cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2000)" : 8 Documents clear
Aspek Kognitif Dan Psikososial pada Anak Dengan Palsi Serebral Oka Lely AA; Soetjiningsih Soetjiningsih
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.109-12

Abstract

Palsi serebral merupakan kelainan motorik yang banyak dijumpai pada anak. Kelainanini disebabkan oleh kerusakan otak yang menetap, tidak progresif, terjadi pada usia dinidan merintangi perkembangan otak normal. Pusat motorik di otak terletak di bagianposterior dari lobus frontalis dan di sebelah anteriornya terletak pusat menyimpan ingatanbaru. Lobus temporal, parietal dan oksipital juga sangat berpengaruh terhadap fungsimotorik yang berat seperti palsi serebral, maka kerusakan otak yang terjadi cukup luasatau penyebar. Gangguan kompetensi kognitif (intelegensi) terjadi primer akibatkerusakan otak pada palsi serebral, juga sekunder akibat gangguan motorik serta kesulitananak mengeksplorasi lingkungan yang diperlukan dalam perkembangan kognitif. Pasienpalsi serebral yang dilatar belakangi kelahiran prematur, BBLR dan kesulitan perawatanlainnya akan menimbulkan hambatan interaksi visual, auditif dan takut terhadaplingkungannya, sehingga akan terjadi selain cacat fisik juga cacat sosial. Pada usiaprasekolah anak palsi serebral mulai merasakan bahwa diri mereka berbeda dengan anaklain. Hal ini menimbulkan rasa takut, tidak nyaman dan ingin lepas dari lingkunganorang tua. Pada usia sekolah akan timbul rasa cemas akan kecacatannya, depresi danpada usia remaja masalah psikososial timbul akibat kemunduran fisik, serta keterlambatanaktivitas. Pada usia dewasa, secara ekonomi sering tergantung pada orang lain dansepertinya mereka mengalami isolasi sosial.
Peran Nitrogen Oksida pada Infeksi Eka Gunawijaya; Arhana BNP
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.55 KB) | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.113-9

Abstract

Nitrogen oksida (NO) merupakan molekul kimia reaktif, disintesis dari L-Arginin denganbantuan NO synthase (NOS) dan ko-faktor. Aktifitas biologis NO terbatas dekat tempatbiosintesisnya, karena waktu paruh yang singkat. Nitrogen oksida menyebabkan relaksasiotot polos, menghambat agregasi dan adhesi trombosit, serta menghambat proliferasisel. Otot polos yang dipengaruhi ialah otot polos vaskular, traktus respiratorius,gastrointestinal, dan uterus. Relaksasi otot polos vaskular terjadi setelah sintesis sel endotelvaskular, sedangkan yang non vaskular melalui perannya sebagai neurotransmiter nonadrenergik non kolinergik.Dalam proses imunologis, NO dihasilkan oleh sel yang terpapar infeksi. Meliputi selmakrofag, sel neutrofil, sel Kupffer, sel hepatosit, sel astrosit dan mikroglial, sel kondrosit,sel otot polos vaskular, dan sel otot jantung. Pada keadaan infeksi Nitrogen oksidadisintesis dalam jumlah besar. Nitrogen oksida yang dihasilkan bersifat sitotoksik terhadapsel target, mikroorganisme patogen, dan juga pada sel tubuh normal. Inhibitor enzimNOS dan guanilat siklase bisa mengatasi sepsis, tetapi harus diberikan dini sebelumterjadi syok septik berkepanjangan. Inhibitor tersebut meliputi: deksametason, L-NAME,metilin blue, yomogin, aminoguanidin, econazol, dan indometasin. Nitrogen oksida jugaberperan menimbulkan kerusakan jaringan dan organ akibat terapi reoksigenasi padasyok septik yang mengalami hipoksia.
Pengaruh Suplementasi Vitamin A Terhadap Campak Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.263 KB) | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.72-6

Abstract

Peran vitamin A dan imunitas sudah banyak dibuktikan dari penelitian sebelumnya.Peran suplementasi vitamin A pada imunisasi campak telah diteliti pada bayi usia 6bulan di daerah Bogor yang merupakan daerah endemi defisiensi vitamin A. Penelitiandilakukan secara acak buta ganda, uji klinis kontrol plasebo terhadap 336 bayi usia 6bulan. Subjek dibagi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat suplementasi vitaminA dosis tinggi (100.000 IU) dan kelompok yang mendapat plasebo pada saat imunisasicampak. Hasil serokonversi terhadap antibodi campak setelah 1 bulan imunisasi adalah78,5% pada kelompok vitamin A dan 84,7% pada kelompok plasebo (p=0,16) sedangkan6 bulan setelah imunisasi didapatkan hasil serokonversi 74,6% pada kelompok vitaminA dan 81,8% pada kelompok plasebo (p=0,13). Perbedaan yang bermakna terlihat padakelompok bayi yang masih mempunyai titer antibodi maternal terhadap campak yangmasih tinggi (>1:25) yaitu serokonversi 1 bulan setelah imunisasi sebesar 43,7% padakelompok vitamin A dan 64,4% pada kelompok plasebo (p=0,04) serta titer protektifsetelah 6 bulan sebesar 50,0% pada kelompok vitamin A dan 69,6% pada kelompokplasebo (p=0,03). Dijumpai pula bayi yang mendapat vitamin A, jumlah ruam setelahimunisasi lebih sedikit daripada kelompok yang tidak mendapat vitamin A. Sebagaikesimpulan dapat dikemukakan bahwa vitamin A dapat menghambat replikasi virusvaksin campak.
Ensefalitis Herpes Simplex pada Anak Hardiono D Pusponegoro
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.184 KB) | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.77-81

Abstract

Ensefalitis herpes simplex (EHS) seringkali berakibat fatal. Virus herpes simpleks (VHS)dapat menyerang semua umur tanpa perbedaan jenis kelamin. Angka kejadian EHSadalah 1:(250.000–500.000) populasi/tahun. Pada fase prodromal dapat ditemukanmalaise dan disertai demam selama 1-7 hari. Pasien mengalami penurunan kesadarandan kejang, dapat berupa kejang umum. Gejala neurologi umumnya ditemukanhemiparesis, sedangkan pemeriksaan darah tepi rutin pada EHS tidak efektif. EEG sangatmembantu bila ditemukan perlambatan fokal di daerah temporal atau fronto temporal.Titer antibodi terhadap VHS dapat diperiksa dari serum dan cairan serebrospinalis.Pengobatan VHS berupa terapi simtomatis dan suportif ditambah antivirus spesifik(acyclovir). Prognosis pasien EHS yang tidak diobati sangat buruk, sedangkan padapengobatan dini dengan acyclovir akan menurunkan mortalitas menjadi 28%.
Demam pada Anak Ismoedijanto Ismoedijanto
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.103-8

Abstract

Demam pada anak merupakan salah satu masalah yang masih relevan untuk para praktisipediatri. Demam merupakan tanda adanya kenaikan set-point di hipotalamus akibatinfeksi atau adanya ketidakseimbangan antara produksi dan pengeluaran panas.Sebaliknya tidak semua anak yang terkena infeksi akan menunjukkan gejala demam,semakin muda umurnya, semakin tidak jelas gambaran klinisnya. Tindakan pada anakdengan demam diawali dengan pertimbangan apakah ada kegawatan, apa penyebabnyadan apakah demam perlu segera diturunkan. Agar tindakan tersebut tepat dan terarah,diperlukan suatu pengelompokan / klasifikasi pasien agar dapat digunakan suatu algoritmaumum. Pada tiap kelompok tetap ada kriteria kegawatan, kriteria jenis infeksi yangmengarah kepada tindakan yang diambil, terutama perawatan dan pemberian antibiotiksecara empirik. Tindakan yang dilaksanakan sebaiknya bukan tindakan yang sifatnyasesaat, tetapi merupakan tindakan yang berkesinambungan, sampai pasien lepas darimasalahnya. Keputusan untuk dirawat harus dilanjutkan dengan pemeriksaanlaboratorium dan pemberian antibiotik empirik. Tindakan lanjutan akan disesuaikandengan hasil pemeriksaan penunjang, respons pasien terhadap pengobatan sampaimasalahnya selesai dengan tuntas.
Infeksi Helicobacter Pylori pada Anak Badriul Hegar
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.82-9

Abstract

Helicobacter pylori (H. pylori) berkolonisasi di dalam lambung manusia, terutama padaanak. Infeksi H. pylori pada umumnya asimtomatis. Vacuolating cytotoxin A (Vac A) dancytotoxic-associated gene A (CagA) merupakan faktor virulensi yang dihubungkan denganmanifestasi klinis yang berbeda. Kejadian infeksi ini sangat tinggi di negara berkembangyang dihubungkan dengan kondisi sosial ekonomi dan kebersihan lingkungan. Biakanbiopsi jaringan lambung merupakan uji diagnostik baku emas terhadap infeksi H. pylori.Uji urea napas sangat berguna untuk mengevaluasi eradikasi. Tingkat sensitivitas danspesifisitas pada uji serologi rendah pada masa anak-anak, sedangkan terapi eradikasiyang direkomendasi saat ini terdiri dari proton pump inhibitors (PPI) yang dikombinasidengan 2 jenis antibiotik (klaritromisin, amoksisilin atau metronidazol).
Sepsis pada Neonatus (Sepsis Neonatal) Titut S Pusponegoro
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.96-102

Abstract

Sepsis neonatal adalah sindrom klinik penyakit sistemik, disertai bakteremia yang terjadipada bayi dalam satu bulan pertama kehidupan. Angka kejadian sepsis neonatal adalah1-10 per 1000 kelahiran hidup. Sepsis neonatal dapat terjadi secara dini, yaitu pada 5-7hari pertama dengan organisme penyebab didapat dari intrapartum atau melalui salurangenital ibu. Sepsis neonatal dapat terjadi setelah bayi berumur 7 hari atau lebih yangdisebut sepsis lambat, yang mudah menjadi berat dan sering menjadi meningitis. Sepsisnosokomial terutama terjadi pada bayi berat lahir sangat rendah atau bayi kurang bulandengan angka kematian yang sangat tinggi. Karena masih tingginya angka kematiansepsis neonatal, tatalaksana yang utama adalah upaya pencegahan dengan pemakaianproteksi di setiap tindakan terhadap neonatus, termasuk pemakaian sarung tangan,masker, baju dan kacamata debu serta mencuci segera tangan dan kulit yang terkenadarah atau cairan tubuh lainnya.
Pendekatan Diagnostik Serologik dan Pelacak Antigen Salmonella typhi Sylvia Retnosari; Alan R Tumbelaka
Sari Pediatri Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp2.2.2000.90-5

Abstract

Biakan empedu merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis demam tifoid namunmemerlukan waktu 5-7 hari untuk mendapatkan hasilnya. Kegunaan pemeriksaan serologiWidal sampai saat ini masih kontroversial. Hal lain yang patut diperhatikan adalahbelum ditetapkannya nilai cut off titer antibodi dalam uji Widal khususnya pada demamtifoid anak. Oleh karena itu perlu adanya suatu teknik pemeriksaan penunjang lain yangideal (cepat, sensitif, spesifik dan murah) sebagai alternatif uji diagnostik demam tifoid.Diagnosis demam tifoid pada anak kadangkala sulit ditegakkan atas dasar gambaranklinis saja, oleh karena gambaran klinis penyakit ini amat bervariasi dan umumnya tidakkhas, oleh karena itu pemeriksaan laboratorium klinik yang dapat diandalkan sangatdiperlukan. Secara garis besar pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosisdemam tifoid adalah: (1) isolasi kuman S. typhi dari biakan spesimen pasien, (2) ujiserologi untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap S. typhi dan mendeteksi adanyaantigen spesifik dari S. typhi, dan (3) pemeriksaan melacak adanya DNA S. typhi. Telahbanyak usaha yang dilakukan untuk mendapatkan pemeriksaan laboratorium yang andalsebagai penunjang diagnosis demam tifoid. Beberapa pemeriksaan uji laboratoriumtersebut masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Di Indonesiasarana penunjang diagnosis demam tifoid yang ideal harus mempunyai sifat andal, dapatmemberikan diagnosis yang cepat, praktis dan tentu tidak mahal. Untuk tujuan ini,perkembangan pemeriksaan laboratorium diagnostik terhadap demam tifoid ke arahtehnik dot enzyme immunoassay, baik untuk keperluan penentuan antigen maupunantibodi terhadap kuman S. typhi kiranya akan dapat memenuhi persyaratan tersebutdi atas.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2000 2000


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue