cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik
ISSN : 26202964     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Ilmiah Mahasiswa program studi pendidikan Sendratasik FKIP Unsyiah terbit 4 kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan Novembe.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER" : 10 Documents clear
KEGIATAN EKSTRAKURIKULER VOKAL GROUP DI SMP NEGERI 6 BANDA ACEH Ninda Fazlina; Taat Kurnita; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.064 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul “Kegiatan Ekstrakurikuler Vokal Group di SMP Negeri 6 Banda Aceh, ini mengangkat masalah tentang proses kegiatan latihan vokal group pada kegiatan ekstrakulikuler di SMP Negeri 6 Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses latihan vokal group di SMP Negeri 6 Banda Aceh. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian ini terdiri dari lima siswa dari seluruh kelas satu dan dua, sedangkan objek penelitiannya adalah proses latihan vokal group pada kegiatan ekstrakulikuler. Hasil penelitiannya adalah proses latihan yang dilaksanakan selama delapan kali memiliki tahapan yakni seperti tahap menentukan penyanyi, tahap merancang dan latihan. Untuk tahap menentukan penyanyi, pelatih meminta kepada kepada guru seni budaya untuk mencari empat orang penyanyi satu pemain gitar. Tahap merancang dan latihan dilakukan pada latihan satu sampai dengan delapan. Untuk latihan pertama pelatih merancang aransemen vokal untuk lagu Apanya Dong secara spontanitas dengan latihan pengulangan terus menerus sampai mereka bisa mencapai teknik yang baik, diantaranya artikulasi, pernafasan, dan dapat mempertahankan suaranya masing-masing atau suara satu, dua, dan tiga. Selanjutnya, latihan kedua sampai dengan kedelapan proses latihannya masih sama ketercapaiannya latihan kesatu. Namun, untuk pertemuan tersebut sudah tidak merancang lagi. Hanya tinggal melanjutkan bagian yang belum dipelajari.Kata kunci: ekstrakulikuler, vokal group.
PERAN KASAB DALAM UPACARA ADAT MASYARAKAT SUKU ANEUK JAMEE KECAMATAN TAPAKTUAN Widyana Wulandari; Ismawan Ismawan; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.937 KB)

Abstract

Penelitian yang berjudul “Peran Kasab dalam Upacara Adat Masyarakat Suku Aneuk Jamee Kecamatan Tapaktuan” meneliti masalah peran Kasab dan makna simbol Kasab dalam upacara adat masyarakat suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan serta alasan masyarakat menggunakan benang emas dalam pembuatan komponen-komponen upacara adat suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan peran dan makna simbol Kasabdalam upacara adat masyarakat suku Aneuk Jamee serta mendeskripsikan alasan masyarakat menggunakan benang emas dalam pembuatan komponen-komponen upacara adat suku Aneuk Jamee di Kecamatan Tapaktuan. Pendekatan penelitian adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian adalah di Kecamatan Tapaktuan. Sumber data penelitian adalah T. Laksamana Fitahruddin sebagai pakar adat suku Aneuk Jamee Kecamatan Tapaktuan, Tasrim Reza sebagai Geucik Gampong Lhok Bengkuang suku Aneuk Jamee Kecamatan Tapaktuan dan Drs. Moenawir sebagai tokoh Agama suku Aneuk Jamee Kecamatan Tapaktuan. Subjek penelitian ini adalah masyarakat suku Aneuk Jamee Kecamatan Tapaktuan dan objek penelitian adalah peran Kasab dalam upacara adat masyarakat. Teknik pengumpulan data yaitu teknik observasi partisipan, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu reduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran Kasab adalah sebagai media komunikasi dan dekorasi ruangan saat pelaksanaan upacara adat (Upacara Adat Pernikahan, Upacara Adat Sunat Rasul, Upacara Adat Kematian dan Upacara Adat Peusijuk). Kasab memiliki makna khusus yang disampaikan melalui bentuk-bentuk tertentu yaitu Meuracu, Tapak, Kipeh, Banta Gadang, Dalansi, Banta Basusun, Tabia, Lidah-lidah dan Tilam Pandak. Adapun alasan menggunakan benang emas sebagai pembuatan Kasab yaitu dilihat dari segi keindahan, segi status sosial dan segi kebudayaan.Kata kunci: peran Kasab, makna, upacara adat, suku Aneuk Jamee
EKSISTENSI TARI LIKOK PULO DI PULAU ACEH KABUPATEN ACEH BESAR (TAHUN 2005-2015) Panji Gunawan; Ahmad Syai; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.239 KB)

