cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis
ISSN : 23030453     EISSN : 24429872     DOI : -
Core Subject : Education,
Diya al-Afkar adalah jurnal ilmiah yang memfokuskan studi al-Quran dan al-Hadis. Jurnal ini menyajikan karangan ilmiah berupa kajian ilmu-ilmu al-Quran dan al-Hadis, penafsiran/pemahaman al-Quran dan al-Hadis, hasil penelitian baik penelitian pustaka maupun penelitian lapangan yang terkait tentang al-Quran atau al-Hadis, dan/atau tinjauan buku. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2025): Desember" : 6 Documents clear
NILAI-NILAI EKOLOGIS DALAM AL-QUR´AN: Suatu Kajian Tafsir Tematik Rahim, Wahida; Abubakar, Achmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22356

Abstract

This research aims to identify the Qur´anic verses related to the environment and to analyze the ecological values contained in the Qur´an along with their relevance to contemporary issues. It is a library research employing the thematic exegesis (tafsīr mauḍū´ī) method. The data were analyzed using content analysis by identifying Qur´anic verses concerning the environment and interpreting the opinions of classical and modern exegetes (mufassirīn). The research concludes that the Qur´an views the environment as an integral part of God´s creation that possesses spiritual, moral, and social values, and positions humans as khalīfah (stewards) responsible for maintaining the balance and sustainability of nature. These ecological values are highly relevant in addressing contemporary environmental crises such as climate change, deforestation, and pollution, by serving as ethical, policy, and educational foundations rooted in religious principles. Further research is encouraged to develop an Islamic environmental jurisprudence (fiqh al-bī´ah) that regulates the relationship between humans and nature based on the principle of public benefit (maṣlaḥah mursalah). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ayat-ayat al-Qur´an tentang lingkungan hidup. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis nilai-nilai ekologis yang terdapat dalam al-Qur´an serta relevansinya terhadap permasalahan kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode tafsir mauḍū´i. Pendekatan yang digunakan yaitu tafsir tematik, ekologi dan studi kritis. Teknik analisis data menggunakan content analysis yaitu mengidentifikasi ayat-ayat al-Qur´an tentang lingkungan hidup dan menginterpretasikan pendapat mufassirin. Langkah-langkah identifikasi ayat-ayat tentang lingkungan hidup, seperti: amanah, khalifah dan fasad. Kemudian menyortir dan menyajikan ayat-ayat sesuai tema. Penelitian ini menyimpulkan bahwa al-Qur´an memandang lingkungan hidup sebagai bagian dari ciptaan Allah swt yang memiliki nilai spiritual, moral dan sosial, serta menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Hasil dari nilai-nilai ekologis ini relevan terhadap krisis lingkungan kontemporer seperti perubahan iklim, deforestasi dan pencemaran, dengan menjadikannya landasan etika, kebijakan dan pendidikan lingkungan berbasis keagamaan. Penelitian lanjutan dapat menginspirasi pembentukan fikih lingkungan (fiqh al-bī´ah) yang mengatur hubungan manusia dengan alam berdasarkan prinsip kemaslahatan (maṣlaḥah mursalah).
MENAKAR SYARAT MUFASIR AL-QUR'AN: Menolak Otoritarianisme Perspektif Khaled Abou El-Faḍl Lutfi, Achmad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22523

Abstract

This article examines Khaled Abou El Faḍl’s thought regarding the qualifications of a Qur’anic interpreter (mufassir). The study aims to understand Abou El Faḍl’s perspective that rejects authoritarian attitudes in interpreting the Qur’an. Using a qualitative method and descriptive-critical analysis through a literature review of his ideas presented in Speaking in God’s Name, the study shows that Abou El-Faḍl opposes all forms of authoritarianism in Qur’anic interpretation. However, he also does not accept completely free or unrestricted interpretations. According to him, certain requirements must be fulfilled by anyone who wants to interpret and understand the meaning of the Qur’an responsibly. This research contributes to the development of Qur’anic and tafsir studies, especially in discussions about interpretive authority and the ethics of the mufassir. Artikel ini mengkaji pemikiran Khaled Abou El-Faḍl terkait syarat-syarat bagi seorang mufasir al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk memahami cara pandang Khaled Abou El-Faḍl yang menolak praktik otoritarianisme dalam penafsiran al-Qur’an. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis deskriptif-kritis melalui kajian literatur (literature review) terhadap pemikirannya yang tertuang dalam karya Speaking in God’s Name, penelitian ini menunjukkan bahwa Khaled Abou El-Faḍl menolak segala bentuk otoritarianisme dalam proses penafsiran al-Qur’an. Meskipun demikian, ia juga tidak menerima penafsiran yang bersifat bebas tanpa batas. Menurutnya, diperlukan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang agar dapat menafsirkan dan memahami kandungan al-Qur’an secara bertanggung jawab. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan studi al-Qur’an dan tafsir, khususnya dalam kajian tentang otoritas penafsiran dan etika mufasir. 
KONSEP SABAR DALAM TAFSIR ḤAQĀ’IQ AL-TAFSĪR KARYA AL-SULAMĪ: ANALISIS TAFSIR SUFISTIK ATAS KISAH NABI AYYŪB A.S. Aziz, Syu'ban; Siti Rusydati Khaerani, Izzah Faizah; Faturahman, Asep
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22516

