cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
THE AMPHIBIANS SPECIES IN GUNUNG HALIMUN NATIONAL PARK, WEST JAVA, INDONESIA Hellen - Kurniati
ZOO INDONESIA Vol 15, No 2 (2006): November 2006
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v15i2.112

Abstract

Kurniati. H. 2006. The amphibians species in Gunung Halimun National Park,West Java. Zoo Indonesia Vol. 15 (2): 107-120. Five families of frog that exist inJava are represented in Gunung Halimun National Park: the Megophryidae, theBufonidae, the Microhylidae, the Ranidae and the Rhacophoridae. In the park, theBufonidae consists of two subfamilies, the Adenominae and the Bufoninae. TheMicrohylidae only has one subfamily, the Microhylinae, whereas the Ranidae consistsof two subfamilies, the Raninae and the Dicroglossinae. Frog fauna in GunungHalimun National Park is comparatively rich, including 25 species of the 33 species ofnative javan frogs. During herpetofauna survey in October 2001 to August 2002,twenty-five species of amphibian were found in Gunung Halimun National Park; theyconsist of two species of the Megophryidae, five species of the Bufonidae, one speciesTHE AMPHIBIANS SPECIES IN GUNUNG HALIMUN NATIONAL PARK, WEST JAVA,INDONESIA: Zoo Indonesia Vol. 15(2):107 – 120.108of the Microhylidae, twelve species of the Ranidae and five species of theRhacophoridae. Among 33 species of the native javan frogs, eight species areendemic to Java; however six species of the endemic species are inhabited in thepark; they are Leptophryne cruentata, Microhyla achatina, Huia masonii, Nyctyxalusmargaritifer, Philautus vittiger and Rhacophorus javanus.. In Gunung Halimun NationalPark, two major type macro habitats of frog are generally recognized. One major typemacro habitat is primary forest, where Leptobrachium hasseltii, Leptophryneborbonica, L. cruentata, Huia masonii, Rana hosii, Limnonectes microdiscus, N.margaritifer, P. aurifasciatus and P. vittiger are very restricted to this habitat. Anothertype is disturbed habitat, where human has intervened the habitat as secondary forest,degraded forest, cultivation or paddy field. More than half frogs species occur in thesehabitats.
CAN BODY WEIGHT EXPLAIN CLUTCH SIZE? Asep S Adhikerana
ZOO INDONESIA No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i20.2413

Abstract

Abstrak
DISTRIBUSI LOKAL CARIDINA SPP. DAN ATYA SPINIPES (CURSTACEA; ATYIDAE) DI SUNGAI CITAMANJAYA DAN CIBINUA KAWASAN UJUNG KULON Dede Irving Hartoto
ZOO INDONESIA No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i5.2373

Abstract

The specimen collected
ANALISIS MORFOLOGI ANTARPOPULASI Uca vocans (BRACHYURA: OCYPODIDAE) PADA BEBERAPA KAWASAN MANGROVE DI PULAU LOMBOK Dewi Citra Muniarti
ZOO INDONESIA Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i2.2336

Abstract

Uca vocans, salah satu jenis kepiting pemakan deposit (bakteri dan protozoa) dan detritus, memiliki sebaran yang luas di mangrove pulau Lombok dan memiliki variasi morfologi yang disebabkan oleh kondisi lingkungan, persaingan dan pemangsaan. Penelitian ini dilakukan agar diketahui variasi morfologi berdasarkan ratio ukuran tubuh. Metode analisis yang digunakan adalah Discriminant Function A nalysis (DFA). Hasil analisis menunjukkan variasi terbesar ditemukan pada populasi Teluk Eka, Tanjung Luar dan Teluk Kodek, sedangkan variasi yang kecil pada Desa Sariwe dan Teluk Rasu. Karakteristik penyebab variasi terutama ditemukan pada capit besar, sedangkan karakter lainnya cenderung seragam. Karakter utama yang menjadi penentu pengelompokan populasi adalah panjang tangkai mata.
Cacing parasit pada tikus di perkebunan karet di Desa Bogorejo, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung dan tinjauan zoonosisnya Kartika Dewi; Endang Purwaningsih
ZOO INDONESIA Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v22i2.319

