weeks gestation as many as 25 cases (59.52%). The data not neonatal sepsis who were born with a gestational age <37 weeks or> 42 weeks gained as many as 20 cases (9.80%) and 37-42 weeks gestation obtained as many as 184 cases (90.20%). Chi-square test showed that there is a relationship between gestational age and the incidence of neonatal sepsis in Ulin Hospital Banjarmasin (p = 0.000) with an odds ratio (OR) 6.256. It is concluded that there is a relationship of gestation age and the incidence of neonatal sepsis (p <0.05) in hospitals Ulin Banjarmasin period June 2014-June 2015 with OR 6.256. Keywords: gestational age, sepsis, neonatal Abstrak: Sepsis neonatorum merupakan suatu sindrom klinis bakteremia yang ditandai dengan gejala dan tanda sistemik serta menunjukkan kultur darah positif yang terjadi pada bulan pertama kehidupan. Prematuritas dan posmaturitas memiliki risiko kesakitan dan kematian yang tinggi pada masa gestasi untuk terjadinya sepsis neonatorum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin. Rancangan penelitian ini menggunakan cross sectional study dengan pendekatan retrospektif. Cara pengambilan sampel yaitu dengan purposive sampling yang diperoleh dari data rekam medis pasien, kemudian dilakukan analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan kepercayaan 95%. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini sebanyak 246 kasus. Kejadian sepsis neonatorum lebih banyak dijumpai pada bayi yang lahir dengan masa gestasi 37-42 minggu yaitu sebanyak 25 kasus (59,52%). Data neonatus tidak sepsis yang lahir dengan masa gestasi <37 minggu atau >42 minggu didapatkan sebanyak 20 kasus (9,80%) dan masa gestasi 37-42 minggu didapatkan sebanyak 184 kasus (90,20%). Uji chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin (p=0,000) dengan odds ratio (OR) 6,256. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum (p<0,05) di RSUD Ulin Banjarmasin periode Juni 2014-Juni 2015 dengan OR 6,256. Kata-kata kunci: masa gestasi, sepsis, neonatus
PERBEDAAN KEJADIAN DISFUNGSI SEKSUAL PADA WANITA DENGAN DIABETES MELITUS DAN TANPA DIABETES MELITUS Helna Amelia; Husnul Khatimah; Istiana Istiana
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.01 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1861

Abstract

Abstract: Sexual dysfunction in woman with diabetes mellitus has received less attention from the doctors. The study about sexual dysfunction in female is relatively less than sexual dysfunction in male. The aim of this study was to analyze the difference of sexual dysfunction in diabetes and non-diabetes female at Ulin and Dr. H. Moch. Ansari Saleh Hospitals Banjarmasin. This study was an observational analytic study with case control approach. Diabetes and non-diabetes female that came to the subspecialist polyclinic in Ulin hospital and to the internal medicine polyclinic in Dr. H. Moch. Ansari Saleh hospital period July-September 2015 that meet to the inclusion criteria were included as sample of this study. Female sexual dysfunction was assessed using the Female Sexual Function Index (FSFI) questionnaire. From 30 diabetes females, there were 19 females (63,3%) had sexual dysfunction and from 30 non-diabetes females there were 14 females (46,7%) had sexual dysfunction. The data analysis using chi-square was resulted p=0,299 that means there was no significant difference. It was concluded that there was no significant difference of sexual dysfunction in diabetes and non-diabetes female. Keywords:sexual dysfunction, female, diabetes mellitus Abstrak: Disfungsi seksual pada wanita dengan diabetes melitus (DM) belum banyak mendapat perhatian dari dokter. Penelitian tentang disfungsi seksual pada wanita juga relatif sedikit jika dibandingkan dengan disfungsi seksual pada laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kejadian disfungsi seksual pada wanita dengan DM dan tanpa DM di RSUD Ulin dan RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan case control.Pasien wanita DM dan tanpa DM yang datang ke poliklinik subspesialis RSUD Ulin dan poliklinik penyakit dalam RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin periode Juli-September 2015 yang memenuhi kriteria inklusi menjadi sampel pada penelitian ini. Disfungsi seksual wanita dinilai dengan menggunakan kuesioner the Female Sexual Function Index (FSFI). Dari 30 wanita DM yang menjadi subjek penelitian, terdapat 19 orang (63,3%) yang mengalami disfungsi seksual dan dari 30 wanita tanpa DM yang menjadi subjek penelitian, terdapat 14 orang (46,7%) mengalami disfungsi seksual. Analisis data dengan menggunakan uji chi-square didapatkan nilai p=0,299 yang berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna.  Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kejadian disfungsi seksual pada wanita DM dan tanpa DM. Kata-kata kunci: lingkar pinggang, obesitas sentral, diabetes melitus, disfungsi ereksi
HUBUNGAN SKOR GLASGOW COMA SCALE (GCS) DENGAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN CEDERA KEPALA DI IGD RSUD ULIN BANJARMASIN Annisa Yutami; Kenanga Marwan Sikumbang; Asnawati Asnawati
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.083 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1879

Abstract

Abstract: Head injuries are a public health and a serious socio-economic problems in the world. Head injury classified quantitatively using the Glasgow Coma Scale (GCS) score. Consumptive coagulopathy that often arises in patients with head injury associated with a tenfold adjusted risk of death. Consumptive coagulopathy marked by a decrease in the number of platelets. The purpose of the study was to analyze the relationship between GCS score with total platelet count in head injury patients at Emergency Department Ulin General Hospital Banjarmasin. This study was an observational analytic cross sectional study. Seventy three samples were obtained according to the inclusions criteria with 28 mild head injury patients, 26 moderate head injury patients, and 19 severe head injury patients. Seven patients had thrombocytopenia, from moderate head injury and severe head injury groups. From statistical test using one way ANOVA with confidence level of 95% was obtained p=0.402. It can be concluded that there is no relationship between GCS score with total platelet count in head injury patients at Emergency Department Ulin General Hospital. Keywords: head injury, GCS, platelet count Abstrak: Cedera kepala merupakan masalah kesehatan masyarakat dan sosial ekonomi yang serius di dunia. Cedera kepala diklasifikasikan secara kuantitatif menggunakan skor Glasgow Coma Scale (GCS). Koagulopati konsumtif yang sering muncul pada pasien cedera kepala dapat meningkatkan risiko kematian menjadi sepuluh kali lipat. Koagulopati konsumtif ditandai dengan penurunan jumlah trombosit. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara skor GCS dengan jumlah trombosit pada pasien cedera kepala di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik cross sectional. Didapatkan 73 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi, dengan perincian 28 pasien cedera kepala ringan (CKR), 26 pasien cedera kepala sedang (CKS), dan 19 pasien cedera kepala berat (CKB). Tujuh pasien mengalami trombositopenia, dari kelompok pasien cedera kepala sedang dan cedera kepala berat. Dari uji statistik  menggunakanone-way ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan nilai p=0,402. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara skor GCS dengan jumlah trombosit pada pasien cedera kepala di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata Kunci: cedera kepala, GCS, jumlah trombosit

Page 3 of 4 | Total Record : 32