Abstract

This study analyzes the meaning and dimensions of patience in the story of the Prophet Ayyūb a.s. as interpreted in Ḥaqā’iq al-Tafsīr by Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī. It seeks to reveal the meaning of patience from a Sufi perspective and analyze it through the framework of self-control theory proposed by James Averill (1973). This study employs a qualitative, library-based research approach. Content analysis is the primary analytical method used to examine Al-Sulamī's interpretation of Prophet Ayyūb a.s. The data are analyzed using Averill's three-part theory of self-control (behavioral, cognitive, and decisional). According to this study, Al-Sulamī viewed Ayyūb a.s's patience as an active spiritual practice, not just passive endurance. Its key dimensions include steadfast dhikr (remembrance of God) to manage suffering, merging the self (fanā) with the divine will and grace, and a pinnacle of patience manifested as tawakkal (complete surrender). According to Averill's psychological framework, these dimensions demonstrate behavioral control (restraining the body from complaining), cognitive control (reinterpreting hardship as divine will), and decisional control (a conscious choice to surrender to God). This analysis reveals the implicit psychological messages in the story. This study found that the story contains a sophisticated psychological model for resilience. It refutes the notion of patience as passive behavior, demonstrating that it is an active spiritual and psychological process. This study's novelty stems from its interdisciplinary approach, which bridges 10th-century classical interpretation with 20th-century psychological theory while also providing new insights into the psychological depth of Islamic spiritual concepts. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dan dimensi kesabaran Nabi Ayyūb a.s. dalam Ḥaqā’iq al-Tafsīr  karya Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī. Kesabaran tersebut dianalisis dengan teori self-control James Averill (1973). Penelitian ini berjenis kualitatif, menggunakan metode analisis isi dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data tersebut diinterpretasi oleh teori tripartit self-control (perilaku, kognitif, dan keputusan) Averill. Studi ini menemukan bahwa Al-Sulamī menafsirkan kesabaran Ayyūb a.s. bukan sebagai ketahanan pasif, melainkan sebagai praktik spiritual yang aktif dan kompleks. Dimensi-dimensi kuncinya meliputi: keteguhan hati, menjadikan zikir (mengingat Allah) untuk mengendalikan penderitaan, meleburkan diri (fanā) dengan kehendak—anugerah-- Allah, dan puncak kesabarannya diwujudkan dengan tawakal (kepasrahan mutlak). Dimensi-dimensi dalam kerangka psikologi Averill menunjukan kontrol perilaku (menahan tubuh dari keluhan), kontrol kognitif (menafsirkan ulang kesulitan sebagai kehendak Ilahi), dan kontrol keputusan (pilihan sadar untuk berserah diri kepada Tuhan), Tiga aspek ini merupakan pesan utama dari kisah Nabi Ayyūb a.s. Penelitian berhasil bentuk psikologis yang canggih untuk resiliensi. Sekaligus menentang bahwa kesabaran sebagai perilaku pasif, namun proses psikologis yang aktif. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan interdisipliner yang menghubungkan tafsir sufistik klasik abad ke-10 dengan teori psikologi modern, sehingga memperkaya pemahaman terhadap dimensi psikologis dalam konsep spiritual Islam.  
MODEST FASHION SEBAGAI FENOMENA SOSIAL-RELIGIUS: Respons Tafsir al-Munīr dan al-Misbah terhadap Tren Busana Muslimah Mujiburohman, Mujiburohman; Farah Nurfadhilah, Farah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22713

Abstract

Modest fashion, as a modern trend in Muslim women’s clothing, raises new questions about how Qur’anic values are interpreted and expressed within contemporary dressing practices. This study addresses a research gap in examining the relationship between classical–contemporary Qur’anic exegesis and the phenomenon of modest fashion as both a religious and cultural expression. The research aims to analyze the interpretations of Wahbah al-Zuḥaylī in Tafsīr al-Munīr and M. Quraish Shihab in Tafsir al-Misbah on Qur’anic verses QS al-A‘rāf [7]:26 and QS al-Aḥzāb [33]:59, as well as to compare their hermeneutical implications for the development of modest fashion. This study employs a qualitative library research method using Wilhelm Dilthey’s hermeneutical approach. The analysis is conducted through reconstructing the historical context of the verses and mapping the interpretive arguments developed by each exegete. The findings show that al-Zuḥailī interprets the verses textually, emphasizing the function of clothing as a cover for the body and a marker of piety, whereas Quraish Shihab offers a contextual reading that links the meaning of clothing to social identity, public ethics, and modern cultural dynamics. This study contributes to contemporary Qur’anic exegesis by demonstrating that the hermeneutical frameworks of both exegetes provide distinct conceptual bases for understanding modest fashion—either as a continuation of Islamic norms of dress or as a cultural mode of expression within modern Muslim society.Modest fashion sebagai tren busana muslimah modern memunculkan pertanyaan baru mengenai bagaimana nilai-nilai al-Qur’an dipahami dan diartikulasikan dalam praktik berpakaian kontemporer. Studi ini mengisi kekosongan riset yang belum banyak mengkaji hubungan antara konstruksi tafsir klasik–kontemporer dengan fenomena modest fashion sebagai ekspresi keagamaan dan kultural. Penelitian ini bertujuan menganalisis penafsiran Wahbah al-Zuḥaylī dalam Tafsīr al-Munīr dan M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah atas Q.S. al-A‘rāf [7]:26 dan Q.S. al-Aḥzāb [33]:59, sekaligus membandingkan implikasi hermeneutisnya terhadap perkembangan modest fashion. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berbentuk library research dengan pendekatan hermeneutika Wilhelm Dilthey. Analisis dilakukan melalui rekonstruksi konteks historis ayat serta pemetaan argumen penafsiran yang dikembangkan masing-masing mufasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Zuḥaylī menafsirkan kedua ayat tersebut secara tekstual dengan menekankan fungsi pakaian sebagai penutup aurat dan penanda kesalehan. Sedangkan Quraish Shihab menawarkan pembacaan kontekstual yang mengaitkan makna pakaian dengan identitas sosial, etika publik, dan dinamika budaya modern. Studi ini berkontribusi pada kajian tafsir kontemporer dengan menunjukkan bahwa kerangka hermeneutik kedua mufasir menyediakan basis konseptual yang berbeda dalam memahami modest fashion—baik sebagai kelanjutan norma berpakaian Islam maupun sebagai ruang artikulasi budaya dalam masyarakat muslim modern.    
MAPPING THE PARADIGM OF CONTEMPORARY MAQĀṢIDĪ EXEGESIS: A Philosophical Inquiry Into The Works of Abū Zayd, Raḥmānī, and As’ad Maimun, Muhammad; Mubarok, Muhamad Sofi; Yahya, Mohamad
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.23816

Abstract

Contemporary tafsir studies are experiencing a paradigm shift from textuality toward maqāṣid-based contextuality. However, the methodological diversity among contemporary scholars remains philosophically unmapped. This research aims to analyze the paradigmatic construction of tafsir maqāṣidī (maqāṣid-based exegesis) through the thoughts of three key figures: Waṣfī ’Ashūr Abū Zayd, Ibrahim Raḥmānī, and ‘Alī Muḥammad As’ad. Employing a qualitative library research method with a philosophy of science approach, this study examines the ontological, epistemological, and axiological aspects of their works. The findings indicate that ontologically, the three scholars concur in positioning the Qur'an as a text embodying a dynamic intentio dei (Divine intent). Epistemologically, significant differences exist; Abū Zayd emphasizes linguistic aspects and thematic induction, whereas Raḥmānī focuses on strict legal rationale ('illat) verification. Axiologically, tafsir maqāṣidī is oriented toward grounding universal Qur'anic values that offer solutions to humanitarian problems. This study concludes that tafsir maqāṣidī offers an integrative methodology that bridges the gap between the text of revelation and contemporary reality. Studi tafsir kontemporer mengalami pergeseran paradigma dari tekstualitas menuju kontekstualitas berbasis tujuan (maqāṣid). Namun, keragaman metodologi di kalangan sarjana kontemporer seringkali belum terpetakan secara filosofis. Penelitian ini bertujuan membedah konstruksi paradigmatik tafsir maqāṣidī melalui pemikiran tiga tokoh kunci: Waṣfī ’Ashūr Abū Zayd, Ibrahim Raḥmānī, dan ‘Alī Muḥammad As’ad. Menggunakan metode kualitatif-pustaka dengan pendekatan filsafat ilmu, penelitian ini menganalisis aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari karya-karya tafsir mereka. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis, ketiga tokoh sepakat menempatkan Al-Qur'an sebagai teks yang memuat intentio dei (maksud Tuhan) yang dinamis. Secara epistemologis, terdapat perbedaan signifikan bahwa Abū Zayd lebih menekankan aspek linguistik, sementara Raḥmānī pada illat hukum]. Secara aksiologis, tafsir maqāṣidī berorientasi pada pembumian nilai universal Al-Qur'an yang solutif bagi problem kemanusiaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tafsir maqāṣidī menawarkan metodologi integratif yang menjembatani teks wahyu dan realitas kekinian.  
ORTODOKSI PESANTREN DALAM TAFSIR AL-BAYĀN KARYA KH. SHODIQ HAMZAH SEMARANG Nur Ngaisah, Zulaikhah Fitri
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 13, No 2 (2025): Desember
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/diyaafkar.v13i2.22719

Abstract

Tafsir al-Bayān is a Qur’anic exegesis that emerged and was written by a pesantren (Islamic boarding school) scholar, Shodiq Hamzah. It is acknowledged that this work extensively refers to Qur’anic commentaries authored by earlier scholars. At this point, it is possible that he integrates, to some extent, the teachings of classical scholars, which indirectly positions his work as a Qur’anic exegesis with an orthodox paradigm. Orthodoxy itself refers to the preservation of religious understanding inherited from previous generations through interconnected scholarly transmission. This research aims to uncover the pesantren orthodoxy paradigm in Tafsir al-Bayān, as it was written by a productive pesantren figure and has been followed by the local community. The method employed is descriptive-analytical, using a content analysis approach directed at Tafsir al-Bayān, particularly focusing on its sources of reference and theological thought. To identify orthodoxy, this study applies five concepts of doctrinal orthodoxy proposed by John B. Henderson. The findings of this research affirm that Shodiq Hamzah’s Tafsir al-Bayān demonstrates an orthodox tendency due to its commitment to the works of earlier scholars (al-kutub al-muʿtabarah) and the opinions of the salaf as primary sources of reference. His scholarly background and Sunni scholarly networks also contribute to constructing this orthodox framework of thought. Furthermore, the orthodoxy of Shodiq Hamzah’s interpretation reinforces pesantren traditions, particularly in matters of theology (kalām) affiliated with Ahl al-Sunnah wa al-Jamāʿah. Nevertheless, his interpretation has not yet elaborated on contemporary discourses, resulting in an impression of conservatism and indicating the need for a more comprehensive interpretation to address contemporary problems. Tafsir al-Bayān adalah sebuah tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh tokoh pesantren, Shodiq Hamzah. Karya ini diketahui banyak merujuk pada tafsir al-Qur’an karya ulama terdahulu, sehingga memungkinkan adanya integrasi ajaran dari generasi sebelumnya yang menjadikannya sebagai tafsir yang berparadigma ortodoks. Ortodoksi di sini merujuk pada upaya mempertahankan pemahaman agama yang diturunkan secara berkesinambungan melalui tradisi keilmuan yang saling terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri paradigma ortodoksi pesantren dalam Tafsir al-Bayān, mengingat penulisnya adalah tokoh pesantren yang produktif dan karyanya banyak diikuti masyarakat setempat. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan pendekatan content analysis, berfokus pada sumber rujukan dan pemikiran teologis dalam tafsir tersebut. Untuk mengidentifikasi ortodoksi, penelitian ini menggunakan lima konsep ortodoksi menurut John B. Henderson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir al-Bayān memiliki kecenderungan ortodoks yang ditandai dengan komitmen penulisnya pada karya ulama terdahulu (al-kutub al-mu’tabarah) dan pendapat ulama salaf sebagai sumber utama. Latar belakang keilmuan dan jaringan keulamaan Sunni turut membentuk kerangka pemikiran ortodoks tersebut. Selain itu, ortodoksi tafsir Shodiq Hamzah memperkuat tradisi pesantren, khususnya dalam ranah teologi atau kalam yang berafiliasi dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah. Meski demikian, tafsir ini belum banyak menanggapi diskursus kontemporer, sehingga menimbulkan kesan konservatif dan memerlukan interpretasi lebih komprehensif untuk menjawab persoalan kekinian.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6