cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2003)" : 8 Documents clear
Hipotiroidisme kongenital di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Ciptomangunkusumo Jakarta, tahun 1992-2002 Melda Deliana; Jose RL Batubara; Bambang Tridjaja; Aman B Pulungan
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.79-84

Abstract

Gejala klinis hipotiroidisme kongenital pada neonatus seringkali tidak begitu jelas danbaru terdeteksi setelah 6-12 minggu. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegahtimbulnya retardasi mental atau meringankan derajat retardasi mental. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui gambaran klinis awal, laboratorium dan respons terapiawal natrium levotiroksin pada pasien hipotiroidisme kongenital. Data dikumpulkandari catatan rekam medik kasus-kasus hipotiroidisme kongenital yang berkunjung kePoliklinik Endokrinologi Anak dan Remaja FKUI/RSCM Jakarta selama kurun waktu1992-2002. Dalam kurun waktu tersebut terdapat 30 pasien baru, 21 anak (70%)perempuan dan 9 anak (30%) laki-laki. Sebagian besar (53,3%) didiagnosis pada umur1-5 tahun. Berdasarkan status antropometri menurut NCHS-WHO ditemukan gizi burukpada 53,3% kasus (berat badan/umur), perawakan pendek paa 90% kasus (tinggi badan/umur), dan pada 70% kasus perbandingan berat badan/tinggi badan adalah normal.Gejala klinis tersering saat diagnosis adalah perkembangan motorik terlambat (83,3%),konstipasi (73,3%), aktivitas menurun (70%), makroglosia (70%), dan pucat (70%).Ditemukan maturasi tulang terlambat (95,5%), gangguan pendengaran (22,7%),gangguan sistem neuromuskular (16,7%), dan retardasi mental (62,5%). Padapemeriksaan skintigrafi dijumpai agenesis tiroid pada 11,1% kasus. Sebagian besar(26,7%) mendapat terapi awal dosis tinggi (8-10 mg/kg/hari). Gejala klinis berkurang(36,7%) dalam 4 minggu dan fungsi tiroid kembali normal (33,3%) dalam 1-3 bulansetelah terapi awal.
Amniotic Band Syndrome (distruption) Edi Hartoyo; Ari Yunanto
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.608 KB) | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.49-51

Abstract

Amniotic band syndrome (ABS) merupakan kelainan genetik yang mempunyai variasiyang luas. Insidens ABS sekitar satu per 10000 kelahiran hidup. Selama ini telahdilaporkan sekitar 600 kasus di luar negeri. Sindrom ini meliputi kepala asimetrismeningoensetalokel, eksoftalmus, kekeruhan kornea, facial cleft bilateral, gnatopalatosisis,pseudosindaktili dan kelainan organ dalam berupa omfalokal dan gastrosisis. Dilaporkanseorang bayi laki-laki baru lahir dengan diagnosis amniotic band syndrome di RSUDUlin Banjarmasin.
Pendekatan Klinis Berbagai Kasus Neurologi Anak yang Membutuhkan Pemeriksan Pencitraan Irawan Mangunatmadja
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.85-90

Abstract

Kelainan saraf pada bayi dan anak relatif sering ditemukan, hampir 20 – 30% pasienrawat inap maupun rawat jalan merupakan kasus neurologis.1 Pada umumnya anak dibawaoleh orang tua berobat akibat gangguan fungsional yang dialaminya, gangguanperkembangan, gangguan kesadaran, kelumpuhan ekstremitas, kelumpuhan saraf otak,kejang dan lain-lain. Anamnesis terarah tentang riwayat penyakit, perkembangan,pemeriksaan fisis pediatrik, pemeriksaan neurologik yang teliti akan sangat membantumenentukan diagnosis fungsional, gangguan anatomik, dan perkiraan etiologik kelainansaraf yang dihadapi.1 Untuk menegakkan diagnosis pasti diperlukan pemeriksaanpenunjang paling sederhana sampai yang paling canggih, seperti transiluminasi kepala,pemeriksaan darah tepi, cairan serebrospinalis, elektroneurofisiologi (elektroensefalografi,potensial cetusan, dan elektromiografi), pemeriksaan pencitraan, patologi anatomi danlain-lainnya.
Diagnosis dan Tata Laksana Sifilis Kongenital Mutiara Siagian; Rinawati Rinawati
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.52-7

Abstract

Seorang bayi perempuan yang menderita sebagai sifilis kongenital dilahirkan oleh ibudengan diagnosis sifilis stadium II yang tidak mendapat pengobatan. Pada umumnyadidapatkan hepatosplenomegali, ikterus, kelainan kulit, pseudoparalisis, anemia,trombositopenia maupun monositosis, pada pemeriksaan fisik maupun laboratoriumnamun, manifestasi klinis tersebut tidak ditemukan pada kasus ini. Hal ini sesuai dengankepustakaan yang menyatakan bahwa 50% bayi dengan sifilis kongenital asimtomatik.Pemeriksaan mikroskopik lapangan pandang gelap tidak dilakukan karena tidakdidapatkan bahan pada bayi berupa sekret hidung maupun serum dari lesi kulit.Pemeriksaan radiologi didapatkan gambaran radio luser di metafisis tulang femur kanandan kiri disertai penebalan korteks, penebalan korteks juga tampak di humerus kanan;kelainan ini sesuai dengan sifilis kongenital. Pasien ini diobati dengan penisilin prokain75 000 U/kali intra muskular satu kali sehari selama sepuluh hari. Pemantauan secaraklinis dan pemeriksaan serologis perlu dilakukan secara berkala. Pada usia 51 hari, tidakdidapatkan kelainan. Keadaan umum baik, didapatkan kenaikan berat badan 27 gram/hari, dan penambahan tinggi badan 8 sentimeter dalam 51 hari. Pemantauan selanjutnyayang diperlukan adalah pemeriksaan klinis setiap bulan sampai bulan ke-3, kemudianbulan ke-6 dan ke-12 sesudah pengobatan dan pemantauan serologi VDRL direncanakanpada bulan ke-3 dan ke-6 untuk menilai keberhasilan terapi yang diberikan. Denganterapi yang adekuat diharapkan komplikasi sifilis kongenital dini dan lanjut tidak terjadi.
Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus pada Anak Sondang Maniur Lumbanbatu
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.58-63

Abstract

Glomerulonefritis merupakan penyakit ginjal dengan suatu inflamasi dan proliferasi selglomerulus. Peradangan tersebut terutama disebabkan mekanisme imunologis yangmenimbulkan kelainan patologis glomerulus dengan mekanisme yang masih belum jelas.Pada anak kebanyakan kasus glomerulonefritis akut adalah pasca infeksi, paling seringinfeksi streptokokus beta hemolitikus grup A. Dari perkembangan teknik biopsi ginjalper-kutan, pemeriksaan dengan mikroskop elektron dan imunofluoresen serta pemeriksaanserologis, glomerulonefritis akut pasca streptokokus telah diketahui sebagai salah satucontoh dari penyakit kompleks imun. Penyakit ini merupakan contoh klasik sindromanefritik akut dengan awitan gross hematuria, edema, hipertensi dan insufisiensi ginjalakut. Walaupun penyakit ini dapat sembuh sendiri dengan kesembuhan yang sempurna,pada sebagian kecil kasus dapat terjadi gagal ginjal akut sehingga memerlukanpemantauan.
Uji Coba Vaksin Dengue Rekombinan pada Hewan Coba Mencit,Tikus, Kelinci dan Monyet Soegeng Soegijanto; Fedik A Rantam; Soetjipto Soetjipto; Ketut Sudiana; Yoes Priyatna
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.895 KB) | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.64-71

Abstract

Pencegahan terhadap infeksi dengue dengan cara vaksinasi perlu dikembangkan; olehkarena secara epidemiologi infeksi virus dengue telah menyebar ke daratan Asia, Afrika,Amerika dan Eropa. Pendekatan pencegahan dan pemberantasan dengan melakukanpemberantasan vektor tidaklah cukup untuk menekan angka kesakitan. Pengembanganvaksin dengan menggunakan protein E dapat menginduksi produksi antibodi terhadapsemua strain (galur) virus dengue.Tujuan penelitian menentukan daya proteksi antibodi yang dipacu oleh calon vaksinpada hewan percobaan (mencit, tikus, kelinci dan monyet).Metode penelitian Isolasi virus dari pasien DBD di RS Dr. Sutomo Surabaya dan isolatstandar dari NAMRU-2 Jakarta. Dilakukan purifikasi isolat virus dengue dan purifikasiprotein E rekombinan. Selanjutnya dilakukan imunisasi pada binatang percobaan dandinilai respon imunnya.Hasil penelitian karakterisasi dan identifikasi imunoglobulin dari mencit yang diimunisasidengan protein E selain IgM, IgG ditentukan subklas IgG1a, IgG2a, IgG2b. Protein Epada hewan percobaan dapat menginduksi antibodi humoral dengan berbagai kelasimunoglobulin maupun subkelasnya dan antibodi seluler yang protektif. Analisis hasilrespon imun pada CD 4 dan CD 8 yang di isolasi dari hewan percobaan yang telahdiimunisasi, direuksikan dengan IFN-¶ ternyata menunjukkan adanya perbedaan responimun yang berbeda. Pada challenge test hanya monyet yang memberikan respons patologisyaitu terlihat adanya perdarahan pada hari ke tiga setelah infeksi. Protein E yangdiimunisasikan pada monyet dapat menginduksi antibodi humoral dengan titer cukuptinggi terutama imunoglobulin G.
Gangguan Fungsi Multi Organ pada Bayi Asfiksia Berat Vera Muna Manoe; Idham Amir
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.073 KB) | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.72-8

Abstract

Asfiksia perinatal masih merupakan masalah baik di negara berkembang maupun dinegara maju dan menyebabkan kematian sebesar 20% dari bayi baru lahir. Keadaanhipoksia dan iskemia yang terjadi akibat afiksia akan menimbulkan gangguan padaberbagai fungsi organ. Proses terjadinya gangguan bergantung pada berat dan lamanyahipoksia terjadi dan berkaitan dengan proses reoksigenisasi jaringan setelah proses hipoksiatersebut berlangsung. Faktor risiko terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir terdiri darifaktor ibu, faktor janin dan faktor persalinan/kelahiran. Hal ini penting, karena denganpengenalan faktor risiko tersebut maka persiapan resusitasi bayi dapat dilakukan. Beberapaorgan tubuh yang akan mengalami disfungsi akibat asfiksia perinatal adalah otak, paru,hati, ginjal, saluran cerna dan sistem darah. Dampak jangka panjang bayi yang mengalamiasfiksia berat antara lain ensefalopati hipoksik-iskemik, iskemia miokardial transien,insufisiensi trikuspid, nekrosis miokardium, gagal ginjal akut, nekrosis tubular akut,enterokolitis, SIADH (syndrome inappropriate anti diuretic hormone) kerusakan hati,Koagulasi intra-vaskular diseminata (KID), perdarahan dan edem paru, penyakit membranhialin HMD sekunder dan aspirasi mekonium.
Artritis Idiopatik Juvenil Kesepakatan Baru Klasifikasi dan Kriteria Diagnosis Penyakit Artritis pada Anak Arwin AP Akib
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.239 KB) | DOI: 10.14238/sp5.2.2003.40-8

Abstract

Klasifikasi dan kriteria diagnosis penyakit reumatik anak sudah sering menimbulkankontroversi para peneliti dan ahli reumatologi. Dengan berkembangnya spesialisasireumatologi pediatri dalam ruang lingkup yang luas, maka berbagai ketidaksepahamantersebut sudah selayaknya diselesaikan dalam suatu kesepakatan. Prakarsa ILAR membuatnomenklatur baru AIJ di Santiago (1994) serta revisi Durban (1997) patut mendapatpenghargaan semua pihak karena diharapkan akan dapat menjadi pemersatu untukmempermudah komunikasi antar dokter dan peneliti.Kriteria AIJ diharapkan dapat mengidentifikasi kelompok homogen penderita artritispada anak, untuk mempermudah penatalaksanaan dan penentuan prognosis penderita,serta merancang dan melakukan penelitian di bidang re umatologi pediatri sepertimisalnya penelitian imunogenetik dan ilmu kedokteran dasar lainnya, epidemiologi,prognosis, dan uji terapetik. Walaupun pemakaian kriteria Durban di lapangan belumteruji dengan baik, laporan yang sudah ada menunjukkan bahwa tidak tertutupkemungkinan untuk melakukan revisi ulang kriteria AIJ. Dengan demikian makaterpulang kepada kita, apakah akan memakainya sekarang ataukah menunggu sampaikeluar revisi berikutnya yang sudah tentu lebih tahan uji.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue