cover
Contact Name
Astrid Veranita Indah
Contact Email
astrid.veranita@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
darmawati.h@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar, Jl. Sultan Alauddin No. 63, Jl. St alauddin no.36 Gowa-Samata
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sulesana
Core Subject : Religion,
studi-studi keIslaman yang erat dengan issu sosial, teologi, hukum, Pendidikan dan filsafat. Studi ini dimulai dengan tema Kajian Kritis Akulturasi Islam dengan Budaya Local, Metode Memahami Maksud Syariah , Maulid Dan Natal (Studi Perbandingan Antara Islam Dan Kristen), Akal dalam Al-Quran, Pendidikan Agama Dan Moral Dalam Perspektif Global, Sinergitas Filsafat Dan Teologi Murthadha Muthahhari, Perspektif Perilaku Menyimpang Anak Remaja : Studi berbagai masalah social.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 1 (2018)" : 7 Documents clear
FUNDAMENTALISME DAN RADIKALISME ISLAM ( Telaah Kritis tentang Eksistensinya Masa Kini) Abduh Wahid
Sulesana Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i1.5669

Abstract

Fundamentalis salah satu aliran yang tidak mau menerima perubahan dalam arti mereka menentang pembaruan. Jadi, mereka dengan berhati-hati menegaskan bahwa bahwa pemakluman kenabian Muhammad saw bukanlah suatu hal yang baru, melainkan hanya menyambung rentetan nabi dan rasul yang mendahuluinya. Sedangkan radikalisme adalah suatu kelompok yang sering dipandang Barat sebagai teroris yang bertujuan melemahkan otoritas politik dengan jalan jihad. Artinya, gerakan-gerakan keagamaan radikal ini menjadikan jihad sebagai salah satu metode untuk mencapai cita-citanya, yakni tatanan sistem Islam (­al-nizām al-Islāmi). Di samping itu, radikalis dianggap sebagai kaum yang berpikiran sempit (narrow-minded), bersemangat secara berlebihan (ultra zeolous), atau ingin mencapai tujuan dengan memakai cara-cara kekerasan. Karena itu dapat dimengerti mengapa sebagian besar sarjana muslim memandang radikalisme sebagai istilah yang tak menguntungkan dan menimbulkan kesalahpahaman. Pandangan seperti ini juga terdapat pada para orientalis dan sarjana Barat yang memahami agama Islam.
PENERAPAN FUNGSI-FUNGSI AGAMA DALAM MEMBERDAYAKAN ANAK TERLANTAR DI KOTA MAKASSAR Muhammad Ramli
Sulesana Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i1.5654

Abstract

Penelitian ini mencoba menyoroti kondisi pekerja anak yang terpaksa harus melakoni pekerjaannya sebagai konsekuensi kemiskinan keluarganya, sehingga diberi beban oleh orang tuanya untuk mencari nafkah, karena dianggap sangat strategis untuk mencari nafkah. Namun yang menjadi persoalan adalah hilangnya kesempatan anak untuk menuntut pendidikan, kebebasan bermain dan bersosialisasi terlebih kurangnya penanaman nilai agama sebagai acuan dalam menata kehidupan. Hal yang menjadi tantangan berat adalah upaya pemberdayaan fungsi agama pada pekerja anak. Penelitian ini adalah deskriptif sehingga analisisnya adalah kualitatif dengan harapan untuk menggambarkan secara kongkrit tentang fenomena pekerja anak sebagai masalah perkotaan dalam kaitannya dengan pemberdayaan fungsi agama pada pekerja anak sebagai generasi pelanjut. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pemahaman dan penerapan agama pada pekerja anak, utamanya dalam shalat, puasa, pendidikan agama, mengaji sangat rendah. Hal ini dimungkinkan karena pada karakteristik pekerja anak adalah hampir semua waktunya dihabiskan pada pekerjaannya, selain itu juga lebih mengutamakan bekerja daripada belajar agama karena itu yang menjadi tuntutan keluarganya yakni mencari nafkah. Maka upaya yang dilakukan dalam menerapkan fungsi agama yakni fungsi kontrol, edukasi, persaudaraan dan penyelamatan melalui rumah singgah, kelompok pengajian, majelis taklim, pendidikan formal, namun belum berjalan maksimal dan menjadikan pekerja anak belum terlalu tertarik untuk memanfaatkan sarana tersebut mereka tetap konsentrasi pada mencari nafkah. Maka model kebijakan yang efektif adalah mendekatkan sarana pemberdayaan pada konsentrasi pemukiman pekerja anak.
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG MACCERA AQORANG DI DESA BARAKKAE KEC. LAMURU KAB. BONE Rudhi Rudhi
Sulesana Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i1.5670