Abstract

Tikus mempunyai arti penting dalam bidang kesehatan dan ekonomi sehingga hewan ini sering dijadikan obyek penelitian banyak peneliti. Penelitian cacing parasit pada tikus ini dilakukan di perkebunan karet Lampung. Sebanyak 17 ekor tikus yang terdiri dari 5 jenis tertangkap dan kemudian diperiksa ada tidaknya cacing parasit. Setelah diperiksa dari 17 ekor tikus tersebut, 11 ekor (64,71%) terinfeksi nematoda dan/ atau cestoda dan 6 lainnya tidak terinfeksi. Cacing parasit yang ditemukan sebanyak 6 jenis nematoda dan 1 jenis cestoda.
Keanekaragaman Jenis Kelelawar di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat Agus Priyono Kartono; Kendy Danang Prayogi; Ibnu Maryanto
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v26i1.3533

Abstract

Kelelawar memegang peranan penting di dalam rantai makananan dan salah satu fungsi utamanya sebagai pemencar biji, polinator dan pengontrol serangga. Untuk mengetahui struktur spasial habita dan keragaman jenisnya maka penelitian kelelawar dilakukan di hutan pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data lapangan dilakukan selama empat bulan (Mei–Agustus 2014) di empat tipe tutupan lahan, yakni: tegakan agathis, pinus, puspa, dan agrofor-est. Pada setiap tipe tutupan lahan dilakukan pemasangan mist-net dan harp-trap dan secara total ada 27 malam trap/tutupan lahan. Hasil penelitian menunjukkan ada 19 jenis dari 4 famili yang tercatatat yaitu 9 jenis (47,4%) Pteropodi-dae, , 2 jenis (10,5%) Rhinolophidae, 2 jenis (10,5%) Hipposideridae, dan 6 jenis Vespertilionidae (31,6%). Areal te-gakan puspa memiliki kekayaan jenis kelelawar tertinggi yang mencapai 57,89% dari total jenis ditemukan, sedangkan indeks keragaman jenis tertinggi ditemukan di areal tegakan agathis dengan nilai H’=1,76. Kesamaan komunitas kelela-war tertinggi terjadi antara areal tegakan puspa dengan tegakan agathis dengan nilai indeks Jaccard sebesar 42,86%, sedangkan terendah ditemukan antara areal tegakan puspa dengan areal agroforest (26,67%).
STUDI PENDAHULUAN KOMUNITAS IKAN DI PERAIRAN TAMAN NASIONAL KAYAN MENTARANG KALIMANTAN TIMUR Haryono Haryono
ZOO INDONESIA No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v0i29.2364

Abstract

Penelitian dilakukan
KOMUNITAS BURUNG BAWAH TAJUK DI HUTAN PERBATASAN, KABUPATEN NUNUKAN, KALIMANTAN UTARA Muhammad Irham
ZOO INDONESIA Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v24i1.737

Abstract

Penelitian komunitas burung bawah tajuk telah dilakukan di hutan perbatasan Indonesia-Malaysia, yaitu Tau Lumbis (Kabungolor dan Kabalob) dan Simenggaris. Satu lokasi lainnya tidak berada di perbatasan, yaitu Hutan Wisata KM.8 Malinau. Tujuannya adalah untuk mengetahui komunitas burung dari segi kekayaan jenis dan kelompok relung mencari makan (feeeding guild). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan jaring kabut. Penelitian ini mendapatkan 44 spesies dari 13 famili dengan jumlah individu sebanyak 186 ekor. Keanekaragaman tertinggi dijumpai di Kabungolor (28 jenis, indeks Shannon-Wiener: 3,10) dan daerah yang paling sedikit jenis ada di Hutan Wisata KM.8 Malinau (11 jenis, indeks Shannon-Wiener: 2,16). Sedangkan untuk komunitas feeding guilds, Kabalob didominasi oleh insectivore frugivore dan flycatching insectivore; Kabungolor memiliki lebih banyak spesies untuk kelompok insectivore frugivore dan shrub-foliage gleaning insectivore; komposisi guilds untuk Simenggaris hampir sama namun cenderung pada flycatching insectivore, insectivore frugivore dan shrub-foliage gleaning insectivore. Komunitas burung di KM.8 Malinau cenderung melimpah untuk insectivore frugivore dan nectarivore. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman burung bawah tajuk cenderung menurun sejalan dengan tingkat kerusakan habitat. Selain itu perubahan kondisi mikrohabitat memberikan pengaruh kepada komposisi burung dimana feeding guilds cenderung berubah dari kelompok insectivore ke kelompok frugivore dan nectarivore.
A NEW RECORD OF Euhampsonia roepkei Holloway, 1983 (LEPIDOPTERA: NOTODONTIDAE) FROM GUNUNG HALIMUN-SALAK NATIONAL PARK Hari - Sutrisno
ZOO INDONESIA Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v18i1.136

Abstract

Notodontidae, a moderate family withinLepidoptera, consists of at least 3500species around the world. The speciesare mostly moderate to large in size withbiologically cryptic, but aestheticallypleasing wing patterns. The wings,especially the forewings, are usuallylonger and relatively narrow, as is theabdomen. The wing scaling is oftencoarse and the patterning never verycrisply defined.
Peranan Burung sebagai Agen Penyebaran Benalu pada Jati di Kebun Benih Klonal (KBK) Padangan, Perum Perhutani Zainal Muttaqin; Sri Wilarso Budi R.; Basuki Wasis; Iskandar Z. Siregar; Corryanti Corryanti
ZOO INDONESIA Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v25i2.3358

Abstract

Tujuan penelitian ini ialah untuk menelaah peranan burung sebagai agen penyebaran benalu yang menginfeksi tegakan jati di Kebun Benih Klonal (KBK) Padangan. Rancangan penelitian berupa Petak Contoh Pengamatan (PCP) terdiri atas Petak Ukur Pengamatan (PUP-PUP) berukuran 50m x 50m sebanyak empat PUP dalam unit PCP dibedakan pada tingkat serangan benalu ringan, sedang, berat dan kontrol. Metode penilaian peranan burung menggunakan focal animal sampling dengan cara pengamatan perilaku burung yang berinteraksi dengan jenis benalu dominan Dendrophthoe pentandra pada jati; dilengkapi inventarisasi jumlah, kelimpahan relatif, dan penyebarannya menggunakan metode IPA (Index ponctualle de’Abondance). Hasil pengamatan menunjukkan terdapat tiga kelompok peranan burung sebagai agen penyebaran benalu ialah: 1) specialist frugivor ialah pemakan buah yang menangani buah benalu secara lengkap dengan cara defekasi, regurgitasi, dan pecking meliputi cabai jawa (Dicaeum trochileum), cabai polos (Dicaeum concolor), cabai gunung (Dicaeum sanguinolentum), dan khusus cucak kutilang (Pynonotus aurigaster) yang menangani buah benalu secara regurgitasi dan pecking dianggap sebagai secondary dispersers, 2) generalist frugivor yang menangani buah benalu secara tidak lengkap dianggap penyebar tambahan (occasionally dispersers) meliputi madu sriganti (Nectarinia jugularis), cinenen pisang (Orthotomus sutorius), madu jawa (Aethopyga mystacalis), 3) opportunistic frugivor yang tidak menangani buah benalu atau berkaitan tidak langsung dengan penyebaran biji benalu sebanyak 13 jenis burung lainnya. Parameter populasi burung menurut jumlah, kelimpahan relatif dan penyebarannya yang luas mencakup lima urutan teratas ialah cabai jawa (D. trochileum), madu sriganti (N. jugularis), bondol jawa (Lonchura leucogastroides), sepah hutan (Pericrocotus flammeus), cucak kutilang (Pynonotus aurigaster).

Filter by Year

1983 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue