cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 4 (3) 2015" : 11 Documents clear
Faktor Risiko Infeksi Escherichia coli O157:H7 pada Sapi Bali di Petang, Badung, Bali Lestari Amin, Andi Isma; Agustina, Kadek Karang; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.64 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor risiko yang berperan dalam menyebarkan agen E. coli O157:H7 dan mengetahui asosiasi diantara faktor-faktor risiko terhadap penyebaran E. coli O157:H7 pada ternak sapi. Sampel yang dipergunakan adalah sebanyak 58 sampel feses sapi yang dilengkapi dengan data epidemiologi. Sampel berasal dari tujuh desa di Kecamatan Petang Kabupaten Badung, Bali. Tahapan isolasi E. coli dilakukan dengan menumbuhkan bakteri pada media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA). Selanjutnya dilakukan pewarnaan Gram untuk mengetahui bentuk dan warna dari E. coli. Untuk membedakan bakteri fecal coli dan non fecal coli maka dilakukan identifikasi isolat dengan uji Indol, Methyl red, Voges-proskauer dan Simon citrate. Selanjutnya untuk mengkonfirmasi E. coli O157 maka isolat ditumbuhkan pada media sorbitol MacConkey Agar (SMAC) yang dilanjutkan dengan uji aglutinasi latek O157. Tahapan akhir yang dilakukan untuk memastikan E. coli O157 tersebut adalah E. coli O157:H7 maka diuji dengan uji antiserum H7. Hasil analisis data epidemiologi dengan Odds ratio menunjukkan bahwa sapi jenis kelamin jantan memiliki nilai Odds ratio 4,1 yang berarti  memiliki risiko menyebarkan E. coli O157:H7 4,1 kali lebih besar dibandingkan dengan sapi yang berjenis kelamin betina. Selain itu, sumber air minum ternak yang berasal bukan dari Perusahaan Air Minum memiliki nilai Odds ratio 2,4 yang berarti 2,4 kali berisiko menyebarkan E. coli O157:H7 dibandingkan dengan air minum yang bersumber dari Perusahaan Air Minum. Pada uji Chi square belum ditemukan adanya pengaruh nyata (P>0,05) dari asosiasi diantara faktor-faktor risiko tersebut. Dari penelitian ini ditemukan faktor yang beresiko terhadap penyebaran E. coli O157:H7 adalah jenis kelamin dan sumber air minum dan tidak terdapat asosiasi yang signifikan diantara faktor resiko tersebut.
Isolasi dan Identifikasi Escherichia Coli O157:H7 dada Sapi Bali Di Abiansemal, Badung, Bali Baehaqi, Khamid Yusuf; Putriningsih, Putu Ayu Sisyawati; Suardana, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.982 KB)

Abstract

Escherichia coli O157:H7 merupakan salah satu agen zoonosis yang menyebabkan haemorrhagic colitis dan haemolytic uraemic syndrome pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk isolasi dan identifikasi E. coli O157 dan E. coli O157:H7 serta kaitan antara tingkat infeksi E. coli O157 dengan E. coli O157:H7 pada feses sapi bali di Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, Bali. Penelitian menggunakan 60 sampel feses sapi bali yang diawali dengan isolasi bakteri pada media Eosin Methylen Blue Agar (EMBA), kemudian pewarnaan Gram dan dilanjutkan dengan uji Indol, Methyl Red, Voges Proskauer dan Citrat. Identifikasi E. coli O157 dilakukan dengan penumbuhan isolat pada media Sorbitol MacConkey Agar (SMAC) yang dikonfirmasi dengan uji latek aglutinasi O157, dan diakhiri dengan uji antiserum H7 untuk identifikasi E. coli O157:H7. Isolasi dan identifikasi E. coli O157 ditemukan 11,67%, E. coli O157:H7 ditemukan 10% pada feses sapi bali. Uji Mc Nemar terlihat bahwa infeksi E. coli O157 menunjukkan perbandingan yang tidak nyata dengan infeksi E. coli O157:H7. Uji korelasi Spearman's rho menunjukkan bahwa adanya infeksi E. coli O157 dapat secara kuat dijadikan petunjuk keberadaan E. coli O157:H7.
Bentuk Kuku Sapi Bali yang Dipelihara pada Lahan Lunak Pratiwi, Fransiska Septanila; Widyastuti, Sri Kayati; Utama, Iwan Harjono
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.656 KB)

Abstract

ABSTRAK Sapi Bali termasuk dalam ordo Artiodactyla, yaitu golongan hewan ungulata berkuku genap. Sapi Bali yang sering berjalan pada tanah atau padang penggembalaan yang lunak, kukunya cenderung akan cepat tumbuh. Untuk itu penelitian ini dilakukan untuk mengamati bentuk kuku Sapi Bali yang dipelihara pada lahan lunak di Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung. Contoh yang digunakan adalah 100 ekor Sapi Bali yang sudah dewasa berumur lebih dari 1,5 tahun dan dikandangkan selama 1-2 tahun. Hasil penelitian memperlihatkan 86% sapi berkuku panjang abnormal serta kelainan pada Coronary band dan Foot Rot tidak ditemukan. Kesimpulan dalam  penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk abnormal yang paling banyak ditemukan pada kuku Sapi Bali yang dipelihara pada lahan lunak di Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung adalah kuku panjang.
Gambaran Histopatologi Hati Tikus Putih yang Diberikan Deksametason dan Vitamin E Insani, Aulia; Suri, Sam; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.425 KB)

Abstract

Deksametason merupakan glukokortikosteroid yang banyak digunakan di masyarakat, penggunaan jangka waktu lama dan dosis besar dapat mengganggu fungsi dan struktur hati. Untuk mengurangi efek samping pemberian deksametason, maka diberikan vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa  vitamin E dapat memperbaiki organ hati akibat efek samping deksametason, yang diperiksa secara histopatologi. Penelitian menggunakan 25 ekor tikus putih jantan, dibagi dalam lima kelompok perlakuan, yaitu kontrol(-), tidak diberi deksametason dan vitamin E; kontrol (+) diberikan deksametason  dosis 0,13 mg/kg, P1  diberikan deksametason 0,13 mg/kg dan vitamin E dosis 100 mg/kg, P2 deksametason dosis 0,13 mg/kg dan vitamin E  dosis 150 mg/kg, P3 deksametason 0,13 mg/kg dan vitamin E dosis 200 mg/kg. Setelah 14 hari, semua tikus dikorbankan nyawanya (nekropsi), selanjutnya diambil organ hatinya untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan hematoksilin eosin (HE). Variabel yang diperiksa didasarkan pada perubahan normal (skor1) perdarahan (skor 2), degenerasi (skor 3) dan nekrosis (skor 4). Dari hasil pengamatan histologi dari semua subyek perlakuan. Kontrol negatif (-) tergolong dalam kategori skor 1, kontrol positif (+) ini tergolong dalam skor 4, kelompok tikus putih P1 4 subyek skor 2 dan 1 subyek skor 3, kelompok P2 4 subyek skor 3 dan 1 subyek skor 4, dan kelompok P3 4 subyek skor 3 dan 1 subyek skor 4. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata skor perbaikan hati yang signifikan pada semua perlakuan, namun pada kelompok perlakuan P1 hasil rerata skoring yang paling mendekati kontrol (-). Kesimpulan penelitian ini adalah vitamin E dosis 100 mg/kg terbukti terbaik mengurangi efek samping deksametason.
Media Kulit Buah Manggis Meningkatkan Parameter Nilai Gizi Telur Asin Ferdianti, Desy Ariani; Swacita, Ida Bagus Ngurah; Agustina, Kadek Karang
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.42 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan zat gizi dari telur asin yang dibuat dengan menggunakan media kulit buah manggis ditinjau dari kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar karbohidrat. Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial, dengan dua faktor perlakuan yaitu faktor pertama meliputi telur yang telah dilapisi media kulit buah manggis dan telur yang dilapisi media batu bata. Faktor kedua yakni jangka waktu pemeraman telur pada suhu kamar dimulai dari hari ke-1, ke-7, ke-14 dan ke-21. Data dari penelitian dianalisis dengan sidik ragam, dan apabila terdapat perbedaan dari masing-masing perlakuan maka dilanjutkan dengan menggunakan uji LSD. Hasil penelitian menunjukka bahwa selama proses pemeraman telur asin yang dibuat dengan media kulit buah manggis yang diamati pada hari ke 1, 7, 14 dan 21 terjadi peningkatan kadar protein dan karbohidrat telur asin dari 10,13% sampai 12,72% dan 3,26% sampai 11,61%. Sedangkan kadar air, kadar abu, dan kadar lemak mengalami penurunan dari 70,43% sampai 60,39%, 1,67% sampai 2,81% dan 14,49 sampai 12,44%. Sehingga dapat disimpulakan bahwa pembuatan telur asin dengan menggunakan media kulit buah manggis (Garcinia mangostana L) dapat berpengaruh terhadap perubahan zat gizi telur.
Penerapan Animal Welfare pada Proses Pemotongan Sapi Bali di Rumah Pemotongan Hewan Pesanggaran, Denpasar Bali Wenno, Christine Regina Fenita; Swacita, Ida Bagus Ngurah; Suada, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.274 KB)

Abstract

Rumah Pemotongan Hewan (RPH) memegang peranan penting dalam mata rantai pengadaan daging. Beberapa tahapan proses penyembelihan di RPH seringkali diabaikan atau tidak memperhatikan kaidah-kaidah animal welfare sehingga nantinya berpengaruh terhadap kualitas daging yang dihasilkannya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penerapan animal welfare di RPH Pesanggaran khususnya pada pemotongan sapi bali. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 46 ekor sapi bali yang diamati mulai dari hewan diturunkan dari truk sampai ke kandang penampungan dan 100 ekor sapi yang diamati pada proses penyembelihan. Data hasil pengamatan diperoleh dari hasil inspeksi terhadap tahapan mulai dari sapi diturunkan dari truk sampai dengan disembelih yang selanjutnya dicatat dalam lembaran kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 73,19% proses penurunan hewan dari truk sampai penggiringan telah memenuhi persyaratan animal welfare. Sementara proses persiapan penyembelihan sampai penilaian kematian hewan (pemisahan kepala dan kaki hewan) ditemukan memenuhi persyaratan animal welfare sebesar 52,93%. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian besar prinsip-prinsip animal welfare telah di laksanakan oleh pihak RPH Pesanggaran, sekalipun masih diperlukannya perbaikan terhadap beberapa proses.
Ekstrak Metanol Daun Pepaya Efektif sebagai Vermisidal dan Ovisidal terhadap Cacing Ascaris Suum secara In Vitro Malelak, Ayu Murni Desrini; Oka, Ida Bagus Made; Sudira, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.132 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui vermisidal dan ovisidal dari ekstrak metanol daun pepaya dengan konsentrasi ekstrak 0,25% - 1% terhadap cacing Ascaris suum. Penelitian ini menggunakan  Rancangan  Acak  Lengkap (RAL), dengan perlakuan beberapa konsentrasi ekstrak daun pepaya 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1%. Kontrol negatif menggunakan NaCl fisiologis dan kontrol positif menggunakan Albendazole 0,12%. Dilakukan uji vermisidal dan uji  ovisidal, uji ovisidal dibagi  menjadi  dua  uji,  yaitu kontak langsung dan kontak tidak  langsung. Untuk uji vermisidal data dianalisis dengan Analisis Probit untuk mengetahui LC100 (Lethal concentration) dan LT100 (Lethal  time), sedangkan  untuk  uji  ovisidal  data dianalisis dengan Sidik Ragam dan  jika terdapat perbedaan, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil  penelitian  vermisidal  didapatkan  LC100 ekstrak  daun  pepaya adalah  13,378%  dan  LT100 54,706  jam.  Untuk  uji  ovisidal  kontak  langsung didapatkan ekstrak daun pepaya berpengaruh sangat nyata (P<0,01) dan kontak tidak langsung didapatkan ekstrak daun papaya tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya berembrio telur Ascaris suum. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ekstrak daun pepaya efektif sebagai vermisidal dan ovisidal kontak langsung terhadap cacing Ascaris suum secara in-vitro.
Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Putih yang Diberi Deksametason dan Vitamin E Rabiah, Erwanti Siti; Berata, I Ketut; Suri, Sam
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.226 KB)

Abstract

Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih yang terdiri dari: kelompok kontrol (K) tanpa diberi deksametason dan vitamin E, kelompok perlakuan 1 (P0) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB, kelompok perlakuan 2 (P1) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E 100 mg/kg BB, kelompok perlakuan 3 (P2) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E dosis 150 mg/kg BB, kelompok perlakuan 4 (P3) diberi deksametason dosis 0,13 mg/kg BB dan vitamin E dosis 200 mg/kg BB. Setelah pemberian perlakuan selama 14 hari, tikus dikorbankan nyawanya/diterminasi dan diambil ginjal kanannya untuk dibuat preparat histopatologi dengan pewarnaan metode Harris Hematoxylin Eosin (HE). Variabel yang diperiksa adalah gambaran tubulus proksimalnya dengan mikroskop cahaya pembesaran 400x. Dari pemeriksaan preparat histopatologi ginjal terdapat kerusakan ginjal berupa penutupan lumen tubulus proksimal, dimana  rerata penutupan lumen tubulus paling rendah adalah pada kelompok kontrol negatif yaitu 3,52 dan paling tinggi adalah pada kelompok kontrol positif yaitu 24,68. Uji Kruskall Wallis menunjukkan adanya perbedaan bermakna (p=0,01) pada rerata degenerasi tubulus ginjal  dari lima kelompok yang diuji. Kesimpulan dari penelitian ini adalah vitamin E dapat memberikan efek proteksi pada ginjal tikus putih yang terjadi akibat efek toksik deksametason.
Perbedaan Cara Penyebaran Suspensi terhadap Jumlah Bakteri pada Media Eosin Methylene Blue Agar Kadri, Ahmad Nuzuludin; Gelgel, Ketut Tono Pasek; Suarjana, I Gusti Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.981 KB)

Abstract

Dalam rangka pengawasan mutu secara biologis dilakukan pengujian laboratorium untuk mengisolasi dan melakukan jumlah penghitungan jumlah bakteri patogen (enumerasi). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan cara penyebaran suspensi dengan menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose terhadap jumlah bakteri yang terhitung pada media Eosin Methylene Blue Agar. Sampel diambil dari air susu kambing yang kemudian dihitung jumlah bakteri-nya dengan tiga kelompok perlakuan yaitu menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam, bila hasilnya berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose per ml berturut-turut mengandung 9.722.222 cfu, 68.944.444 cfu dan 116.444.444 cfu. Dengan sidik ragam, perlakuan cara penyebaran dengan menggunakan mikropipet dan ose berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan batang gelas bengkok. Setelah di uji dengan uji Duncan, rata-rata jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan mikropipet dan ose lebih tinggi sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan menggunakan batang gelas bengkok, sedangkan rata-rata jumlah bakteri yang terhitung menggunakan ose lebih tinggi sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan menggunakan mikropipet. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan cara penyebaran suspensi dengan menggunakan batang gelas bengkok,mikropipet dan ose terhadap jumlah bakteri pada media EMBA. Penyebaran bakteri menggunakan ose lebih banyak (P<0,01) dibandingkan mikropipet dan batang gelas bengkok. Sedangkan penyebaran bakteri menggunakan mikropipet lebih banyak (P<0,01) dibandingkan dengan gelas bengkok.
Studi Histopatologi Pankreas Tikus Putih (Rattus Novergicus) yang Diberi Deksametason dan Suplementasi Vitamin E Dharma, I Gusti Bagus Sathya; Berata, I Ketut; Suri, Sam
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.864 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin E terhadap pankreas tikus putih yang diberi deksametason. Sebanyak 25 ekor tikus putih jantan berumur 2-3 bulan dengan bobot 100-200 gram dibagi menjadi lima kelompok perlakuan. Kelompok P0 adalah tikus yang diberi pakan dan minum secara ad libitum. Kelompok P1  adalah tikus yang diberi deksametason 0,13mg/kgBB/hari. Kelompok P2 adalah tikus yang diberikan deksametason 0,13 mg/kg BB/hari secara subkutan dan vitamin E 100 mg/kg BB/ hari per oral. Kelompok P3 diberikan deksametason 0,13 mg/kg BB/hari dan vitamin E 150 mg/kg BB/hari. Kelompok P4 diberikan deksametason 0,13 mg/kg BB/hari dan vitamin E 200 mg/kg BB/hari. Pada hari ke 14, tikus dikorbankan nyawama dan pankreas diambil. Preparat histopatologi dibuat sesuai prosedur baku dengan pewarnaan hematoksilin-eosin. Variabel yang diperiksa dalam penelitian ini adalah nekrosis sel eksokrin dan endokrin pankreas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis secara statistik nonparametrik dengan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil pengamatan histopatologi menunjukkan adanya nekrosis pada sel eksokrin dan endokrin pankreas, dimana tertinggi pada kelompok P1 dan terendah adalah kelompok P4. Simpulan dari penilitan ini adalah pemberian vitamin E dosis 200 mg/kg berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap perbaikan jaringan pankreas tikus putih yang diberikan deksametason 0,13 mg/kg.

Page 1 of 2 | Total Record : 11