cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
DIRASAT Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam
ISSN : 25033506     EISSN : 25276190     DOI : -
Core Subject : Science,
Dir?s?t: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam (E-ISSN: 2527-6190; P-ISSN: 2503-3506) adalah jurnal ilmiah berkala sebagai media desiminasi hasil kerja akademik para peneliti, dosen dan penulis. Jurnal ini memuat artikel-artikel ilmiah konsepsional dan hasil penelitian seputar Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Agama Islam (PAI), dan Pendidikan Islam secara umum dan ditinjau dari berbagai aspeknya. Dir?s?t: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam terbit berkala setiap bulan Juni dan Desember. Dir?s?t: Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam diterbitkan oleh Program Pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 2 (2016)" : 6 Documents clear
Pola Pendidikan Karakter Dengan Konsep Spiritualisasi Pendidikan: Studi Kasus di Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Tempurrejo Ngawi Nasihuddin, M.
DIRASAT Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3274.277 KB)

Abstract

Abstrak: Situasi krisis spiritual dan moral pelajar pasca-reformasi menunjukkan bahwa kompetensi moral dan spiritual yang diproses melalui sekolah dengan berbagai pengembangannya belum menghasilkan kecerdasan moral dan kecerdasan spiritual yang diharapkan. Kondisi ini diduga berasal dari verbalisasi budaya yang berkembang dari proses pembelajaran moral dan spiritual yang hanya bersifat tekstual murni. Fenomena dan fakta tersebut menyimpulkan pentingnya pendidikan karakter secara intensif sebagai esensi dari kecerdasan moral dan pembentukan spiritual. Oleh karena itu, kecerdasan moral dan kecerdasan spiritual harus tumbuh dan berkembang melalui pendidikan karakter aplikatif. Pada tahap awal, pelaksanaan pendidikan karakter di tingkat sekolah perlu dilakukan melalui pengkondisian moral yang kemudian berlanjut dengan pelatihan moral. Desain pendidikan karakter sebagaimana di atas berfungsi sebagai alat untuk pengembangan moral peserta didik yang sistemik dengan kompetensi kecerdasan dan karakter.Abstract: Spiritual and moral crisis situation of post-reform students demonstrate competency moral and spiritual competence processed through schooling stool output immature development of moral intelligence and spiritual intelligence  of students. This condition is allegedly originated from the growing culture verbalistic of moral and spiritual learning process merely textual. Phenomenon and the fact, led many to conclude the importance of the character education intensively as the essence of moral intelligence and spiritual formation.  Therefore, moral intelligence and spiritual intelligence must be consciously learned and grown through the applicative character education. In the early stages, the implementation of character education at the level of schooling needs to be done through conditioning moral then continues with moral training. Educational design a character like above serves as a tool for the development of systemic moral eguip learners with the competencies of intelligence and character.
Implementasi Pembelajaran IPA Model Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan Keterampilan Literasi Sains Calon Guru MI
DIRASAT Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4113.218 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran IPA model inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan literasi sains calon guru MI. Pengembangan perangkat  diujicobakan di kelas PGMI semester 5 Unipdu Jombang tahun ajaran 2015/2016 bulan September-Desember 2015 dengan desain percobaan one-group-pretest-postest design. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, tes, dan angket. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif-kuantitaif-kualitatif dan uji statistik parametrik. Temuan hasil penelitian adalah: (1) perangkat pembelajaran yang dikembangkan berkategori valid; (2) kepraktisan perangkat pembelajaran ditinjau dari keterlaksanaan RPP  berkategori baik dan aktivitas peserta didik sesuai dengan tahap-tahap pada model inkuiri terbimbing; dan (3) kefektifan perangkat pembelajaran ditinjau dari peningkatan hasil belajar peserta didik terlihat dari n-gain dengan kategori tinggi dan peningkatan penguasaan keterampilan literasi sains peserta didik terlihat dari n-gain dengan kategori tinggi dan respons peserta didik terhadap perangkat dan pelaksanaan pembelajaran sangat positif. Disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran model inkuiri terbimbing yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan  keterampilan literasi sains calon guru MI.Abstract: The purpose of this ressearch is to evaluate the effectiveness science learning through guided inquiry model to improve science literacy skill of student of Islamic primary school teachers. The development of learning material was tested in class student of Islamic primary school teachers 5th semester Unipdu Jombang in academic year 2015/2016 since September-December 2015 with One group pretest-postest design. The data collection used observation method, test and quetionnaries. The data analysis techniqeus used descriptive analysis of quantitaive, qualitative and statistic parametric. The result of this research are: (1) learning material developed has a valid category; (2) the practicality of learning material in terms of a good category in feasibility of lesson plans and the students activities in accordance with steps of guided inquiry model; and (3) the learning material effectiveness in terms of improving student learning achievement seen from the n-gain score with high category and improving science literacy skill of student by getting the n gain score with high category and the student responds toward material and implementation of learning are very positive. It’s conclusion that the learning material through guided inquiry model are valid, practical, and effective to try science literacy skill of student of Islamic primary school teachers.
Minat Mahasiswa Setelah Lulus Kuliah Terhadap Entrepreneurs: Studi Kasus Mahasiswa Peserta Pelatihan Entrepreneurship Fakultas Agama Islam Universitas Darul ‘Ulum Jombang Tahun 2015
DIRASAT Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4948.219 KB)

