cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2023)" : 8 Documents clear
Promoting the spirit of nationalism through Quran-Hadis lectures: A case of Gus Miftah’s da'wah model D. I. Ansusa Putra; Ardiyansyah Ardiyansyah; Mekki Klaina
Islamic Communication Journal Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.1.15250

Abstract

The idea of nationalism as the national glue in Indonesia faces currents of decadence in contemporary society. As a religious text, the Quran and Hadith and their interpretations have a special role in stemming this decadence of nationalism through the teachings of preachers, preachers and preachers. Gus Miftah, as a well-known preacher in Indonesia, tries to promote the spirit of nationalism by contextualizing messages and values from the Quran and Hadith with the conditions of diversity and multiculturalism in Indonesia. This article raises Gus Miftah as a popular preacher with a high commitment to issues of nationality and Indonesianness. This study uses a qualitative descriptive method in analyzing digital observation data on Gus Miftah's video lectures on Youtube. This study resulted in a general conclusion that Gus Miftah's Quran-Hadith Teaching contextualizes the Quran-Hadith within the framework of nationalism and diversity. Gus Miftah's commitment to the national interest issue can be seen from his understanding of socio-religious themes, such as tolerance, unity and nationalism. This is a factor in the popularity of Gus Miftah's da'wah which is in line with traditional/moderate Islamic understanding. This research contributes to enriching the literature on the relationship between da'wah and contextualization of the Quran and Hadith in Indonesia which gives rise to a uniqueness of Indonesian Islam. ***Gagasan nasionalisme sebagai perekat bangsa di Indonesia menghadapi dekadensi dengan isu-isu kontemporer masyarakat. Sebagai teks agama, Al-Quran dan Hadits serta tafsirnya memiliki peran khusus dalam membendung dekadensi nasionalisme ini melalui ajaran para da'i, muballigh, atau ulama. Gus Miftah, sebagai seorang mubaligh ternama di Indonesia, mencoba mengangkat semangat nasionalisme dengan mengkontekstualisasikan pesan dan nilai-nilai dari Al-Qur'an dan Hadits yang sejalan dengan kondisi kebhinekaan dan multikulturalisme di Indonesia. Artikel ini mengangkat Gus Miftah sebagai pendakwah populer dengan komitmen tinggi terhadap isu tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam menganalisis data observasi digital pada video ceramah Gus Miftah di Youtube. Kajian ini menghasilkan kesimpulan umum bahwa Gus Miftah mengontekstualisasikan ajaran Al-Qur'an-Hadits dalam kerangka nasionalisme dan kebinekaan. Komitmen Gus Miftah terhadap isu kepentingan nasional tampak dalam pemahamannya terhadap tema-tema sosial keagamaan, seperti toleransi, persatuan, dan nasionalisme. Hal ini menjadi faktor popularitas dakwah Gus Miftah yang sejalan dengan pemahaman Islam tradisional/moderat. Penelitian ini berkontribusi untuk memperkaya literatur tentang hubungan dakwah dan kontekstualisasi Alquran dan Hadits di Indonesia yang memunculkan keunikan Islam Indonesia.
Da’wah values in the opening ceremony video of the World Cup Qatar 2022 (A John Fiske’s semiotic analysis) Fikri Fikri; Dyta Septiyatik; La Ode Andri; Mudhiah Umamah
Islamic Communication Journal Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.1.14143

Abstract

This study aims to identify the three levels of semiotics based on John Fiske's semiotic theory and to explain da'wah values in the opening video of the Qatar 2022 World Cup. This study uses a descriptive method with an interpretive qualitative research data approach. The data were collected by watching the video and taking screenshots. The data were categorized and analyzed based on John Fiske's semiotic theory. The results show that there are da'wah values including faith, sharia, and morals. In addition, the three levels of signs conveyed by John Fiske are reflected in the costumes of actors, singers who cover their genitals (reality level), angels, lighting, music, sounds (representative level), love for animals or other living things, mutual respect between religions, races. culture, hospitality, and Arab nationalism (ideology level). As the opening ceremony of the World Cup is a moment where all eyes will be on, that was a great opportunity to deliver the ideology and broadcast the da'wah values. Therefore, the da'wah values can be shared massively compared to when da'wah is delivered orally.  This study contributes to the development of a culture-based da'wah model, which is in accordance with the principles of a friendly and universal Islam. ***Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tiga level semiotika berdasarkan teori semiotika John Fiske dan menjelaskan nilai-nilai dakwah dalam video pembukaan Piala Dunia Qatar 2022. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan data penelitian kualitatif interpretatif. Data dikumpulkan dengan menonton video dan mengambil screenshot. Data dikategorikan dan dianalisis berdasarkan teori semiotika John Fiske. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai dakwah yang meliputi akidah, syariah dan akhlak. Selain itu, tiga level tanda yang disampaikan John Fiske tercermin dari kostum aktor, penyanyi yang menutup aurat (level realitas), angle kamera, tata cahaya, musik, suara (level representasi), kasih sayang kepada hewan atau makhluk hidup lainnya, saling menghormati antar agama, ras, budaya, keramahtamahan, dan nasionalisme Arab (level ideologi). Karena, upacara pembukaan Piala Dunia merupakan momen di mana semua mata akan tertuju, maka hal tersebut merupakan kesempatan yang baik untuk menyampaikan ideologi dan menyebarkan nilai-nilai dakwah. Dengan demikian, nilai-nilai dakwah dapat disebarkan secara masif dibandingkan dengan dakwah yang disampaikan secara lisan. Kajian ini berkontribusi bagi pengembangan model dakwah berbasis kebudayaan, yang sesuai dengan prinsip Islam yang ramah dan universal. 
Representation of feminism in Miss & Mrs. Cops (John Fiske’s semiotic analysis) Lukman Hakim; Wina Kurnia
Islamic Communication Journal Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.1.12601

Abstract

Oppression of women is still common today. Feminism is a social movement that strives to uphold justice for women. Feminists are doing various ways to voice and resuscitate society about gender discrimination against women. Film media is one of the tools used by feminists to make people aware of the issue. Film media was chosen because the film is considered capable of influencing and shaping society based on the messages it conveys. "Miss Mrs Cops" is a blackhead action film that tells the struggle of policewomen in solving criminal cases. In the film, female characters are portrayed as conduits to convey the messages of feminism. This study aims to find out the meaning of semiotic codes regarding feminism at the level of reality, representation, and ideology. The study used qualitative research with John Fiske's semiotics analysis. The study results show that the representation of the message of feminism in this film is depicted on three levels. First, the level of reality through appearance, clothing, dialogue, environment, and behaviour. The camera provides code at both levels—representation through shooting and editing. The three levels of ideology are the thoughts or actions female characters carry. All three describe women as strong, brave, independent, and willing to do anything to defend women's rights and justice.  This study contributes to strengthening women's narratives in the public space where academically it is also a concern of Islamic communication. ***Penindasan terhadap perempuan masih sering terjadi hingga saat ini. Feminisme merupakan gerakan sosial yang berjuang dalam menegakan keadilan terhadap perempuan. Para feminis melakukan berbagai cara untuk menyuarakan dan menyadarkan masyarakat mengenai diskriminasi gender terhadap perempuan. Media film merupakan salah satu alat yang digunakan feminis untuk menyadarkan masyarakat mengenai isu tersebut. Media film dipilih karena dianggap mampu memengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan pesan-pesan yang disampaikannya. Film “Miss Mrs. Cops” merupakan film action komedi yang menceritakan perjuangan polisi wanita dalam memecahkan kasus kriminal terhadap perempuan. Dalam film ini, karakter perempuan digambarkan sebagai penyalur untuk menyampaikan pesan-pesan feminisme. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna kode semiotika mengenai feminisme dalam level realitas, level representasi dan level ideologi. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan analisis semiotika John Fiske. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi pesan feminisme dalam film ini tergambar dalam tiga level. Pertama, level realitas melalui penampilan, pakaian, dialog, lingkungan, perilaku. Kedua level, representasi melalui pengambilan gambar, editing, camera memberikan kode. Ketiga level ideologi, pemikiran-pemikiran atau tindakan-tindakan yang dilakukan oleh tokoh perempuan. Ketiganya menggambarkan perempuan sebagai pribadi yang kuat, berani, mandiri dan rela melakukan apapun demi membela hak dan keadilan untuk perempuan. Kajian ini berkontribusi bagi penguatan narasi perempuan di ruang publik dimana secara akademis juga menjadi concern dari komunikasi Islam.
Da'wah communication approach to prisoners: The case of Detention Center II B Nganjuk Rachmanda Lestarini; Luthfi Ulfa Ni’amah
Islamic Communication Journal Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.1.15155

