cover
Contact Name
Jurnal Etnohistori
Contact Email
etnohistori@unkhair.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
arlinahmadjid@unkhair.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota ternate,
Maluku utara
INDONESIA
ETNOHISTORI: Jurnal Kebudayaan dan Kesejarahan
Published by Universitas Khairun
ISSN : 24601055     EISSN : -     DOI : -
Jurnal ETNOHISTORI adalah publikasi ilmiah yang diterbitkan dengan tujuan turut serta mengembangkan ilmu Antropologi dan ilmu Sejarah di Indonesia. Karena itu, Redaksi Jurnal ETNOHISTORI menerima karangan dalam kedua ranah disiplin ilmu tersebut. Karangan dapat bersifat ulasan teoritis, refleksi metode, ataupun hasil penelitian lapangan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2021)" : 5 Documents clear
TINGGALAN PERANG DUNIA KEDUA DI BIBIR PASIFIK IRWAN ABBAS
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i1.3239

Abstract

This study is the result of research on various historical relics of the second world war found on the island of Morotai. The purpose of this study is to find out how far the attention of historical scientists and observers of historical objects left on this island. This study uses a qualitative approach with historical methods, namely data collection through the stages of heuristics, verification, interpretation, and historiography. Heuristics are stages in the search and collection of sources. Verification is the stage of source criticism, both internally and externally. Interpretation is the stage of interpretation and the last is historiography or historical writing. The findings of this study are that various historical remains of world wars on Morotai Island are becoming increasingly rare. Therefore, efforts are needed to save these historical objects which are feared to be destroyed, and even completely disappear due to changing hands or being misused by certain individuals. If this happens, the Morotai people will lose track of their history. Therefore, it is a recommendation that Morotai Island be made a cultural heritage area on the Pacific Rim so that it is hoped that the objects left behind by WW2 can be protected and saved from extinction, because it is our collective responsibility. As an observer of cultural history, it is time for local history studies to receive special attention so that people can know and understand events that have occurred in their area in the past. Keywords: Flakes, World War 2, Pacific Rim (Morotai)
NEW NORMAL DAN PRAKTIK KEBUDAYAAN DI KOTA TERNATE Nurfani .; Rudi S Tawary
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i1.3593

Abstract

AbstractThis article studies the impact of COVID-19 and the cultural adaptation process of the people of Ternate City. The practice of people's lives must adapt to this pandemic because people must have strategy to survive. Using qualitative research methods with a descriptive approach, this study describes  that the impact of COVID-19 on Ternate culture is very diverse. These cultures are affected because people of Ternate as a cultural entity must adapt to a new environment that requires  people to keep distance and maintain cleanliness. Starting from  changes  in Eid habits to washing hands are the impacts of COVID-19. On the other hand, the new normal policy  which is an adaptation strategy for the corona  virus has also not given good hope to Ternate's cultural life.Keywords: COVID-19, Adaptation, Ternate Culture 
TRADISI LOMPOADOHOI PADA ORANG SULA DI DESA MANGON KECAMATAN SANANA KABUPATEN KEPULAUAN SULA MARDIA UMASANGADJI; SAFRUDIN ABD. RAHMAN; RUDI S TAWARI
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i1.4078

Abstract

Lompoadohoi ini memiliki fungsi disetiap desa yang ada di Kepulauan Sula dan lebih khususnya di desa Mangon. Masyarakat Mangon mempertahankan tradisi tersebut sebagai modal sosial untuk mempermudahkan kebutuhan segala kekurangan dalam kehidupan baik secara materi maupun moral. Metode ini digunakan untuk menganalisis perkembangan kehidupan masyarakat Mangon serta keunikan kerja sama dalam bergotong royong untuk pelaksanaan acara-acara tertentu seperti halnya lompodohoi pernikahan, lompoadohoi pendidikan dan lompoadohoi amalan ibadah haji. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa permasalahan-permasalahan tradisi lompoadohoi pada masyarakat Sula dan untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman di desa Mangon dalam mencapai perubahan nilai sosial dan nilai ekonomi yang ada di desa Mangon salah satunya kebutuhan perkawinan dan pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan cara pengambilan sampel yaitu berupa instrumen wawancara yang dibuktikan dengan dokumentasi. Kata kunci: Lompoadohoi, Orang Mangon, Kabupaten Kepulauan Sula
PERUBAHAN RITUAL HIDOA BADAKA PADA MASYARAKAT DESA GOSOMA DI HALMAHERA UTARA DIAN NIAR TARTILA KARINDA; ARLINAH MADJID; HUDAN IRSYADI
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i1.4075

Abstract

Ritual hidoa badaka adalah ritual akil balig yang dimiliki oleh masyarakat Desa Gosoma Kabupaten Halmahera Utara. Ritual ini diperuntukkan bagi anak perempuan yang telah menginjak masa akil balig, masyarakat Desa Gosoma adalah masyarakat yang tergolong masyakarat multikultur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan hasil penelitian menunjukan bahwa ritual dimulai dari hari pertama anak mendapatkan haid dan berakhir pada hari setelah haid berhenti, dan perubahan dalam ritual hidoa badaka meliputi penentuan hari, alat dan bahan yang digunakan, pakaian, dan banyak ritual yang tidak dilakukan secara utuh semuanya. Perubahan dilatarbelakangi adanya faktor intern (penemuan baru khususnya bidang teknologi, kemajuan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, rasa tidak puas terhadap pola hidup lama, dan faktor ekstern (kontak dan pengaruh budaya asing serta munculnya berbagai media massa yang menyuguhkan aneka informasi inovatif). Kata Kunci :Ritual Hidoa Badaka
RITUAL KOLOLI KIE PADA MASYARAKAT ADAT KESULTANAN TERNATE MUH. SAMSIR DJ LA HADE; ANDI SUMAR KARMAN; SAFRUDIN ABD RAHMAN
ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/etnohistori.v8i1.4076

Abstract

Secara etimologi, kata kololi kie berasal dari bahasa asli Ternate. Kololi berarti “keliling atau mengintari” dan kie yang berarti “gunung, pulau, darat/daratan.” Secara umum, kololi kie diartikan sebagai “kegiatan mengitari atau mengelilingi pulau/gunung.” Dalam bahasa populer lain di Kota Ternate. Kololi kie juga disebut dengan kata ron gunung (ron artinya “keliling”). Fokus penelitian yaitu: 1) Bagaimana pandangan masyarakat adat kesultanan Ternate terhadap ritual Kololi Kie. 2) Bagaimana proses pelaksanaan ritual Kololi Kie. 3) Apa saja nilai-nilai budaya yang terkandung dalam ritual Kololi Kie. Metode atau pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode atau pendekatan kualitatif. Adapun hasil penelitian yaitu: Bahwa ritual Kololi Kie mengandung makna yang mendalam tentang memupuk tali kebersamaan masyarakat antara masyarakat adat di Kesultanan Ternate dan masyarakat secara umum di Kota Ternate. Mengelilingi pulau dapat disimbolkan sebagai upaya memberikan pengamanan  terhadap batas teritorial dan memperkuat simpul-simpul kekuatan bangsa, untuk mencegah berbagai ancaman dari luar. Ritual Kololi Kie sama maknanya dengan membelajarkan masyarakat untuk mempertahankan budaya dan menjaga keutuhan bangsa dari gempuran dan tantangan budaya global. Keempat, pada ritual tersebut, beberapa kampung dijadikan sebagai tempat persinggahan untuk berziara di makam-makam. Nilai-nilai yang masih dijaga dan dipelihara oleh masyarakat adat Kesultanan Ternate adalah Nilai Tenggang rasa, nilai kebersamaan, nilai gotong royog serta nilai keagamaan. Kata Kunci : Ritual Kololi Kie, Budaya, Religi, Kesultanan Ternate

Page 1 of 1 | Total Record : 5