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini berjudul Eksistensi Tari Likok Pulo di Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar (Tahun 2005-2015) rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana eksitensi tari Likok Pulo di Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar Tahun (2005-2015) Tujuan  penelitian ini adalah mendeskripsikan Eksistensi Tari Likok Pulo di Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar (Tahun 2005-2015). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif. Sumber data yang diperoleh dari Syeh tari tradisional Likok Pulo, masyarakat di Pulau Aceh, dan para penari Likok Pulo. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari tradisional Likok Pulo merupakan salah satu kesenian tradisional Aceh yang berasal dari Pulau Aceh. Tarian tradisional Likok Pulo ini sudah tidak eksis lagi di kalangan masyarakat luas tapi masih tetap digemari oleh masyarakat pulau aceh tersebut Seniman yang ada di pulau aceh ini sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi di masyarakat,bahwa pemerintah masih kurang peduli terhadap keberadaan tarian ini, hasilnya banyak masyarakat yang kurang berminat dan mulai meninggalkan tarian tradisional tersebut. Di kalangan pemuda dan pemudi daerah itu sendiri juga tidak banyak yang melestarikan adat dan istiadat tersebut, dikarenakan oleh alasan tertentu seperti, harus pergi ke sekolah, bekerja, dan malu untuk menarikan tarian tradisional, dikarenakan yang menari itu mayoritasnya adalah wanita.Kata kunci: eksistensi, tari Likok Pulo, masyarakat, kesenian.
PROSES PEMBELAJARAN PADA MATERI TARI TRADISIONAL LAWEUT BERDASARKAN POLA LANTAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMODELAN DI KELAS VIII-2 SMP NEGERI 14 BANDA ACEH Yuwaffy Safitry; Taat Kurnita; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.995 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Proses Pembelajaran pada Materi Tari Tradisional Laweut Berdasarkan Pola Lantai dengan Menggunakan Metode Pemodelan di Kelas VIII-2 SMP Negeri 14 Banda Aceh”. Penelitian ini mengangkat masalah bagaimanakah proses pembelajaran pada materi tari tradisional Laweut berdasarkan pola lantai dengan menggunakan Metode Pemodelan di kelas VIII-2 dengan yang menggunakan Metode Ceramah di kelas VIII-1 SMP Negeri 14 Banda Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran pada materi tari tradisional Laweut berdasarkan pola lantai dengan menggunakan Metode Pemodelan di kelas VIII-2 dan yang menggunakan Metode Ceramah di kelas VIII-1 SMP Negeri 14 Banda Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mencoba menerapkan sebuah metode yang baru dalam pembelajaran tari tradisional daerah setempat secara sistematis, faktual dan akurat. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 14 Banda Aceh, sedangkan sampelnya adalah siswa kelas VIII-2 sebagai kelas eksperimen dan siswa kelas VIII-1 sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa dari tiap kelas tersebut yaitu 22 orang. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran tari tradisional Laweut berdasarkan pola lantai dengan menggunakan metode pemodelan membuat siswa lebih aktif dibandingkan dengan menggunakan metode ceramah siswa kelihatan lebih pasif dan hasil belajar siswa mengenai seni tari tradisional “Laweut” berdasarkan pola lantai di kelas eksperimen rata-rata memperoleh nilai di atas 80 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang memperoleh nilai rata-rata dibawah 75. Dengan demikian maka penerapan metode pemodelan dalam pembelajaran eni tari tradisional Laweut berdasarkan pola lantai lebih baik dibandingkan dengan penerapan metode pembelajaran ceramah dalam meningkatkan pemahaman untuk mengapresiasikan tari tradisional Laweut.Kata kunci: pembelajaran, tari tradisional Laweut, metode permodelan
BENTUK PENYAJIAN TARI RAMPHAK DI SANGGAR RAMPOE BANDA ACEH Ferdi Junanda; Ahmad Syai; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.322 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Bentuk Penyajian Tari Ramphak di sanggar Rampoe Banda Aceh” mengangkat masalah tentang bagaimana bentuk penyajian tari Ramphak dalam acara pertunjukan atau hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Ramphak di sanggar Rampoe Banda Aceh. Sumber data dalam penelitian ini adalah koordinator sanggar Rampoe (Zulkifli), penari sanggar Rampoe Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan teknik analisis data dengan mereduksi, display, serta verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Ramphak dikembangkan oleh Yusri Sulaiman pada tahun 2006 yang ditarikan oleh 8 orang penari wanita dan empat orang penari pria. Tarian ini memiliki 31 gerakan yaitu 15 gerak wanita,15 gerak pria dan 1 gerak bersama. Gerak yang terdapat pada tari ini adalah gerak-gerak cuplikan dari beberapa tari tradisional di Aceh, seperti tari saman, ratoeh duek, laweut dan seudati.Tari Ramphak diiringi dengan syair Aceh yang dilantunkan oleh syeh. Tari Ramphak termasuk ke dalam tari pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan semata. Kata Kunci: bentuk, penyajian, tari Ramphak
BENTUK PENYAJIAN DAN MAKNA GERAK TARI TORTOR PADA UPACARA KEMATIAN ADAT BATAK TOBA DI DESA PENANGGALAN KECAMATAN PENANGGALAN KOTA SUBULUSSALAM PROVINSI ACEH Rayhanul Safra; Taat Kurnita; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.944 KB)

