cover
Contact Name
Astrid Veranita Indah
Contact Email
astrid.veranita@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
darmawati.h@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar, Jl. Sultan Alauddin No. 63, Jl. St alauddin no.36 Gowa-Samata
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Sulesana
Core Subject : Religion,
studi-studi keIslaman yang erat dengan issu sosial, teologi, hukum, Pendidikan dan filsafat. Studi ini dimulai dengan tema Kajian Kritis Akulturasi Islam dengan Budaya Local, Metode Memahami Maksud Syariah , Maulid Dan Natal (Studi Perbandingan Antara Islam Dan Kristen), Akal dalam Al-Quran, Pendidikan Agama Dan Moral Dalam Perspektif Global, Sinergitas Filsafat Dan Teologi Murthadha Muthahhari, Perspektif Perilaku Menyimpang Anak Remaja : Studi berbagai masalah social.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 13 No 1 (2019)" : 6 Documents clear
CIRI DAN KEISTIMEWAAN AKHLAK DALAM ISLAM Akilah Mahmud
Sulesana Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v13i1.9949

Abstract

Kedudukan  akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat dan Bangsa. Sebab jatuh bangunnya, jaya dan hancurnya, sejahtera suatu bangsa dan masyarakat tergantung bagaimana akhlaknya, apabila akhlaknya baik maka  sejahteralah lahir batinnya, akan tetapi apabila akhlaknya buruk maka kehidupannya tidak akan tenteram.    Ajaran Islam adalah ajaran yang bersifat  universal  yang  harus diaktualisasikan dalam kehidupan individu, masyarakat, berbangsa dan bernegara secara maksimal. Aktualisasi tersebut tentu terkait dengan pelaksanaan hak dan kewajiban seseorang kepada Tuhan-Nya, Rasulnya, manusia dan lingkungannya. Seorang  yang  berakhlak mulia, selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan hak kepada orang  yang  berhak  menerimanya, dia melakukan  kewajibannya terhadap dirinya sendiri, yang menjadi haknya. Serta melaksanakan perintah Tuhan-Nya, sebagaimana yang telah dijelaskan   dalam Al-Qur’an dan  Hadis.
MASA DEPAN HADIS DAN ‘ULUM AL-HADIS (Suatu Gagasan Ke Arah Pembaruan Pemikiran Hadis) Nurlaelah Abbas
Sulesana Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v13i1.9950

Abstract

Sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadis dan ulum al-Hadis dari masa kemasa mengalami pasang surut, ini menunjukkan bahwa, betapa pentingnya melakukan pembaruan dalam pemikiran hadis dengan memperhatikan empat aspek penting yaitu, historitas, otoritas, otentisitas dan interpretasi makna hadis. Demikian pula, sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadis dan ulum al-hadis juga menunjukkah betapa beragamnya pemikiran umat Islam terhadap hadis sehingga melahirkan sikap yang berbeda pula terhadap hadis. Pembaruan pemikiran hadis tidak lepas dari penataan kembali metodologi pengkajian hadis dengan memperhatikan historitas hadis seperi yang dilakukan oleh pengkaji-pengkaji hadis yang terkemuka baik dari Timur maupun dari Barat.
TEORI MAQASID SYARI’AH Husain Husain
Sulesana Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v13i1.9946

Abstract

Seorang yang akan memahami Al-Qur’an termasuk kandungan maqasid syariahnyamesti memiliki pengetahuan tentang bahasa Arab termasuk di dalamnya pengetahuan tentang kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab dalam menggunakan bahasa mereka. Pengetahuan akan bahasa Arab semakin dibutuhkan ketika kandungan nilai yang hendak ditimba, masih harus dikaitkan dengan tuntutan lafal sebagai bagian dari titik tolak pemahaman. Maqasid Syari’ah terdiri dari dua kata; Maqasid dan Syari’ah. Maqasid berarti kesengajaan atau tujuan, sedangkan Syari’ah berarti jalan menuju sumber air. Untuk mengetahui Maqasid ini, maka seseorang dituntut untuk memahami konteks. Bukan hanya pada konteks personal yang juz’i-partikular, akan tetapi juga konteksimpersonal yang kulli-universal.
DZIKIR TOLAK BALA TAREKAT KHALWATIYAH SAMMAN DI KELURAHAN TALAKA KAMPUNG TANETE, KEC. MA’RANG, KAB. PANGKEP (TINJAUAN AQIDAH ISLAM) Ahmad Mursalat; Darmawati H
Sulesana Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v13i1.9951

Abstract

Dzikir Tolak Bala merupakan salah satu Tradisi Tarekat Khalwatiyah Samman yang ada di Kampung Tanete Kelurahan Talaka yang dimana hal ini awalnya adalah Tradisi nenek moyang yang masih berpahamkan animisme kemudian Islam datang sekaligus Tarekat yang datang memperbaiki aqidah mereka agar ikut dengan ajaran islam dalam memperbaiki Tradisi mereka tersebut yang sebelumnya meminta pertolongan dan perlindungan kepada yang selain Tuhan (yakni kepada roh-roh Nenek Moyang  mereka yang dianggap memiliki kekuatan supranatural yang tinggi untuk melindungi mereka, atau benda materi yang memiliki kemampuan serupa) yang kemudian meyakinkan mereka agar meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepada Tuhan yang Maha Esa (Allah swt). Waktu pelaksanaan Tolak Bala ini dilaksanakan berdasarkan hasil musyawarah masyarakat Khususnya yang menganut Tarekat Khalwatiyah Samman terkait dengan penentuan pelaksanaan kegiatan tersebut dan adapun bulan-bulan dalam kalender hijriah yang umumnya kapan ditetapkan waktu pelaksaannya yaitu bulan Muharam, Shafar, Rajab dan Zulhijah, serta pada waktu Maulid Nabi Muhammad saw. Dalam pelaksanaan Tradisi Tolak Bala tersebut terdapat serangkaian kegiatan seperti barazanji, zikir, kemudian meminta Sang Ilahi agar meridai dan memberkati kegiatan mereka serta memohon perlindungan dan pertolongan dengan niat hanya di tujukan kepada-Nya. Kemudian dalam kelengkapan acara tersebut disajikan beberapa bahan seperti kemenyan (sebagai pengharum ruangan), kue Apang, Onde-onde, dan Leppe-leppe’ yang memiliki pemaknaan masing-masing.Adapun pendapat masyarakat terkait dengan Tradisi tersebut ada beberapa yang tidak mempermasalahkan selama tidak membuat kegaduhan dan permohonan do’a yang dipanjatkan penganut tarekat tersebut semata-mata diniatkan hanya kepada Allah swt. dan adapun yang masih ragu dengan keyakinan mereka, dan ada juga yang menganggap Tradisi tersebut sebagai kegiatan bid’ah. Tetapi orang yang mengatakan hal seperti itu ternyata tidak melihat secara keseluruhan prosesinya dan penulis menyimpulkan bahwa sesutu tidak dapat dipatikan jika tidak diselesaikan dan peneliti beranggapan bahwa kegiatan ini tidak bertentangan dengan agama.
EPISTEMOLOGI TEOLOGI KESELAMATAN (Perspektif Hans Kung dan Sayyid Hosein Nashr) Abdullah Abdullah
Sulesana Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v13i1.9947

Abstract

Studi epistemologi teologi keselamatan dalam Islam dan katolik sangat langka dilakukan oleh orang atau kelompok akademisi, sebab mencari epistemologi dari kedua agama ini sangat sulit dan ada kesan seseorang harus ekstra hati-hati agar tidak mendatangkan misinterpretasi yang jauh dari pesan oral ontologis islam dan Katolik, juga rawan mendapat tanggapan yang tajam yang mengarah kepada perbedaan bahkan berujung konflik. Namun penulis memberanikan diri untuk mengkaji perihal tersebut yakni menmbandingkan pandangan teolog katolik yakni Hans Kung dengan teolog muslim yakni Sayyed Hosein Nashr. Epistemologi teologi keselamatan atau selvation  dalam Islam dan katolik menuut kedua tokoh tersebut memiliki akar historis yang sama yakni dari kata salom. Namun dalam perkembangannya kedua tokoh tersebut mengenmbangkan dengan bentuk dan penjabaran yang berbeda sesuai dengan pesan dan substansi dari agamanya masing-masing. Menuut Hans Kung bahwa epistemologi teologi keselamatan mengandung makna yang terdalam yakni dalam agama-agama terdapat nilai-nilai bersama yang dengannya seluruh agama beserta syariat dan ritual-ritual peribadatannya berada dalam satu kata. Semua agama pasti menganjurkan untuk mencintai sesama, menghormati tetangga, berbelas-kasih pada orang lemah dan orang miskin, dan menyerukan amar-ma’r­f (mengajak pada kebaikan) nahy³ m­nkar (mencegah kemungkaran). Di samping itu, agama-agama pastinya juga melarang pembunuhan, bohong, hasut, fitnah dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Nilai-nilai idealis ini, meski dipaparkan dengan beragam cara, menurutnya dengan mudah bisa dilacak dalam kitab Alkitab, Alqur’an, Hadits Nabi, Taurat, dan prinsip-prinsip dasar keagamaan Hindu, Budha, dan Konfusianisme. Semuanya mengungkapkan akan satu hal yang sama, tetapi tentu saja dengan cara yang beranekaragam atau ungkapan-ungkapan bahasa yang berbeda. Sedangkan menurut Sayyed Hosein Nashr bahwa epistemologi teologi keselamatan menjadi realitas  ontologi pada persoalan Wujud keselamatan dan keselamatan humanis tidak hanya pada batas intern umat beragama, tapi antar umat beragama. Keselamatan ini disebut dengan keselamatan horisontal. Untuk mencapai hubungan keselamatan antar umat beragama khususnya perjumpaan Islam dengan Kristen, Shcuon mengatakan sangat tergantung kepada masalah bagaimana penerimaan manusia terhadap pesan Ilahi guna  mewujudkan sikap inklusifisme dalam hidup beragama dan bernegara. Dengan sikap seperti ini, seseorang akan dapat menangkap nilai-nilai kebenaran yang ada pada setiap agama.
GERAKAN DAKWAH SYEKH YUSUF AL-MAKASSARI St. Rahmatiah
Sulesana Vol 13 No 1 (2019)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v13i1.9948

Abstract

Syekh Yusuf merupakan seorang ulama, sufi dan khalifah tarekat serta pejuang kenamaan pada zamannya. Bukti kongkrit dari perjuangannya adalah kemenangan Raja Banten (Sultan Agung Tirtayasa) atas Belanda ketika dibantu oleh Syekh Yusuf al-Makassari. Syekh Yusuf dikenal pada empat negeri, yaitu Kesultanan Banten (Jawa Barat), Tanah Bugis (Sulawesi Selatan), Caylon (Sri Lagka) dan Cape Town (Afrika Selatan). Beliau adalah peletak dasar kehadiran komunitas Muslim di Caylon dan Afrika Selatan. Beliau dianggap sebagai bapak pada beberapa kumpulan masyarakat Islam di Afrika Selatan yang berjuang mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan paham adanya perbedaan kulit dan etnis. Syekh Yusuf memiliki pokok-pokok pemikiran serta pengaruh terhadap perkembangan Islam di bidang mistik. Di dalam upaya menjalankan pengajaran dan dakwah Islam melalui tasawuf, Syekh Yusuf selalu mengaitkan tasawufnya dengan aqidah Islamiah.  Akidah yang benar, adalah akidah yang berdasarkan kepada ittiba’ al-Rasûl.  Artinya apa yang patut diyakini oleh hamba terhadap Allah adalah sebagaimana yang telah termaktub dalam Alquran dan al-Sunnah. Keimanan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari qiyamat dan qada’ dan qadar-Nya, mestilah didasarkan kepada kedua rujukan dasar tersebut. Selain Alquran dan al-Sunnah, Syekh Yusuf memperincikan rukun tasawuf kepada sepuluh perkara, yaitu: Tahrid al-Tauhid, Faham al-Sima’i, Husn al-‘Ishra, Ithar al-Ithar, Tark al-Ikhtiyar, Sur’at al-Wujd, al-Kahf  ‘an al-Khawâtir, Kathrat al-Safar, Tark al-Iktisab, dan Tahrîm al-Iddihâr.

Page 1 of 1 | Total Record : 6