cover
Contact Name
Isnen Fitri
Contact Email
isnen@usu.ac.id
Phone
+62911-323382
Journal Mail Official
kapata.arkeologi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Namalatu-Latuhalat, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97118, Indonesia
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
Kapata Arkeologi is aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. All papers are peer-reviewed by at least two referees. Kapata Arkeologi is managed to be issued twice in every volume. Kapata Arkeologi publish original research papers, review articles, case studies and conceptual ideas or theories focused on archaeological research and other disciplines related to humans and culture. The Scope of Kapata Arkeologi is: Archaeology Anthropology History Cultural Studies
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 1, Juli 2015" : 10 Documents clear
Preface Vol. 11 No. 1 (2015) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.276

Abstract

Tinggalan Batu Lumpang di Desa Ruko, Kecamatan Tobelo: Tinjauan Atas Konteks Sejarah dan Sosial Budaya Kerajaan-Kerajaan Lokal di Halmahera Utara Karyamantha Surbakti
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.277

Abstract

Batu Lumpang in the archaeological perspecitve is known as remains with the characteristic as a tool for mashing food . This stone has a container shape that made of stone vessels were notched in the middle. The purpose of this study is to initiate the prelimenary study of the batu lumpang in the Ruko village, the District Tobelo , North Halmahera and will be use as a data that assist the interpreationt and explaination on the history of  North Halmahera. The research method adopted in this study is observation and interviews. Qualitative analysis and ethnoarchaeology analysis has been adopted to see the depth of the data to be interpreted. Results of the study shows that the  factors of hegemony of the Ternate empire who conquered Moro and an abundance of food sources in Moro, as well as the strong indication of batu lumpang as the main supporting objects for the  economic activity at that time.Batu lumpang dalam khasanah arkeologi dikenal sebagai tinggalan dengan ciri yang mengarah sebagai alat menumbuk makanan. Batu ini merupakan wadah yang berbentuk bejana terbuat dari batu yang berlekuk di tengahnya. Tujuan dari penelitian ini sebagai studi awal dalam melihat tinggalan batu lumpang yang ada di Desa Ruko Kec. Tobelo Kab. Halmahera Utara sebagai data yang membantu menginterpretasi dan menjelaskan sebuah peristiwa sejarah yang panjang di Halmahera Utara. Metode penelitian menggunakan observasi langsung dan wawancara. Analisis kualitatif dan analisis etnoarkeologi diperlukan untuk melihat kedalaman data yang hendak diinterpretasikan. Hasil dari penelitian adalah faktor hegemoni kekuasaan dari kerajaan Ternate yang menaklukkan kerajaan Moro dan berlimpahnya sumber bahan pangan di Moro menjadikan indikasi kuat batu lumpang sebagai penyokong aktivitas ekonomi pada kala itu.
Rumah Adat Baileo di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah Marlyn Salhuteru
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.278

Abstract

Baileo is the name for the traditional home of the Moluccas. One area where the building is still well preserved is in the district of Central Maluku Saparua. The house of  Baileo is not functioned as residences, but only used in the custom and religious execution. Based on the function, then Baileo has the same meaning as balai in Indonesian. Baileo buildings that can be found in most indigenous country in Saparua generally sized large enough, consisted of only one room without a bulkhead. The building is shaped stage house or home berkolong and square berdenah. Buildings made of wood, boards and sago leaves as the roof. However, current developments, some of these buildings have been using modern materials such as cement and roofing senk. However, this does not affect the value in the presence of Baileo itself. Proven local people still maintain the traditional values which are reflected in the maintenance and preservation of Baileo, so it remains to this day. This research is to explore  issues  about the existence, architectural forms, materials, and functions of  traditional home Baileo contained in the District of Saparua, Central Maluku district, and the aims is to have verbal and pictorial document of  Baileo as a tradition and  cultural heritage and also as  the identity of the Moluccan community in general. Results of the research will be described in the form of verbal and pictorial descriptions in order to address concerns and research purposes.Baileo adalah sebutan untuk rumah tradisional orang Maluku. Salah satu wilayah dimana bangunan ini masih terpelihara dengan baik adalah di Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah. Rumah baileo tidak difungsikan sebagai rumah tinggal, melainkan hanya digunakan pada pelaksanaan acara adat atau keagamaan. Berdasarkan fungsinya, maka baileo kurang lebih sama dengan kata balai dalam bahasa Indonesia.  Bangunan baileo yang dapat ditemukan di sebagian besar negeri adat di Kecamatan Saparua umumnya berukuran cukup luas, terdiri dari hanya satu ruangan tanpa sekat. Bangunan ini berbentuk rumah panggung atau rumah berkolong, dan berdenah persegi. Bangunan  terbuat dari kayu, papan dan daun sagu sebagai atapnya. Namun perkembangan saat ini, beberapa di antara bangunan-bangunan ini telah menggunakan bahan modern seperti semen dan atap senk. Walaupun demikian, hal ini tidak mempengaruhi nilai dalam keberadaan baileo itu sendiri. Terbukti masyarakat setempat masih memelihara nilai adat yang tercermin dalam pemeliharaan dan pelestarian baileo, sehingga tetap ada sampai saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian ekploratif untuk menjawab permasalahan peneltian  tentang keberadaan, bentuk  arsitektur, bahan, maupun fungsi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan rumah tradisional baileo yang terdapat dalam wilayah Kecamatan Saparua Kabupaten Maluku Tengah, serta bertujuan untuk mendokumentasikan baik secara verbal maupun piktorial  rumah tradisional baileo sebagai warisan budaya sekaligus sebagai identitas masyarakat Maluku umumnya. Hasil penelitian  akan diuraikan dalam bentuk deksripsi verbal maupun piktorial sehingga dapat menjawab permasalahan dan tujuan penelitian.
Kejayaan Kesultanan Buton Abad Ke-17 & 18 dalam Tinjauan Arkeologi Ekologi Muhammad Al Mujabuddawat
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.279

Abstract

Buton Sultanate is a prosperous maritime sultanate in its heyday. Buton Sultanate land is not very fertile and does not produce a lot of commodities, but it is quite well known because of its location in the commercial lines, so that it becomes a stopover place for passing ships. This paper provides an overview of ecological archaeology towards the triumph case of Buton Sultanate in the 17th-18th century. The research method used in this paper is literature study and review of a theory through an observation of cultural ecology and environmental determinism. The results show that the ecological aspects affect the heyday of the Buton Sultanate. Buton Sultanate does not produce a lot of major commodities, but it is successfully adapt to environmental conditions and maximize the benefits derived from the ecological aspects by applying it to the structure of Sultanate society, a commercial network, and material culture. The profits are also applied to maintain its legitimacy in the great power of hegemony in the region. Success in 'conquering' the environment makes the Buton Sultanate victorious, even the identity of 'kebutonan' still embedded in Buton society until this day.Kesultanan Buton merupakan kesultanan bercorak maritim yang cukup besar pada masa jayanya. Daratan Kesultanan Buton tidak begitu subur dan tidak banyak menghasilkan komoditi namun cukup terkenal karena lokasinya terletak di jalur niaga, sehingga menjadi lokasi singgah bagi kapal-kapal yang melintas. Penelitian ini berisi tinjauan arkeologi ekologi terhadap kasus kejayaan kesultanan Buton abad ke-17-18. Metode penelitian menggunakan studi pustaka dan tinjauan teori melalui tinjauan model cultural ecology dan environmental determinism. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek-aspek ekologi berpengaruh terhadap kejayaan Kesultanan Buton. Kesultanan Buton tidak banyak menghasilkan komoditi utama, namun berhasil menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya dan sukses memaksimalkan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari aspek ekologis. Dengan menerapkannya pada struktur masyarakat Kesultanan, jaringan perniagaan, budaya material, Kesultanan Buton mempertahankan legitimasi dalam hegemoni kekuatan besar di wilayahnya. Kesuksesan dalam ‘menaklukan’ lingkungan menjadikan Kesultanan Buton berjaya, bahkan hingga saat ini identitas ‘kebutonan’ masih melekat di dalam masyarakat Buton.
Benteng Amsterdam di Pesisir Utara Pulau Ambon: Tinjauan atas Aspek Kronologi dan Fungsi Syahruddin Mansyur
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.280

Abstract

Fort Amsterdam is one of the fort in the fortifications system that was built by the VOC since the 17th century in the Maluku Islands. This research examines the micro aspects in the fortification system  by focusing on the  aspects of the chronology as well as the functions and roles of Fort Amsterdam. The bibliographical studies and the use of  historical records also adopted in this study.  The reslut of this research shows the chronology of the first fort built in 1629 as a trading post by VOC in the North Coast region of the island of Ambon. This fort then undergoes renovations both aimed to strengthen the defense function as well as trade and government functions in this fort. Amsterdam role both during and future VOC Dutch East Indies governement policies related to the clove monopoly on the Colonial period. Period of receding role of the fort was then happended along with the moment of the abolition of the clove monopoly by the Dutch in 1865.Benteng Amsterdam adalah salah satu benteng dalam sistem perbentengan yang dibangun oleh VOC sejak abad ke-17 di wilayah Kepulauan Maluku. Penelitian ini mengkaji aspek mikro dalam sistem perbentengan tersebut yaitu aspek kronologi serta aspek fungsi dan peran Benteng Amsterdam. Melalui kajian kepustakaan yang bersumber dari catatan-catatan historis, serta hasil penelitian terdahulu. Penelitian ini berhasil mengungkap kronologi benteng yang pertamakali dibangun pada tahun 1629 sebagai pos perdagangan VOC di wilayah Pesisir Utara Pulau Ambon. Benteng ini kemudian mengalami beberapakali renovasi yang bertujuan untuk memperkuat fungsi pertahanan serta fungsi perdagangan dan pemerintahan pada benteng ini. Peran Benteng Amsterdam pada masa VOC dan masa Pemerintah Hindia Belanda berhubungan dengan kebijakan monopoli cengkih pada masa Kolonial. Periode surut peran benteng ini kemudian mulai terjadi pada periode penghapusan monopoli cengkih oleh Belanda pada tahun 1865.
Peneliti Arkeologi di Indonesia: Antara Idealisme dan Kenyataan Marlon NR Ririmasse
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.281

Abstract

The archaeological research in Indonesia is in positive progress in the last years. This situation is reflected by the increasing of public and media interest  in the archaeological and cultural historical research activity. A main factor which is determine the quality of research result and the performance of the archaeological institution is the human capital. The quality and competence of researcher serve as the main factors in  developing archaeological research institution in Indonesia. This paper will discuss the performance of archaeology researchers in Indonesia with the main focus on the researcher in Balai Arkeologi Ambon. Analysis on the perfomance was conducted based on the synopsis of National Research Result Evaluation 2013. We hope that this paper might serves as the discussion medium to evaluate the performance of archaeological research and develop solution for the better perfomance in the future.Penelitian arkeologi di Indonesia semakin berkembang selama tahun-tahun belakangan. Hal mana tercermin dari meluasnya perhatian masyarakat dan media atas aktifitas riset arkeologi dan sejarah budaya. Hal mana juga berimplikasi pada meningkatnya ekspektasi publik atas hasil penelitian. Salah satu faktor kunci yang menentukan kualitas hasil penelitian dan kinerja lembaga riset termasuk bidang arkeologi adalah sumber daya manusia. Kualitas kemampuan dan kompetensi peneliti merupakan penentu kinerja dan capaian institusi penelitian arkeologi di Indonesia. Makalah ini membahas mengenai tinjauan atas kinerja peneliti arkeologi di Indonesia dengan fokus pada kinerja peneliti di Balai Arkeologi Ambon. Telaah atas kinerja dilakukan dengan mengacu pada tujuh parameter kinerja yang disampaikan dalam sinopsis kegiatan Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi Nasional 2013. Diharapkan makalah sederhana ini bisa menjadi ruang diskusi untuk melakukan evaluasi kinerja peneliti arkeologi dan membangun solusi bagi kinerja yang lebih baik ke depan.
Wisata Kampung Adat Huaulu di Pulau Seram, Maluku Lucas Wattimena
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.282

Abstract

Traditional tourist village research of Huaulu on the Seram Island Central Mollucas, Mollucas Province. Is an early overview of their potential cultural resources and their supporters can be developed as a tourist destination. The purpose of this research is to know and understand the aspects of what can be developed from the cultural resources and support as a tourism destination.A qualitative approach as a method of research using data collection techniques; interviews, surveys or observation, and literature study. The results showed that the traditional tourist village of Huaulu is potential as a tourism village with emphasis on material cultural resources as a major capital management, conservation and development. Cultural resource material in question is among other things: 1) The potential for tourism and residential architecture; People of Huaulu building houses about the shape and type technique. Settlement pattern based on the rule monodualisme (good and bad, up and down, and taboos or no taboos). Aspects of technology and knowledge; is a key element in the understanding and knowledge of architecture and settlements and life cycle People of Huaulu on the environment and natural surroundings as well as human society outside their own group. 2) Potential tourism traditional arts and crafts; variety of decorative patterns and motifs People of Huaulu, and gender in the management and execution of traditional crafts.Penelitian wisata kampung adat Orang Huaulu di Pulau Seram, Kabupaten Maluku Tengah Propinsi Maluku adalah merupakan pandangan awal tentang potensi-potensi sumberdaya budaya yang ada beserta pendukungnya dapat dikembangkan sebagai tujuan pariwisata. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan memahami aspek-aspek apa saja yang dapat dikembangkan dari sumberdaya budaya dan pendukung tersebut sebagai destinasi pariwisata. Pendekatan kualitatif sebagai metode penelitian dengan menggunakan teknik pengumpulan data; wawancara, survei atau observasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kampung adat Orang Huaulu berpotensi sebagai Desa Wisata dengan mengutamakan sumberdaya budaya bendawi sebagai modal utama pengelolaan, pelesatrian dan pengembangan. Sumberdaya budaya bendawi yang dimaksud adalah antara lain :1) Potensi pariwisata arsitektur dan permukiman; bangunan rumah Orang Huaulu bentuk dan jenis peruntukannya. Pola permukiman berdasarkan kaidah monodualisme (baik buruk, atas bawah, pamali dan tidak pamali). Aspek teknologi dan pengetahuan; adalah unsur utama dalam pemahaman dan pengetahuan tentang arsitektur dan permukiman dan siklus hidup Orang Huaulu terhadap lingkungan dan alam sekitar serta manusia masyarakat diluar kelompok mereka sendiri. 2) Potensi pariwisata Seni dan kerajinan tradisional; ragam pola hias dan motif Orang Huaulu, serta gender dalam pengelolaan dan pengerjaan kerajinan tradisional.
Appendix Vol. 11 No. 1 (2015) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.283

Abstract

Cover Vol. 11 No. 1 (2015) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.284

Abstract

Back Cover Vol. 11 No. 1 (2015) Kapata Arkeologi
Kapata Arkeologi Vol. 11 No. 1, Juli 2015
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v11i1.285

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 10