Abstract

Abstrak: Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah kemampuan kreatif dan inovatif dalam menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengelolaan sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda. Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Program yang dilakukan oleh Fakultas Agama Islam Universitas Darul ‘Ulum Jombang ditambah dengan adanya bantuan penguatan entrepreneurs centre PTKI tahun 2015 dari Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI dapat menjadi batu loncatan bagi mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Darul ‘Ulum Jombang yang ingin membuka usaha pada saat lulus kuliah nanti. Penelitian ini merupakan SWOT analasis tentang minat mahasiswa peserta entrepreneursip mahasiswa Fakultas Agama Islam Universitas Darul ‘Ulum Jombang setelah lulus kuliah terhadap entrepreneurship. Teknik pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang didapat adalah sebanyak 63.48% perempuan dan 66.05% laki-laki ingin membuka usaha setelah lulus, artinya minat menjadi wirausaha lebih besar pada mahasiswa laki-laki. Mahasiswa yang ingin bekerja setelah lulus adalah 24.17% perempuan dan 26.12% laki-laki. Untuk mahasiswa yang ingin menjadi Pegawai Negri Sipil setelah lulus hampir berimbang, yaitu 5.19% perempuan dan 5.23% laki-laki. Sedangkan yang menginginkan menjadi guru lebih banyak terjadi pada mahasiswa perempuan, yaitu 7.16% dan hanya 2.14% dari mahasiswa laki-laki. Yang paling menarik dalam temuan penelitian ini adalah didapatnya 0.46% mahasiswa laki-laki yang ingin menjadi ABRI pada saat lulus kuliah, melihat latar belakang data yang di dapat mahasiswa yang ingin jadi ABRI dilatarbelakangi oleh orangtuanya yang memang ABRI.Abstrak: Entrepreneurship is the ability to be creative and innovative in creating added value in the market through the process of managing resources in new dan different ways. In Indonesia, a new study of entrepreneurship is limited to some particular schools or colleges course. The program conducted by The Faculty of Islamic Studies of The University of Darul ‘Ulum Jombang coupled with the help of strengthening entrepreneurs center of PTKI 2015 from the Directorate of Islamic Higher Education Ministry of Religious Affairs may be bridging for students of Faculty of Islamic Studies 0of The University of Darul ‘Ulum Jombang that wants to open a business at the college later. This research is a SWOT analysis on student interest of the entrepreneursip participants of The Faculty of Islamic Studies of The University of Darul ‘Ulum Jombang after graduating towards entrepreneurship. The technique of collecting data is through observations, interviews, questionnaires and documentations. Based on this research, there are 63.48% of women and 66.05% of men who would like to open a business after graduation, being an entrepreneur means greater interest in male students. Students who want to work after graduation are 24.17% of women and 26.12% of men. For students who want to be a Civil Affairs Officer after graduating almost balanced: 5.23% of women and men. Wanting to be a teacher is more common in female students: 7.16%, and only 2.14% of male students. The most interesting in these findings is that 0.46% of male students who want to become the ABRI (Indonesian Armed Forces) at the time of graduating from college. The students who want to be ABRI have parents who work as ABRI.
Prespektif Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Dalam Pendidikan Karakter Dan Kaitannya Dengan Pendidikan Islam Qomariana, Anna
DIRASAT Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6005.92 KB)

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas pendidikan karakter dalam perspektif Ki Hadjar Dewantara yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional, dan kaitannya dengan pendidikan Islam. Di dalam pembangunan karakter yang dipentingkan adalah keikhlasan, kejujuran, jiwa kemanusiaan yang tinggi, sesuainya kata dengan perbuatan, prestasi kerja, kedisiplinan, jiwa dedikasi dan selalu berorientasi kepada hari depan dan pembaharuan. Pembinaan karakter akhlaq-ul kari>mah harus ditanamkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkat atas sampai ke lapisan bawah. Lapisan atas itu kemudian memberikan teladan yang baik pada masyarakat dan rakyatnya. Tetapi manakala para pemimpin memberikan contoh yang buruk, maka akan berlaku pepatah yang menyatakan, “kalau guru kencing berdiri, murid akan kencing berlari; andai kata guru kencing berdiri, niscaya murid akan kencing menari-nari.” Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, tulisan ini bermaksud mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mendasar berikut: (1) bagaimana pengertian pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara? (2) bagaimana pengertian pendidikan agama? (3) bagaimana kaitan pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara dengan pendidikan Islam? Uraian dari jawaban yang dimaksud akan menunjukkan secara gamblang bahwa gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan karakter seiring dan sejalan dengan pendidikan Islam.Abstrak: This article discusses character education in the perspective of Ki Hadjar Dewantara who is Father of National Education, and its relation to Islamic education. What is necessary for constructing the character is sincerity, honesty, spirit of humanity, suitability of words and deeds, work performance, discipline, dedication and spirit. Character building of akhlāq-ul karīmah must be imparted to all layers and levels of society, from top to bottom layer. Then, the top layer gives good examples to the society and its people. When the leaders have bad examples, so there is a strong and deep words that state, “if teachers pee with standing up, students will piss with running; supposing pee standing teachers, pupils will undoubtedly pee dance.” Based on the problems mentioned above, this paper intends to find answers to the following fundamental questions: (1) how is the notion of character education of Ki Hadjar Dewantara? (2) how is the notion of religious education? (3) how is the relation between Ki Hadjar Dewantara’s character education and Islamic education? Description of the answers which are intended to indicate clearly that the Ki Hadjar Dewantara idea about character education along and in line with Islamic education.
Tawaran Komplementer Hadis Nabi Untuk Gagasan “The Right Man On The Right Job”: Penelitian dan Pemahaman Hadis “Idhā Wussida al-Amr ila Ghayri Ahli-hi fa-Intaẓir al-Sā‘ah” Amrulloh, Amrulloh
DIRASAT Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6104.539 KB)

