cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2001)" : 12 Documents clear
Pola Defekasi pada Anak Edi S. Tehuteru; Badriul Hegar; Agus Firmansyah
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.129-33

Abstract

Defekasi merupakan salah satu aktivitas manusia yang harus dilalui di dalam kehidupansehari-harinya. Pola defekasi pada anak sangat bervariasi dan sangat bergantung padafungsi organ, susunan saraf, pola makan, serta usia anak. Menilai pola defekasi padaanak berarti menilai frekuensi defekasi, konsistensi dan warna tinjanya. Berdasarkanpenelitian yang telah dilakukan di beberapa negara di Amerika, Eropa, dan Asia-Pasifikdiketahui bahwa terjadi penurunan frekuensi defekasi sesuai dengan bertambahnya usiaanak, sedangkan perubahan konsistensi dan warna tinja sesuai dengan pola makan. Sejauhini belum pernah dilaporkan tentang pola defekasi pada anak Indonesia.
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Antigen Vi Polisakarida Kapsular Hartono Gunardi; Soedjatmiko Soedjatmiko; Rini Sekartini; Jeane Roos Ticoalu
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.667 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.125-8

Abstract

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Upaya pencegahan meliputi perbaikan sanitasi lingkungan, higiene perorangan, persiapan makanan yang baik dan pemberian vaksin. Baik vaksin tifoid peroral maupun parenteral dapat mencegah gejala klinis demam tifoid. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler pada anak Indonesia. Metode. Penelitian deskriptif potong-lintang dilakukan pada anak Indonesia sehat umur 2-5 tahun yang mengunjungi Klinik Tumbuh Kembang Utan Kayu pada Juli 2000 atau Klinik Dokter Keluarga Kiara pada Agustus 2000. Digunakan vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler (typhim-Vi) dalam kemasan 10 ml. Penyuntikan 0,5 ml vaksin dilakukan oleh dokter Peserta Pendidikan Spesialis Anak pada paha bagian anterolateral dengan menggunakan semprit steril sekali pakai. KIPI dimonitor dengan menggunakan formulir KIPI Departemen Kesehatan. Hasil. Dari 198 anak yang divaksinasi, KIPI yang berhasil dipantau 174 (87,9%) anak. Gejala klinis KIPI yang ditemukan adalah nyeri pada tempat suntikan (44,8%), demam > 38,5∞ C (14,4%), indurasi (9,2%), dan muntah (0,6%). Kesimpulan. KIPI vaksin antigen Vi polisakarida kapsuler penelitian ini cukup komparabel dengan penelitian lain dalam hal demam. Bengkak dan indurasi lebih tinggi dibanding penelitian lain. Hal yang mungkin berperan adalah vial multidosis yang rentan terhadap timbulnya kontaminasi.
Leptospirosis Bobby Setadi; Andi Setiawan; Daniel Effendi; Sri Rezeki S Hadinegoro
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.163-7

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi dari spesiesLeptospira, famili Leprospiraceae ordo Spirochaetales yang patogen, bermanifestasi sebagaidemam akut. Infeksi pada manusia pada umumnya disebabkan oleh roden (misalnyatikus), kadang-kadang babi dan anjing. Organisme ini hidup di air sehingga air merupakansarana penular pada munasia. Sebagian besar kasus leptospirosis akan sembuh sempurna,walaupun sekitar sepuluh persen diantaranya dapat bersifat fatal. Mortalitas meningkatapabila didapatkan gejala ikterus, gagal ginjal, dan perdarahan. Diagnosis ditegakkanberdasarkan gejala klinis, diagnosis pasti apabila ditemukan organisme dalam darah atauurin pada pemeriksaan dark-groun microscope, biakan darah dan urin, uji aglutinasi,serta imunoglobuln.. Antibiotik golongan penisilin dapat diberikan untuk pengobatanleptospirosis. Perawatan diperlukan apabila terdapat komplikasi.
Spesifitas Biologis Air Susu Ibu Rulina Suradi
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.134-40

Abstract

Air susu mamalia adalah species specific (komposisi masing-masing susu mamalia sangatberbeda). Sebagaimana susu sapi adalah makanan terbaik untuk anak sapi maka ASIadalah makanan terbaik untuk bayi manusia, juga untuk bayi yang lahir kurang bulan.Penambahan atau pengurangan zat di dalam susu sapi agar dapat ditolerir oleh bayimanusia berupa susu formula memerlukan penelitian yang canggih yang perlumempertimbangkan bukan hanya zat gizinya tetapi seyogianya segala komponen yangada di dalam ASI. Perubahan komposisi ASI yang disesuaikan dengan masa kehamilan,usia bayi dan cara bayi menyusu tidak dapat ditiru oleh susu formula apalagi keuntunganlain seperti, mencegah penyakit bayi dan ibu serta keuntungan psikologis dan ekonomi.
Alergi Makanan pada Bayi dan Anak Sjawitri P Siregar
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.219 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.168-74

Abstract

Alergi makanan sebagian besar didasari reaksi hipersensitivitas tipe I. Gejala terseringpada organ saluran napas, saluran cerna, kulit dan sistemik berupa anafilaksis.Pemeriksaan uji kulit + terhadap makanan harus dilanjutkan dengan uji eliminasi danprovokasi (baku linar). Alergi makanan lebih sering terjadi pada usia tahun pertamakehidupan dan 2/3 akan toleran setelah eliminasi selama 1-2 tahun.
Pneumonia Atipik pada Anak Mardjanis Said
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.141-6

Abstract

Di negara berkembang penyebab utama pneumonia pada balita ialah Streptococcuspneumoniae, Haemophillus influenzae dan Streptococcus aureus, yang responsif terhadapantibiotik golongan beta-laktam. Namun di samping itu ditemukan pula pneumoniayang tidak responsif terhadap antibiotik golongan beta-laktam, yang disebabkan olehMycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, Chlamydia trachomatis. Infeksi karenaChlamydia trachomatis sering terjadi melalui transmisi vertikal dari ibu pada masapersalinan. Chlamydia pneumoniae kronik diduga berhubungan dengan terjadinyaeksaserbasi asma pada anak, pneumonia atipik yang umumnya responsif terhadapantibiotik makrolid. Peningkatan kewaspadaan terhadap adanya pneumonia atipik,berkembangnya deteksi yang lebih akurat serta pengobatan yang efektif dengan antibiotikmakrolid yang lebih tepat diharapkan akan menurunkan morbiditas penyakit.
Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Balita Soedjatmiko Soedjatmiko
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.736 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.175-88

Abstract

Deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita dapat dilakukan melalui anamnesis,pemeriksaan fisis rutin, skrining perkembangan dan pemeriksaan lanjutan. Keluhanorangtua mengenai penyimpangan perkembangan anaknya perlu ditindaklanjuti karenasebagian terbukti benar. Penting pula menanyakan faktor-faktor risiko di lingkunganmikro (ibu), mini (lingkungan keluarga dan tempat tinggal), meso (lingkungan tetangga,polusi, budaya, pelayanan kesehatan dan pendidikan) dan makro (kebijakan program)yang dapat mengganggu tumbuh kembang balita atau dapat dioptimalkan untukmengatasi gangguan tersebut. Pemeriksaan fisis rutin meliputi pengukuran tinggi danberat badan, bentuk dan ukuran lingkar kepala, kelainan organ-organ lain danpemeriksaan neurologis dasar. Skrining perkembangan dapat menggunakan kuesioneratau melakukan pengamatan langsung pada balita. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan(KPSP) berisi 10 pertanyaan untuk setiap kelompok umur, yang ditanyakan kepadaorangtua oleh paramedis atau dokter. Buku Pedoman Perkembangan Anak di Keluarga(Depkes RI) menilai 4 keterampilan balita untuk setiap kelompok umur, yang dapatdilakukan oleh paramedis atau kader kesehatan. Pediatric Symptom Checklist (PSC) berisi35 perilaku anak yang dapat ditanyakan oleh paramedis atau dokter kepada orangtua.Kuesioner Skrining Perilaku Anak Prasekolah menyerupai PSC tetapi hanya berisi 30pertanyaan. Skrining Perkembangan Denver II mempunyai kepekaan yang cukup baikuntuk deteksi gangguan gerak kasar, gerak halus, berbahasa dan personal sosial. Selainitu secara tidak langsung dapat mendeteksi gangguan penglihatan, koordinasi matatangan,pendengaran, pemahaman, komunikasi verbal - non verbal, pemecahan masalahdan kemandirian, namun kurang peka untuk gangguan emosional. Checklist for Autismin Toddlers (CHAT) adalah salah satu alat skrining untuk deteksi dini gangguan spektrumautistik (austistic spectrum disorder) anak umur 18 bulan sampai 3 tahun. Pemeriksaanlanjutan yang komprehensif sebaiknya melibatkan berbagai profesi dan disiplin keilmuanuntuk memastikan jenis, derajat dan penyebab gangguan, serta merencanakan tindaklanjut yang komprehensif dan terintegrasi agar anak dapat tumbuh kembang optimal.
Peran Penambahan DHA pada Susu Formula Helena Anneke Tangkilisan; Hesti Lestari
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.392 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.147-51

