cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2005)" : 9 Documents clear
Masalah Etis dalam Proses Pengambilan Keputusan pada Praktik Pediatri Sudigdo Sastroasmoro
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.273 KB) | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.125-31

Abstract

Masalah etika dalam praktik pediatri membawa masalah tersendiri karena ketidakmampuansang pasien (bayi atau anak) untuk memberikan informed consent. Pada umumnya secaralegal dan etis orangtua pasien dianggap sebagai pihak yang berhak memberikan persetujuanuntuk tindakan pengobatan maupun diagnostik. Namun hal tersebut harus dibatasi selamatindakan orangtua tersebut memberi kebaikan pada anak, atau setidaknya tidakmemperburuk keadaan pasien. Dokter anak harus siap dengan konsep informed consent(yang diberikan oleh anak remaja atau dewasa muda), parental permission (izin), sertameminta assent kepada anak untuk melakukan tindakan medis terutama yang bersifattraumatik, invasif, atau membawa bahaya tertentu. Dalam tiap kesempatan sebaiknyadokter anak selalu meminta persetujuan kepada pasien selama yang bersangkutan sudahmemahami (meskipun sebagian) keuntungan dan kerugian bila suatu tindakan dilakukanatau tidak dilakukan. Kunci utama dalam pelaksanaan etika dalam praktik adalahkomunikasi yang harus terselanggara dengan baik antara dokter, orangtua, dan anak.Implikasi legal dari perbuatan yang tidak etis dapat terjadi bila perbuatan dokter yangtidak etis tersebut menyebabkan kerugian di pihak pasien, baik morbiditas, mortalitas,atau kerugian material. Masalah etika dalam praktik menyangkut setiap langkah dalampelayanan pasien, mulai dari appointment, anamnesis, pemeriksaan fisis, tindakandiagnostik, tindakan pengobatan, dan tindak lanjut. Rekam medis merupakan bagian daritugas profesi dokter untuk menjalankannya dengan baik.Banyaknya tuntutan terhadap apa yang sering dituduhkan sebagai malpractice harusdiwaspadai, dan untuk sebagian berkaitan langsung dengan masalah etika itu sendiri.
Fungsi Sistolik dan Diastolik Ventrikel Kiri pada Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut Pasca Terapi Daunorubisin Mahrus A Rahman
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.135 KB) | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.160-8

Abstract

Latar belakang. Pengobatan utama limfomia limfoblastik akut (LLA) adalah kemoterapi.Sitostatik yang paling sering memberikan efek samping pada sistem kardiovaskuler adalahgolongan antrasiklin yaitu doksorubisin dan daunorubisin. Tanda awal kardiomiopatikarena antrasiklin adalah gangguan fungsi diastolik. Adanya gangguan fungsi ventrikeldapat dibuktikan dengan metode radionuklid dan ekokardiografi Doppler.Tujuan penelitian. Memperoleh data fungsi diastolik dan sistolik ventrikel kiri, dimensiventrikel kiri, dan status gizi pada anak dengan LLA pasca terapi daunorubisin.Metode. Penelitian cross sectional meneliti fungsi diastolik dan sistolik ventrikel kiripada 19 anak LLA pasca terapi daunorubisin. Sebagai kontrol penelitian 21 anak LLAtanpa terapi daunorubisin dan 18 anak sehat. Pemeriksaan fungsi dan dimensi ventrikelkiri dilakukan dengan pemeriksaan ekokardiografi 2D, M mode dan Doppler. Analisisstatistik hasil penelitian dilakukan dengan mempergunakan uji ANOVA dan Chi-square.Hasil. Terdapat 12 dari 19 anak pada kelompok studi dan 5 dari 21 anak pada kelompokkontrol LLA yang mengalami gangguan fungsi diastolik ventrikel kiri dengan pola penurunanrelaksasi. Pola penurunan relaksasi terdapat pada kardiomiopati hipertrofi maupunkardiomiopati dilatasi, hipertrofi ventrikel kiri karena berbagai sebab, penyakit jantungiskemik, preload yang menurun, dan afterload yang meningkat. Pada kelompok kontrolLLA juga sudah terdapat gangguan fungsi diastolik ventrikel kiri. Disamping daunorubisinterdapat faktor lain yang mempengaruhi fungsi diastolik ventrikel kiri, penyakitnya sendiridan obat-obat lain. Gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri hanya didapatkan pada 1 anakkelompok studi. Hal ini disebabkan oleh dosis kumulatif daunorubisin yang masih relatifrendah dan follow up yang masih pendek. Tidak terdapat perubahan dimensi ventrikel kiripada kelompok studi dibandingkan kelompok kontrol; belum terjadi kardiomiopati yangberhubungan dengan dosis kumulatif yang tinggi dan penggunaan yang lama untuktimbulnya manifestasi klinis. Pada kelompok studi tidak didapatkan perbedaan yang bermaknaantara gizi dengan timbulnya gangguan fungsi diastolik.Kesimpulan. Pada anak dengan penyakit leukemia limfoblastik akut pasca terapidaunorubisin dosis kumulatif 120 mg/m2 telah mengalami gangguan fungsi diastolikventrikel kiri, sedangkan fungsi sistolik tidak terganggu. Dimensi ventrikel kiri tidakmengalami perubahan. Tidak terdapat perbedaan status gizi pada anak dengan fungsidiastolik ventrikel kiri terganggu.
Manifestasi Gastrointestinal Akibat Alergi Makanan Sukmawati Sukmawati; Hendra Santoso; I Kompyang Gede Suandi
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.152 KB) | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.132-5