Abstract

Abstrak: Artikel ini berupaya menangkap tawaran komplementer hadis Nabi yang berbunyi, “idhā wussida al-amr ilā ghayri ahli-hi fa-intazir al-sā‘ah” (jika urusan dikuasakan kepada bukan-ahlinya maka tunggulah hari kiamat) untuk salah satu gagasan manajemen sumber daya manusia (SDM) yang sudah tidak asing lagi, yaitu “the right man on the right job” (orang yang tepat ditempatkan pada pekerjaan yang tepat), khususnya dalam konteks pendidikan Islam. Sekilas, kedua ungkapan tersebut tampak sama, namun jika ditelaah lebih mendalam sebenarnya yang pertama bisa melengkapi dan menyempurnakan yang kedua. Walaupun hadis tersebut disampaikan sekitar 14 abad yang lalu, namun sikap apatis terhadap gagasan manajerial yang terkandung di dalamnya sebaiknya dikesampingkan dahulu, mengingat Rasulullah, sang penutur hadis, adalah seorang “manajer” bahkan leader di berbagai bidang, termasuk “pendidikan”. Dengan terlebih dahulu memastikan otentisitas dan validitas hadis Nabi tersebut—dengan mengaplikasikan teori-teori penelitian hadis konvensional, di sini akan diungkap sisi komplementer hadis “idhā wussida al-amr ilā ghayri ahli-hi fa-intazir al-sā‘ah” untuk gagasan “the right man on the right job”. Asal hadis Nabi tidak dipandang secara kaku dan tekstual, tawaran komplementernya terhadap konsep-konsep dan gagasan-gagasan manajerial sebenarnya tidak patut dikesampingkan, apalagi dilupakan.Abstract: This article attempts to capture a complementary offer of Prophetic hadīth, which says, “idhā wussida al-amr ila ghayri ahli-hi fa-intazir al-sā‘ah” (if cases given to the non-experts then wait for the doomsday) for one of the human resource management idea, which is already familiar, namely “the right man on the right job,” especially in the context of Islamic education. At first glance, those two words seem have the same mean, but when examined more deeply the first one can complement and enhance the latter. Although the hadīth is delivered about 14 centuries ago, but apathy toward the managerial ideas contained in it should be ruled out, because the Prophet Muhammad—narrator of the hadīth—is a “manager” and even a leader in many fields, including the “education.” Firstly, verifying the authenticity and validity of the hadīth  must be conducted. By applying the theories of conventional research of hadīth, the complementary side of the hadīth that says, “idhā wussida ila al-amr ghayri ahli-hi fa-intazir al-sā‘ah,” for the idea that says, “the right man on the right job,” will be revealed here. As long as the Prophet’s hadīth is not viewed as rigid and textual, complementary offer to the concepts and ideas of managerial actually not be dismissed and forgotten.
Implementasi Kepemimpinan Kiai dalam Pengembangan Pesantren: Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Ichsan Brangkal Sooko Mojokerto Sulfianah, Les; Anwar, M. Ansor
DIRASAT Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6364.926 KB)

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas model kepemimpinan kiai di pesantren dan implikasinya terhadap perkembangan pesantren tersebut. Dengan adanya kekuatan kiai, pesantren dapat menjadi model institusi pendidikan yang khas dan memiliki keunikan tersendiri dalam mewadahi tanggung jawab untuk mendidik santri menguasai ilmu keagamaan dan sekaligus pengembangan masyarakat. Disebabkan keberadaan kiai, pesantren dapat menjadi institusi yang memiliki keunggulan, baik pada sisi keilmuan dan juga transmisi serta internalisasi moralitasnya. Keadaan pesantren yang memiliki kiai yang tidak kharismatik, misalnya, menjadikan pesantren kehilangan kepercayaan masyarakat termasuk kepercayaan alumni itu sendiri. Sehingga, alumni dan masyarakat tidak mau membantu pesantren baik dari segi pengelolaan maupun pendanaan, serta masyarakat menjadi ragu untuk menyerahkan pendidikan anaknya di lingkungan pesantren. Salah satu pesantren yang disinggung itu adalah Pondok Pesantren Al-Ichsan Brangkal Sooko Mojokerto. Berangkat dari itu, penelitian ini berupaya menjawab tiga pertanyaan mendasar: (1) bagaimana kepemimpinan kiai di Pondok Pesantren Al-Ichsan? (2) bagaimana pengembangan Pondok Pesantren Al-Ichsan? (3) bagaimana hubungan antara kepemimpinan kiai dengan perkembangan pondok pesantren Al-Ichsan?Abstract: This article discusses leadership models of the kiais (leaders of pesantrens or Muslim societies) in pesantrens (Islamic boarding schools) and its implications for the development of the pesantrens. By the power of kiais, pesantrens can be a model of unique educational institution that has its own uniqueness to accommodate a responsibility for santris’ education. They have to master Islamic sciences and serving societies at the same time. Due to the presence of kiais, schools can become an institution that has many advantages, both on the scientific side, and also the transmission and internalization of morality. The pesantrens which have kiais who are not charismatic, for example, make the pesantrens lose their public trust, including trust of the alumni of the pesantrens themselves. Thus, alumni and societies do not want to help the pesantrens in term of both management and funding, as well as the societies became hesitant to hand over their children’s education in the pesantrens. One of the pesantrens mentioned above is Pondok Pesantren Al-Ichsan Brangkal Sooko Mojokerto. This study means to answer three fundamental questions: (1) how is the leadership of the Kiais in Pondok Pesantren Al-Ichsan? (2) how is the development of Pondok Pesantren Al-Ichsan? (3) how is the relevancy between the Kiais’ leadership and the development of Pondok Pesantren Al-Ichsan.

Page 1 of 1 | Total Record : 6