Abstract

Da'wah to prisoners requires the right strategic approach. This study aims to find out how da'wah communication strategies are used by da'i in carrying out da'wah among Nganjuk prisoners. The research method used is observation and interviews as well as Miles and Huberman analysis. Research informants were the head of the Nganjuk remand center, lecturers at the detention center, and the prisoners themselves. The results of this study indicate that preachers who are given assignments in detention centers have adequate scientific competence, so that da'wah is in accordance with the mad'u faced (narapida). The majority of inmates in detention centers are those caught in drugs. The average drug case is a teenager. The challenge faced by preachers is the lack of role for prisoners in participating in da'wah activities in detention centers. This is because the inmates' memory has been drained by sedatives. Efforts made by the IIB Nganjuk detention center in implementing da'wah communication within the prisoner's environment are by applying bil lisan (oral da'wah) approach through lectures/recitations, bil qalam through religious books, and bil hal by giving direct examples to inmates. In addition, the most important thing is that the preachers try to understand the psychology or tendencies of each prisoner and not look down on them. This study contributes to the development of da'wah models for groups that are considered marginal. ***Dakwah pada narapidana memerlukan pendekatan strategi yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi dakwah yang digunakan da’i dalam melakukan dakwah di kalangan narapidana Nganjuk. Metode penelitian yang dipakai ialah observasi dan wawancara serta analisis Miless and Huberman. Informan penelitian ialah kepala rutan Nganjuk, penceramah di rutan, dan narapidana sendiri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwasanya da’i yang diberikan tugas di Rutan memiliki kompotensi keilmuwan yang memadai, sehingga dakwah menjadi sesuai dengan mad’u yang dihadapi (narapida). Mayoritas narapidana di Rutan ialah mereka yang terjerat narkoba. Rata-rata yang berkasus narkoba ialah manusia yang berusia remaja. Tantangan yang dihadapi da'i adalah kurangnya peran napi dalam mengikuti kegiatan dakwah di rutan. Pasalnya, daya ingat para napi sudah terkuras oleh obat penenang. Upaya yang dilakukan oleh rumah tahanan IIB Nganjuk dalam implementasi komunikasi dakwah di lingkungan narapidana adalah dengan menerapkan pendekatan dakwah bil lisan melalui ceramah/pengajian, bil qalam melalui buku-buku agama, dan bil hal dengan memberikan contoh teladan langsung kepada narapidana. Di samping itu, yang terpenting adalah para da’i berusaha memahami psikologi atau kecenderungan masing-masing narapidana serta tidak memandang mereka rendah. Kajian ini berkontribusi bagi pengembangan model dakwah pada kalangan yang dianggap marjinal.
Synergizing stakeholders’ communication for religious harmony in Indonesia Ali Ridho; Syahrul Rahmat; Muhammed Sahrin Haji Masri; Idi Warsah
Islamic Communication Journal Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.1.13626

Abstract

Inter-religious conflicts are born, among others, due to misunderstandings in receiving and interpreting messages in the process of multi-religious community interaction, without exception conflicts in Bantul Regency, Indonesia. This research uses a qualitative approach that is descriptive analysis with the type of case study method. The results concluded that the conflict was caused by the process of inter-religious communication that took place in a stagnant and closed manner. In the process of communication between religious communities in large numbers, there are influences in the form of differences in religious, socio-cultural, political views to diverse ideologies and involve high psychological emotions.  A religious conflict resolution approach that is oriented towards a transparent model of government policy implementation and reaches all levels of society is an obligation for regional and national leaders. Then, interfaith leaders must prioritize patterns of thinking and behaving by promoting a moderate attitude that puts the human side at the main level compared to group and religious backgrounds. In addition, religious people must be able to put aside egoism and a priori attitudes in interacting with people of other religions and religious leaders are obliged to communicate messages of peace and harmony in the frame of plurality. This study contributes to the development of a communication model in interfaith conflict resolution.***Konflik antar umat beragama lahir antara lain disebabkan oleh kesalahpahaman dalam menerima dan menafsirkan pesan dalam proses interaksi masyarakat multi agama, tanpa terkecuali konflik di Kabupaten Bantul, Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analisis dengan jenis metode studi kasus. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa konflik tersebut disebabkan oleh proses komunikasi antar umat beragama yang berlangsung secara stagnan dan tertutup. Dalam proses komunikasi antar umat beragama dalam jumlah yang banyak tersebut, terdapat pengaruh berupa perbedaan cara pandang agama, sosial budaya, pandangan politik hingga ideologi yang beragam dan melibatkan emosi psikologis yang tinggi.  Pendekatan penyelesaian konflik agama yang berorientasi pada model implementasi kebijakan pemerintah yang transparan dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat menjadi kewajiban bagi para pemimpin daerah dan nasional. Kemudian, para pemimpin lintas agama harus mengedepankan pola berpikir dan bersikap dengan mengedepankan sikap moderat yang menempatkan sisi kemanusiaan pada tataran utama dibandingkan dengan latar belakang kelompok dan agama. Selain itu, umat beragama harus mampu mengesampingkan egoisme dan sikap apriori dalam berinteraksi dengan umat beragama lain dan para pemuka agama berkewajiban mengkomunikasikan pesan-pesan perdamaian dan kerukunan dalam bingkai kemajemukan. Studi ini berkontribusi bagi pengembangan model komunikasi dalam penyelesaian konflik antar agama.
Study of da'wah texts on muslim.or.id: The perspective of Sara Mills' critical discourse analysis Rifqi Syauqi Nur; Agus Riyadi
Islamic Communication Journal Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.1.16258

Abstract

The massive transformation towards digitalization has brought about many innovative media approaches in preaching, such as the emergence of preaching websites and other platforms. The ease and fast process of publication have resulted in diverse texts of preaching, each with its unique characteristics. One of these websites is muslim.co.id, which focuses on discussing the virtues of men and glorification. This research is a qualitative study utilizing the critical discourse analysis model proposed by Sara Mills. The findings of this study reveal that the choice of words or phrases used and the focus of several articles on the Muslim.co.id website tend to exhibit a strong patriarchal tendency. This is evident through the gender issues in the texts and the superiority of men. Gender issues identified in the analysis include the subordination of women, stereotyping, and neglecting.  This study contributes to efforts to encourage the presence of egalitarian online religious media in accordance with religious (Islamic) principles that reject all forms of injustice. ***Transformasi besar besaran menuju digital memunculkan banyak inovasi media dakwah seperti hadirnya situs dakwah ataupun dalam platform yang lainnya. Kemudahan serta proses yang cepat untuk publikasi berdampak pada teks dakwah yang semakin beragam dengan keunikannya masing masing. Salah satu situs tersebut ialah muslim.co.id. Situs media dakwah tersebut mempunyai corak dakwah yang cukup konsen dalam membahas keutamaan laki laki dan glorifikasinya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan critical discourse analysis model Sara Mills. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa diksi atau kalimat yang dipakai serta konsen dari beberapa artikel yang ada di situs Muslim.or.id memuat tendensi patriarkal yang cukup lekat. Hal tersebut dibuktikan dengan objektifikasi perempuan dalam sebuah teks dan superioritas laki laki. Adapun isu gender yang dapat dideteksi ialah subordinasi perempuan, stereotiping, dan neglecting. Kajian ini berkontribusi bagi upaya mendorong hadirnya media keagamaan online yang egaliter sesuai dengan prinsip keagamaan (Islam) yang menolak segala bentuk ketidakadilan.
Dramaturgy of Ustadh Abi Azkakia's da'wah in the Mobile Legends game Arini Fahma Qona'ati; Dicky Nur Rahman; Eta Husniya; Sokhi Huda
Islamic Communication Journal Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.1.14389