Abstract

Alergi makanan adalah bagian dari reaksi simpang makanan yang didasari proses imunologis.Berbagai mekanisme pertahanan saluran cerna baik imunologik dan non imunologikmemegang peran penting dalam mencegah terjadinya alergi makanan. Berdasarkan prosesimun yang mendasari, terjadinya alergi makanan dibedakan menjadi tiga jalur yakni reaksiyang diperantarai IgE (IgE mediated), yang tidak diperantarai IgE (non-IgE mediated),dan mekanisme campuran yang melibatkan IgE dan non IgE. Gejala gastro intestinalakibat alergi makanan sangat bervariasi dari perasaaan nyeri, mual, muntah, diare,malabsorpsi dan kehilangan protein hingga terjadi gangguan pertumbuhan. Umumnyaalergi makanan akan menghilang pada umur 5-6 tahun kecuali, kacang tanah dan alergiterhadap sejenis ikan laut dan kerang-kerangan
Uji Fungsi Paru pada Anak Jalanan di Wilayah Jakarta Pusat Mohammad Muchlis; Mardjanis Said; Bambang Madiyono
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.169-76

Abstract

Latar belakang. Anak jalanan merupakan kelompok anak dengan risiko tinggi terhadapancaman maupun gangguan kesehatan. Kebiasaan beraktivitas sehari-hari membuat anakjalanan sering terpapar dengan polutan udara di jalan dan juga kebiasaan hidup yang tidaksehat seperti merokok membuat anak jalanan berisiko mengalami penurunan fungsi paru.Tujuan penelitian. Untuk mendapatkan gambaran nilai faal paru anak jalanan sebagaikelompok yang berisiko tinggi akibat pencemaran udara dan faktor-faktor yangmempengaruhinya.Metoda. Desain cross sectional terhadap kelompok anak jalanan di wilayah Jakarta Pusatyang dibina di empat rumah singgah. Pada subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusidilakukan pendataan riwayat pribadi dan penyakit, pemeriksaan fisik serta pengukuran nilaiarus puncak ekspirasi (APE). Subyek dipilih secara stratified random sampling dengan besarsampel ditentukan secara proporsional dan penghitungan untuk mencari koefisien korelasi.Hasil. Telah dilakukan pemeriksaan dan pengukuran nilai APE dengan alat mini wright peakflowmeter (MWPFM) terhadap 99 anak jalanan yang terdiri dari 61 anak laki-laki dan 38anak perempuan. Rentang usia terbanyak laki-laki 13-15 tahun, perempuan 7-12 tahun, 73masih bersekolah dan 26 anak putus sekolah. Dengan kuesioner international study of asthmaallergic in childhood (ISAAC) didapatkan 2 anak dengan riwayat pernah menderita asma.Status gizi anak jalanan menunjukkan 69 anak (70%) dengan gizi baik, 27 anak ( 27%) dengangizi kurang, dan 3 anak (3%) bergizi lebih. Kebiasaan merokok pada anak jalanan banyakditemukan pada kelompok anak laki-laki, yaitu pada kelompok usia 13-15 tahun 9 orang(26%), 16-18 tahun 4 orang (50%) dan 1 orang anak perempuan usia 17 tahun. Kelompokusia terbanyak menunjukkan kelompok usia sekolah tingkat SMP dan SMA.Kesimpulan. Nilai APE pada kelompok anak jalanan dipengaruhi oleh beberapa faktorantara lain jenis kelamin, umur, tinggi badan, berat badan dan luas pemukaan tubuh. NilaiAPE pada anak jalanan laki-laki sebagian besar berada di bawah nilai rata-rata menurutnomogram Godfrey; pada anak perempuan relatif sama baik untuk nilai di atas rata-ratamaupun di bawah rata-rata. Nilai APE pada anak jalanan tidak jelas berhubungan denganlama paparan, namun nilai indeks APE pada kelompok dengan paparan lebih dari 5 tahundan terpapar lebih dari 5 jam sehari cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok anakjalanan yang lain. Nilai APE anak jalanan yang merokok tidak lebih rendah dari pada nilaitersebut pada anak jalanan yang tidak merokok.
Pemberian Nutrisi Enteral kasus Bedah Anak: Pengaruh pada Status Nutrisi Supriyadi Bektiwibowo; Zakiudin Munasir; Sri Sudaryati Nasar
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.136-42

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi terjadi akibat pemenuhan zat gizi yang tidak optimal.Dilaporkan keadaan malnutrisi pada sekitar 40-50% kasus bedah dan nonbedah yangdirawat di rumah sakit. Hal yang sama dijumpai di Departemen Ilmu Kesehatan AnakRS Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).Tujuan. Mengetahui efektifitas pemberian nutrisi enteral serta respons jangka pendeknyapada anak pasca tindakan operasi yang dirawat di RSCM.Metoda. Penelitian eksperimental dengan desain the one group pretest-posttest,pemberian nutrisi enteral selama 5 hari pasca operasi pada anak derajat sedang denganklasifikasi ASA (The American Society of Anesthesiologists) I dan II usia 1-10 tahun diruang rawat Bedah Anak FKUI-RSCM. Dilakukan pemeriksaan antropometri sederhana,albumin dan prealbumin serum.Hasil. Subyek penelitian 20 orang, usia rerata 3,9 + 2,2 tahun. Nutrisi enteral yangdiberikan diterima dengan baik oleh 18 dari 20 subyek dan dapat ditoleransi denganbaik oleh semua subyek. Tidak ada subyek yang mengalami penurunan berat badan.Terjadi kenaikan rerata berat badan sebesar 130 + 100 g, peningkatan nilai rerata albuminsebesar 0,16 + 0,35 g/dl, dan peningkatan nilai rerata prealbumin sebesar 2,37 + 3,88mg/dl.Kesimpulan. Nutrisi enteral diterima, ditoleransi, serta memberikan respons yang baikterhadap status nutrisi. Nilai prealbumin dan albumin serum meningkat pada sebagianbesar subyek dan tidak terjadi penurunan berat badan.
Peran Eritropoetin pada Anemia Bayi Prematur Lily Rahmawati; Bidasari Lubis
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.143-8

Abstract

Anemia sering terjadi pada bayi prematur, ditandai oleh penurunan nilai hematokrit,retikulosit dan kadar eritropoetin endogen rendah. Di Amerika Serikat, 60-80% bayiberat lahir sangat rendah (BBLSR) mengalami anemia dan membutuhkan transfusi seldarah merah berulang sehingga mempunyai risiko terjadi komplikasi penularan penyakit.Salah satu upaya menurunkan kebutuhan transfusi tersebut dengan pemberianeritropoetin eksogen yaitu recombinant human eritropoietin (r-HU EPO) yang berfungsimerangsang proliferasi, diferensiasi dan maturasi sel darah merah dalam sumsum tulang.Walaupun pada bayi prematur dijumpai kadar eritropoetin yang sangat rendah, namunprogenitor eritroid tetap sensitif terhadap eritropoetin eksogen. Pemberian r-HU EPOdapat meningkatkan eritropoesis sehingga bermanfaat mengurangi kebutuhan transfusipada anemia bayi prematur. Pemberian dalam dosis cukup pada usia dini, suplementasipreparat besi dan protein mempunyai efektifitas yang baik. Berbagai penelitian terhadappenggunaan r-HU EPO pada anemia bayi prematur telah dilakukan tetapi belum adakesepakatan mengenai protokol pemberian, termasuk waktu, dosis, cara, dan durasipemberian. [
Survei Sero Epidemiologik Infeksi Helicobacter pylori pada Siswa Sekolah Dasar Negeri Jebres Surakarta dengan Metoda PHA B. Subagyo
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.149-52

Abstract

Latar belakang. Infeksi H. pylori ditandai dengan ditemukan IgG anti H. pylori.Sebagian infeksi H. pylori tidak memberikan gejala klinik dan merupakan penyebabgastritis kronik dan karsinogenik lambung. Sampai saat ini kemampuan untukmendiagnosis infeksi H. pylori masih terbatas.Tujuan. Untuk mengetahui prevalensi infeksi H. pylori pada siswa Sekolah Dasar NegeriJebres, umur 6-14 tahun di Surakarta.Metoda. Penelitian ini dilakukan secara studi potong lintang, analitik. Infeksi H. pyloriberdasarkan hasil pemeriksaan serologi PHA yang dibuat dari antigen lokal. Populasipada penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar Negeri di Jebres Surakarta, dengan kondisisosial ekonomi yang rendah. Sampel adalah siswa sekolah yang diijinkan orangtuanyamengikuti penelitian ini, dengan menandatangani informed consent.Hasil. Prevalensi infeksi H. pylori didapatkan 107 PHA positip pada 532 siswa (20,1%);siswa perempuan 27.3% dari 205 siswa sedangkan pada laki-laki 12.0% dari 220 siswa.Kelompok umur 6-9 tahun dijumpai PHA positip 13.0% dari 241 siswa. Kelompokumur 10-14 tahun PHA positif 28.0% dari 184 siswa.Kesimpulan. Prevalensi pada siswa perempuan lebih tinggi dari pada siswa laki-lakiPrevalensi kelompok umur 10-14 tahun lebih tinggi dari kelompok siswa umur 6-9tahun. Tingginya prevalensi infeksi H. pylori mungkin sebagai akibat higiene dan sanitasilingkungan yang buruk. Pemeriksaan serologi poliklonal metoda PHA, dibuat dari antigenlokal dan perlu dikembangkan lebih baik dari sisi harga, produksi maupunpendistribusiannya. [
Sindrom Nefrotik Kongenital Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.114-24

Abstract

Sindrom nefrotik kongenital (SNK) adalah sindrom yang timbul dalam usia 3 bulanpertama dengan kejadian kurang lebih 1,5 % dari semua sindrom nefrotik pada anak;dapat dibedakan menjadi SNK primer, SNK yang berhubungan dengan sindrommalformasi, dan SNK sekunder. Pada SNK primer dapat berupa SNK tipe Finnish,sklerosis mesangial difus, dan glomerulosklerosis fokal segmental. Tipe SNK yangberhubungan dengan sindrom malformasi antara lain sindrom Danys-Drash, sedangkanSNK sekunder dapat disebabkan oleh infeksi, lupus eritematosus sistemik, atau keganasan.Jenis SNK yang paling sering ditemukan adalah SNK tipe Finnish yang diturunkansecara autosomal resesif. Biasanya pasien SNK tipe Finnish lahir prematur dengan plasentayang besar. Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan mendeteksi kadar alfa fetoproteinyang tinggi dalam cairan amnion. Masalah utama pada SNK adalah proteinuria yangberat, 90% di antaranya adalah albumin. Manifestasi klinis memperlihatkan edemadengan asites, hipoalbuminemia, proteinuria berat, dan hematuria. Selain albumin,banyak protein yang keluar melalui urin seperti imunoglobulin, transferin, proteinpengikat vitamin D, dan globulin pengikat tiroid. Sering juga ditemukan gejala klinislain seperti hidung pesek, sutura melebar, dan deformitas lainnya. Terapi kuratif padaSNK adalah tansplantasi ginjal, sedangkan kortikosteroid dan imunosupresan biasanyatidak efektif. Sebelum transplantasi ginjal, pasien harus mendapat nutrisi yang adekuat,subsitusi albumin, pemberian obat antiproteinurik, nefrektomi, dan dialisis peritoneal.Pemberian obat antiproteinurik masih diperdebatkan. Prognosis SNK sangat buruk dankematian biasanya terjadi dalam 6 bulan pertama, namun dengan tata laksana yangadekuat prognosis menjadi lebih baik. [
Penanganan Nyeri pada Keganasan Damayani Farastuti; Endang Windiastuti
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.876 KB) | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.153-9

Abstract

Kasus seorang anak dengan retinoblastoma residif mata kiri stadium IV yang tidakresponsif dengan sitostatika. Dalam perjalanan penyakitnya, masa tumor makinmembesar dan menimbulkan keluhan nyeri. Nyeri pada pasien ini dapat disebabkanoleh aktivitas nosiseptor akibat regangan dan destruksi tulang, dan nyeri neuropatikakibat penekanan pada saraf di sekitar tumor. Penanganan nyeri dimulai denganpemberian preparat AINS (anti inflamasi non steroid) yaitu natrium diklofenak danparasetamol namun tidak dapat mengatasi keluhan pasien. Pasien kemudian diberikantramadol supositoria dan natrium diklofenak gel.Masa tumor yang terus membesar membuat frekuensi dan intensitas nyeri yangdirasakan bertambah hebat, dan tidak dapat lagi diatasi dengan terapi AINS. Pasienmengalami gangguan tidur, nafsu makan, dan juga menjadi sangat rewel. Berdasarkanrekomendasi WHO, maka terapi yang harus diberikan selanjutnya adalah golonganopioid kuat. Pasien diberi morfin oral 2 mg, 3 kali sehari, tramadol supositoria, dannatrium diklofenak gel. Keluhan nyeri teratasi dengan obat-obat tersebut. Tiga minggukemudian, pasien kembali mengalami nyeri hebat. Hal ini disebabkan karena ibutidak memberikan obat sesuai dengan jadwal yang dianjurkan, dengan alasan takutterjadi ketergantungan pada morfin. Dalam hal ini, peran dokter untuk memberikaninformasi sejelas-jelasnya sangat penting, mencakup alasan pemberian morfin, dosis,efek samping, dan kemungkinan toleransi.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue