cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 2 (3) 2013" : 11 Documents clear
Efektivitas Perasan Akar Kelor (Moringa Oleifera) Sebagai Pengganti Antibiotik pada Ayam Broiler Yang Terkena Kolibasilosis DARMA, BOI; MAHATMI, HAPSARI; SUDIRA, I WAYAN
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.22 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang “Efektifitas Air Perasan Akar Kelor (Moringa oleifera) Sebagai Alternatif Pengganti Antibiotika Pada Ayam Broiler Yang Terkena Kolibasilosis” yang bertujuan untuk mengetahui daya hambat perasan akar kelor (Moringa oleifera) terhadap pertumbuhan bakteri E.coli yang diisolasi dari ayam broiler yang menderita kolibasilosis. Penelitian ini menggunakan metode Kirby Bauer yang dimodifikasi (Lay, 1994) dengan menggunakan air perasan akar kelor (Moringa oleifera) konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100% sebagai perlakuan dan kertas cakram yang mengandung antibiotik Kloramfenikol sebagai kontrol positif serta akuades steril sebagai kontrol negative. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis menggunakan statistik dengan Uji Sidik Ragam, bila terdapat pengaruh yang sangat nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah zona hambat perasan akar kelor (Moringa oleifera) konsentrasi 100% berbeda nyata (P<0,05) dengan konsentrasi 20%, 40%, dan 60%, hal ini disebabkan karena konsentrasi 100% mengandung zat aktif yang paling banyak dibandingkan dengan konsentrasi yang lainnya. Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin tinggi juga kandungan zat aktif yang terkandung didalamnya sehingga zona hambat yang terbentuk juga semakin luas, begitu juga sebaliknya
Kualitas Daging Se’i Babi Di Kota Madya Kupang Ditinjau Dari Total Coliform Dan pH SIMAMORA, ANITA KAROLINA; SUADA, I KETUT; SUARJANA, I GUSTI KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.62 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui total kontaminasi bakteri Coliform dan pH pada daging se’i babi yang dibuat di Kota Madya Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diambil dari enam tempat pembuatan daging se’i babi secara tradisional yang terbesar di kelurahan Oebufu, Oebobo dan Baun. Se’i merupakan daging asap khas Kota Kupang. Pengasapan daging se’i babi menggunakan kayu kosambi dimana kayu kosambi mengandung fenol, formaldehid sebagai preservatif dan asam organik sebagai antioksidan yang akan menghasilkan warna dan citarasa yang khas pada daging se’i babi. Untuk menentukan kualitas bakteri Coliform pada daging se’i babi digunakan metode Most Probable Number (MPN). Terlebih dahulu dibuat suspensi 1:10 yaitu sampel ditimbang 10 gram dan selanjutnya digerus dan ditambahkan 90 ml NaCl fisiologis kemudian dilakukan pengenceran 10-1, 10-2, 10-3 yang dimasukkan ke dalam 9 ml Nacl fisiologis. Langkah selanjutnya dilakukan uji pembiakan coliform dengan menggunakan seri sembilan tabung. Setiap tabung reaksi dimasukkan 10 ml BGLB cair dan setiap tabung dimasukkan tabung Durham dengan posisi terbalik. Selanjutnya masukkan 1 ml sampel ke dalam 9 tabung dari pengenceran 10-1, 10-2, 10-3, diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C dan diamati tertangkap atau tidaknya gas dalam tabung Durham. Jika terdapat gas atau keruh, maka diduga terdapat Coliform pada tabung. Masing - masing tabung yang menunjukkan hasil positif dapat dicocokkan dengan tabel MPN seri 9 tabung. Sedangkan untuk pengukuran pH daging se’i babi menggunakan kertas pH. Sebelumnya kertas pH dipersiapkan, kemudian daging se’i babi seberat 5 gram digerus atau dihancurkan menggunakan alat penggerus, dilarutkan dengan 5 ml aquades dan diaduk sampai homogen. pengukuran pH daging se’i babi dengan cara mencelupkan kertas pH ke dalam larutan sampel. Pembacaan nilai pH pada kertas pH dilakukan sebanyak dua kali pengulangan dan hasilnya dirata-ratakan. Hasil penelitian untuk setiap lokasi diperoleh sebagai berikut (1) Bambu Kuning-Oebobo nilai >2400 MPN mikroba /gram dan nilai pH 6 (2) Green Garden- Oebufu nilai 1100 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (3) Baun nilai >2400 MPN mikroba/gram dan pH 6 (4) Petra-Oebufu nilai 7,2 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (5) Pondok Sawah-Oebufu nilai 15 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6 (6 )Aroma-Oebobo nilai >2400 MPN mikroba/gram dan nilai pH 6. Dengan melihat adanya kontaminasi bakteri Coliform pada produk se’i babi yang dibuat, maka diperlukan pengolahan daging se’i babi yang lebih baik berupa peningkatan sanitasi dan higiene tempat produksi dan pekerjanya. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keenam sampel daging se’i babi yang dipasarkan di enam tempat pembuatan daging se’i babi di Kota Madya Kupang tercemar bakteri Coliform dan memiliki pH 6.
Gambaran Mikroanatomi Cermin Hidung (Muzzle) Sapi Bali YONITA, PRANSIKA EKSY; BATAN, I WAYAN; KARDENA, I MADE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.19 KB)

Abstract

Cermin hidung sapi bali berupa moncong /planum nasolabialis adalah bagian dari hidung yang memiliki struktur kulit tidak berambut dan umumnya berwarna hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan jumlah kelenjar keringat (merokrin) pada moncong sapi bali betina dengan jantan, serta mengetahui pada bagian manakah dari moncong sapi yang memiliki kelenjar keringat paling banyak. Penelitian ini menggunakan sampel moncong (muzzle) sapi bali diambil dari Rumah Potong Hewan (RPH) Pesanggaran Kota Denpasar. Dalam penelitian ini digunakan 10 sampel sapi bali (lima jantan dan 5 betina). Sampel diambil secara acak. Sampel untuk setiap satu ekor sapi diambil dibagian atas nostril moncong secara melintang dan dibagi menjadi tiga bagian. Sampel dibuat preparat histologi dengan pewarnaan HE (hematoksilin dan eosin) untuk selanjutnya diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x dan 400x. Hasil pengamatan dibawah mikroskop menunjukkan bahwa struktur kelenjar merokrin antara sapi bali jantan dan betina secara struktur sama, terdiri atas lumen, sel sekretori/ sel gelap, myoepitel, dan plasmalema. Jumlah kelenjar merokrin pada sapi bali jantan yang berkulit hitam lebih banyak dibandingkan betina yang berkulit merah bata. Jumlah kelenjar merokrin sapi bali relatif tidak berbeda jauh di berbagai lokasi pada moncong tersebut.
Struktur Genetik Penyu Hijau Di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, Dengan Marker Molekul D-Loop Dna Mitokondria SUPARTHA, DEWA AYU PUTU ARIE SERATHAN; WINDIA ADNYANA, IDA BAGUS; WANDIA, I NENGAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.974 KB)

Abstract

Penelitian ini menggunakan 310 sampel jaringan Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang ditangkap di ruaya pakan perairan Berau, kemudian akan menampilkan hasil temuan 86 sampel jaringan di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Identifikasi asal usul dari Penyu Hijau di ruaya pakan dilakukan dengan menggunakan marker molekul d-loop (displacement loop) DNA mitokondria melalui amplifikasi teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Produk PCR kemudian diurutkan (sequencing) di Macrogen inc. (Korea). Hasil pengurutan kemudian dianalisis menggunakan program MEGA 4.0, DNAsp 5.10, dan BAYES. Penyu Hijau yang ditemukan di habitat pakan tersebut terdiri dari 11 haplotipe yaitu D2 (N=35; 40.7%), C3 (N=19; 22.1%), C5 (N=12; 14%), C14 (N=7; 8.14%), A3 (N=5; 5.81%), E2 (N=2; 2.33%), NEW 1 (N=2; 2.33%), B4 (N=1; 1.16%), NEW 2 (N=1; 1.16%), NEW 3 (N=1, 1.16%), dan NEW 4 (N=1; 1.16%). Selanjutnya persentase kontribusi populasi dari beberapa habitan peneluran dan beberapa unit menejemen dihitung menggunakan Mixed Stock Analysis (MSA) dengan program BAYES, dengan hasil presentase Berau Islands (56.56%), Sulu Sea (52.59%), Papua Nugini (17.48%), dan Mikronesia (13.21%).
Kualitas Daging Se’i Sapi di Kota Kupang Ditinjau dari Jumlah Bakteri Coliform dan Kadar Air HUTASOIT, KARTINI; SUADA, I KETUT; SUARJANA, I GUSTI KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.327 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa jumlah bakteri Coliform dan kadar air yang ada pada daging se’i sapi yang dibuat di Kota Madya Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diambil dari lima tempat pembuatan daging se’i sapi secara tradisional yang terbesar di daerah Aldia, Naikoten dan Tradisional Timur. Daging se’i merupakan daging asap khas Kota Kupang dimana pengasapan menggunakan kayu kosambi. Asap yang dihasilkan dari pengasapan menggunakan kayu kosambi ini mengandung fenol, formaldehid sebagai preservatif dan asam organik sebagai antioksidan yang akan menghasilkan warna dan citarasa yang khas pada daging se’i sapi. Untuk menentukan jumlah bakteri Coliform pada daging se’i sapi digunakan metode Most Probable Number (MPN). Pengujian ini dilakukan suspensi 1:10 yaitu sampel ditimbang 10 gram dan selanjutnya digerus dan ditambahkan 90 ml NaCl fisiologis kemudian dilakukan pengenceran 10-1, 10-2, 10-3 yang dimasukkan ke dalam 9 ml Nacl fisiologis. Setiap tabung reaksi dimasukkan 10 ml BGLB dan setiap tabung diisi tabung Durham. Selanjutnya, diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37°C dan diamati. Jika terdapat gas atau keruh, dan media berubah menjadi warna kuning, maka diduga terdapat Coliform pada sampel. Masing - masing tabung yang menunjukkan hasil positif dapat dicocokkan dengan tabel MPN seri 9 tabung. Sedangkan untuk penghitungan kadar air dilakukan dengan menggunakan oven vakum, cawan beserta isinya dan tutup cawan dipanaskan pada suhu 1050C selama beberapa jam hingga beratnya konstan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah Coliform dan Kadar Air berturut-turut sebagai berikut (1) Aldia nilai 1100 MPN/gram dan kadar air 63,49% (2) Naikoten 1 nilai 210 MPN/gram dan kadar air 63,60% (3) Naikoten 2 nilai 210 MPN/gram dan kadar air 64,34% (4) Naikoten 3 nilai 240 MPN/gram dan kadar air 56,86% (5) Tradisional Timor-Cikumana nilai >2400 MPN/gram dan kadar air 55,55%. Dengan adanya kontaminasi bakteri Coliform pada produk se’i sapi, maka diperlukan pengolahan daging se’i sapi yang lebih baik berupa peningkatan sanitasi dan higiene tempat produksi dan pekerjanya.
