cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2003)" : 8 Documents clear
Gambaran Klinis Kriptorkismus di Poliklinik Endokrinologi Anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Tahun 1998 - 2002 Wayan Bikin Suryawan; Jose RL Batubara; Bambang Tridjaja; Aman B Pulungan
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.799 KB) | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.111-6

Abstract

Latar belakang: kriptorkismus merupakan kelainan organ seksual lelaki yang seringditemukan. Sampai berapa tahun terapi hormonal dan pembedahan dilakukan masihkontroversial.Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur saat berobat pertama kali, asalrujukan, lokasi testis, peran perabaan, penyakit penyerta, dan peran terapi hormonalpada kriptorkismus.Cara kerja: Penelitian dilakukan secara retrospektif dari semua pasien baru yang didiagnosiskriptorkismus di Poliklinik Endokrinologi Anak RSCM selama 5 tahun (Januari 1998 –Desember 2002).Hasil: diteliti 63 pasien baru, 58 pasien diantaranya dengan kriptorkismus murni, dan 5 pasientestis retraktil. Didapat 22,4% kriptorkismus bilateral, 77,6% kriptorkismus unilateral,kriptorkismus kanan dan kiri jumlahnya hampir sama. Pasien yang dirujuk oleh spesialis anak33,3%. Umur pertama datang di poliklinik 9 bulan-2 tahun 24,1%, dan >2 tahun 56,9%.Pada perabaan, lokasi testis paling banyak tak teraba 74,1%, setelah dikonfirmasi dengan USG75% hasilnya sama dengan perabaan. Kriptorkismus disertai skrotum bifidum dan hipospadia12,6%, mikropenis 11,1%, sindrom Prader Willi, sindrom Noonan, sindrom Kallmann masingmasing1,6% dan merupakan penyakit dasar kriptorkismus. Keberhasilan Terapi hormonal65% ( inguinal 77,8% dan pada testis tak teraba 50%) , terapi dimulai sejak umur 9 bulan.Kesimpulan: sebagian besar pasien datang pada umur >2 tahun, sedangkan terapihormonal dimulai pada umur 9 bulan dengan keberasilan 65%. Pemeriksaan fisik samaakurat dibandingkan dengan pemeriksaan USG. Terapi hormonal pada kriptorkismusumur 6 bulan - 2 tahun masih efektif sebelum terapi bedah dilakukan.
Prediktor Keberhasilan Ekstubasi pada Bayi dan Anak Deddy Satriya Putra
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.117-21

Abstract

Indikasi primer untuk melakukan ekstubasi adalah penyembuhan proses primer yangmembutuhkan pipa endotrakeal ( ETT ). Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilanekstubasi seperti stabilitas paru, kardiovaskular, sistim saraf pusat dan metabolik. Sejumlahpengukuran seperti kadar oksigen, lamanya pemakaian ventilasi, setting ventilasi, termasuktekanan tahanan nafas, rasio frekuensi nafas dengan volume tidal (RSBI = rapid swallow breathingindex) dan indeks CROP (compliance, rate, oxygenation and pressure ), dapat dipakai untukmemprediksi keberhasilan ekstubasi pada anak. Hal lain yang mempengaruhi keberhasilanekstubasi adalah faktor teknik atau nonfisiologi yang terdiri dari persiapan ekstubasi, teknikekstubasi dan monitoring setelah ekstubasi. Berbagai prediktor yang digunakan untukmemprediksi keberhasilan ekstubasi tidak menjamin seluruh keberhasilan ekstubasi. Akurasidari prediktor ekstubasi sulit diprediksi karena banyak faktor yang menentukan kemampuanpasien untuk bernafas secara spontan, sehingga diperlukan keterampilan dan ketelitian seorangdokter dalam melakukan ekstubasi agar berhasil dengan baik.
Ulkus Duodenum pada Anak Lily Rundjan; Badriul Hegar
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.121-6

Abstract

Ulkus Duodenum merupakan kerusakan lapisan mukosa sampai lapisan otot duodenum yang dihubungkan dengan proses inflamasi kronis. Berbagai faktor diduga sebagai penyebab keadaan ini, salah satu yang menjadi perhatian pada saat ini adalah infeksi Heliobacter pylori (H.pylori). Meskipun jarang ditemukan pada anak, kelainan ini dapat menyebabkan pendarahan dan perforasi saluran cerna. Ulkus duodenum lebih sering merupakan ulkus peptik primer. Manifestasi gejala klinis bervariasi mulai dari rasa mual, muntah, nyeri perut berulang, anemia, gagal tumbuh, hingga hematemasis dan melena. Endoskopi merupakan tindakan diagnostik pilihan pada kasus yang dicurigai kelainan organik,termasuk ulkus duodenum. Terapi yang diberikan berupa pemberian antagonis reseptor H2 atau proton pump inhibitor (PPI). Eradikasi terhadap H.Pylori harus segera dilaksanakan bila ditemukan bakteri tersebut sebagai penyebabnya.
Kesulitan Belajar pada Anak Sekolah dengan Riwayat Berat Lahir Sangat Rendah Adillida Adillida; SM Manoeroeng; Iskandar Z. Lubis
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.127-30

Abstract

Angka kehidupan bayi berat lahir sangat rendah semakin meningkat. Bagaimanaperkembangan bayi berat lahir sangat rendah ini di dkemudian hari masih menjadipertanyaan. Sebagian laporan mendapatkan bahwa terdapat berbagai gangguanperkembangan berupa kesulitan belajar dan gangguan tingkah laku pada anak-anaktersebut. Diperlukan suatu intervensi dan strategi penanganan untuk meningkatkankualitas hidup anak tersebut di kemudian hari.
Gigitan Ular Berbisa Nia Niasari; Abdul Latief
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.92-8

Abstract

Seorang anak laki-laki, usia 5 tahun 8 bulan dengan diagnosis gigitan ular dengancompartement syndrome dan koagulasi intravaskular diseminata (KID) berdasarkanidentifikasi ular yang menggigit dan manifestasi klinis. Presentasi klinis terdiri dari tandabekas gigitan pada tungkai bawah kanan, rasa nyeri yang makin bertambah , bengkak,ekimosis, bula, compartement syndrome, trombositopenia, anemia, PT, APTT yangmemanjang, dan d-dimer yang meningkat. Bila dilihat dari bentuk ular yang menggigitdan manifestasi klinis yang timbul, yaitu bisa ular yang bersifat sitotoksik, ular yangmengigit adalah famili Viperidae. Derajat berat kasus yang terjadi adalah derajat 4 (major),karena terdapat tanda bekas gigitan, edem yang luas, serta KID.Antibiotik diberikan juga kortikosteroid, bertujuan untuk mencegah efek sampingpemberian anti bisa ular. Fasciotomy dilakukan karena terdapat compartement syndromesetelah itu pasien dirawat di ICU Anak untuk pemantauan lebih lanjut danmempersiapkan apabila diperlukan heparinisasi. Pasien dipulangkan dalam keadaan baiksetelah 3 minggu perawatan.
Displasia Ektodermal Hipohidrotik Eveline PN; Sri Rezeki Hadinegoro; Siti Aisah Boediardja
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.131-6

Abstract

Seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan menderita displasia ektodermal hipohidrotik (DEH),merupakan kelainan genetik yang sebagian besar diturunkan secara x-linked recessive.Sindrom ini ditandai dengan tidak ada atau berkurangnya kelenjar keringat,hypotrichosis,dan hypodontia. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan dipastikandengan biopsi kulit yang menunjukkan tidak ada atau hipoplasi kelenjar ekskrin danrambut. Trias gambaran klinis utama DEH adalah hipohidrosis atau anhidrosis, hipotrikosisdan andontia total atau partial. Kelainan ini perlu segera ditegakkan untuk menghindarikomplikasi yang berat pada masa bayi dan diperlukan untuk menentukan penangananselanjutnya. Untuk mengetahui pola penurunan genetik pada pasien ini perlu disusunsilsilah penyakit dalam keluarga serta biopsi kulit atau uji starch-iodine pada kedua orangtua pasien sehingga konseling genetik. Pencegahan dapat diberikan secara multidisiplinsangat diperlukan dalam penanganan kasus seperti ini agar mendapatkan prognosis yanglebih baik. Displasia ektodermal hipohidrotik yang disebut juga Christ-Siemens Tourainesyndrome atau displasia ektodermal anhidrotik digambarkan pertama kali pada tahun 1848oleh Thurnam 1,2 dan diikuti pada abad-19 oleh Darwin.2 Pada tahun 1921, Thadanimenetapkan DEH sebagai suatu kelainan x-linked dan kemudian melaporkan bahwaperempuan pembawa gen mutan menampakkan gejala yang bervariasi dari kondisitersebut.1,2Angka kejadian DEH diperkirakan 1 per 100.000 kelahiran hidup,2,5 lebih 90% terjadi padaanak laki-laki.2 Di Indonesia dilaporkan 2 kasus pada tahun 2000-2002,6 salah satu kasusberobat di Subbagian Kulit Anak Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI-RSCM.
Pertumbuhan Fisik Anak Obesitas Dini Lailani; Hakimi Hakimi
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.99-102

Abstract

Anak yang mengalami obesitas pada usia pra pubertas memiliki tinggi badan di atasrata-rata anak seusianya. Penelitian mengenai hal ini menunjukkan bahwa anakmengalami masa pacu tumbuh yang lebih awal namun saat proses pertumbuhan hampirselesai kecepatan tersebut akan berkurang relatif dibandingkan anak normal, sehinggatinggi badan akhir anak saat dewasa tetap sama dengan rata-rata tinggi badan orangtuanya atau bahkan lebih pendek bila dibandingkan dengan anak yang tidak mengalamiobesitas pada masa pertumbuhannya. Dijumpai abnormalitas pada hormon yang berperandalam pertumbuhan linier pada anak yang mengalami obesitas yaitu pada aksis GHIGF,hormon seks steroid, dan glukokortikoid.
Poliuria pada Anak Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 5, No 3 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.275 KB) | DOI: 10.14238/sp5.3.2003.103-10

Abstract

Poliuria terjadi karena gangguan pengaturan cairan dan solut dengan penyebab danpatofisiologi yang berbeda-beda. Poliuria dapat terjadi karena diuresis solut, diuresis air(water diuresis), atau kombinasi keduanya dan dapat menyebabkan sakit berat. Terdapatberbagai definisi poliuria, tetapi secara umum, poliuria diartikan dengan jumlah urin >2 ml/kgbb/jam. Poliuria biasanya dihubungkan dengan kelainan neurologis, kelainanginjal, atau kelainan metabolik dan dapat menyebabkan berkurangnya volume cairanekstraselular dan intraselular. Meskipun dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik telahdapat diperkirakan penyebab poliuria, tetapi diagnosis definitif memerlukan pemeriksaanlaboratorium. Urin yang isoosmolar atau hiperosmolar terdapat pada diuresis solut atauanak normal, dan urin yang hipoosmolar terdapat pada diuresis air. Uji deprivasi airsangat perlu dilakukan jika evaluasi awal tidak dapat menentukan penyebab poliuria.Tata laksana poliuria dengan melakukan balans cairan, memperbaiki kelainan elektrolit,dan mencari penyebab.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue