cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 8 (3) 2019" : 15 Documents clear
Gambaran Total dan Diferensial Leukosit Babi Crosbreed Periode Nursery Setelah Suplementasi Enzim dan Tepung Kunyit Melalui Pakan Putra, Putu Adi Guna Purwaka; Merdana, I Made; Sudira, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.083 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi enzim pencernaan yang mengandung xilanase, amylase dan protease dengan tepung kunyit (Curcuma domestica) pada pakan terhadap total leukosit dan diferensial leukosit. Menggunakan rancangan acak lengkap, sebanyak 32 ekor anak babi crossbreed jantan umur empat minggu dengan bobot tujuh sampai sembilan kilogram dibagi menjadi empat kelompok (P0, P1, P2 dan P3) dengan delapan ulangan. Perlakuan berupa penambahan enzim pencernaan dan tepung kunyit melalui pakan selama lima minggu. Pada P0 sebagai kontrol diberikan pakan tanpa perlakuan, P1 diberikan kombinasi enzim dosis 0,1% campuran pakan, P2 diberikan tepung kunyit dosis 1% campuran pakan dan P3 diberikan kombinasi enzim dan tepung kunyit dengan dosis 0,1% dan 1% campuran pakan.Hasil penelitian diperoleh rerata total leukosit sebagai berikut P0= 15,37 ± 1,30; P1= 15,18 ± 0,96; P2= 14,92 ± 0,68 dan P3= 14,86 ± 1,08 kg. Analisis statistik menunjukkan penambahan enzim dan tepung kunyit melalui pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap total leukosit anak babi.
Non-Invasive Treatment in A Case of Post-Ovulatory Egg Stasis in A Burmese Python (Python bivittatus) Govendan, Puveanthan Nagappan; Kurniawan, Lynn Kaat Laura; Raharjo, Slamet
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.057 KB)

Abstract

A three-year-old adult female albino gravid Python bivittatus was presented with a complaint of egg retention. It laid one slug egg 48 hours earlier and no oviposition noticed after. The python was very restless and was moving a lot in the enclosure. Physical examination and palpation showed a distended cealomic cavity and radiography performed after confirmed post-ovulatory egg stasis. Fluid therapy, calcium gluconate and hormonal therapy was indicated. Two doses of oxytocin were given by intramuscular injection and oviposition was noticed within 24 hours after second therapy.
Laporan Kasus: Hernia Abdominalis pada Anjing Ras Mix Pug Andini, Ni Made Ria; Wandia, I Nengah; Wirata, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.815 KB)

Abstract

Hernia abdominalis adalah suatu kondisi keluarnya organ viscera dari ruang abdomen melalui celah atau cincin pada dinding abdomen, sehingga terlihat adanya penonjolan. Hernia abdominalis dapat dibedakan berdasarkan lokasi, diantaranya adalah subcostal, prepubis (ligamen cranial pubis), dan paracostal. Seekor anjing mix pug berumur 3 tahun, berat 4,1 kg dan berjenis kelamin betina diperiksa di Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dengan keluhan adanya penonjolan pada abdomen atau lebih tepatnya pada cranial pubis. Pemeriksaan fisik menunjukkan bahwa penonjolan tersebut berbentuk kantong dan ada isinya. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan isi dari kantong tersebut adalah usus. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut anjing didiagnosa mengalami hernia abdominalis dengan prognosa fausta. Anjing ditangani dengan melakukan pembedahan (insisi) pada kantong hernia untuk mengeksplorasi cincin hernia dan mereposisi usus yang keluar. Pascaoperasi anjing diberikan antibiotik cefotaxime, hari pertama sampai hari kelima diberikan antibiotik ciprofloxacin dengan analgesik asam mefenamat. Pengobatan yang dilakukan mendapatkan hasil yang baik dan anjing dapat sembuh.
Perubahan Histopatologi Uterus pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Akibat Pemberian Ragi Tape Duwiri, Christine Valeri; Samsuri, Samsuri; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.576 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gambaran histopatologi uterus tikus putih akibat pemberian ragi tape dalam beberapa dosis dan lama pemberian. Sebanyak 24 ekor tikus putih digunakan dalam penelitian ini. Sampel diambil dari bagian uterus yang diberikan pakan pellet dengan penambahan ragi tape. Tikus putih dikelompokkan menjadi 4 perlakuan dan 6 ulangan yaitu P0: kontrol; P1: pemberian ragi tape 100 mg/kg BB; P2: pemberian ragi tape 200 mg/kg BB; dan P3: pemberian ragi tape 300 mg/kg BB. Tikus putih dinekropsi pada minggu ke 3 pada semua kelompok perlakuan. Jaringan uterus diambil untuk pembuatan preparat dan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE). Parameter yang diamati meliputi adanya nekrosis dan proliferasi sel epitel endometrium uterus. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan pemberian perlakuan dengan ragi tape berbeda nyata pada nekrosis dan proliferasi sel epitel. Kedua lesi tersebut terdapat pada tikus yang diberikan perlakuan dibandingkan kontrol.
Laporan Kasus : Prolapsus Bola Mata yang Disertai Miasis pada Anjing Shih-Tzu Dada, I Ketut Anom; Erika, Erika; Sudisma, I Gusti Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.687 KB)

Abstract

Prolapsus bola mata adalah keluarnya bola mata dari rongga mata. Prolapsus bola mata yang tidak mendapatkan penanganan segera dapat mengakibatkan komplikasi. Hewan kasus adalah seekor anjing rescue ras Shih-Tzu berjenis kelamin jantan, berumur kurang lebih dua tahun, berat badan 2,7 kg. Hewan kasus menujukkan adanya kelainan pada bagian mata dengan kondisi mata bagian kiri mengalami prolapsus disertai miasis yang parah. Hematologi rutin menunjukkan adanya anemia, leukositosis, limfositosis, dan trombositopenia. Anjing diperiksa dalam keadaan lemas, tidak mau makan dan minum, urinasi normal, tetapi terjadi konstipasi. Penanganan dilakukan dengan debridement dan penjahitan pada bagian palpebrae. Perawatan pascaoperasi dilakukan dengan pemberian antibiotika injeksi amoxicilin dan salep neomycin sulphate dan placental extract, pemberian multivitamin dan meloxicam per oral. Setelah empat hari penanganan, anjing kasus mati.
Studi Kasus: Fibrosarcoma Kelenjar Mammae pada Anjing Golden Retriever Putri, Rizki Kusuma; Gorda, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.555 KB)

Abstract

Seekor anjing ras Golden Retriever berumur sepuluh tahun dengan bobot badan 20 kg, berjenis kelamin betina terdapat benjolan pada kelenjar mammae kedua, ketiga dan keempat sebelah kanan dan disertai ulcer. Secara fisik dan klinis anjing nampak sehat dengan nafsu makan dan minum yang baik, defekasi dan urinasi normal. Hasil pemeriksaan histopatologi jaringan tumor yang dilakukan di Laboratorium Patologi FKH UNUD, anjing didiagnosis menderita fibrosarcoma kelenjar mammae dengan prognosa dubius. Anjing ditangani dengan melakukan pembedahan (eksisi) untuk mengangkat masa tumor dan pemberian antibiotik cefotaxim, amoxicillin dengan analgesik meloxicam serta obat topikal seperti Enbatic® dan Bioplasenton®. Sebelas hari pascaoperasi anjing kasus dinyatakan sembuh dengan luka operasi yang sudah kering dan menyatu.
Prevalensi dan Identifikasi Nematoda Gastrointestinal Kuda serta Dampaknya terhadap Body Condition Score di Bali Equstrian Centre dan Bali Star Adventures Putranty, Rahmi Maulidya; Oka, Ida Bagus Made; Widyananta, Budhy Jasa
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.724 KB)

Abstract

Peranan kuda sebagai destinasi pariwisata, olahraga, dan rekreasi cukup besar di beberapa wilayah di Indonesia. Kuda dijadikan sebagai destinasi pariwisata, olahraga, dan rekreasi, di beberapa tempat di Pulau Bali yaitu Bali Equstrian Centre (BEC) dan Bali Star Adventures (BSA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan jenis nematoda gastrointestinal kuda yang dipelihara di BEC dan BSA, mengetahui perbedaan body condition score (BCS) kuda yang terinfeksi dan tidak terinfeksi nematoda gastrointestinal. Sampel yang digunakan berjumlah 40 kuda, dimana 28 sampel berasal dari BEC dan 12 sampel berasal dari BSA. Sampel diperiksa dengan menggunakan metode konsentrasi apung dan scotch tape test. Identifikasi dilakukan berdasarkan morfologi telur cacing. Prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal pada kuda adalah 37,5% (15/40) dengan prevalensi di BEC 10,7% (3/28) dan di BSA 100% (12/12). Berdasarkan analisis Chi-square, prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal pada kuda di BEC tidak berbeda nyata dengan kuda di BSA. Perbedaan umur dan jenis kelamin tidak menunjukan perbedaan yang nyata terhadap infeksi. Kuda yang terinfeksi nematoda gastrointestinal memiliki persentase BCS: “Kurus (skor 1-3)” 86,7% (13/15); “Ideal (4-6)” 13,3% (2/15); dan “Obesitas (skor 7-9)” 0%. Jenis cacing nematoda gastrointestinal yang ditemukan adalah cacing tipe Strongyle 30% (12/40), Oxyuris equi 7,5% (3/40), Parascaris equorum 2,5% (1/40), dan Trichuris spp 2,5% (1/40).
Pemberian Susu Afkir dalam Pakan terhadap Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin (Hb), dan Nilai Packed Cell Volume (PCV) pada Anak Babi Crossbreed Jantan Lepas Sapih Handayani, Ida Ayu Lidya; Ardana, Ida Bagus Komang; Kendran, Anak Agung Sagung
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.398 KB)

Abstract

Susu sebagai suplemen makanan sering digunakan oleh peternak untuk meningkatkan pertumbuhan. Untuk menekan biaya produksi, diperlukan bahan pakan alternatif yang murah dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, maka digunakanlah susu afkir yaitu susu sapi dalam kemasan yang telah ditolak oleh pabrik dengan kondisi fisik dan nutrisi yang masih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian susu afkir pada konsentrasi 5% dan 10% dalam campuran pakan terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin (Hb), dan nilai Packed Cell Volume (PCV) anak babi crossbreed jantan lepas sapih. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 9 ulangan, dengan total 27 sampel darah. Kelompok ternak babi sebagai kontrol (P0) yang diberi pakan standar (CP-550), kelompok ternak babi yang diberi pakan standar (CP-550) dikombinasikan dengan susu afkir 5% (P1), dan kelompok ternak babi yang diberi pakan standar (CP-550) dikombinasikan dengan susu afkir 10% (P2). Data hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan uji sidik ragam (ANOVA), untuk melihat pengaruh antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan. Pemberian susu afkir dengan konsentrasi 5% (P1) dalam pakan dapat meningkatkan jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin secara nyata dan tidak berpengaruh nyata terhadap nilai PCV, serta pemberian susu afkir dengan konsentrasi 10% (P2) tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai PCV pada anak babi crossbreed jantan lepas sapih.
Penggunaan Serbuk Biji Kelor untuk Penanganan Limbah Peternakan Sapi Ditinjau dari Total Coliform dan Total Suspended Solid Gea, Octo Berkat; Suada, I Ketut; Merdana, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.625 KB)

Abstract

Pencemaran limbah peternakan sapi sangat berdampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat termasuk masyarakat veteriner. Pemakaian bahan alami yang dapat digunakan untuk mengolah air limbah sangat diperlukan, salah satunya yaitu biji kelor (Moringa oleifera). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari serbuk biji kelor terhadap penurunan TSS (Total Suspended Solid) dan total coliform limbah peternakan sapi. Limbah peternakan sapi diperoleh dari kandang anggota kelompok tani Walung Mekar, Gianyar. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Perlakuan konsentrasi biji kelor (0 mg/L, 50 mg/L, 100 mg/L dan 150 mg/L)/500 ml limbah sapi dilakukan pengadukan cepat (200 rpm) dan pengadukan lambat (60 rpm) dengan lama pengendapan (0 menit, 20 menit, 40 menit dan 60 menit). Analisis uji sidik ragam konsentrasi biji kelor dan lama pengendapan berpengaruh sangat nyata terhadap penurunan total coliform dan TSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamatan yang dilakukan pada parameter total coliform dan TSS, konsentrasi serbuk biji kelor optimum terbaik hingga 150 mg/L dan lama pengendapan optimum 60 menit mampu menurunkan total bakteri coliform dan TSS. Namun pada penurunan TSS efesien pada lama pengendapan 20 menit.
Profil Darah Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang Dipelihara Secara Ex-Situ Hasanah, Putri Nur; Wandia, I Nengah; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.038 KB)

Abstract

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan primata asli (endemik) Indonesia yang populasinya semakin menurun. Status keterancaman lutung jawa sangat dipengaruhi oleh faktor gangguan populasi di habitat alaminya (kerusakan habitat dan kesehatan), penangkapan ilegal untuk perdagangan satwa, dan perburuan. Konservasi secara in-situ maupun ex-situ merupakan upaya yang harus digiatkan untuk penyelamatan dari ancaman kepunahan dengan semakin menurunnya populasi pada lutung jawa. Salah satu lembaga konservasi ex-situ yang turut berpartisipasi aktif dalam upaya tersebut adalah Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tabanan yang berada di Bali. Lembaga konservasi dalam menjalani fungsinya memiliki peran untuk selalu memantau status kesehatan lutung jawa yang dipelihara di sana. Salah satu parameter dari status kesehatan dapat ditentukan oleh pemeriksaan profil darah.Penelitian ini menggunakan 4 ekor lutung jawa betina yang berada di Pusat Penyelamatan Satwa Tabanan. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian observasional untuk mengidentifikasi jumlah eritrosit, kadar hemoglobin (Hb), PCV (Packed Cell Volume), MCV (Mean Corpuscular Volume), MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin), MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration), jumlah leukosit, dan diferensial leukosit. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dalam bentuk rataan±simpangan. Hasil nilai rata-rata untuk nilai eritrosit 4,22 x 106/µL, hemoglobin 9,1 g/dL, hematokrit/PCV 33,25 %, MCV 79,76 fl, MCH 21,51 pg, MCHC 27,8 g/dL, leukosit 9,51 x 103/µL, dan diferensial leukosit (limfosit 48,75%, neutrofil 35,25%, monosit 13,75%, eosinofil 1,25%, basofil 1 %).

Page 1 of 2 | Total Record : 15