Abstract

Da'wah strategy innovation is needed in the midst of various challenges. This paper examines the phenomenon of preaching by Ustadh Abi Azkakia (preacher) in the perspective of Erving Goffman's dramaturgical theory. The Ustadh carried out da'wah through the Mobile Legends game in a unique way of preaching. This study uses a textual qualitative research analysis method with a case study type. The results of this study indicate that the preacher conveys his da'wah message through the Mobile Legends game interspersed with jokes and attracts many young fans called the Assembly of Nurul Legends gaming congregation. The average Mobile Legends gamer says harshly, with this preaching it makes these words good words. The preacher shows himself as an example from the way he interacts with his missionary partners, the way he talks, dresses politely, to a simple way of life. This research contributes to the development of da'wah dramaturgy studies, but this research has limited data which is only analyzed based on literature data. ***Inovasi strategi dalam berdakwah sangat diperlukan di tengah berbagai tantangan. Tulisan ini mengkaji tentang fenomena dakwah Ustadh Abi Azkakia (pendakwah) dalam perspektif teori dramaturgi Erving Goffman. Ustadh tersebut melakukan dakwah melalui permainan Mobile Legends dengan cara dakwah yang unik. Penelitian ini menggunakan metode analisis penelitian kualitatif tekstual dengan jenis studi kasus. Hasil studi ini menunjukkan bahwa pendakwah menyampaikan pesan dakwahnya melalui permainan Mobile Legends dengan diselingi candaan dan menarik banyak penggemar muda yang bernama jamaah gaming Majelis Nurul Legends. Rata-rata gamers Mobile Legends berkata kasar, dengan adanya dakwah ini membuat perkataan tersebut menjadi perkataan yang baik. Pendakwah menunjukkan dirinya sebagai teladan dari caranya berinteraksi dengan mitra dakwah, cara-cara berbicara, berpakaian yang sopan, hingga cara hidup yang sederhana. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan pengembangan kajian dramaturgi dakwah, namun penelitian ini memiliki keterbatasan data yang hanya dianalisis berdasarkan data literatur.
Semiotic analysis of Islamic moral messages in soap operas "Buku Harian Seorang Istri" on SCTV Qudratullah Qudratullah; Nurmalia Nurmalia; Ayu Wulandari
Islamic Communication Journal Vol 8, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.1.16037

Abstract

Television is not only a means of information but also influences the audience based on views, attitudes and norms. This study discusses the Islamic moral messages in the soap opera "Buku Harian Seorang Istri (Diary of a Wife)" on SCTV to find out the meaning of denotations, connotations, myths and provide an understanding of the moral messages contained in the soap opera. This study uses a type of qualitative research, with a library approach and Roland Barthes semiotic analysis. Furthermore, the data sources used are primary and secondary data with documentation data collection techniques. The results of this study indicate that the meaning of denotation in the soap opera "Buku Harian Seorang Istri" provides an overview of the dynamics of household life. The connotative meaning of the soap opera scene conveys the meaning that household life is a responsibility that must be carried out by both parties which must complement each other. The meaning of myth in this soap opera contains messages related to morality. This morality is related to human relations with other humans in the social sphere. This study contributes to strengthening moral values in media works (soap operas) as the basis for the development of a moral society. ***Televisi tidak hanya sebagai sarana informasi tetapi juga mempengaruhi khalayak berdasarkan pandangan, sikap, dan norma. Penelitian ini membahas pesan moral dalam sinetron “Buku Harian Seorang Istri” di SCTV untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, mitos dan memberikan pemahaman pesan moral yang terdapat dalam sinetron tersebut. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif, dengan pendekatan kepustakaan dan analisis semiotika Roland Barthes. Selanjutnya sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna denotasi dalam sinetron “Buku Harian Seorang Istri” memberikan gambaran tentang dinamika kehidupan rumah tangga. Makna konotatif dari adegan sinetron tersebut memberikan makna bahwa kehidupan rumah tangga merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak yang harus saling melengkapi. Makna mitos dalam sinetron ini mengandung pesan yang berkaitan dengan moralitas. Moralitas ini berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam lingkup sosial. Studi ini berkontribusi bagi penguatan nilai moral dalam karya media (sinetron) sebagai basis pengembangan masyarakat yang bermoral.

Page 1 of 1 | Total Record : 8