cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BELIA: Early Childhood Education Papers
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2014): November 2014" : 26 Documents clear
PERILAKU ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS GANGGUAN AUTISME DI SLB NEGERI SEMARANG TAHUN 2014 Widiastuti, Diah
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perilaku merupakan salah satu hal yang melekat pada diri manusia, respon terhadap stimulus, segala tindakan yang dilakukan, berbagai gerakan yang ada dalam diri kita baik disengaja maupun tidak.  Perilaku anak autisme tentu berbeda dengan anak normal biasa, karena autisme merupakan gangguan dimana anak sulit dalam berinteraksi dengan orang lain. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku anak berkebutuhan khusus dengan gangguan autisme di SLB Negeri Semarang tahun 2014, mengetahui hubungan sosial dan komunikasi di lingkungan sekitarnya serta mengetahui intervensi terhadap perilaku anak dengan gangguan autisme. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi.  Informan penelitian adalah   ibu dari anak autisme, guru dan terapis di SLB Negeri Semarang. Analisis datanya menggunakan reduksi data, penyajian data, kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data penelitian menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan, perilaku mereka menampakkan perbedaan, DNA tergolong autisme ringan menunjukkan perilaku yang berkekurangan (deficient) dan ditunjukkan dengan ekolalia (pengulangan kata), sedangkan BGS yang tergolong kategori berat lebih menunjukkan perilaku yang berlebihan (excessive) seperti mengamuk, menjambak, berteriak. Hubungan sosial dan komunikasi kedua subjek juga sama seperti anak autis lainnya yakni mereka masih mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang lain.  Seiring dengan perbedaan perilaku mereka, maka intervensi terhadap keduanya juga berbeda. Intervensi yang diberikan kepada DNA cenderung melalui ucapan, dengan cara penekanan terhadap suara yang jelas dan lantang seperti akan marah.  Sedangkan BGS yang tergolong kategori berat, intervensi yang diberikan kepadanya cenderung melalui tindakan fisik, karena perilakunya yang berlebihan seperti agresif, dan melukai orang lain, perlakuan melalui ucapan dengan penekanan tidak akan berpengaruh terhadap dirinya.The research problems are include (1)  How is the cooperative model type talking stick which is helped multimedia quiz creator to improve the senior high school students’ folklore attentive skill. (2) how is the principles of cooperative model type talking stick development which is helped by multimedia quiz creator to improve the  senior high school students’ folklore attentive skill. This research uses research and development design (R&D), this research developes model which  have been exist that is cooperative model type talking stick into cooperative model type talking stick which is helped by multimedia quiz creator. The results of the researches are : (1) the teacher and students’ need toward to cooperative model type talking stick which is helped by multimedia quiz creator. (2) cooperative model type talking stick priciples are (a) innovative learning strategy, (b) innovative learning media, (c) assessment. Behavior is one of the things that attach to human beings, response to stimulus, all the things that is done, our various possible movement whether deliberate or not. Behavior of autism children is clearly different to normal children, since autism is a disorder in which the children get difficulties in communicating with the others. The objectives of this study are to observe the behavior of the children with special needs of autism disorder in Semarang State Outstanding School in the year 2014, to understand the communication and social relationship in their surroundings, and to know the intervention of children’s behavior with autism disorder. The researcher used qualitative method, is that in collecting the data the researcher did observation, interview, and documentation technique. The informants were the teacher, mother, and the therapist of autism children in Semarang State Outstanding School. Meanwhile, in term of analysis researcher used data reduction, data presentation, conclusion, and verification. The data legality was defined by triangulation technique. The result of the study shows that both subjects of DNA and BGS are normal birth and do not show any differences of growth until their age entering 2-3 years old. Over all, their behavior shows contradiction, the DNA of mild autism shows deficient behavior and it is showed by ekolalia (word repeating), while BGS in serious category showing more excessive behavior such as rage violently, tufting, and screaming. Communication and social relationship of that two subjects also the same as the other autism children, they still get difficulties in interacting with the others. In a row with their behavior, the intervention to them is also different. Intervention that is given to DNA tends to by words, with strong stressing of clear voice and piercing. Whereas BGS with serious category, intervention that is given tends to physical treatment because of their excessive behavior, such as aggressive and hurting someone else, treating by words with stressing will not affect to themselves.
PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL ANAK USIA 4-6 TAHUN DI PANTI ASUHAN BENIH KASIH KABUPATEN SRAGEN Nugrahaningtyas, Ratna Dewi
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak merupakan individu yang memiliki bakat dan masih  harus dikembangkan. Anak mempunyai karakteristik yang khas dan berbeda dengan orang dewasa serta akan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya. Dalam hal ini anak merupakan seorang individu yang memiliki pola perkembangan dan kebutuhan tertentu serta berbeda dengan orang dewasa. Proses perkembangan anak untuk menjadi manusia dewasa melewati masa perkembangan. Anak pada usia 4-6 tahun mengalami perubahan perkembangan sosial-emosional. Perkembangan sosial-emosional ditandai dengan semakin kompleksnya pergaulan anak. Perkembangan sosial emosional merupakan perkembangan tingkah laku anak untuk merasakan, memahami orang lain dan dalam proses menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini akan menggambarkan atau mendeskripsikan tentang perkembangan sosial-emosional anak usia 4-5 tahun di panti asuhan. Dalam penelitian ini menggambarkan suatu subjek penelitian apa adanya. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukan bahwa anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan memiliki perkembangan  sosial emosional yang berbeda. Anak yang sudah memiliki perkembangan sosial emosional yang baik ketika anak sudah mampu menunjukkan aspek-aspek perkembangan dengan baik, seperti halnya anak dapat menunjukkan rasa empati, rasa kasih sayang, bersikap gigih, mengenal tata karma yang baik dapat bersikap toleran terhadap teman. Anak yang masih memiliki perkembangan sosial emosional yang kurang baik ketika anak belum bisa menunjukkan sikap-sikap dalam sosial emosional. Masih memiliki ego yang tinggi dan tidak memperdulikan teman lain. Ada yang sudah memiliki perkembangan sosial emosional yang baik dan ada yang masih kurang. Perkembangan sosial emosional anak di Panti Asuhan berbeda dengan perkembangan sosial emosional anak di Sekolah. Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan di Panti Asuhan dan di Sekolah. Ketika di Panti teman-temannya mempunyai latar belakang yang sama sehingga anak bias bersosialisasi dengan baik. Berbeda  dengan di Sekolah, anak-anak harus bersosialisasi dengan anak yang latar belakangnya berbeda.Children are individuals who have the talent and yet to be developed. Children have distinct characteristics and are different from adults and will develop into an adult human whole. In this case the child is an individual who has a developmental pattern and particular needs and are different from adults. The process of development of the child to be an adult through a period of development. Children at the age of 4-6 years experience changes in social-emotional development. Social-emotional development is characterized by increasing complexity child relationships. Social development emotional development of the childs behavior is to sense, understand others and in the process of adjusting to the rules in force in the community. This study used a qualitative descriptive approach. This study will illustrate or describe the socio-emotional development of children aged 4-5 years in an orphanage. In this study describes a research subject is. The data collection in this study using observation, interview and documentation. Based on the results of research conducted by the researchers showed that children living in orphanages have different emotional social development. Children who already have a good emotional social development when children are able to demonstrate aspects of the development well, as does the child can show empathy, compassion, be persistent, know that good manners can be tolerant of friends. Children who still have social emotional development is not good when children can not demonstrate social attitudes in emotional. Still has a high ego and not considering other friends. There are already having social emotional development is good and there is still lacking. Social emotional development of children in orphanages in contrast to the social emotional development of children in school. The differences are due to differences in the environment and in the School Orphanage. When at the center of his friends have similar backgrounds so biased children to socialize well. Unlike in school, children need to socialize with children of different backgrounds.
PEMANFAATAN HASIL EVALUASI PEMBELAJARAN DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI Akhsanti, Munika Sarri
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang harus dipahami guru. Artinya evaluasi dianggap penting dan strategis karena hasil evaluasi berkatian dengan kepentingan semua pihak seperti guru, siswa, orang tua, pemerintah dan masyarakat luas. Disamping itu hasil evaluasi juga digunakan untuk perbaikan program pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan evaluasi pembelajaran di TK Al-Mubaarok, untuk mengetahui pemanfaatan hasil evaluasi pembelajaran dalam pengembangan program pembelajaran di TK Al-Mubaarok, serta mengetahui faktor pendukung dan penghambat pemanfaatan hasil evaluasi pembelajaran dalam pengembangan program pembelajaran di TK Al-Mubaarok. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Informan penelitian adalah guru dan kepala sekolah TK Al-Mubaarok. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data penelitian menggunakan tringulasi sumber. Analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, display data dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa pelaksanaan evaluasi pembelajaran di TK Al-Mubaarok sudah sesuai dengan pedoman yang digunakan oleh TK Al-Mubaarok yaitu model penilaian kelas dan standar penilaian dalam PERMEN 58 Tahun 2009.  Pemanfaatan hasil evaluasi pembelajaran dalam pengembangan program pembelajaran dilakukan oleh guru TK Al-Mubaarok yaitu hasil evaluasi dimanfaatkan untuk mendiagnosis kesulitan belajar anak, melakukan bimbingan terhadap anak, memotivasi anak, menetukan tujuan pembelajaran, mengembangkan materi, mengembangkan kegiatan pembelajaran menyenangkan, menentukan metode yang akan digunakan, mengembangkan media, merencanakan evaluasi berikutnya serta pengorganisasian kelas. Faktor pendukungnya adalah kepemimpinan kepala sekolah yang baik, faktor penghambatnya adalah kendala waktu dan semangat guru yang fluktuatif sehingga berakibat pada pemanfaatan hasil evaluasi kurang maksimal.The research problems are include (1)  How is the cooperative model type talking stick which is helped multimedia quiz creator to improve the senior high school students’ folklore attentive skill. (2) how is the principles of cooperative model type talking stick development which is helped by multimedia quiz creator to improve the  senior high school students’ folklore attentive skill. This research uses research and development design (R&D), this research developes model which  have been exist that is cooperative model type talking stick into cooperative model type talking stick which is helped by multimedia quiz creator. The results of the researches are : (1) the teacher and students’ need toward to cooperative model type talking stick which is helped by multimedia quiz creator. (2) cooperative model type talking stick priciples are (a) innovative learning strategy, (b) innovative learning media, (c) assessment. Evaluation is one of the basic components that must be understood teacher. That meaning is an important and strategic evaluation because the results of the evaluation association with the interests of all parties such as teachers, students, parents, government and the wider community. Besides, the results of the evaluation are also used for the improvement of learning programs. The purpose of this research was to determine the evaluation of learning in kindergarten Al-Mubaarok, to examine the use of evaluation results in the development of learning in learning program at kindergarten Al-Mubaarok, and to know the factors supporting and inhibiting the utilization of evaluation results in the development of learning in learning program at kindergarten Al-Mubaarok. This type of research is descriptive qualitative. The informants are teachers and principal of kindergarten Al-Mubaarok. Data collection methods used were interviews, observation and documentation. The validity of research data using tringulasi source. Data analysis used the data reduction, data display and data verification. The results showed that the implementation of the evaluation of learning in kindergarten Al-Mubaarok is in conformity with the guidelines used by the kindergarten Al-Mubaarok the model class and assessment standards in the assessment of Mnistrial Regulation No. 58 of 2009. Using the findings of the evaluation of learning in the development of learning programs conducted by teacher of kindergarten Al Mubaarok the results of the evaluation are used to diagnose a childs learning difficulties, conduct counseling to children, to motivate children, determine the learning objectives, developing materials, develop fun learning activities, determine the method to be used, develop a media plan for subsequent evaluation and organization of classes. Supporting factors is a good school leadership, the inhibiting factor is time constraint and spirit teachers fluctuating resulting in less than the maximum utilization of the evaluation results.
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM LAYANAN POSYANDU TERHADAP PERTUMBUHAN BALITA (DI DESA MERGOWATI KECAMATAN KEDU KABUPATEN TEMANGGUNG) Estuty, Deasy Hanura
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v3i2.3701