SERODETEKSI PENYAKIT TETELO PADA AYAM DI TIMOR LESTE Syukron, Muhammad Ulqiya; Suartha, I Nyoman; Dharmawan, I Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.111 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian penyakit tetelo pada ayam di Timor Leste. Penelitian ini menggunakan sampel serum ayam yang diambil dari distrik di Dili, Los Palos, Suai dan Maliana. Setiap distrik diambil 15 serum sampel. Sampel yang digunakan merupakan koleksi tim Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Universitas Udayana tahun 2010. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI). Hasil yang didapat dalam penelitian ini menunjukan bahwa nilai titer antibodi antara 21 sampai 28 di Timor Leste. Simpulan penelitian ini adalah di Negara Timor leste terjangkit penyakit tetelo secara endemik.
Penyimpanan Spermatozoa Anjing Kintamani dengan Kuning Telur dan Bovine Serum Albumin 1% Terhadap Motilitas dan Daya Hidup SAFITRI, NUR ANIS; BEBAS, WAYAN; KOTA BUDIASA, MADE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.128 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama penyimpanan semen anjing kintamani pada bahan pengencer kuning telur fosfat yang ditambah BSA 1% terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 7 perlakuan lama penyimpanan yaitu T0: disimpan selama 0 jam (kontrol), T1: disimpan selama 12 jam,T2 : disimpan selama 24 jam,T3: disimpan selama 36 jam,T4: disimpan selama 48 jam,T5: disimpan selama 60 jam,T6: disimpan selama 72 jam, T7 : disimpan selama 84 jam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata (X±SD) motilitas spermatozoa anjing kintamani pada perlakuan T0, T1, T2, T3, T4, T5, T6 danT7 berturut-turut adalah sebagai berikut : 90,0 ± 0,000 ; 87,33 ± 1,115 ; 85,67 ± 0,577 ; 84,33 ± 0,577 ; 80,33 ± 0,577 ; 70,33 ± 0,577 ; 62,33 ± 3,215 ; 29,00 ± 2,646 dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani pada perlakuan T0, T1, T2, T3, T4, T5, T6 danT7 berturut-turut adalah sebagai berikut : 95,00 ± 0,000 ; 92,00 ± 1,000 ; 90,00 ± 1,000 ; 89,00 ± 1,000 ; 85,00 ± 1,000 ; 75,00 ± 1,000 ; 64,33 ± 3,055 ; 39,67 ± 7,572. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan: lama penyimpanan berpengaruh terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani. Penyimpanan semen selama 60 jam masih layak untuk digunakan. Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan: lama penyimpanan berpengaruh terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani. Penyimpanan semen selama 60 jam masih layak untuk digunakan.
Studi Penampilan Reproduksi (Litter Size, Jumlah Sapih, Kematian) Induk Babi pada Peternakan Himalaya, Kupang PRASETYO, HILDA; KOTA BUDIASA, MADE; ARDANA, IDA BAGUS KOMANG
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.106 KB)

Abstract

Secara nasional terlihat bahwa kegiatan usaha peternakan babi dilakukan secara komersial (industri peternakan), dan sebagian besar masih merupakan peternakan rakyat. Selain sebagai cabang usaha utama, usaha peternakan babi dapat dijadikan sebagai usaha sampingan ataupun komplementer bagi masyarakat. Pada saat ini ternak babi merupakan jenis ternak paling penting bagi masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara tradisional ternak babi mempunyai peran yang penting di dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial di masyarakat NTT dan merupakan sumber protein utama bagi konsumsi domestik. Semakin meningkatnya konsumsi akan daging babi, maka peternak juga harus meningkatkan kualitas ternaknya sendiri sehingga dapat memenuhi permintaan pasar. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kualitas ternak babi di Kupang, salah satunya dengan memperbaiki kualitas babi itu sendiri dari segi reproduksinya. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui jumlah kelahiran anak perinduk babi, untuk mengetahui jumlah kematian anak babi pra sapih, untuk mengetahui jumlah anak babi yang di Sapih di peternakan babi Himalaya di desa Noelbaki kabupaten Kupang. Hasil pengamatan dan pencatatan kinerja reproduksi dari 85 induk babi adalah Angka kelahiran 11,6 ekor sudah mencapai standart, Jumlah sapih 7,7 belum mencapai standart dan presentase kematian (mumifikasi dan kematian pra sapih) cukup tinggi yaitu 33,6%. Dengan rata – rata kelahiran yang telah dicapai, peternak di harapkan untuk mempertahankan angka kelahiran dengan cara memperhatikan nutrisi calon induk, maupun induk bunting, lebih memperhatikan kesehatan induk babi pada saat bunting. Tingginya jumlah kematian, diharapkan peternak bisa lebih memperhatikan kesehatan anak babi pra sapih, dan kebersihan kandang induk.
Mutu Telur Asin Desa Kelayu Selong Lombok Timur yang Dibungkus dalam Abu Gosok Dan Tanah Liat SURAINIWATI, SURAINIWATI; RUDYANTO, MAS DJOKO; SUADA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.734 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengasinan dan lama penyimpanan serta perubahan yang terjadi selama proses pengasinan berlangsung sampel diambil dari desa kelayu kecamatan selong lombok timur. Dalam penelitian ini digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 4 x 5, dengan 2 faktor perlakuan yaitu faktor pertama meliputi telur itik segar dan telur itik yang dalam proses pengasinan. Faktor yang kedua yaitu jangka waktu pengamatan yang dimulai dari hari ke-3, ke-10, ke-17, sampai hari ke-24 (dengan 4 kali pengamatan). Variabel bebas dalam penelitian ini telur itik segar dan telur itik dalam proses pengasinan. Data yang terkumpul dianalisis dengan sidik ragam dan bila hasil yang diperoleh berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan nilai Indeks Putih Telur (IPT), Indek Kuning Telur (IKT) dan Haugh Unit (HU), telur itik segar pada hari ke-3, ke-10, ke-17, sampai hari ke-24, mengalami penurunan, sedangkan pada telur asin mengalami peningkatan. Selama pengasinan kualitas telur itik asin lebih baik dibandingkan dengan telur itik segar yang berasal dari desa Kelayu Kecamatan Selong Lombok Timur, ditinjau dari IPT, IKT dan HU. Selama penyimpanan terjadi perbedaan jelas terlihat terhadap kualitas telur itik yang berasal dari desa Kelayu Kecamatan Selong Lombok Timur ditinjau dari IPT, IKT dan HU. Terjadi interaksi selama pengasinan dan penyimpanan terhadap kualitas telur itik, ditinjau dari IPT, IKT, dan HU.
Perasan Daun Mengkudu (Morinda Citrifolia) Menghambat Pertumbuhan Bakteri Escherichia Coli Secara In Vitro KAMESWARI, MADE SUMITHA; MAHATMI, HAPSARI; KERTA BESUNG, I NENGAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.355 KB)

Abstract

Daun mengkudu (Morinda citrifolia) mengandung senyawa kimia seperti : antrakuinon, alkaloid, saponin, flavanoid, dan terpenoid yang berperan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan daun mengkudu (M. citrifolia) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherihia coli (E. coli) secara in vitro. Penelitian ini menggunakan isolat bakteri E. coli ATCC 25922 yang diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana. Kemampuan perasan daun mengkudu untuk menghambat pertumbuhan bakteri E. coli ATCC 25922 diuji dengan uji hambatan metode Kirby-Bauer yang dimodifikasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan lima perlakuan, satu kontrol positif dan empat kali ulangan. Hasil perasan daun mengkudu berasal dari 300 gram daun mengkudu yang dihaluskan kemudian diperas. Konsentrasi perasan daun mengkudu yang digunakan adalah 0%, 25%, 50%, 75%, 100% dan kontrol positif oxitetrasiklin. Semua data dianalisis secara statistik dengan SPSS 13 (Sampurna, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perasan daun mengkudu secara signifikan mampu menghambat pertumbuhan bakteri E. coli (P<0,01). Rataan zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 0%, 25%, 50%, 75%, 100% secara berurutan adalah 0,00 mm 7,3 mm, 8,5 mm, 10,4 mm, 12,5 mm dan secara statistik sangat berbeda nyata. Ada kecenderungan semakin tinggi konsentrasi perasan daun mengkudu maka zona hambat yang terbentuk semakin besar dengan uji regresi yang di dapat Y = 0.091 + 0.411K - 0.006K2 + 0.00003320K3 dan r = 0,995.

Page 1 of 2 | Total Record : 11