cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BELIA: Early Childhood Education Papers
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2015): November 2015" : 16 Documents clear
MODEL PENGASUHAN ORANGTUA PADA POS PAUD MAWAR PROTOMULYO KABUPATEN KENDAL Prasetiyati, Nurul Anom
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan  model pengasuhan orangtua pada POS PAUD MAWAR Protomulyo Kabupaten Kendal dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pendekatan penelitian adalah kualitatif. Obyek penelitian yaitu orangtua peserta didik POS PAUD MAWAR dengan sampel 4 orang. Analisis penelitiannya yaitumencari hubungan antara satu dengan yang lain. Hasil penelitian sebagai berikut: Orangtua mengasuh anak berdasarkan  proses pengasuhan dengan interaksi secara dua arah antara orang tua, anak, dan masyarakat dilingkungan sekitar anak dengan bahasa yang saling dimengerti  kedua pihak agar anak mampu bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya, memenuhi kebutuhannya seperti nutrisi, memberikan keamanan, kenyamanan, dan memfasilitasi kebutuhannya seperti pakaian, pendidikan, kesehatan. Penyesuaian temperamen dan sifat anak dan orangtua dengan pembiasaan perilaku yang positif, kesabaran, dan kasih sayang, karena anak suka meniru apa yang dilihat dan didengar. Orangtua bertanggungjawab membesarkan merawat, menjaga kesehatannya dan memenuhi kebutuhan hidup anak sejak dalam kandungan dengann kasih sayang dan penuh perhatian. Usia orangtua saat menikah dan agama  berpengaruh dengan gaya pengasuhannya, maka orangtua memberikan arahan dan tuntunan serta nilai-nilai tata krama yang baik untuk mengurangi resiko dan melindungi supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, dengan kemampuan intelektual dan moral yang baik. Lingkungan, tingkat pendidikan, pengetahuan, pengalaman orangtua serta dasar agama yang kuat akan kaya berbagai cara untuk menerapkan keteladanan, sopan santun serta norma-norma dalam perilaku sehari-hari dengan orangtua sebagai modelnya.This study aims to describe the model of parenting parents on the POS PAUD MAWAR Protomulyo Kendal and the factors that affected it. The research approach was qualitative. Research object that is the parent the learners POS PAUD MAWAR with a sample of 4 people. Analysis of the research yaitumencari the relationship between one another. Results of the study as follows: Parent parenting parenting with process based on interaction in both directions between parents, children, and community surroundings around the child with a language mutually intelligible both parties so that the children are able to socialize with the surrounding community, meet his needs like nutrition, provide security, comfort, and facilitate their needs such as clothing, education, health. Adjustment of temperament and nature of children and parents with a positive behavior conditioning, patience, and compassion, because children like to imitate what is seen and heard. Parents are responsible for raising caring, keep his health and meet the needs of a child living in the womb since incur a compassion and caring. The age when parents marry and influential religion in the style of his care, then the parents give direction and guidance as well as the values of good manners to reduce risk and protect so that children grow up to be healthy, with personal intellectual ability and good morals. Environment, level of education, knowledge, experience of parents as well as a strong religious basis will be rich in a variety of ways to apply the example, proprieties and norms in the conduct of daily with parents as his model.
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL-EMOSIONAL ANAK USIA 2-3 TAHUN MELALUI METODE BERCERITA DI KB SITI SULAECHAH 04 SEMARANG Adrianindita, Syahisnu
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk meningkatkan keterampilan sosial-emosional anak melalui metode bercerita. Penelitian dilakukan di KB Siti Sulaechah 04 Semarang, kelompok A dengan jumlah siswa 12 anak dan dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2014/2015. Di Kelompok Bermain Siti Sulaechah 04, anak usia 2-3 tahun keterampilan sosial-emosionalnya masih sangat kurang. Anak masih suka bermain sendiri, belum mau bergabung dengan temannya di sekitar, masih suka menggunakan tangan dan kaki saat menghadapi temannya dan sifat egonya anak masih sangat terlihat jelas. Upaya meningkatkan keterampilan sosial-emosional anak usia 2-3 tahun, peneliti menggunakan metode bercerita dikarenakan anak usia 2-3 tahun masih suka melihat suatu gambar dan keingintahuan yang besar tentang apa maksud dari gambar tersebut.Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus pertama bercerita dengan buku gambar kecil dan siklus kedua bercerita dengan buku gambar besar. Instrumen dalam penelitian berupa lembar observasi, dan catatan lapangan. Tehnik Pengumpulan berupa pengamatan dan dokumentasi. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif pada setiap siklusnya. Kesimpulan setelah penelitian tindakan kelas, yaitu (1) Pada kegiatan awal, anak dapat mengenal cara bersosialisasi dan pengendalian emosi. (2) Pada tahap pelaksanaan, anak mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan mampu mengendalikan emosi dengan teman. (3) Pada tahap akhir, anak mampu mengajak dan mengingatkan teman agar mau bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan mengendalikan emosi saat bermain dengan teman.  Hasil penelitian menunjukan bahwa sosial-emosional anak terjadi peningkatan pada setiap siklusnya. Kondisi awal hanya 8,33% kategori baik. Pada siklus I menggunakan buku gambar kecil dengan hasil 50 % yang termasuk dalam kategori baik. Anak-anak terlihat masih belum puas dan merasa bosan menggunakan buku gambar  kecil dikarenakan tidak bisa melihat gambar dengan jelas, maka perlu diadakan peningkatan melalui siklus II. Pada siklus II, peneliti menggunakan buku besar. Hasil yang dicapai 83,33% yang termasuk dalam kategori baik. Saat bercerita dengan menggunakan buku besar, terlihat sekali anak-anak tertarik untuk melihatnya. Anak-anak usia 2-3 tahun, mulai fokus saat mendengarkan peneliti bercerita dengan buku  besar karena gambar di dalam buku besar terlihat jelas oleh anak-anak.  Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa melalui metode bercerita dengan menggunakan buku besar, dapat meningkatkan sosial-emosional anak 2-3 tahun di KB Siti Sulaechah 04 Semarang.The research aims to improve the social-emotional skills of children through story-telling method. Research conducted at the Siti Sulaechah KB 04 Semarang, Group A with 12 children and the number of students is carried out on a semester II academic year 2014/2015. In Group Play Siti Sulaechah 04, children ages 2-3 years of social-emotional skills are still very less. Children still love to play it myself, not to want to join his friend around, still like to use the hands and feet in the face of his friend and the nature of the child's ego is still very evident. Improve social skills-emotional child age 2-3 years, researchers using the method of storytelling because children aged 2-3 years still love to see a picture and a great curiosity about what the intent of the image. The research was conducted in two cycles, i.e., the first cycle of storytelling with a small picture book and second cycle tells the story with a big picture book. Research instruments in the form of sheets of observation, and a note field. The method of collection in the form of observation and documentation. The data obtained were analyzed further descriptive qualitative basis on each cycle. Conclusion after research action class, namely (1) the initial activities, children can know how to socialize and control of emotions. (2) at the stage of implementation, the child was able to socialize with the environment and be able to control your emotions with your friends. (3) in the final stage, children are able to invite and remind your friends to socialize with the environment and control your emotions when playing with friends. Results of the study showed that children's social-emotional happening increased on each cycle. Initial conditions only 8.33% category either. On cycle I use a small picture book with 50% results are included in the category of good. The children look still not satisfied and feel bored using small picture book because could not see clearly, then the images need improvement through the cycle II. In cycle II, researchers use a big book. Results achieved 83,33% are included in the category either. While telling stories using big books, visible once the children are interested to see it. Children age 2-3 years, began to focus while listening to a researcher tells the story with a great book because the pictures in the book great is clearly visible by the children. Based on the description, it can be concluded that through the method of storytelling by using big books, can increase social-emotional children 2-3 years in KB Sulaechah Siti 04 Semarang.
STUDI DESKRIPTIF PENANAMAN NILAI MORAL PADA ANAK USIA DINI DI LINGKUNGAN LOKALISASI SUNAN KUNING KELURAHAN KALIBANTENG KULON KOTA SEMARANG Nuryani, Sri
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses sosialisasi anak terjadi langsung maupun tidak langsung dalam interaksinya dengan lingkungan sosial, sehingga lingkungan memiliki peran yang sangat besar setelah orangtua dalam proses perkembangan moral anak. Sementara itu, sekarang ini banyak sekali tempat-tempat lokalisasi yang menjamur dan berkembang di Indonesia salah satunya Sunan Kuning, sehingga peran lingkungan yang seharusnya menjadi tempat tumbuh dan berkembang anak menjadi tempat yang tidak aman untuk bermain. Dampak yang ditimbulkan oleh lingkungan tersebut yaitu anak yang berkata “asu”, “susumu lho ketok”. Rumusan masalah dalam penulisan yaitu (1) bagaimana proses penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang?, (2) apa saja faktor pendukung dan penghambat penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang?. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui proses penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan Lokalisasi Sunan Kuning Semarang, (2) untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan fenomenologi dengan subyek penelitian yaitu Muhammad Syahputra yang ditentukan dengan cara purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh diperiksa keabsahan datanya dengan triangulasi sumber, metode dan waktu. Data dianalisis dengan teknik analisis data model interaktif Miles and Huberman. Berdasarkan analisis data, proses penanaman nilai moral pada anak usia dini dilakukan dengan cara mengajarkan baik buruk, sopan santun, dan cara beribadah. Faktor pendukung penanaman nilai moral yaitu kepatuhan anak terhadap orangtua cukup tinggi, harapan orangtua supaya anak berperilaku baik, perhatian dari orangtua, pembelajaran agama, dan pembiasaan tidur siang. Sedangkan faktor penghambat penanaman nilai moral yaitu lingkungan yang kurang baik, keterbatasan waktu orangtua untuk bertemu anak, nenek yang terlalu memanjakan cucunya, dan tidak adanya contoh perilaku baik dari orangtua, serta tidak adanya pembatasan pergaulan.The child's socialization process occurs directly or indirectly in its interaction with the social environment, so that the environment has a very big role after the parents in the process of moral development of the child. In the meantime, this is now a great many places of localization which mushroomed and flourished in Indonesia one ofSunan Kuning, making the role of the environment should be a place to grow and develop the children become unsafe places to play. The impact posed by theenvironment that is the child who said "asu", "susumu lho ketok". Formulation of theproblem in writing, namely (1) how the process of cultivation of the moral values inearly childhood in Semarang Sunan Kuning localization environment?, (2) what are thefactors supporting and restricting the cultivation of the moral values in early childhood in Semarang Sunan Kuning localization environment?. This research aims(1) to know the process of cultivation of the moral values in early childhoodenvironments in the localization of Sunan Kuning Semarang, (2) to find out the factor endowments and a barrier to the cultivation of the moral values in early childhoodenvironments in the localization of Sunan Kuning. This type of research is qualitative research phenomenological approaches to the subject through research namely Muhammad Syahputra specified by means ofpurposive sampling. Data collection method using observation, interviews, and documentation. The data obtained are examined the validity of the data with thetriangulation of sources, methods and time. Data were analyzed with the interactivemodel of data analysis techniques, Miles and Huberman. Based on the data analysis, the process of cultivation of the moral values in early childhood is done in a way to teach good bad, good manners, and how to worship.The cultivation of the moral values of the supporting factors i.e. submission againstparents is quite high, the expectations of parents so that children behave well, the attention of parents, religion, learning and conditioning a NAP. While the factorsrestricting the cultivation of the moral values that is an environment that is less good,limited time parent to meet the child, a grandmother too indulged his grandson, and the absence of examples of good behavior from parents, as well as the absence of anylimitation by Association
PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA 4-5 TAHUN MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL CUBLAK-CUBLAK SUWENG DI TK AISYIAH BUSTANUL ATHFAL 44 KECAMATAN BANYUMANIK – KOTA SEMARANG Na’im, Nur Bani
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterampilan sosial anak kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal kurang maksimal, berdasarkan pengamatan tersebut peneliti menemukan ide, gagasan atau rencana untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan permainan tradisional cublak-cublak suweng di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 44 dalam pengembangan keterampilan sosial anak. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yang pertama adalah Apakah permainan tradisional cublak-cublak suweng dapat meningkatkan keterampilan sosial anak di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 44 ?. Tujuan penelitian adalah Untuk mengetahui bahwa permainan tradisional cublak-cublak suweng dapat meningkatkan keterampilan sosial di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 44. Penelitian tindakan kelas dilakukan untuk mengetahui bahwa permainan tradisional cublak-cublak suweng dapat meningkatkan keterampilan sosial di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 44 Banyumanik Semarang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode Penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan dalam tiga siklus, tiap siklus terdiri atas tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Pengambilan data kuantitatif dan kualitatif. Indikator keberhasilan adalah sebagai berikut ; meningkatnya keterampilan sosial  anak lebih dari 76%. Dari analisis data penelitian siklus I diperoleh hasil kemampuan keterampilan sosial anak melalui permainan culak-cublak suweng adalah 43% dengan kategori kurang. Kemudian dilanjutkan perbaikan ke siklus II dan hasil penelitian meningkat menjadi 68% dengan kategori cukup. Untuk lebih memaksimalkan keterampilan sosial anak melalui permainan cublak-cublak suweng, peneliti melanjutkan perbaikan ke siklus III dengan penigkatan baik menjadi 85%. Berdasarkan dari hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa dengan bermain cublak-cublak suweng di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 44 dapat meningkatkan keterampilan sosial. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat disarankan untuk menggunakan permainan tradisional cublak-cublak suweng dalam memberikan pembelajaran terutama untuk meningkatkan keterampilan sosial anak usia dini.Social skills of children in group A kindergarten Aisyiyah Bustanul Athfal less than the maximum, based on these observations researchers found an idea, an idea or plan to conduct classroom action research using traditional game Cublak-Cublak Suweng in kindergarten Aisyiyah Bustanul Athfal 44 in the development of social skills of children. Issues examined in this study is the first traditional game Cublak Is-Cublak Suweng can improve the social skills of children in kindergarten Aisyiyah Bustanul Athfal 44?. The aim of research is to know that the traditional game Cublak-Cublak Suweng can improve social skills in kindergarten Aisyiyah Bustanul 44. Athfal action research was conducted to determine that the traditional game Cublak-Cublak Suweng can improve social skills in kindergarten Aisyiyah Bustanul Athfal 44 Banyumanik Semarang. The method used in this research is classroom action research method. The research was conducted in three cycles, each cycle consisting of the stages of planning, implementation, observation, and reflection. Quantitative and qualitative data retrieval. Indicators of success are as follows; increasing the social skills of children of more than 76%. From the analysis of research data obtained by the results of the first cycle of the ability of the child's social skills through games culak-Cublak Suweng is 43% with less category. Then proceed to the second cycle and the improvement of research results increased to 68% with sufficient category. To further maximize the child's social skills through games Cublak-Cublak Suweng, researchers continued improvement to the third cycle with good penigkatan to 85%. Based on the results of the study, researchers concluded that by playing Cublak-Cublak Suweng in kindergarten Aisyiyah Bustanul Athfal 44 can improve social skills. Based on the results of this study are advised to use the traditional game Cublak-Cublak Suweng in delivering learning, especially to improve the social skills of early childhood.
HUBUNGAN PERSEPSI ORANG TUA TENTANG PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DENGAN MOTIVASI MENYEKOLAHKANANAKNYA KE PAUD DI DESA PODOSUGIH, KECAMATAN PEKALONGAN BARAT, KOTA PEKALONGAN Siwi, Erika Brahma
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian  ini adalah untuk menguji hubungan persepsi orang tua tentang PAUD dengan motivasi orang tua menyekolahkan anak PAUD di Desa Podosugih, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Pengambilan data penelitian ini menggunakan skala yang diberikan oleh orang tua yang menjadi sampel. Dibuktikan jumlah populasi orang tua yang memiliki anak usia 4-5 tahun dari banyaknya 148 KK sedangkan jumlah sample yang diambil 30 orang. Teknik analisis data korelasi product moment  menggunakan Program SPSS Versi 16.Hasil Penelitian analisis linier sederhana menunjukkan bahwa ada hubungan persepsi orang tua tentang PAUD dengan motivasi menyekolahkan anaknya ke PAUD memiliki hubungan yang positif dengan p < 0,05. Berdasarkan hasil uji normalitas yang telah dilakukan, dapat dilihat dari nilai probabilitas signifikan positif dengan nilai diatas 5% atau 0,05. Variabel Persepsi Orang tua  memiliki  signifikan sebesar 0,927 yang berarti lebih besar dari 0,05. Pada variabel Motivasi Menyekolahkan Anak memiliki nilai signifikan  sebesar 0,791 yang berarti lebih besar dari 0,05. Sedangkan hasil linieritas menunjukkan nilai F sebesar 23,919 dengan nilai signifikan 0,000 yang berarti data tersebut bersifat linier. Hasil analisis hipotesis menggunakan cara uji regresi linier sederhana untuk melihat hubungan persepsi orang tua dengan  motivasi  menyekolahkan anak menghasilkan nilai r sebesar 0,690 artinya terdapat hubungan yang positif. Sedangkan koefisien determinasinya sebesar 0,475 menunjukkan bahwa motivasi menyekolahkan anak ke PAUD dipengaruhi oleh persepsi orang tua memberikan sebesar 47,5% dan 52,5% dipengaruhi oleh variabel lainnya.The purpose of this research is to test the correlation between the parents’ perception about early childhood education and the parents’ motivation to take their children into the early childhood education in Desa Podosugih, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan. This research used quantitative correlational research method. The collecting data of this research used a scale given to the parents who became the samples. It is proved that the number of parents having 4 – 5 years old children were 148 patriarchs, and the samples taken were 30 people. The correlation moment product data analysis technique used SPSS version 16 program. The simple linear research analysis result showed that there was a positive correlation between the parents’ perception about early childhood education and the motivation to take their children into the early childhood education with p < 0,05. Based on the normality test result that had been done, it could be seen from the positive significant probability scores with the scores above 5% or 0,05. The parents perception variable had significance 0,927 that meant higher than 0,05. On the motivation taking children to school variable had significance 0,791 that meant higher than 0,05. Whereas, the linearity result showed the F value was 23,919 with the significance value was 0,000 that meant the data was linear. The hypothesis analysis result used the simple linear regression test to see the correlation between the parents’ perception and the motivation to take their children to school produced r value 0,690, it meant there was a positive correlation. Whereas the determination coefficient was 0,475, showed that the motivation to take their children into the early childhood education was influenced by 47,5 % the parents’ perception and 52,5% was influenced by the other variables.. 
PERBEDAAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 5-6 TAHUN DITINJAU DARI JENIS PEKERJAAN AYAH(PETANI DAN KARYAWAN PABRIK) DI DESA BENER, KECAMATAN KEPIL, KABUPATEN WONOSOBO Hasanah, Nur
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemandirian merupakan kemampuan dan kemauan seorang individu untuk dapat berpikir dan bertindak sendiri sesuai dengan usia dan harapan sosial yang ada agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemandirian anak usia 5-6 tahun ditinjau dari jenis pekerjaan ayah (petani dan karyawan pabrik) di Desa Bener, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Hipotesis alternatif (Ha) dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan kemandirian anak usia 5 -6 tahun ditinjau dari jenis pekerjaan ayah (petani dan karyawan pabrik), sedangkan hipotesis nol (Ho) dalam penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan kemandirian anak usia 5-6 tahun ditinjau dari jenis pekerjaan ayah (petani dan karyawan pabrik). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode komparatif. Populasi penelitian adalah seluruh ayah yang memiliki anak usia 5-6 tahun yang bekerja sebagai petani dan karyawan pabrik dengan jumlah 80 yang terdiri dari 42 ayah yang bekerja sebagai petani dan 38 ayah yang bekerja sebagai karyawan pabrik. Sampel penelitian berjumlah 65 ayah dengan menggunakan Proportianate Stratified Random Sampling. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah uji t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian anak dari ayah yang bekerja sebagai petani memiliki skor lebih tinggi dibandingkan dengan kemandirian anak dari ayah yang bekerja sebagai karyawan pabrik. Kemandirian anak usia 5-6 tahun pada ayah yang bekerja sebagai petani 70,3% sedangkan kemandirian anak usia 5-6 tahun pada ayah yang bekerja sebagai karyawan pabrik 68,4% dari yang diharapkan. Autonomy is the ability and willingness of an individual to be able to think and act on their own according to their age and social expectations that exist in order to adapt in their environment. Alternative hypothesis (Ha) in this research’s differences autonomy of children aged 5-6 years terms of the type of work father (farmers and factory workers), while the null hypothesis (Ho) in this research’s no differences autonomy of children aged 5-6 years terms of the type of work father (farmers and factory workers). The approach used quantitative research approaches to comparative method. The population is all fathers with children aged 5-6 years who worked as farmers and factory workers with the number 80 which consists of 42 father who worked as a farmer and father of 38 who work as employees of the plant. These samples included 65 fathers using Proportianate Stratified Random Sampling. Techniques used t-test. The results showed that the autonomy of the children from father who worked as a farmer has a higher score than the child's autonomy from the father who worked as a factory worker. Autonomy of children aged 5-6 years on a father who worked as a farmer independence, while 70.3% of children aged 5-6 years on a father who worked as a factory worker from the expected 68.4%
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BERBASIS MULTIKULTURAL SEBAGAI UPAYA PENGUATAN NILAI KARAKTER KEJUJURAN, TOLERANSI, DAN CINTA DAMAI PADA ANAK USIA DINI DI KIDDY CARE, KOTA TEGAL Faiqoh, Nur
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada saat Peneliti melakukan observasi, Permasalahan yang ditemui dilapangan adalah adanya anak yang saling mengejek mengenai status sosial, perbedaan budaya, perbedaan agama, warna kulit, dan perbedaan dialek. Terutama yang peneliti temui di lapangan, yaitu di Kiddy Care, Kota Tegal. Hal itu tidak dapat dibiarkan begitu saja karena dikhawatirkan akan menjadi karakter yang melekat pada diri anak saat dewasa nanti. Oleh karena itu, nilai-nilai karakter seperti sikap jujur, toleransi, serta cinta damai perlu diajarkan sejak usia dini. Peneliti menjumpai beberapa perbedaan cara berdo’a yang dilakukan oleh para siswa, walaupun demikian mereka tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Karena Guru di sana selalu mengajarkan siswanya untuk saling toleransi satu sama lain. Ternyata, di Kiddy Care, Kota Tegal menerima peserta didiknya dengan 5 agama yang berbeda seperti Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Anak usia 2-3 tahun merupakan masa yang potensial untuk mengambangan nilai-nilai karakter anak sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan, yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan studi kasus. Selain itu, peneliti bermaksud memahami situasi sosial secara mendalam. Subjek penelitian disini yaitu Kepala Sekolah, Guru wali kelas Kindy, dan Orangtua wali murid dengan objeknya seluruh siswa di kelas Kindy. Teknik pengumpulan data peneliti menggunakan beberapa metode, yaitu wawancara, dokumentasi, serta observasi. Penelitian ini membahas tentang dasar acuan dalam implementasi pembelajaran