Abstract

Partisipasi masyarakat umumnya dipandang sebagai suatu bentuk perilaku kesehatan adalah partisipasi ibu balita dalam program posyandu. Posyandu merupakan bentuk layanan terpadu yang diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan program-program kerja dari instansi terkait untuk kemudian memperoleh layanan kesehatan dasar, penurunan angka kematiaan ibu dan anak dan untuk pencapaian Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (KKBS). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui layanan posyandu di Desa Mergowati, mengetahui partisipasi masyarakat peserta posyandu di Desa Mergowati. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Informan penelitian adalah   ibu-ibu balita di Posyandu Desa Mergowati, kader dan bidan Desa Mergowati.   Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data penelitian menggunakan tringulasi sumber, teknik, waktu, analisis data dengan mereduksi data dan kemudian disimpulkan. Hasil penelitian partisipasi masyarakat peserta posyandu di Desa Mergowati sudah baik terbukti sudah banyak warga khususnya ibu balita yang dalam kegiatan posyandu. Warga sudah mulai sadar dengan pentingnya menimbangkan balita ke posyandu untuk pemantauan pertumbuhan dan kesehatan balita selain itu warga juga sudah mulai sadar akan pentingnya menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. layanan posyandu di Desa Mergowati sudah baik dengan srata posyandu mandiri. Kegiatan posyandu sudah rutin dilaksanakan setiap bulannya, kegiatan 5 meja terlaksana dengan berkesinambungan. Kinerja kader dan bidan yang bertugas di posyandu sudah dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat bekerjasama dengan baik.Community participation is generally seen as a form of health behavior is participation in the program posyandu toddler's mother. IHC is a form of integrated services organized for and by the community with the work programs of relevant agencies to then obtain basic health services, reduction of maternal and child kematiaan and for the achievement of Small Family Happy Prosperous (KKBS). The purpose of this study to determine the service posyandu Mergowati village, knowing participation in village Mergowati posyandu participants.  This study uses qualitative research methods. The informants were mothers of children under five in IHC Mergowati village cadres and village midwives Mergowati. Data collection methods used were interviews, observation and documentation. The validity of research data using tringulasi source, technique, time, analysis of the data by reducing the data and then summed. The results of the study participants posyandu community participation in village Mergowati already well proven already many people especially in the toddler's mother posyandu activities. Residents have started to realize the importance of a toddler weigh posyandu for monitoring the growth and health of infants in addition to the residents have also begun to realize the importance of keeping the house and the environment. Mergowati posyandu services in the village has been good with posyandu srata independently. Routine growth monitoring sessions have been held every month, the activities carried out with continuous table 5. Performance of cadres and midwives posyandu already can carry out their duties well and can work well together.
TINGKAT KEMANDIRIAN ANAK USIA DINI DITINJAU DARI STATUS KERJA IBU DI KECAMATAN REBAN KABUPATEN BATANG Maulina, Frisca
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v3i2.3706

Abstract

Meningkatnya kesadaran wanita untuk mengembangkan diri dalam bidang pekerjaan mengakibatkan berkurangnya perhatian wanita sebagai ibu terhadap anak yang dapat berpengaruh terhadap tingkat kemandirian anak. Kenyataan pada era sekarang, anak yang diasuh oleh ibu rumah tangga cenderung lebih manja dari pada anak yang diasuh oleh ibu yang bekerja di luar rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat kemandirian anak usia dini ditinjau dari status kerja ibu. Hipotesis pada penelitian ini yaitu terdapat perbedaan tingkat kemandirian anak usia dini antara anak yang diasuh oleh ibu rumah tangga dan ibu yang bekerja paruh waktu di luar rumah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan subjek penelitian anak usia 4-6 tahun yang diasuh oleh ibu rumah tangga dan ibu yang bekerja paruh waktu di luar rumah di Kecamatan Reban Kabupaten Batang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala Kemandirian Anak Usia Dini, sedangkan analisis data yang digunakan yaitu metode Independent Sample t-Test. Berdasarkan perhitungan statistik, diperoleh nilai mean sebesar 82,10 untuk ibu rumah tangga dan 95,04 untuk ibu yang bekerja paruh waktu di luar rumah. Perhitungan Independent Sample t-Test diperoleh t hitung > t tabel (11,168 > 1,666) dan p value (0,000 < 0,05), maka H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat kemandirian anak usia dini ditinjau dari status kerja ibu di Kecamatan Reban Kabupaten Batang.The rise of women’s awareness for self-development in their employment causes the decrease of women’s attention as a mother towards the children which can influence the children’s independence. Nowadays, the children raised by housewives tend to be more spoiled than the children raised by working mothers. This study aims to determine the level of early childhood independence in terms of mothers’ employment. The hypothesis mentions that there are differences in early childhood independence between the children of housewives and the children of part-time working mothers. This study is quantitative research and the subjects are the children of 4-6 years old raised by either housewives or part-time working mother in Reban subdistrict Batang regency. The techniques of gathering data uses early childhood independence scale, meanwhile the data analysis applies Independent Sample t-Test method. The statistics results in the mean of 82.10 for housewife and 95.04 for working mother. The Independent Sample t-Test shows t count > t table (11.168 > 1.666) and p values (0.000< 0.05). Accordingly, H0 is refused. In conclusion, there are significant differences in early childhood independence in terms of mothers’ employment in Reban Subdistrict Batang regency.
PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL ANAK USIA 4-6 TAHUN DI PANTI ASUHAN BENIH KASIH KABUPATEN SRAGEN Nugrahaningtyas, Ratna Dewi
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v3i2.3710

Abstract

Anak merupakan individu yang memiliki bakat dan masih  harus dikembangkan. Anak mempunyai karakteristik yang khas dan berbeda dengan orang dewasa serta akan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya. Dalam hal ini anak merupakan seorang individu yang memiliki pola perkembangan dan kebutuhan tertentu serta berbeda dengan orang dewasa. Proses perkembangan anak untuk menjadi manusia dewasa melewati masa perkembangan. Anak pada usia 4-6 tahun mengalami perubahan perkembangan sosial-emosional. Perkembangan sosial-emosional ditandai dengan semakin kompleksnya pergaulan anak. Perkembangan sosial emosional merupakan perkembangan tingkah laku anak untuk merasakan, memahami orang lain dan dalam proses menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini akan menggambarkan atau mendeskripsikan tentang perkembangan sosial-emosional anak usia 4-5 tahun di panti asuhan. Dalam penelitian ini menggambarkan suatu subjek penelitian apa adanya. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukan bahwa anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan memiliki perkembangan  sosial emosional yang berbeda. Anak yang sudah memiliki perkembangan sosial emosional yang baik ketika anak sudah mampu menunjukkan aspek-aspek perkembangan dengan baik, seperti halnya anak dapat menunjukkan rasa empati, rasa kasih sayang, bersikap gigih, mengenal tata karma yang baik dapat bersikap toleran terhadap teman. Anak yang masih memiliki perkembangan sosial emosional yang kurang baik ketika anak belum bisa menunjukkan sikap-sikap dalam sosial emosional. Masih memiliki ego yang tinggi dan tidak memperdulikan teman lain. Ada yang sudah memiliki perkembangan sosial emosional yang baik dan ada yang masih kurang. Perkembangan sosial emosional anak di Panti Asuhan berbeda dengan perkembangan sosial emosional anak di Sekolah. Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan di Panti Asuhan dan di Sekolah. Ketika di Panti teman-temannya mempunyai latar belakang yang sama sehingga anak bias bersosialisasi dengan baik. Berbeda  dengan di Sekolah, anak-anak harus bersosialisasi dengan anak yang latar belakangnya berbeda.Children are individuals who have the talent and yet to be developed. Children have distinct characteristics and are different from adults and will develop into an adult human whole. In this case the child is an individual who has a developmental pattern and particular needs and are different from adults. The process of development of the child to be an adult through a period of development. Children at the age of 4-6 years experience changes in social-emotional development. Social-emotional development is characterized by increasing complexity child relationships. Social development emotional development of the child's behavior is to sense, understand others and in the process of adjusting to the rules in force in the community. This study used a qualitative descriptive approach. This study will illustrate or describe the socio-emotional development of children aged 4-5 years in an orphanage. In this study describes a research subject is. The data collection in this study using observation, interview and documentation. Based on the results of research conducted by the researchers showed that children living in orphanages have different emotional social development. Children who already have a good emotional social development when children are able to demonstrate aspects of the development well, as does the child can show empathy, compassion, be persistent, know that good manners can be tolerant of friends. Children who still have social emotional development is not good when children can not demonstrate social attitudes in emotional. Still has a high ego and not considering other friends. There are already having social emotional development is good and there is still lacking. Social emotional development of children in orphanages in contrast to the social emotional development of children in school. The differences are due to differences in the environment and in the School Orphanage. When at the center of his friends have similar backgrounds so biased children to socialize well. Unlike in school, children need to socialize with children of different backgrounds.
MANAJEMEN KELAS PADA KELAS TUNANETRA (STUDI DI TKLB NEGERI SEMARANG KOTA SEMARANG) Agrinianda, Chika
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v3i2.3717

Abstract

Manajemen kelas merupakan bagian dari manajemen Sekolah, melalui kegiatan manajemen kelas diketahui bagaimana cara guru dalam mengelola lingkup kecil yang berbentuk kelas. Manajemen kelas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam mengelola setiap kegiatan yang dilakukan didalam kelas. Pelaksanaan dalam manajemen kelas tunanetra berbeda dengan kelas TK pada umumnya. Oleh karena itu, peneliti fokus pada manajemen kelas pada kelas tunanetra. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan manajemen kelas pada  kelas tunanetra di TKLB Negeri Semarang Kota Semarang dan mendeskripsikan faktor yang menghambat dan mendukung dalam manajemen kelas pada kelas tunanetra di TKLB Negeri Semarang Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Subjek yang menjadi sumber data adalah guru kelas, guru olahraga dan guru agama. Model analisis kualitatif yang digunakan yaitu Miles dengan Huberman. Dengan teknik pengumpulan data yaitu : wawancara, observasi, dokumentasi dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data triangulasi sumber, triangulasi metode, triangulasi teori. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut manajemen kelas pada kelas tunanetra di TKLB Negeri Semarang meliputi kegiatan penataan kelas, dalam penataan kelas menggunakan model berhadap-hadapan. Dalam tata usaha kelas guru tidak melakukan kegiatan pencatatan kegiatan yang ada di dalam kelas. Perencanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan buku ajar. Kegiatan pelaksanaan  menggunakan metode pemberian tugas dan evaluasi dalam buku rapor nilai berbentuk deskripsi dan angka. Dalam setiap kegiatan di dalam kelas dibutuhkan pendisiplinan yang dilakukan oleh guru. Namun dalam pelaksanaan masih adanya hambatan kemampuan anak dan anak yang memiliki tunaganda.Classroom management is a part of school management. Through the class management activity, it could be known how a teacher manage a small scope, a class. This management is done by the teacher in order to manage the class. The implementation of class management in visually impaired class is different with another kindergardens in the general. So that, class management in visually impaired class is focused.The objective of a research is to describe the class management, and the obstruction and supporting factors in this management in visually impaired class at TKLB Semarang Kota Semarang. A qualitative design with a case study is used in the research. A classroom teacher, an exercise teacher, and a religion teacher are subject of the data resource in this research. Miles is used to analyze a qualitative design by using Huberman method. A technique obtaining the data is interview, observation, documentation and field record. An obtaining data, a reducing data, presenting the data and drawing in the data are used as a technique in analyzing data. A legality techniquein this research is a resource triangulation data, a triangulation method, and a triangulation theory. From the conducted research, it can be concluded that the classroom management in visually impaired class at TKLB Negeri Semarang includes an activity of ordering class, facing in certain direction is used in ordering the class. When the class begins, the teacher doesn’t allow to taking a note what going on in the class is. A handbook is used in planning the learning activity. An implementation of the activity utilises a method of assignment given and an evaluation method in the school report card in the form of description and numeral. In each class activity is needed a teacher disciplinary. However,there are some obstructions in the implementation of class management, they are in the students’ ability and the students who have mentally handicaped.
PENGARUH PENANAMAN NILAI-NILAI KONSERVASI TERHADAP KARAKTER PEDULI PADA LINGKUNGAN ANAK USIA DINI Wakhidah, Kholifatul; Adiarti, Wulan
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v3i2.3718

Abstract

Kerusakan lingkungan hampir melanda seluruh belahan bumi, termasuk juga sekolah. Padahal di sekolah sudah ada pendidikan tentang karakter peduli lingkungan. Oleh sebab itu peneliti melakukan penelitian yang tujuannya untuk mengetahui pengaruh penanaman nilai-nilai konservasi terhadap pendidikan karakter peduli pada lingkungan untuk anak usia dini, terutama anak usia 5-6 tahun. Berdasarkan penelitian eksperimen yang dilakukan di TK Annur Semarang menunjukkan bahwa kriteria yang diperoleh dari 20 sampel yang diteliti awalnya memiliki karakter peduli lingkungan baik 55% menjadi 10% dan kriteria sangat baik yang semula 45% menjadi 90%. Karakter peduli pada lingkungan mengalami peningkatan nilai rata-rata dari 106,55 menjadi 124,25 dan mengalami peningkatan 17,70 poin. Serta penanaman nilai-nilai konservasi memiliki pengaruh 52,40% terhadap karakter peduli pada lingkungan anak usia dini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai-nilai konservasi di sentra bahan alam memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap karakter peduli pada lingkungan untuk anak usia. Disarankan bagi siswa, orangtua, guru, dan masyarakat agar dapat  menanamkan nilai-nilai konservasi dalam kehidupan sehari-hari.Environmental damage almost swept the entire hemisphere, including schools. Whereas in existing schools on character education environmental care. Therefore conducted a study which aims to determine the effect of planting conservation values ​​of the character concerned with environmental education for early childhood, especially children aged 5-6 years. Based on experimental research conducted in kindergarten Annur Semarang showed that the criteria obtained from 20 sampels were examined initially have good character of environmental care 55% to 10% and a very good criterion which was originally 45% to 90%. Character care about the environment have increased the average value of 124.25 and 106.55 into increased 17.70 poins. Planting and conservation values ​​of 52.40% has an influence on the character of care for early childhood environments. It can be concluded that the planting of conservation values ​​in the centers of natural materials gives significant effect on the character cares about the environment for children aged. It is recommended for students, parents, teachers, and communities in order to instill conservation values ​​in everyday life.
PEMANFAATAN MEDIA POP-UP BOOK BERBASIS TEMATIK UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN VERBAL-LINGUISTIK ANAK USIA 4-5 TAHUN (STUDI EKSPERIMEN DI TK NEGERI PEMBINA BULU TEMANGGUNG) Hanifah, Tisna Umi
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v3i2.3727

Abstract

Kecerdasan verbal-linguistik merupakan kecerdasan dalam menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan. Anak-anak dengan kecerdasan jenis ini memiliki kemampuan menyimak yang sangat baik dan merupakan orang-orang yang pandai berbicara dengan tepat.Salah satu media yang dapat digunakan untuk meningkatkankan  kecerdasan verbal-linguistik anak usia dini  adalah melalui pop-up book. Media pop-up book berbasis tematik adalah buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau berunsur 3 dimensi, serta memberikan visualisasi lebih menarik berdasarkan tema-tema tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kecerdasan verbal- linguistik anak usia 4-5 tahun melalui pemanfaatan media pop-up book berbasis tematik. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif Quasi Eksperiment dengan bentuk desain Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian adalah anak usia 4-5 tahun di TK Negeri Pembina se-kebupaten Temanggung. Sampel penelitian berjumlah 60 anak dengan 30 anak sebagai kelompok kontrol dan 30 anak sebagai kelompok eksperimen,serta menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil perhitungan uji t independent pretest kelompok eksperimen dan kontrol adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan karena memiliki nilai thitung = - 0,237 dengan tingkat signifikan kurang dari 0,05. Artinya, kecerdasan verbal-linguistik pada anak sebelum diberi perlakuan dengan menggunakan media pop-up book adalah sama. Setelah diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen terdapat peningkatan pada kecerdasan verbal-linguistik anak, terlihat dari mean (rata-rata) pada kelompok eksperimen sebesar 67,52 dan kelompok kontrol sebesar 50,72. Hasil rata-rata tersebut menunjukkan bahwa skor yang didapat kelompok eksperimen lebih baik dari kelompok kontrol dengan selisih sebesar 16,8 serta nilai thitung pada posttest sebesar 8,112 dengan Sig. (2 tailed) 0,00 < 0,05 yang menandakan H1 diterima sehingga terdapat pengaruh yang signifikan dalam penerapan media pop-up book berbasis tematik terhadap kecerdasan verbal-linguistik anak, yang dapat dilihat dari adanya perbedaan perolehan skor posttest pada kelompok eksperimen dengan perolehan skor posttest pada kelompok kontrol. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa media pop-up book memberikan peningkatan yang signifikan terhadap kecerdasan verbal-linguistik pada anak usia 4-5 tahun setelah diberikan perlakuan dengan pop-up book. Guru disarankan untuk menggunakan media pop-up book dalam meningkatkan kecerdasan verbal-linguistik pada anak usia 4-5 tahun.Verbal-linguistic intelligence is intelligence in the use of language and words, either verbally or writing.Wit having children with this kind of capability is very good, and to those who could speak well. One of the media can use to increase verbal-linguistic intelligence to children is pop-up book media. The pop-up book on thematic is a book that has a movable or has as an element three dimensions, and deliver stunning more interesting based on certain themes.The increase aims to know intelligent verbal- linguistic children aged 4-5 years by using media pop-up book besed on thematic. The approach is applicable in the quantitative by Quasi Eksperiment form Nonequivalent Control Group Design. The research is children aged 4-5 years at Pembina Kindergarten Temanggung. The sample of the research were 60 children with 30 children as the control group and 30 children as the experiment group, and use purposive sampling.  The results of the study there is an increase in children's verbal-linguistic intelligence, the result of t independent pretest, in experiment and control group is have no difference that significant because have point t computing  = - 0,237 by level significant less than 0,05. Its mean, verbal-linguistic intelligence on child before given by conduct by use of pop-up book media are same. After been given conduct on agglomerate experiment was gotten by step-up on child’s verbal-linguistic intelligence, visually of mean on experiment group as big as 67,52 and agglomerate controls as big as 50,72.  Result average that points out that score that gotten by better experiment group of agglomerate control with difference as big as 16,8 and point t computing  on posttest as big as 8,112 by Sig. (2 tailed)  0,00< 0,05, which indicates H 1 is accepted that there is a significant influence in the pop-up book media on thematic says at the beginning verbal-linguistic intelligence as seen from the absence of a significant difference between the acquisition of test scores in the experimental group with the acquisition of test scores in the control group. It is clear that an increase in the verbal-linguistic intelligence after treatment in children. Based on the above description, it can be concluded that the pop-up book provide a significant improvement in the verbal-linguistic intelligence in children aged 4-5 years after treatment with a given pop-up book media. Teachers are advised to use the pop-up book media to improve the verbal-linguistic intelligence in children aged 4-5 years.
PEMETAAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU TK DALAM MENGEMBANGKAN KURIKULUM PAUD DI KECAMATAN MARGOYOSO KABUPATEN PATI Wahyuni, Sri
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 3 No 2 (2014): November 2014
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v3i2.3749

Abstract

Kemampuan, kerja keras, dan kreativitas merupakan beberapa faktor yang dibutuhkan untuk mendorong terwujudnya hasil pengembangan kurikulum yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kompetensi pedagogik guru TK dalam mengembangkan kurikulum PAUD dan perbedaannya berdasarkan tingkat pendidikan guru. Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Lokasi penelitian adalah Taman Kanak-kanak baik formal/informal yang berada di Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati dengan sampel yang berjumlah 105 pendidik. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Porpotionate Stratified Random Sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu metode kuesioner, wawancara, dan dokumentasi.  Hasil analisis deskriptif  menunjukan sebagian besar pendidik memiliki kompetensi dalam mengembangkan kurikulum yang tergolong sedang, yaitu 65 orang (61,9 %) berada dalam kategori sedang dan 40 orang (38,1%) berada dalam kategori tinggi. Terdapat perbedaan yang signifikan pada kompetensi pendidik TK lulusan S1/D4 dengan SMA (p=0.000) dan pendidik TK lulusan D1/D2/D3 dengan SMA (p=0.000), sedangkan kompetensi pendidik TK lulusan S1/D4 dengan D1/D2/D3 tidak memiliki perbedaan yang jauh (p=0,928). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik guru TK dalam mengembangkan kurikulum PAUD di kecamatan Margoyoso berada di kategori sedang (61,9%) dan guru yang telah menempuh pendidikan akademik memiliki kompetensi yang lebih baik dari guru yang belum pernah menempuh pendidikan.There are some factors like ability; work hard and creativity that we need to encourage in finding the good result of curriculum development. This research study problem is pedagogy competence mapping of kindergarten teacher in developing curriculum of Pre-School and the difference of teacher competence in developing curriculum that based on education level of the teacher. The research method is descriptive quantitative method. Location of the research is kindergartens either formally or informally in Margoyoso, Pati district. I took 105 (a hundred and five) teachers as the sample of my research. Then, technique of choosing sample is Proportionate Stratified Random Sampling. The last, the instrument of collecting data is questioner and interview method. The results of descriptive analysis showed that much of the teachers have competence in developing curriculum that include in moderate, that are 65 people (61,9 %) is in moderate category and 40 people (38,1 %) is in high category. There are significant differences on competence of kindergarten teacher between teacher that graduated S1/D4 and teacher graduated senior high school (p=0.000) and teacher that graduated D1/D2/D3 with senior high school (p=0.000), whereas the competence of kindergarten teacher that is graduated S1/D4 with D1/D2/D3 does not have significant differences (p=0,928). Based on the finding of this research, I can conclude that the competence of kindergarten teacher in developing curriculum of Pre-School in Margoyoso, Pati district is in moderate category (61,9 %) and the teacher who got academic education has better competence than teacher who never got academic education.

Page 2 of 3 | Total Record : 26