cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran
ISSN : 02164752     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah FK UKI bertujuan sebagai wadah publikasi hasil penelitian staff pengajar fakultas kedokteran internal dan eksternal UKI, sebagai sharing knowledge para dosen fakultas kedokteran serta menunjang pengembangan ilmu kedokteran/kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 28 No. 3 (2012): JULI-SEPTEMBER" : 6 Documents clear
Perception and Use of Herbal Medicine by Medical Doctors Mulyadi Djojosaputro; Abraham Simatupang; Agus W. Nugroho
Majalah Kedokteran UKI Vol. 28 No. 3 (2012): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstractSince 1995, the Government has encouraged people to establish Centre of Development and Implementation of Traditional Medicine or Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T) through the Ministry of Health’s decree No. 0584/Menkes/SK/VI/1995. At the moment several centers have been realized and provided herbal medicine (HM) in their service. The aim of the survey was to get the picture of the perception and the usage of HM by medical doctors. Questionnaires were distributed by online system to 267 doctors. The results showed that 53% respondents were 41-55 years old, whereas 47% were 40 or younger, more than half (59%) were female. With regards to their medical specializations 29% were GPs, 18%, internists, 6% neurologists and obstetricians, and 41% other specializations. Sixty five percent respondents did not prescribe HM but 35% prescribed occasionally. Those who are not practicing or prescribing HM to their patients stated that they never learnt it (41%), were doubtful to its efficacy (41%), knew nothing about HM (29%), and were concern about the quality (18%). Although HM is relatively cheaper than modern medicine (59%), but 82% respondents stated that information on HM is lacking. They proposed that awareness about HM should be increased through seminars (88%), courses/workshops (53%), journal publication (63%), brochures and leaflets (24%), and medical representative (18%). The use of HM by respondents is mainly for non-specific diarrhea (63%), hypertension and rheumatoid arthritis (38%), hypercholesterolemia (25%) and diabetes mellitus (13%). Respondents agreed that HM should be taught in medical schools (94%) for at least one semester (60%) or two semesters (40%).Keywords: phytopharmaca, medical education, perception, herbal medicine AbstrakSesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 0584/Menkes/SK/VI/1995, sejak 1995 Pemerintah telah menganjurkan masyarakat untuk membentuk Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T). Saat ini sudah ada beberapa pusat pelayanan pengobatan herba. Tujuan survei ini untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi dan penggunaan obat herba (OH) oleh para dokter. Kuesioner disebarkan secara daring kepada 267 alumni dan non-alumni Fakultas Kedokteran UKI. Hasilnya memperlihatkan 53% responden berusia 41-55 tahun, 47% berusia sampai 40 tahun, serta 59% terdiri atas perempuan. Dari segi spesialisasi didapatkan 29% dokter umum, 18% spesialis penyakit dalam, 6% spesialis penyakit syaraf dan ahli kandungan sedangkan 41% memiliki spesialisasi lain. Enam puluh lima persen responden tidak meresepkan OH dan hanya 35% responden yang meresepkan secara tidak rutin. Hal itu karena mereka tidak pernah belajar OH (41%), tidak yakin akan efikasinya (41%), tidak tahu sama sekali tentang OH (29%) dan tidak yakin akan mutunya (18%). Meskipun OH relatif lebih murah daripada obat konvensional (59%) tapi 82% responden menyatakan informasi tentang OH sangat kurang. Mereka mengusulkan agar informasi OH ditingkatkan melalui seminar (88%), kursus/lokakarya (53%), publikasi lewat jurnal (63%), brosur dan liflet (24%) dan medical representative (18%). Penggunaan OH oleh responden terutama untuk diare non-spesifik (63%), hipertensi dan artritis reumatoid (38%), hiperkolesterolemia (25%) dan diabetes mellitus (13%). Responden setuju agar OH diajarkan di fakultas kedokteran (94%) sekurang-kurangnya satu semester (60%) atau dua semester (40%).Kata kunci: fitofarmaka, pendidikan kedokteran, persepsi, obat herba
Operasi Seksio Sesarea pada Ibu Hamil dengan Gagal Jantung Tigor P. Simanjuntak
Majalah Kedokteran UKI Vol. 28 No. 3 (2012): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakTindakan operasi seksio sesarea adalah persalinan buatan untuk melahirkan bayi melalui operasi dinding perut dan uterus. Tindakan itu dilakukan atas indikasi obstetri atau indikasi medis. Tindakan seksio sesarea pada kehamilan dengan kelainan jantung kelas 4/ gagal jantung/ dekompensasi kordis merupakan indikasi medis yang bersifat selektif dan harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas memadai. Tulisan ini akan melaporkan kasus seorang ibu berumur 37 tahun, gravida tujuh, paritas tiga, abortus tiga (G7P3A3), hamil 35-36 minggu, gemeli, anak pertama letak kepala, dan anak kedua letak sungsang, menderita kelainan jantung kelas 4 dan hipertensi gestasional. Kehamilan di terminasi dengan tindakan seksio sesarea karena pasien semakin sesak. Pasca operasi hari ke-10 ibu dan bayi pulang dengan keadaan umum baik.Kata kunci: seksio sesarea, gagal jantung, indikasi AbstractCesarean section is an artificial labor of a fetus through incisions on the abdominal and the uterine wall. The surgery was performed based on medical or obstetric indication. Cesarean section in grade 4 heart disease/ heart failure/cardiac decompensation during pregnancy is a selective medical indication, and should be performed in hospital with appropriate facility. This paper reports a case of a female, 37 years old, seventh gravid, three parities, and three abortions (G7P3A3). She was pregnant for 35- 36 weeks, twin pregnancy, and the first baby was head presentation, the second baby was breech presentation, and the mother having grade 4 heart disease, and had gestational hypertension. Pregnancy was terminated by cesarean section because the patient was getting more dyspneic. Ten days after surgery the mother and the babies were released from the hospital in a good condition.Key word: cesarean section, heart failure, indication
Diagnosis Serologis Infeksi Human Immunodeficiency Virus Edyana Durman
Majalah Kedokteran UKI Vol. 28 No. 3 (2012): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakJumlah penderita AIDS setiap tahun terus bertambah. Penyebabnya adalah human immuno deficiency virus (HIV), termasuk golongan retrovirus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan mampu merangsang pembentukan antibodi. Protein yang diproduksi oleh virus tersebut berupa glikoprotein (gp) 120/126, (gp) 41 & p 24, (gp) 34, (gp) 140 dan p 26. Diagnosis infeksi HIV dapat dilakukan dengan mendeteksi antibodi atau antigen. Pemeriksaan serologi yang dipakai untuk menegakkan diagnosis HIV diharapkan mempunyai sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi. Pemeriksaan yang mempunyai sensitifitas tinggi akan memberikan hasil positif pada orang yang terinfeksi HIV dan memberikan hasil negatif palsu yang kecil. Pemeriksaan yang mempunyai spesifisitas yang tinggi akan memberikan hasil yang negatif pada orang yang tidak terinfeksi HIV dan memberikan hasil positif palsu yang rendah. Metode pemeriksaan antibodi HIV terdiri atas pemeriksaan memakai metode ELISA/EIA yang harus dipastikan dengan metode western blot atau deteksi asam nukleat.Kata kunci: HIV antibodi, ELISA, rapid test AbstractThe number of people living with HIV and AIDS increasing every year. The causative agent is human immunnodeficiency viruses (HIV), classified as retrovirus group which attacks the immune system and stimulates the formation of antibody. A group of proteins produced by HIV are glycoprotein (gp) 120/126, (gp) 41 & p 24, (gp) 34, (gp) 140, and p 26. Diagnosis of HIV infection can be done by detecting and measuring the antibody or antigen. Serological diagnostic should have high sensitivity and high specificity. High sensitivity test will give positive results in HIV-infected people with a very low false negative results. Whereas high specificity examination would give negative results in people who are not infected with HIV and a very low false positive results. ELISA/EIA, immunobloting methods (western blot) and rapid method are the common available methods being used.Key word: HIV antibody, ELISA, Rapid test
Kriptokokosis: Epidemiologi, Manifestasi Klinis dan Diagnosis Retno Wahyuningsih; Robiatul Adawiyah
Majalah Kedokteran UKI Vol. 28 No. 3 (2012): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakCryptococcus neoformans adalah khamir yang termasuk golongan eukariota, selnya bulat dan bersimpai. Lebar simpai ditentukan oleh respons imun pejamu, kadar CO2, kadar zat besi, dan faktor nutrisi. Ditemukan kosmopolit, habitatnya utama di alam adalah kotoran burung merpati dan lapukan pohon. Faktor yang membantu pertumbuhannya di alam adalah pH (7,3-7,4), kelembaban tinggi, suhu (25-37oC), kurangnya sinar matahari, dan nitrogen tinggi. Faktor virulensi yang penting adalah simpai, sifat termotolerans, alpha mating type, kemampuan membentuk melanin, produksi manitol dan mampu terlarut dalam cairan ekstraselular. Dua spesies yang sering menginfeksi manusia adalah C. neoformans dan Crtptococcus gattii. Berdasarkan polisakarida kapsul, C. neoformans terbagi menjadi C. neoformans varietas grubii (serotipe A), C. neoformans varietas neoformans (serotipe D), dan hibrid (serotipe AD). Sementara itu C. gattii terbagi menjadi dua serotipe yaitu serotipe B dan C. Cryptococcus neoformans terutama menginfeksi individu imunokompromis, namun juga dapat menginfeksi pejamu imunkompeten. Sedangkan C. gattii lebih banyak menginfeksi pejamu imunokompeten. Jamur masuk melalui inhalasi dan kemudian dapat menginfeksi berbagai organ dengan predileksi utama susunan saraf pusat (SSP). Manifestasi klinis utama pada individu imunokompromis adalah kriptokokosis meningeal, dengan prevalensi berkisar 2-72 %, sedangkan mortalitasnya berkisar antara 13-44%. Selain selaput otak dan paru, kriptokokosis dapat menyebar keberbagai organ dan memberikan gejala yang tidak khas. Diagnosis pasti ditegakkan dengan menemukan jamur pada pemeriksaan tinta india, kultur dan deteksi antigen pada cairan otak.Kata kunci: Cryptococcus sp., virulensi, pejamu imunokompromis, diagnosis
Gangguan Gastrointestinal pada Anak dengan Gagal Ginjal Stadium Akhir Sudung O. Pardede; Ihat Sugianti
Majalah Kedokteran UKI Vol. 28 No. 3 (2012): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakGangguan gastrointestinal merupakan gejala yang sering ditemukan pada pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir. Lesi mukosa, gangguan motilitas dan gangguan keseimbangan hormon polipeptida merupakan faktor penting pada gangguan gastrointestinal. Peningkatan insidens infeksi Helicobacter pylori pada pasien gagal ginjal stadium akhir masih menjadi perdebatan. Lesi mukosa (gastritis, duodenitis, ulkus peptikum) dapat ditemukan pada pasien, baik simtomatik maupun asimtomatik. Hal itu menekankan perlunya evaluasi saluran gastrointestinal sebelum dilakukan transplantasi ginjal untuk mencegah komplikasi pasca transplantasi. Pemberian obat prokinetik untuk mengatasi gangguan motilitas pada gagal ginjal stadium akhir masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Antagonis reseptor H2 atau inhibitor pompa proton dapat diberikan pada ulkus peptikum.Kata kunci: penyakit ginjal kronik, gangguan saluran cerna, gagal ginjal stadium akhir AbstractGastrointestinal symptoms are commonly found in patients with end stage renal disease (ESRD). Factors contributing to gastrointestinal symptoms are mucosal lesion, dismotility, and the imbalance of polypeptide hormones. The increased incidence of Helicobacter pylori infection in patients with ESRD is still debated. Mucosal lesions (gastritis, duodenitis, peptic ulcer) can be found in either symptomatic or asymptomatic patients. It emphasizes the importance of evaluating the gastrointestinal tract before conducting renal transplantation in order to prevent its complication. Further study to evaluate the use of prokinetic drugs in patients with gastrointestinal dismotility are still needed. H2 receptor antagonist or proton pump inhibitor can be given to patients with peptic ulcer.Key words: chronic kidney disease, gastrointestinal disorders, end stage renal disease
Parasitisme Intraselular Cryptococcus neoformans dalam Makrofag Forman E. Siagian; Retno Wahyuningsih
Majalah Kedokteran UKI Vol. 28 No. 3 (2012): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakCryptococcus neoformans, khamir berkapsul golongan Basidiomycetes, dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas terutama pada populasi imunokompromis seperti HIV/AIDS. Tingginya prevalensi pada populasi tersebut menunjukkan perlunya sistem imun yang adekuat, baik selular maupun humoral, untuk mencegah dan mengendalikan infeksi. Sel fagosit mononuklear (monosit dan makrofag) berperan sentral dalam respons imun protektif terhadap mikroorganisme intraselular seperti C. neoformans. Makrofag normal memiliki kemampuan fagositosis dengan cara internalisasi patogen untuk kemudian membunuhnya melalui proses yang melibatkan enzim-enzim lisososom. Pada pasien terinfeksi HIV, walaupun proses internalisasi C. neoformans oleh makrofag masih terjadi namun khamir yang sudah terinternalisasi tidak diproses lebih lanjut untuk dimusnahkan, sehingga memungkinkan khamir tinggal dalam makrofag dan berreplikasi dalam kompartemen fagolisosom. Proses tersebut kemudian dikenal sebagai parasitisme intraselular. Selain itu, juga dapat terjadi transfer lateral yang memungkinkan jamur berpindah dari makrofag terinfeksi ke makrofag lain yang belum terinfeksi. Hal tersebut kemudian memungkinkan diseminasi jamur ketempat lain dengan bantuan makrofag.Kata kunci: khamir, monosit, fagositosis, transfer lateral, sitokin, parasit AbstractCryptococcus neoformans is an encapsulated yeast belongs to basidiomycetes, causing morbidity and mortality in specialized populations such as HIV/AIDS. It is related to the immune system of the host, both, cellular and humoral immunity. Furthermore, intact and adequate immune system is needed in order to prevent and control infection. Mononuclear phagocytic cells (monocyte and macrophage) plays a central role in protective immunity against this intracellular microorganism. Normal macrophage have the ability to phagocyte and destroy internalized pathogen, through the action of lysosomal enzymes. In HIV infected individuals, even though internalization still occur but instead of being destroyed, the yeast can reside and replicate inside the phagolysosome compartment, a process known as intracellular parasitism. During that process, internalized yeast cells can undergo lateral transfer from infected macrophages to non-infected ones. This process allows dissemination of the fungus to other part of the body.Keywords: yeast, monocyte, phagocytosis, lateral transfer, cytokines, parasite

Page 1 of 1 | Total Record : 6