berbasis multikultural di lembaga Kiddy Care, serta hasil pengimplementasian pendidikan berbasis multikultural dalam pembelajaran dan proses penanaman nilai-nilai karakter pada anak kelas Kindy, dan keterlibatan orangtua dalam pemantauan perkembangan anak saat di rumah, Sebab masa kanak-kanak adalah masa pembentukan pondasi dan masa kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya. Pengetahuan tentang multikulturalisme dan peranan keluarga dan pendidik sebagai pranata kependidikan sangat penting dalam pengenalan nilai-nilai karakter sejak dini.During the observation, the problems found in reality, is a phenomenon of the kids who tend to mock each other about their different social status, cultures, religions, skin colours, and dialects, especially in the kindergarten of Kiddy Care, Tegal City. That phenomenon cannot be ignored since it can develop as the characters that will attach to the kids as they grow up. Therefore, the character values such as honesty, tolerance, and affection need to be taught since the early age. The researcher found that despite some differences in the way students pray, they can still follow the learning process in a good way because the teachers there always teach the students to be tolerant to each other. Furthermore, the kindergarten of Kiddy Care, Tegal City accepts the students from 5 different religions such as Islam, Christianity, Catholic, Hinduism, and Buddhism. 2 or 3 year-old children have a potential phase to develop their character values, and at the same time, it is a critical phase of life, that will determine the next development of the children. Research method used in this study is case studied since the concrete examples of implementation of multicultural-based education are still unclear, complex, and full of senses. Besides, the researcher means to understand the social situation in a deep way. The subjects of this research are the principal, homeroom teacher of Kindy, and students’ parents. The objects are all students of Kindy class. The researcher uses several methods as data gathering techniques; those are interview, documentation, and observation. This research discusses the base in implementing multicultural-based education at the kindergarten of Kiddy Care, the results of that implementation in the process of learning and building character values in Kindy students, and the parents’ involvement in monitoring children’s development at home. Childhood is a phase to create the base, and a character phase that will determine children’s next experiences. Knowledge of multiculturalism, and family’s and educator’s roles as institutions of education are necessary in introducing the character values since the early age.
STUDI DESKRIPTIF PENANAMAN NILAI MORAL PADA ANAK USIA DINI DI LINGKUNGAN LOKALISASI SUNAN KUNING KELURAHAN KALIBANTENG KULON KOTA SEMARANG Nuryani, Sri
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses sosialisasi anak terjadi langsung maupun tidak langsung dalam interaksinya dengan lingkungan sosial, sehingga lingkungan memiliki peran yang sangat besar setelah orangtua dalam proses perkembangan moral anak. Sementara itu, sekarang ini banyak sekali tempat-tempat lokalisasi yang menjamur dan berkembang di Indonesia salah satunya Sunan Kuning, sehingga peran lingkungan yang seharusnya menjadi tempat tumbuh dan berkembang anak menjadi tempat yang tidak aman untuk bermain.Dampak yang ditimbulkan oleh lingkungan tersebut yaitu anak yang berkata “asu”, “susumu lho ketok”.Rumusan masalah dalam penulisan yaitu (1) bagaimana proses penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang?, (2) apa saja faktor pendukung dan penghambat penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang?. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui proses penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan Lokalisasi Sunan Kuning Semarang, (2) untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan fenomenologi dengan subyek penelitian yaitu Muhammad Syahputra yang ditentukan dengan carapurposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.Data yang diperoleh diperiksa keabsahan datanya dengan triangulasi sumber, metode dan waktu. Data dianalisis dengan teknik analisis data model interaktif Miles and Huberman. Berdasarkan analisis data, proses penanaman nilai moral pada anak usia dini dilakukan dengan cara mengajarkan baik buruk, sopan santun, dan cara beribadah.Faktor pendukung penanaman nilai moral yaitu kepatuhan anak terhadap orangtua cukup tinggi, harapan orangtua supaya anak berperilaku baik, perhatian dari orangtua, pembelajaran agama, dan pembiasaan tidur siang.Sedangkan faktor penghambat penanaman nilai moral yaitu lingkungan yang kurang baik, keterbatasan waktu orangtua untuk bertemu anak, nenek yang terlalu memanjakan cucunya, dan tidak adanya contoh perilaku baik dari orangtua, serta tidak adanya pembatasan pergaulan.Child socialization process occurs directly or indirectly in interaction with the social environment, so that the environment has a very big role as parents in the process of moral development of children. Meanwhile, now a lot of places localization mushroom growing in Indonesia one Sunan Kuning, so the role of the environment is supposed to be a child grow and develop into an unsafe place for bermain.Dampak posed by the environment that is child said "asu", "you know your breasts revealed" .Rumusan problem in writing: (1) how the process of cultivation of moral values ​​in early childhood in the localization of Sunan Kuning Semarang ?, (2) what are the factors supporting and inhibiting implantation of moral values ​​in children an early age in the localization of Sunan Kuning Semarang ?. This study aimed (1) to know the process of cultivation of moral values ​​in early childhood in the neighborhood Localization Sunan Kuning Semarang, (2) to identify factors supporting and inhibiting implantation of moral values ​​in early childhood in the localization of Sunan Kuning Semarang. This type of research is a qualitative research with phenomenological approach to research subjects that Muhammad Syahputra determined by carapurposive sampling. Methods of data collection using observation, interviews, and dokumentasi.Data checked the validity of the data obtained by the triangulation of sources, methods and timing. Data were analyzed with data analysis techniques Miles and Huberman interactive model. Based on data analysis, the process of cultivation of moral values ​​in early childhood is done by teaching good and bad, manners, and how to support the planting beribadah.Faktor moral values ​​that obedience to the parents the child is high, parental expectations that children behave well, the attention of parents, religious learning and habituation siang.Sedangkan bed planting factors inhibiting the moral values ​​that are less good environment, time constraints to meet the child's parents, who are too indulgent grandmother grandson, and the absence of examples of good behavior from the parents, and the absence of social restrictions
PERBEDAAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 5-6 TAHUN DITINJAU DARI JENIS PEKERJAAN AYAH(PETANI DAN KARYAWAN PABRIK) DI DESA BENER, KECAMATAN KEPIL, KABUPATEN WONOSOBO Hasanah, Nur
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v4i2.7483

Abstract

Kemandirian merupakan kemampuan dan kemauan seorang individu untuk dapat berpikir dan bertindak sendiri sesuai dengan usia dan harapan sosial yang ada agar dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kemandirian anak usia 5-6 tahun ditinjau dari jenis pekerjaan ayah (petani dan karyawan pabrik) di Desa Bener, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Hipotesis alternatif (Ha) dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan kemandirian anak usia 5 -6 tahun ditinjau dari jenis pekerjaan ayah (petani dan karyawan pabrik), sedangkan hipotesis nol (Ho) dalam penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan kemandirian anak usia 5-6 tahun ditinjau dari jenis pekerjaan ayah (petani dan karyawan pabrik). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kuantitatif dengan metode komparatif. Populasi penelitian adalah seluruh ayah yang memiliki anak usia 5-6 tahun yang bekerja sebagai petani dan karyawan pabrik dengan jumlah 80 yang terdiri dari 42 ayah yang bekerja sebagai petani dan 38 ayah yang bekerja sebagai karyawan pabrik. Sampel penelitian berjumlah 65 ayah dengan menggunakan Proportianate Stratified Random Sampling. Teknik yang digunakan dalam analisis data adalah uji t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian anak dari ayah yang bekerja sebagai petani memiliki skor lebih tinggi dibandingkan dengan kemandirian anak dari ayah yang bekerja sebagai karyawan pabrik. Kemandirian anak usia 5-6 tahun pada ayah yang bekerja sebagai petani 70,3% sedangkan kemandirian anak usia 5-6 tahun pada ayah yang bekerja sebagai karyawan pabrik 68,4% dari yang diharapkan. Autonomy is the ability and willingness of an individual to be able to think and act on their own according to their age and social expectations that exist in order to adapt in their environment. Alternative hypothesis (Ha) in this research’s differences autonomy of children aged 5-6 years terms of the type of work father (farmers and factory workers), while the null hypothesis (Ho) in this research’s no differences autonomy of children aged 5-6 years terms of the type of work father (farmers and factory workers). The approach used quantitative research approaches to comparative method. The population is all fathers with children aged 5-6 years who worked as farmers and factory workers with the number 80 which consists of 42 father who worked as a farmer and father of 38 who work as employees of the plant. These samples included 65 fathers using Proportianate Stratified Random Sampling. Techniques used t-test. The results showed that the autonomy of the children from father who worked as a farmer has a higher score than the child's autonomy from the father who worked as a factory worker. Autonomy of children aged 5-6 years on a father who worked as a farmer independence, while 70.3% of children aged 5-6 years on a father who worked as a factory worker from the expected 68.4%
STUDI DESKRIPTIF PENANAMAN NILAI MORAL PADA ANAK USIA DINI DI LINGKUNGAN LOKALISASI SUNAN KUNING KELURAHAN KALIBANTENG KULON KOTA SEMARANG Nuryani, Sri
BELIA: Early Childhood Education Papers Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Jurusan PGPAUD FIP UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/belia.v4i2.7495

Abstract

Proses sosialisasi anak terjadi langsung maupun tidak langsung dalam interaksinya dengan lingkungan sosial, sehingga lingkungan memiliki peran yang sangat besar setelah orangtua dalam proses perkembangan moral anak. Sementara itu, sekarang ini banyak sekali tempat-tempat lokalisasi yang menjamur dan berkembang di Indonesia salah satunya Sunan Kuning, sehingga peran lingkungan yang seharusnya menjadi tempat tumbuh dan berkembang anak menjadi tempat yang tidak aman untuk bermain.Dampak yang ditimbulkan oleh lingkungan tersebut yaitu anak yang berkata “asu”, “susumu lho ketok”.Rumusan masalah dalam penulisan yaitu (1) bagaimana proses penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang?, (2) apa saja faktor pendukung dan penghambat penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang?. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui proses penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan Lokalisasi Sunan Kuning Semarang, (2) untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat penanaman nilai moral pada anak usia dini di lingkungan lokalisasi Sunan Kuning Semarang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui pendekatan fenomenologi dengan subyek penelitian yaitu Muhammad Syahputra yang ditentukan dengan carapurposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.Data yang diperoleh diperiksa keabsahan datanya dengan triangulasi sumber, metode dan waktu. Data dianalisis dengan teknik analisis data model interaktif Miles and Huberman. Berdasarkan analisis data, proses penanaman nilai moral pada anak usia dini dilakukan dengan cara mengajarkan baik buruk, sopan santun, dan cara beribadah.Faktor pendukung penanaman nilai moral yaitu kepatuhan anak terhadap orangtua cukup tinggi, harapan orangtua supaya anak berperilaku baik, perhatian dari orangtua, pembelajaran agama, dan pembiasaan tidur siang.Sedangkan faktor penghambat penanaman nilai moral yaitu lingkungan yang kurang baik, keterbatasan waktu orangtua untuk bertemu anak, nenek yang terlalu memanjakan cucunya, dan tidak adanya contoh perilaku baik dari orangtua, serta tidak adanya pembatasan pergaulan.Child socialization process occurs directly or indirectly in interaction with the social environment, so that the environment has a very big role as parents in the process of moral development of children. Meanwhile, now a lot of places localization mushroom growing in Indonesia one Sunan Kuning, so the role of the environment is supposed to be a child grow and develop into an unsafe place for bermain.Dampak posed by the environment that is child said "asu", "you know your breasts revealed" .Rumusan problem in writing: (1) how the process of cultivation of moral values ​​in early childhood in the localization of Sunan Kuning Semarang ?, (2) what are the factors supporting and inhibiting implantation of moral values ​​in children an early age in the localization of Sunan Kuning Semarang ?. This study aimed (1) to know the process of cultivation of moral values ​​in early childhood in the neighborhood Localization Sunan Kuning Semarang, (2) to identify factors supporting and inhibiting implantation of moral values ​​in early childhood in the localization of Sunan Kuning Semarang. This type of research is a qualitative research with phenomenological approach to research subjects that Muhammad Syahputra determined by carapurposive sampling. Methods of data collection using observation, interviews, and dokumentasi.Data checked the validity of the data obtained by the triangulation of sources, methods and timing. Data were analyzed with data analysis techniques Miles and Huberman interactive model. Based on data analysis, the process of cultivation of moral values ​​in early childhood is done by teaching good and bad, manners, and how to support the planting beribadah.Faktor moral values ​​that obedience to the parents the child is high, parental expectations that children behave well, the attention of parents, religious learning and habituation siang.Sedangkan bed planting factors inhibiting the moral values ​​that are less good environment, time constraints to meet the child's parents, who are too indulgent grandmother grandson, and the absence of examples of good behavior from the parents, and the absence of social restrictions

Page 1 of 2 | Total Record : 16