Abstract

Pertumbuhan otak yang pesat dalam masa pacu tumbuh otak membutuhkan bahan60% lemak, diantaranya Docosahexaenoic acid (DHA) yang merupakan asam lemak takjenuh ganda rantai panjang omega 3. Umumnya susu formula yang beredar saat initidak mengandung asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang dengan atom karbonlebih dari 18. ASI bukan hanya mengandung asam oleat (18:2n-6) dan asam linolenat(18:3n-3) tapi juga mengandung asam arakidonat (20:4n-6) dan DHA (22:6n-3). Padamasa janin, DHA dan asam arakidonat didapatkan melalui transfer plasenta. Setelahlahir, diperoleh dari diet atau melalui sintesis pemanjangan rantai dan desaturasi dariasam linoleat dan linolenat. Bayi yang hanya minum susu formula sepenuhnya tergantungpada sintesis endogen dari asam lemak tak jenuh rantai panjang. Penelitian menunjukkandalam korteks cerebri terdapat kadar DHA yang lebih tinggi pada bayi yang mendapatASI dibandingkan dengan yang minum susu formula tanpa DHA. Terdapat perbedaantumbuh kembang antara bayi yang mendapat ASI dan yang mendapat susu formulatanpa DHA. Penambahan DHA dalam komposisi dengan kadar seperti pada ASI telahdirekomendasikan oleh banyak lembaga kesehatan.
Sindrom Wiskott Aldrich: Laporan Kasus Nita Ratna Dewanti; Zakiudin Munasir
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.027 KB) | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.120-4

Abstract

Sindrom Wiskott Aldrich (SWA) merupakan kelainan genetik imunodefisiensi yangditurunkan secara X-linked recessive, termasuk dalam sindrom hiper IgE. Kasus ini sangatjarang, insidens di Amerika Serikat 4:1000000 kelahiran bayi hidup laki-laki. Manifestasiklinis SWA berupa eksima, trombositopenia, dan infeksi berulang. Biasanya meninggalusia dini. Dilaporkan kasus pertama di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta yaitu bayilaki-laki, 4 bulan, BB 3,8 kg (< P5NCHS), PB 55 cm (< P5NCHS) dengan riwayatbuang air besar berdarah, purpura dan petekie, demam berkepanjangan, eksim,trombositopenia dan infeksi berulang berupa sepsis, pneumonia, dan bula di paru kanan.Pada pemeriksaan fisis didapatkan anak sadar, aktif, suhu 38oC, konjungtiva pucat, padatelinga terlihat vesikel, eritem, dan keropeng. Didapatkan mengi pada pemeriksaan parudan hepatosplenomegali. Pemeriksaan penunjang didapatkan anemia, leukositosis, dantrombositopenia, tidak ditemukan sel blast pada gambaran darah tepi dengan ukurantrombosit kecil. LED meningkat. Analisis tinja didapatkan malabsorbsi lemak. BMPmenunjukkan hipoplasia eritropoesis dan trombopoesis. Pemeriksaan radiologis toraksditemukan bula paru kanan. Kadar IgA 43 mg/dl, IgG 1428 mg/dl, IgM 102 mg/dl, C3dan C4 normal, IgE total 5350 mg/dl. Uji Coombs direk positif, indirek negatif,isohemagglutinin tidak dapat diperiksa. Pasien didiagnosis sebagai Sindrom WiskottAldrich, bula paru kanan, gagal tumbuh dan diare kronik. Pasien diberi transfusi packedred cell (PRC) dan suspensi trombosit, antibiotik, diet elemental dan methisoprinol.Pasien meninggal pada usia 5 bulan karena gagal nafas akibat infeksi paru yang berat.
Masalah Kesehatan Remaja Santoso Soeroso
Sari Pediatri Vol 3, No 3 (2001)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp3.3.2001.189-97

Abstract

Masalah Kesehatan Remaja di Indonesia telah dibahas dalam pertemuan pengkajiandan pemanfaatan temuan dari beberapa penelitian kesehatan remaja di Bandung 1996dari penelitian yang diselenggarakan di Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Malukudan Jawa Timur dapat diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut. Masalahkesehatan umum yang ditemukan adalah, anemia dan kebugaran (physical fitness) yangrendah pada remaja Indonesia. Masalah sosial budaya dan sekolah yang ditemukan adalahsulit belajar, membolos, kenakalan remaja (“tawuran”), pergeseran nilai budaya.Sedangkan masalah gangguan emosional yang diidentifikasikan kurang percaya diri,stres di samping terdapat pula masalah penyalahgunaan obat dan merokok. Dalammasalah keluarga telah dicatat bahwa kurangnya fungsi peranan orangtua, konflik peran,perbedaan persepsi kasih saying dan kurangnya serta kesulitan komunikasi telahmenyebabkan disfungsi keluarga.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue