cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
BERITA BIOLOGI
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 5 (1979)" : 8 Documents clear
AKTIVITAS DAN PERGERAKAN LUTUNG MERAH (PRESBYTIS RUBICUNDUS MULLER) DI CAGAR ALAM TANJUNG PUTING KALIMANTAN TENGAH SUPRIATNA, JATNA
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 5 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.3 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i5.1401

Abstract

Keanekaiagaman primata Indonesia meiupakan suatu kekayaan yang tidak terdapat di negaia lain. Kawasan Indonesia mempunyai primata mulai dari yang berevolusi iendah yaitu Tarsius bancanus sampai yang berevolusi tihggi seperti orangutan (Portgopygmaeus). Beberapa primata ada yang bersifat endemik, seperti lutung meiah di Kalimantan (Davis1962, Medway 1970, Stott & Selsor 1961).Tempat hidup lutung meiah, yaitu pulau Kalimantan, pada dasa waisa sekaiang ini sedang giat dieksploitasi.Eksploitasi diketahui banyak menimbulkan kerugian terhadap penghuninya, misalnya adanya emigrasi dan kepunahan tidak langsung. Beberapa hewan telah menunjukan kelangkaan di daerah yang diekploitasi hutannya.Lutung merah sebagai hewan arboreal mungkin sekali akan terganggu oleh adanya eksploitasi hutan tersebut.Oleh karena kerusakan hutan mungkin akan berpengaruh terhadap tingkah laku lutung, maka penelitian mendasar terhadap hewan ini perlu dilakukan Untuk memulainya dilakukan penelitian awal dalam taraf pengamatan aktivitas, pergerakan dan beberapa segi tingkah laku lutung. Penelitian ini diharapkan dapat membantu cara pelestarian hewan ini.
KEMAMPUAN MEROMBAK KARBOHIDRAT, PROTEIN DAN LEMAK JASAD RENIK YANG BERASAL DARI KECAP ELIDAR, ELIDAR; SASTRAATMADJA, DUDI D.; SAONO, S.; BROTONEGORO, S.
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 5 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.257 KB) | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i5.1400

Abstract

Di Indonesia umumnya kecap dibuat secara fermentasi yang masih bersifat tradisional. Bahan dasar yang telah dimasak dibiarkan saja ditumbuhi berbagai jenis jasad renik. Adakalanya sampai ditumbuhi lebih dari 20 jenis kapang, di samping bakteri dan khamir. Karena belum dipakainya jasad renik tertentu dalam pembuatan kecap secara tradisional tadi maka mutu kecap yang dihasilkan akan berbeda-beda. Dalam proses fermentasi kecap penting adanya jasad renik yang mempunyai kemampuan kuat dalam perombakan serta efisien dalam penguraian bahan substrat dengan waktu fermentasi yang pendek. Menurut Prescot & Dunn (1949) kapang yang aktif dalam fermentasi kecap adalah Aspergillus sp., yang merombak karbohidrat dan protein. Bakteri dan khamir di samping ikut merombak jugamenentukan pembentukan rasa dan aroma.Jasad renik dengan daya rombak yang tinggi diharapkan dapat dimanfaatkan dalam perbaikan cara-cara pembuatan serta mutu kecap. Untuk mendekati persoalan peranan jasad renik dalam proses fermentasi kecap perlu diteliti kemampuan jasad renik tersebut, terutama peranannya dalam merombak karbohidrat, protein dan lemak. Data yang dilaporkan berikut ini merupakan salah satu hasil penelitian Proyek ASEAN Bidang Kedelai dan Bahan Pangan Berprotein Tinggi.
PENGGUNAAN BEBERAPA KULTIVAR PISANG SEBAGAI MEDIUM PINDAHAN SEMAI DENDROBIUM SCHULLERI ROEDJITO, SRI WISMANIAH; SOEROHALDOKO, SOETOMO
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 5 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i5.1398

Abstract

Dendrobium merupakan marga yang memiliki banyak jenis asli Indonesia dan yang berpotensi ekonomi.Dendrobium schulleri J.J.S. misalnya mempunyai sifat-sifat yang menarik yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan lebih lanjut.Seperti diketahui, perbanyakan anggrek dapat dilakukan melalui biji.Secara ini diperoleh bibit yang banyak.Tetapi perbanyakan demikian memerlukan pengetahuan mengenai medium yang cocok untuk menyemaikan biji tersebut dan memeliharanya sampai siap ditanam. Saat ini medium yang cocok untuk D. schulleri belum diketahui. Sehubungan dengan medium untuk menyebarkan biji anggrek, Pages (1971) menambahkan homogenate pisang pada medium Knudson C yang menggunakan bahan-bahan kimia untuk Dendrobium dan Phalaenopsis. Menurut Ochse (1931) buah kultivar-kultivar pisang di Indonesia memiliki sifat-sifat yangberlainan; komposisi kimianya juga berbeda (Direktorat Gizi 1972).Perbedaan ini mungkin dapat memberikan pengaruh pada perkecambahan biji dan pertumbuhan semai anggrek. Untuk itu beberapa pisang yang terdapat di pasar dicoba untuk menumbuhkan biji-biji anggrek D. schulleri.Berbeda dengan Pages (1971) pada penelitian medium pindahan ini hanya digunakan pisang, agar, gula pasir dan air suling tanpa menggunakan Iain-lain bahan kimia seperti pada medium Knudson C.
KEANEKARAGAMAN CONTOH PETAI (PARKIA SPECIOSA) DARI PADANG (SUMATRA BARAT) SASTRAPRADJA, S; DJAJASUKMA, E.
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 5 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i5.1399

Abstract

Di Indonesia ada dua marga polong-polongan yang dimanfaatkan bijinya untuk makanan manusia. Kedua marga tersebut adalah Parkia dan Pithecellebium. Dari tiga Jenis Parkia yang dilaporkan tumbuh di Jawa, P. speciosa merupakan petai yang limum diperjualbelikan.Menurut Backer & Bakhuizen van den Brink (1963), petai menyilang secara alami dengan kedawung (P. roxburghiij dan bastar alaminya adalah P. intermedia.Dari segi morfologi, petai dan kedawung mud&h dibedakan, baik dari segi perawakan pohon maupun sifat-sifat polongnya.Dengan demikian adanya bastar antara kedua jenis yang berbeda sifatnya ini akan dapat dikenali dengan mudah pula.Meskipun petai sudah lama dibudidayakan dan dimanfaatkan, keanekaragaman yang ada pada petai ini belum diungkapkan.Memang benar Backer & Bakhuizen van den Brink (1963) menyebutkan bahwa dua macam P.intermedia menyerupai petai sifat-sifatnya, tetapi secara jelas tidak disinggung sifat-sifat yang berbeda pada contoh-contoh petai sendiri.Berbicara mengenai keanekaragaman petai, pada akhir bulan Mei 1979 dari pasar besar Padang dikumpulkan contoh-contoh petai yang dijual di sana. Keanekaragaman polong dan biji dibahas.Demikian juga kadar protein bijinya.
PENGGUNAAN BEBERAPA KULTIVAR PISANG SEBAGAI MEDIUM PINDAHAN SEMAI DENDROBIUM SCHULLERI SRI WISMANIAH ROEDJITO; SOETOMO SOEROHALDOKO
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 5 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i5.1398

Abstract

Dendrobium merupakan marga yang memiliki banyak jenis asli Indonesia dan yang berpotensi ekonomi.Dendrobium schulleri J.J.S. misalnya mempunyai sifat-sifat yang menarik yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan lebih lanjut.Seperti diketahui, perbanyakan anggrek dapat dilakukan melalui biji.Secara ini diperoleh bibit yang banyak.Tetapi perbanyakan demikian memerlukan pengetahuan mengenai medium yang cocok untuk menyemaikan biji tersebut dan memeliharanya sampai siap ditanam. Saat ini medium yang cocok untuk D. schulleri belum diketahui. Sehubungan dengan medium untuk menyebarkan biji anggrek, Pages (1971) menambahkan homogenate pisang pada medium Knudson C yang menggunakan bahan-bahan kimia untuk Dendrobium dan Phalaenopsis. Menurut Ochse (1931) buah kultivar-kultivar pisang di Indonesia memiliki sifat-sifat yangberlainan; komposisi kimianya juga berbeda (Direktorat Gizi 1972).Perbedaan ini mungkin dapat memberikan pengaruh pada perkecambahan biji dan pertumbuhan semai anggrek. Untuk itu beberapa pisang yang terdapat di pasar dicoba untuk menumbuhkan biji-biji anggrek D. schulleri.Berbeda dengan Pages (1971) pada penelitian medium pindahan ini hanya digunakan pisang, agar, gula pasir dan air suling tanpa menggunakan Iain-lain bahan kimia seperti pada medium Knudson C.
KEANEKARAGAMAN CONTOH PETAI (PARKIA SPECIOSA) DARI PADANG (SUMATRA BARAT) S SASTRAPRADJA; E. DJAJASUKMA
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 5 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i5.1399

Abstract

Di Indonesia ada dua marga polong-polongan yang dimanfaatkan bijinya untuk makanan manusia. Kedua marga tersebut adalah Parkia dan Pithecellebium. Dari tiga Jenis Parkia yang dilaporkan tumbuh di Jawa, P. speciosa merupakan petai yang limum diperjualbelikan.Menurut Backer & Bakhuizen van den Brink (1963), petai menyilang secara alami dengan kedawung (P. roxburghiij dan bastar alaminya adalah P. intermedia.Dari segi morfologi, petai dan kedawung mud&h dibedakan, baik dari segi perawakan pohon maupun sifat-sifat polongnya.Dengan demikian adanya bastar antara kedua jenis yang berbeda sifatnya ini akan dapat dikenali dengan mudah pula.Meskipun petai sudah lama dibudidayakan dan dimanfaatkan, keanekaragaman yang ada pada petai ini belum diungkapkan.Memang benar Backer & Bakhuizen van den Brink (1963) menyebutkan bahwa dua macam P.intermedia menyerupai petai sifat-sifatnya, tetapi secara jelas tidak disinggung sifat-sifat yang berbeda pada contoh-contoh petai sendiri.Berbicara mengenai keanekaragaman petai, pada akhir bulan Mei 1979 dari pasar besar Padang dikumpulkan contoh-contoh petai yang dijual di sana. Keanekaragaman polong dan biji dibahas.Demikian juga kadar protein bijinya.
KEMAMPUAN MEROMBAK KARBOHIDRAT, PROTEIN DAN LEMAK JASAD RENIK YANG BERASAL DARI KECAP ELIDAR ELIDAR; DUDI D. SASTRAATMADJA; S. SAONO; S. BROTONEGORO
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 5 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i5.1400

Abstract

Di Indonesia umumnya kecap dibuat secara fermentasi yang masih bersifat tradisional. Bahan dasar yang telah dimasak dibiarkan saja ditumbuhi berbagai jenis jasad renik. Adakalanya sampai ditumbuhi lebih dari 20 jenis kapang, di samping bakteri dan khamir. Karena belum dipakainya jasad renik tertentu dalam pembuatan kecap secara tradisional tadi maka mutu kecap yang dihasilkan akan berbeda-beda. Dalam proses fermentasi kecap penting adanya jasad renik yang mempunyai kemampuan kuat dalam perombakan serta efisien dalam penguraian bahan substrat dengan waktu fermentasi yang pendek. Menurut Prescot & Dunn (1949) kapang yang aktif dalam fermentasi kecap adalah Aspergillus sp., yang merombak karbohidrat dan protein. Bakteri dan khamir di samping ikut merombak jugamenentukan pembentukan rasa dan aroma.Jasad renik dengan daya rombak yang tinggi diharapkan dapat dimanfaatkan dalam perbaikan cara-cara pembuatan serta mutu kecap. Untuk mendekati persoalan peranan jasad renik dalam proses fermentasi kecap perlu diteliti kemampuan jasad renik tersebut, terutama peranannya dalam merombak karbohidrat, protein dan lemak. Data yang dilaporkan berikut ini merupakan salah satu hasil penelitian Proyek ASEAN Bidang Kedelai dan Bahan Pangan Berprotein Tinggi.
AKTIVITAS DAN PERGERAKAN LUTUNG MERAH (PRESBYTIS RUBICUNDUS MULLER) DI CAGAR ALAM TANJUNG PUTING KALIMANTAN TENGAH JATNA SUPRIATNA
BERITA BIOLOGI Vol 2, No 5 (1979)
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v2i5.1401

Abstract

Keanekaiagaman primata Indonesia meiupakan suatu kekayaan yang tidak terdapat di negaia lain. Kawasan Indonesia mempunyai primata mulai dari yang berevolusi iendah yaitu Tarsius bancanus sampai yang berevolusi tihggi seperti orangutan (Portgopygmaeus). Beberapa primata ada yang bersifat endemik, seperti lutung meiah di Kalimantan (Davis1962, Medway 1970, Stott & Selsor 1961).Tempat hidup lutung meiah, yaitu pulau Kalimantan, pada dasa waisa sekaiang ini sedang giat dieksploitasi.Eksploitasi diketahui banyak menimbulkan kerugian terhadap penghuninya, misalnya adanya emigrasi dan kepunahan tidak langsung. Beberapa hewan telah menunjukan kelangkaan di daerah yang diekploitasi hutannya.Lutung merah sebagai hewan arboreal mungkin sekali akan terganggu oleh adanya eksploitasi hutan tersebut.Oleh karena kerusakan hutan mungkin akan berpengaruh terhadap tingkah laku lutung, maka penelitian mendasar terhadap hewan ini perlu dilakukan Untuk memulainya dilakukan penelitian awal dalam taraf pengamatan aktivitas, pergerakan dan beberapa segi tingkah laku lutung. Penelitian ini diharapkan dapat membantu cara pelestarian hewan ini.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

1979 1979


Filter By Issues
All Issue Vol 21, No 3 (2022): Berita Biologi Vol 21, No 2 (2022): Berita Biologi Vol 21, No 1 (2022) Vol 21, No 3 (2021): Berita Biologi Vol 20, No 2 (2021): Berita Biologi Vol 20, No 1 (2021) Vol 19, No 3B (2020) Vol 19, No 3A (2020) Vol 19, No 2 (2020) Vol 19, No 1 (2020) Vol 18, No 3 (2019) Vol 18, No 2 (2019) Vol 18, No 1 (2019) Vol 18, No 1 (2019) Vol 17, No 3 (2018) Vol 17, No 3 (2018) Vol 17, No 2 (2018) Vol 17, No 2 (2018) Vol 17, No 1 (2018) Vol 17, No 1 (2018) Vol 16, No 3 (2017) Vol 16, No 3 (2017) Vol 16, No 2 (2017) Vol 16, No 2 (2017) Vol 16, No 1 (2017) Vol 16, No 1 (2017) Vol 15, No 3 (2016) Vol 15, No 3 (2016) Vol 15, No 2 (2016) Vol 15, No 2 (2016) Vol 15, No 1 (2016) Vol 15, No 1 (2016) Vol 14, No 3 (2015) Vol 14, No 3 (2015) Vol 14, No 2 (2015) Vol 14, No 2 (2015) Vol 14, No 1 (2015) Vol 14, No 1 (2015) Vol 13, No 3 (2014) Vol 13, No 3 (2014) Vol 13, No 2 (2014) Vol 13, No 2 (2014) Vol 13, No 1 (2014) Vol 13, No 1 (2014) Vol 12, No 3 (2013) Vol 12, No 3 (2013) Vol 12, No 2 (2013) Vol 12, No 2 (2013) Vol 12, No 1 (2013) Vol 12, No 1 (2013) Vol 11, No 3 (2012) Vol 11, No 3 (2012) Vol 11, No 2 (2012) Vol 11, No 2 (2012) Vol 11, No 1 (2012) Vol 11, No 1 (2012) Vol 10, No 6 (2011) Vol 10, No 6 (2011) Vol 10, No 5 (2011) Vol 10, No 5 (2011) Vol 10, No 4 (2011) Vol 10, No 4 (2011) Vol 10, No 3 (2010) Vol 10, No 3 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 6 (2009) Vol 9, No 6 (2009) Vol 9, No 5 (2009) Vol 9, No 5 (2009) Vol 9, No 4 (2009) Vol 9, No 4 (2009) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 8, No 6 (2007) Vol 8, No 6 (2007) Vol 8, No 5 (2007) Vol 8, No 5 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 4(a) (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 4(a) (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 6 (2005) Vol 7, No 6 (2005) Vol 7, No 5 (2005) Vol 7, No 5 (2005) Vol 7, No 4 (2005) Vol 7, No 4 (2005) Vol 7, No 1&2 (2004) Vol 7, No 1&2 (2004) Vol 7, No 3 (2004) Vol 7, No 3 (2004) Vol 6, No 6 (2003) Vol 6, No 6 (2003) Vol 6, No 5 (2003) Vol 6, No 5 (2003) Vol 6, No 4 (2003) Vol 6, No 4 (2003) Vol 6, No 3 (2002) Vol 6, No 3 (2002) Vol 6, No 2 (2002) Vol 6, No 2 (2002) Vol 6, No 1 (2002) Vol 6, No 1 (2002) Vol 5, No 6 (2001) Vol 5, No 6 (2001) Vol 5, No 5 (2001) Vol 5, No 5 (2001) Vol 5, No 4 (2001) Vol 5, No 4 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 5 (1999) Vol 4, No 5 (1999) Vol 4, No 2&3 (1998) Vol 4, No 2&3 (1998) Vol 4, No 4 (1998) Vol 4, No 4 (1998) Vol 4, No 1 (1997) Vol 3, No 9 (1989) Vol 3, No 8 (1988) Vol 3, No 7 (1987): (Supplement) Vol 3, No 7 (1987) Vol 3, No 6 (1986) Vol 3, No 5 (1986) Vol 3, No 4 (1986) Vol 3, No 3 (1985) Vol 3, No 2 (1985) Vol 3, No 1 (1985) Vol 2, No 9&10 (1984) Vol 2, No 9&10 (1984) Vol 2, No 8 (1984): (Supplement) Vol 2, No 8 (1984) Vol 2, No 7 (1983) Vol 2, No 6 (1981) Vol 2, No 5 (1979) Vol 2, No 5 (1979) Vol 2, No 4 (1979) Vol 2, No 3 (1979) Vol 2, No 2 (1977) Vol 2, No 1 (1977) Vol 1, No 4 (1974) Vol 1, No 3 (1971) Vol 1, No 2 (1968) Vol 1, No 1 (1968) More Issue