Abstract

Pokok masalah penelitian ini adalah “Persepsi masyarakat tentang maccera aqorang (mecr akor) di Desa Barakkae Kec. Lamuru Kab. Bone. Pokok masalah tersebut selanjutnya dibagi ke dalam beberapa submasalah, yaitu a) mengetahui bentuk maccera aqorang masyarakat di desa Barakkae, b) menjelaskan persepsi masyarakat tentang maccera aqorang, c) mengetahui impilkasi maccera aqorang terhadap kehidupan beragama bagi masyarakat di desa Barakkae.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan cara mewawancarai masyarakat untuk menggali informasi mengenai ritual maccera aqorang di desa Barakkae. Penelitian ini mengambil perhatian pada bagaimana bentuk pelaksanaan, persepsi dan implikasi maccera aqoran terhadap masyarakat di desa Barakkae. Setelah data-data tersebut terkumpul lalu disusun, dijelaskan kemudian dianalisis, sehingga mendapatkan hasil yang diharapkan,untuk kemudian diambil suatu kesimpulan sebagai hasil akhir.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, maccera aqorang yang dipraktekkan oleh masyarakat di desa Barakkae adalah sebuah tradisi ritual yang dilakukan ketika seseorang yang mengaji kepada seorang guru mengaji yang berada di desa tersebut, dengan cara menyembelih ayam serta menyediakan berbagai bahan-bahanuntuk disajikan, seperti sokko tellu rupa (soko tElu rup), yaitu beras ketan tiga macam warnanya sebagai sajian kepada sanro (dukun) dan guru selaku pemimpin ritus macceraaqorang. Adapun surah-surah dalam al-Qur’an yang dicera adalah QS. al-Alaq, QS-Baqarah, QS. al-Kahfi ayat 19 dan QS. Yasin. Surah- surah tersebut mereka yakini sebagai surah yang memiliki nilai sakral tertentu yang dapat bermamfaat bagi masyarakat. Kegiatan maccera aqorang dilakukan sebagai bentuk syukur kepada Allah swt karena telah sampai pada bacaan yang dianggap sakral dan memiliki keberkahan atau kemulian.  Dari itu masyarakat di desa Barakkae beranggapan bahwa seseorang yang tidak melakukan ritual maccera aqorang tidak boleh membaca surah-surah yang telah ditentukan untuk dicera di daerah tersebut, dan dianggap belum khatam atau selesai bacaanya terhadap al-Qur’an. Olehnya itu seseorang yang belum melakukan ritual maccera aqorang  tidak boleh menjadi imam atau memimpin shalat berjamaah di mesjid. Adapun mamfaat adanya maccera aqorang bagi masyarakat di Desa Barakkae adalah menjadi pendorong bagi anak-anak mereka untuk rajin mempelajari al-Qur’an. Membantu sisi ekonomi kepada guru dan dukun yang m,emimpin ritual, serta mendorong masyarakat untuk menghormati atau menjunjung tinggi kemulian al-Qur’an.
MAKNA AL-WIQAYAH DAN CAKUPANNYA DALAM AL-QUR’AN Hasyim Haddade
Sulesana Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i1.5672

Abstract

Allah Swt. menciptakan manusia dengan menganugrahkan potensi kepadanya untuk melakukan kebaikan dan kejahatan. Bahkan potensi ini berbanding sama di antara keduanya. Namun demikian, manusia diberikan akal pikiran untuk memilih dan menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, dan manusialah yang menentukan pilihannya bahwa yang baik yang mesti dilakukan untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan, dan yang buruk harus ditinggalkan agar terhindar dari siksaan-Nya. Wiqa>yah merupakan suatu konsep yang sangat tepat ketika seseorang ingin mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena wiqa>yah adalah sikap memelihara diri, menjaga diri dari berbagai hal yang bisa mengantarkan dari kehidupan yang tidak baik dan melakukan hal-hal yang membawa kekehidupan yang baik, baik itu di dunia maupun di akhirat.
HUBUNGAN HUKUM ISLAM DENGAN HUKUM POSITIF Darmawati Hanafi; Anggi Anggraini
Sulesana Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i1.5666

Abstract

Artikel ini membahas tentang hubungan hukum Islam dengan hukum positif, keharmonisan hukum positif dengan hukum Islam. Hukum Islam ini merupakan hukum yang bersumber dari wahyu Tuhan, sekaligus melibatkan penalaran dan analisis manusia memahami wahyu tersebut. Ijtihad yang dilakukan para jurist muslim merupakan bukti kongkrit keterlibatan manusia dalam menggali hukum yang hidup dalam masyarakat. Hukum positif bertujuan untuk kepentingan duniawi yang berkenaan dengan lahiriah bagi kepentingan kebendaan dengan berbagai seluk beluknya. Sedangkan hukum agama, merupakan ketetapan Allah untuk mewujudkan kemaslahatan dan kepentingan manusia lahir batin, dunia dan akhirat.
PERKEMBANGAN ALIRAN SPIRITUALISME DI DUNIA ISLAM (Tarekat Mawlawiyah) Sitti Rahmatiah
Sulesana Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i1.5668

Abstract

Spiritual (atau pemikiran mengenai spiritualitas) dalam Islam di kenal dengan tasawuf atau mistisisme Islam, atau sufisme. Kata spiritual dari kata dasar spirit yang berarti antara lain bagian nonmaterial dari manusia, jiwa; wujud rasional yang berbeda dengan badan material; wujud non-fisik, misalnya Tuhan adalah spirit.  Dewasa ini telah terjadi peningkatan kecenderungan masyarakat terhadap spiritualitas. Fenomena ini ditandai dengan berkembangnya gerakan tarekat, pengajian eksekutif, kursus-kursus tasawuf, training spiritual, dan layanan konsultasi persoalan sosial keagamaan melalui media cetak dan elektronik. Jalaludin Rumi adalah pendiri tarekat Mawlawiyah di Konya, ajarannya terkenal dengan cara dzikir yang berbeda. Jika para sufi berdzikir sambil bersila dan menggoyang-goyangkan kepala, para darwish di aliran ini justru berdiri dan menari berputar-putar seperti gasing.  Jubah mereka berkembang seperti teratai di atas air. Dzikir mereka tidak hanya diiringi oleh bacaan Alquran dan puji-pujian pada Nabi, tetapi juga suara seruling dan rebab serta fabel dari puisi-puisi Rumi. Dalam tarian ini para darwish mengenyampingkan nafsu dan ego mereka dan berkosentrasi pada musik dan lirik yang dimainkan para Mawlana. Mereka berputar seperti planet-planet dan elektron dalam dunia makro dan mikro-kosmos.
RADIKALISME DAN PENGARUHNYA TERHADAP PEMAHAMAN MASYARAKAT ISLAM DI KELURAHAN SAMATA KECAMATAN SOMBA OPU KABUPATEN GOWA Nihaya Nihaya
Sulesana Vol 12 No 1 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i1.5655

Abstract

Radikalisme menjadi permasalahan yang menarik untuk dikaji saat ini. Karena menjadi pusat perhatian para anti Islam untuk mengobok-obok eksistensi Islam dari satu sisi. Selalu agama Islam menjadi identik dengan radikalisme. Pada penelitian ini ingin membuktikan bahwa konsep radikalisme yang diisukan itu berbeda dengan realitas yang ada. Penelitian ini mengangkat judul radikalisme dan pengaruhnya terhadap pemahaman masyarakat Islam di kabupaten Gowa. Respons kognitif responden terhadap radikalis memenunjukkan tingkat pengetahuan responden secara umum masih pada tataran permukaan berkenaan dengan radikalisme agama. Sangat sedikit responden yang memiliki pengetahuan mendalam serta aktif mengikuti perkembangan kelompok radikal baikmelaluibuku bacaan maupunlainnya.Respons afektif responden terhadap variabel-variabel radikalisme agama menunjukkan kecenderungan sikap moderat dari sebagian besar responden terhadap radikalisme agama. Respons moderat responden dalam kaitannya dengan hubungan sosial dengan penganut agama lain serta tentang pandangan mengenai hubungan agama dan Negara.Respons konatif responden menunjukkan potensi radikalisme agama yang terimpleentasi dalam sikap radikalmasih sangat kecil.hanya sebagian kecil responden yang menunjukkan sikap radikalismenya dalam merespons kategori-kategori radikalisme agama pada tataran konatf. Hal ini menunjukkan bahwa radikalisme agama masih belum menjamah secara umum umat Islam dari berbagai barisan,baik dari kalangan masyarakat umum, kalangan terpelajar, maupun kalangan tokoh agama.

Page 1 of 1 | Total Record : 7