Abstract

ABSTRAK            Penelitian ini tentang “bentuk penyajian dan makna gerak tari tortor pada upacara kematian adat Batak Toba di desa Penanggalan kota Subulussalam”. Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyajian dan makna gerak pada upacara kematian adat Batak Toba di desa Penanggalan Kota Subulussalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian dan makna gerak tari tortor pada upacara kematian adat Batak Toba di desa Penanggalan Kota Subulussalam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitin ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi (pengamatan), interview (wawancara), dan dokumentasi. Agar hasil penelitian dapat dipercaya, peneliti menggunakan alat bantu buku catatan, kamera foto dan kamera video. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Berdasarkan hasil penelitian tari tortor ini ditarikan pada saat sebelum jenazah dikebumikan dan tari tortor melambangkan penghormaatan terakhir kepada jenazah sebelum dikebumikan serta tari ini dilakukan agar yang ditinggalkan tidak berlarut-larut dalam kesedihan serta mengiklaskan dengan lapang dada. Tarian ini ditarikan secara gembira dalam arti tidak menangis. Tari tortor kematian memiliki 4 ragam gerakan, 4 jenis pola lantai dan menggunakan sebuah ulos kain khas suku Batak yang diulosi dibahu penari yang mengulosi hula-hula dan unsur kerabat Dalihan Natolu  lainnya.Kata kunci: bentuk penyajian, makna gerak, Tari tortor kematian, Batak Toba   
PROSES PEMBUATAN ALAT MUSIK TRADISIONAL GEGEDEM DI DESA PAYA JEGET KECAMATAN PEGASING KABUPATEN ACEH TENGAH Hulwan Hulwan; Ismawan Ismawan; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.559 KB)

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini berjudul “Proses Pembuatan Alat Musik Tradisional Gegedem di Desa Paya Jeget Kabupaten Aceh Tengah”. Penelitian ini mengangkat masalah tentang proses pembuatan alat musik tradisional Gegedem di Kabupaten Aceh Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembuatan alat musik Gegedem. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Desa Paya Jeget Kabupaten Aceh Tengah. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan mereduksi, menyajikan data dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bagian dan tahapan proses pembuatan alat musik tradisional Gegedem diantaranya: memotong badan Gegedem (batang kayu nangka), mengolah kulit kambing (membran), membersihkan rotan (we), baji, radang (rotan besar), sidak, serta cara memproduksi bunyi, sistem pelarasan pada alat musik tradisional Gegedem. Alat yang digunakan pada proses pembuatan alat musik tradisional Gegedem diantaranya: mesin singso (pemotong kayu), Bor Mesin, Pahat kayu, Palu kayu, amplas mesin, dan mesin Grinda. Bahannya berupa; pohon kayu nangka, kulit kambing jantan, dan rotan. Proses pembuatan alat musik Gegedem meliputi beberapa tahap, yaitu: 1) Proses pembuatan Baloh, meliputi penebangan, pengukuran, pengeboran, pemahatan dan finishing pengamplasan halus dan kasar, 2) Proses pengolahan kulit, meliputi perendaman kulit menggunakan kapur, penjemuran, pengambilan lendir dan bulu dan pengukuran lebar diameter, 3) Proses pemasangan, meliputi mujermet, mujalin dan pemasangan sidak dan baji.Kata Kunci: alat musik, Gegedem, proses, tradisional
PENYAJIAN MUSIK IRINGAN TARI LIKOK PULO DI PULAU ACEH KABUPATEN ACEH BESAR Ridha Faluthia Fahlafi; Taat Kurnita; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.31 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Penyajian Musik iringan tari Likok Pulo di pulau Aceh kabupaten Aceh Besar” mengangkat masalah bagaimanakah penyajian  musik iringan tari Likok Pulo di pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar. Tujuan penelitian ini yaitu, untuk mendeskripsikan penyajian  musik iringan tari Likok Pulo di pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar. Pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini yaitu terdiri dari syah dan pemain rapai dan objeknya yaitu musik iringan tari Likok Pulo. Teknik pegumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian terkait dengan penyajian musik iringan tari Likok Pulo memiliki unsur-unsur yaitu:.pemusik terdiri dari tiga orang yaitu syeh dan dua orang pemukul rapa’i.  Busana yang dikenakan oleh pemusik iringan tari Likok Pulo yaitu baju tradisional Aceh, celana hitam dan songket merah. Syair pada musik iringan tari Likok Pulo memiliki 13 syair yang pada hakikatnya menceritakan tentang kisah dan nasihat. Alat musik yang musik iringan tari Likok Pulo yaitu mengunakan Rapai. Pola ritme pada musik iringan tari Likok Pulo memiliki variasi pada setiap bagian. Tempo pada musik iringan tari Likok Pulo pada setiap bagian dimulai dengan tempo sedang dan berakhir dengan tempo cepat. Panggung pada penyajian musik iringan tari Likok Pulo mengikuti tata penyajian tari jika pada tata penyajian biasa mengunakan pangung arena dan pada tatat penyajian tunang biasanya ditampilkan di lapangan terbuka.Kata Kunci: penyajian musik iringan, tari Likok Pulo.i
TEKNIK PERMAINAN ALAT MUSIK TIUP TRADISIONAL ACEH SEURUNE KALEE PADA TARI PIASAN RAYA DI SANGGAR SEURAYENG NANGGROE BIREUEN Izet Aganovic; Ahmad Syai; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.743 KB)

Abstract

ABSTRAK            Judul penelitian ini adalah Teknik Permainan Alat Musik Tiup Tradisional Aceh Seurune Kalee pada Tari Piasan Raya di Sanggar Seurayeng Nanggroe Bireuen. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah teknik permainan alat musik tiup tradisional Aceh Seurune Kalee pada Tari Piasan Raya di Sanggar Seurayeng Nanggroe Bireuen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan teknik permainan alat musik tiup tradisional Aceh Seurune Kalee pada Tari Piasan Raya di Sanggar Seurayeng Nanggroe Bireuen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah pimpinan sanggar seurayeung nanggroe dan anggota sanggar seurayeung nangroe. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat musik tiup tradisional Aceh Seurune Kalee merupakan salah satu alat musik tiup Aceh. Alat musik tiup seurune kalee terbagi atas 4 bagian, yaitu bambu (lipai), piring tembaga, lubang nada, lidah seurune. Teknik permainan Seurune Kalee dapat dilakukan dengan dua posisi, yaitu dalam posisi duduk dan berdiri. Teknik permainan alat musik tiup tradisioanl seurune kalee ada beberapa tahap: 1. Menghimpit lili (lidah seurune) dengan kedua bibir. 2. Menyimpan udara/ nafas di bagian rongga mulut, kemudian di tiup/ dihembuskan di bagian lili (lidah seurune) hingga seurune kalee mengeluarkan bunyi. 3. Posisi mulut kembang-kempis dipengaruhi oleh pertukaran udara yg dihirup melalui hidung 4. Posisi mulut tersebut menghasil bunyi seurune kalee yg tidak terputus-putus.” Ukuran dan bentuk Seurune Kalee sangat berparuh bagi suara yang dikeluarkan, karena diameter lubang seurune sangat menentukan bunyi yang dikeluarkan.Kata Kunci: teknik, permainan, Seurune Kalee   
BENTUK PENYAJIAN TARI TOR-TOR NAPOSO NAULI BULUNG PADA ADAT PERKAWINAN MANDAILING DI KELURAHAN PIDOLI DOLOK Siti Pratiwi; Taat Kurnita; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.635 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Bentuk Penyajian tari Tor-Tor Naposo Nauli Bulung pada Adat perkawinan Mandailing di Kelurahan Pidoli Dolok” mengangkat masalah bagaimana bentuk penyajian dan makna gerak tari Tor-tor Naposo Nauli Bulung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah seniman dan budayawan, mantan penari tor-tor Naposo Nauli Bulung dan penari-penari tarian Naposo Nauli Bulung. Lokasi penelitian ini adalah di Kelurahan Pidoli Dolok, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi Teknik analisis data dengan mereduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian mengungkapkan tari Tor-tor Naposo Nauli Bulung sangat jarang diguanakan pada adat perkawinan, tari Tor-tor Naposo Nauli Bulung ditarikan oleh 6 penari yang terdiri dari 3 penari wanita dan 3 penari laki-laki. Tari ini memiliki 6 ragam gerakan, diiringi alat musik tradisional seperti Gordang Sambilan, Gong, Suling dan Talempong. Bentuk penyajian tari ini sangat sederhana. Setiap gerak tari tor-tor Naposo Nauli Bulung memiliki makna tertentu. Tari tor-tor Naposo Nauli Bulung berarti muda-mudi yang sopan dan santun kepada yang lebih tua.Kata Kunci: bentuk penyajian, makna, tari Tor-tor Naposo Nauli Bulung

Page 1 of 1 | Total Record : 10