Articles
27 Documents
Search results for
, issue
" Vol 5, No 5 (2001)"
:
27 Documents
clear
KAJIAN PARASITISME TUMBUHAN CENDANA (Santalum album L.) SEBAGAI DASAR DALAM PEMBUDIDAYAANNYA
Sunaryo, Sunaryo;
Saefudin, Saefudin
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1465
Cendana {Santalum album L.)merupakan tumbuhan yang termasuk dalam kelompok suku Santalaceae. Sebagai anggota kelompok tumbuhan parasit, pada fase pertumbuhannya cendana memerlukan interaksi dengan tumbuhan lain yang berfungsi sebagai inang, melalui alat-alat kontak yang disebut haustorium. Sistem perakaran cendana, di mana padanya haustoria berkembang, lebih didominasi oleh pertumbuhan horizontal. Jenis tanaman inangnya tidak spesifik, sehingga pemilihan jenis tanaman inang untuk cendana dapat disesuaikan dengan model-model yang akan dikembangkan yaitu model agroforestri atau konservasi.
ASPEK HUKUM CENDANA DAN PERILAKU MASYARAKAT NTT
Pello, Jimmy
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (730.113 KB)
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1456
Cendana sebagai komoditi bernilai ekonomi tinggi yang persebaran alaminya terdapat di Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan kebanggaan masyarakat setempat. Nilai ekonomi tanaman cendana terdapat pada kayu gubal, teras, serbuk dan ampas serta minyak cendana. Kayu cendana digunakan untuk kerajinan dan minyak cendana untuk obat-obatan dan kosmetik. Dampak dari nilai ekonomi yangtinggi adalah sering terjadinya penebangan secara liar (tidak terkontrol), sehingga kehidupannya semakin terancam. Penebangan yang tidak terkendali ini tidak memperdulikan aturan-aturan yang berlaku baik dari segi tertib hukum maupun dari segi konservasi seperti ukuran lingkar batang, umur tanaman dan intensitas penebangan. Dilihat dari umur cendana yang berkualitas bagus dapat ditebang pada umur berkisar 40-50 tahun. Walaupun cendana cukup berpotensi karena harga jual yang cukup menjanjikan tetapi tidak membuat kesejahteraan hidup masyarakat meningkat. Hal ini karena monopoli pemerintah terus berlanjut bagi tanaman cendana yang tumbuh di pekarangan maupun lahan lainnya milik masyarakat; sehingga terjadi masalah yang cukup serius mengenai cendana ini bila dilihat dari segi ekonomi,ekologi serta perilaku masyarakat. Selanjutnya bagaimana hukum pengelolaan cendana dan bagaimana perilaku masyarakatnya dengan berlakunya ketentuan hukum tentang cendana di NTT. Dibutuhkan tertib hukum yang menyangkut aspek yuridis seperti hak dan kewajiban, kedudukan hukum, peran serta masyarakat serta kepatuhan masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa pemerintah sebagai penanggungjawab penyelenggaraan pengelolaan cendana di NTT belum mengadopsi azas-azas hukum umum pengelolaan sumber daya alam hayati (SDAH) yang berlaku di Indonesia. Adanya pengaturan hukum yang memberikan hak mengelola cendana kepada Pemerintah Daerah mengakibatkan penyimpangan yang lebih merugikan cendana dan habitatnya di NTT. Sosialisasi hukum lingkungan dan peraturan lingkungan lainnya perlu segera disosialisasikan kepada seluruh masyarakat NTT.
TANAH DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA CENDANA (Scmtalum album L.) PROPINSINUSA TENGGARA TIMUR
Silalahi, SB
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.312 KB)
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1470
Banyak aspek perlu dikaji dan dipertimbangkan dalam upaya pengembangan budidaya cendana di Nusa Tenggara Timur (NTT), antara lain aspek kesesuaian lahan dan lingkungan. Aspek hukum status dan kepemilikan tanah juga sangat penting karena di NTT dikenal dengan istilah "tanah suku" serta beberapa peraturan yang terkait dengan tanah seperti UU No. 5 Tahun 1960, UU No. 5 Tahun 1967 yang diperbaharui dengan UU No. 41 Tahun 1999, UU No. 24 Tahun 1992, UU No. 4 Tahun 1982 yang diperbaharui dengan UU No. 23 Tahun 1997, UU No. 11 Tahun 11967 dan UU No. 22 Tahun 1999. Dalam membuat perencanaan sistem pengembangan cendana, peta setiap desa/tanah suku yang terkena lokasi pengembangan perlu dibuat dengan Rencana Tata Ruang Desa, Kecamatan dan tidak menimbulkanÃÂ konflik dengan kepentingan lainnya misalnya petemakan. Peta tanah tersebut meliputi pemetaan penguasaan, pemilikan dan penguasaan tanah serta penggunaannya. Pengembangan cendana diharapkan dari awal melibatkan partisipasi masyarakat setempat sehingga pemeliharaan dalam jangka panjang akan lebih menguntungkan baik masyarakat maupun Pemerintah Daerah. Dalam pengembangan cendana sebagai komoditi andalan daerah masa kini dan masa mendatang, selain harus diperhatikan aspek kesesuaian lahan, ekologi dan hukum, aspek lain juga perlu dikaji yakni permodalan, sosial ekonomi dan budaya masyarakat setempat.
SILVIKULTUR CENDANA: MENCARILUASAN BUDIDAYA YANG LAYAK EKOLOGIS DAN EKONOMIS
Husaeni, Endang Ahmad;
Sudaryanto, Sudaryanto
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (622.062 KB)
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1461
Kayu cendana memainkan peranan sangat penting dalam perekonomian Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui sumbangannya sebesar 40% per tahun terhadap PAD.Sumbangan sebesar itu berasal dari pengusahaan hutan alam yang potensinya terus menurun dari tahun ke tahun. Untuk mempertahankan dan sekaligus meningkatkan peranan cendana terhadap perekonomian Propinsi NTT, selain tetap mengusahakan hutan alam yang ada, perlu dibangun kelas perusahaan cendana seluas 10.000 ha,dengan menerapkan sistem silvikultur THPB dan silvikultur intensif.Dengan daur (umur tebang) 50 tahun kelas perusahaan tersebut mampu memproduksi kebutuhan dalam negeri dan untuk ekspor.Pembangunan kelas perusahaan cendana ini dilaksanakan bersama masyarakat di Pulau Timor, Sumba dan Flores, pada ketinggian tempat sekitar 700 m dpi.Adanya kebun benih sangat diperlukan untuk memasok kebutuhan benih setiap tahunnya.
PERANAN CENDANA DALAM PEREKONOMIAN NTT: DULU DAN KINI
Banoet, Herman H
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (320.836 KB)
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1452
Berbagai stigma diberikan untuk cendana (Santalum album L.) berhubungan dengan status dan perlakuan terhadap komoditi tersebut, seperti kayu setan (hau nitu), kayu perkara (hau lasi) dan kayu pemerintah (hau plenat). Penghitungan terhadap produksi cendana dalam kurun waktu 28 tahun (1969-1997) cukup fluktuatif, dengan rataan sebesar 606.000 kg per tahun. Sementara nilai jualnya bervariasi, tergantung dari klasifikasi kayu, yaitu antara Rp. 1.000 (untuk gubal) hingga Rp. 118.000 (untuk kelas A). Perdagangan tersebut telah memberikan kontribusi kepada PAD (Pendapatan Asli Daerah) NTT dalam kurun waktu 8 tahun (1990-1998) dengan rataan sebesar Rp. 4.071.000.000 setiap tahun. Mengingat perdagangan cendana memiliki nilai ekonomi, baik bagi Pemerintah Daerah, masyarakat maupun industri/pedagang cendana, maka diperlukan pokok-pokok pikiran strategis bagi pengembangan dan pengelolaan cendana di masa mendatang.
ANALISIS KESESUAIAN IKLIM UNTUK PENGEMBANGAN CENDANA (Santalum album L.) DI NUSA TENGGARA TIMUR
Boer, Rizaldi;
June, Tania
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1466
Land suitability analysis method is introduced for sandalwood (Santalum album L.) in Nusa Tenggara Timur. It includes analysis on its (I) agro ecological suitability based on crop requirement for climate and soil characteristic, (2) ecological suitability, and (3) social-economic requirement for sustainable and profitable production. Approach to these three components is conducted through desk study/survey and on site research. All information collected and analyzed is combined together in GIS (Geographical Information System) for further use.
PEMASARAN PRODUK MINYAK CENDANA (Santalum album L.): REALITA, TANTANGAN DAN HARAPAN
Hartono, Hartono
BERITA BIOLOGI Vol 5, No 5 (2001)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14203/beritabiologi.v5i5.1457
Salah satu komponen utama masalah tanaman cendana (Santalum album L.) sebagai komoditi perdagangan adalah pemasaran terhadap produk yang diperoleh terutama ekstrak minyaknya. PT Tropical Oil, Kupang, Timor, NTT merupakan suatu perusahaan industri minyak cendana yang selama ini melakukan ekstraksi minyak tanaman cendana menggunakan bahan mentah dari NTT. Makalah ini membahas pandangan pengusaha mengenai jangkauan pasar yang telah dicapai, kecenderungan pasar terhadap produk minyak cendana baik segi kuantitas maupun kualitas, terutama kandungan santalol sebagai komponen mutlak dalam minyak cendana.Berbagai harapan disampaikan,disertai kendala-kendala ketersediaan bahan baku dan pasar(terutama internasional) yang dihadapi seorang pengusaha mulai dari produksi hingga pemasaran dan sumbangsaran demi keberlangsungan produksi dan pemasaran minyak cendana yang telah memiliki segmen pasar tersendiri yang cukup luas.