cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal" : 10 Documents clear
LINGKUNGAN PENGENDAPAN DAN PERINGKAT BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS PETROGRAFI DAN KIMIA, FORMASI BATU AYAU, CEKUNGAN KUTAI Reza Moh. Ganjar, Nana Suwarna., Deas Marlin, Nurdrajat,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.041 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23196

Abstract

Daerah penelitian yang termasuk ke dalam Formasi Batu Ayau, Cekungan Kutai, secara administratif berada di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Sembilan belas sampel batubara diambil dari daerah penelitian yang tersebar di Desa Maruwai dan Desa Batu Buah. Sampel tersebut kemudian dianalisis secara makroskopis untuk mengetahui jenis litotipe dan secara mikroskopis untuk mendeterminasi kandungan maseral, bahan mineral, dan reflektansi vitrinit. Selain itu, terhadap sampel tersebut dilakukan pula analisis kimia untuk mengetahui nilai kalori, sulfur total, kadar abu, dan kadar zat terbang. Hasil dari analisis ini digunakan untuk mengetahui lingkungan pengendapan dan peringkat batubara. Batubara di daerah penelitian didominasi oleh litotipe Bright (B) dengan ketebalan berkisar antara 0,4 m hingga 4 m. Secara petrografis, batubara ini tersusun oleh kelompok maseral vitrinit sebesar 90,4 - 99%, inertinit 0 - 3,4%, dan liptinit 0 - 2,8%, serta bahan mineral (1 - 7%). Hasil dari analisis kimia menunjukkan bahwa batubara daerah penelitian memiliki nilai kalori 4843 – 8574 kal/g, kandungan sulfur 0,20 – 0,75 %, kadar zat terbang 10,02 – 37,59 %, dan kadar abu 0,55 – 6,33 %. Berdasarkan diagram GI versus TPI dan diagram GWI versus VI dengan kondisi hidrologi ombrotrophic. Peringkat batubara di daerah penelitian termasuk ke dalam peringkat sub-bituminous B hingga medium volatile bituminous.Kata kunci: batubara; Formasi Batu Ayau; lingkungan pengendapan; peringkat.
PENGARUH MUKA AIRTANAH TERHADAP SUDUT LERENG STABIL PADA PIT “X” PT. BORNEO INDOBARA, KALIMANTAN SELATAN ,Dicky Muslim, Hasan Ashari, M.S. Joko Santoso, Anggi Hardian, Rafly Anugrah Ramadhian,Zufialdi Zaka
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.472 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23192

Abstract

Kestabilan lereng merupakan suatu masalah yang sangat sering dijumpai dalam kegiatan penambangan. Lereng yang berada dalam keadaan tidak stabil akan berpotensi menghasilkan longsor. Kondisi muka airtanah dalam tubuh lereng dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng. Untuk mengetahui pengaruh kondisi muka airtanah terhadap sudut lereng pada Pit “X”, PT. Borneo Indobara, metode penelitian yang dilakukan dimulai dari pengolahan data sifat fisik material dari hasil uji laboratorium. Data tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai material properties pada proses simulasi kestabilan lereng dalam software Slide v.6.0. Proses simulasi kestabilan lereng dilakukan dengan variasi ketinggian lereng yang berbeda dan pengaruh muka airtanah pada tubuh lereng dengan variasi ketinggian yang berbeda pula. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa simulasi pada lereng highwall dengan tinggi 100meter dapat membentuk sudut stabil hingga 47˚ saat kondisi muka airtanah 1/8 tinggi lereng dari kaki lereng. Sedangkan simulasi pada lereng sidewall dengan tinggi sekitar 110meter dapat membentuk sudut stabil hingga 50˚ saat kondisi muka airtanah 1/8 tinggi lereng dari kaki lereng. Dapat disimpulkan bahwa penurunan elevasi muka airtanah pada lereng dapat menghasilkan sudut lereng stabil yang lebih tinggi. Sehingga penurunan elevasi muka airtanah pada lereng highwall area penelitian dapat menaikkan rekomendasi sudut lereng stabil dari 15˚ hingga 22˚. Pada lereng sidewall area penelitian, rekomendasi sudut lereng stabil dapat dinaikkan dari 18˚ hingga 20˚.Kata kunci: Kestabilan lereng, muka airtanah, highwall, sidewall
POLA ALIRAN AIR PANAS BUMI DAERAH BITTUANG, KABUPATEN TANA TORAJA, SULAWESI SELATAN MENGGUNAKAN METODE DENSITAS KELURUSAN DAN GEOINDIKATOR AIR PANAS Johannes Hutabarat, Prasetya Ikra P, Agus Didit Haryanto,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1720.168 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23197

Abstract

Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan memiliki kondisi geologi yang mungkin terpengaruh oleh sistem panas bumi. Pada suatu sistem panas bumi terdapat zona upflow dan outflow. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui zona upflow dan outflow sistem panas bumi daerah Bittuang. Metode yang digunakan yaitu pembuatan peta densitas kelurusan menggunakan metode Fault Fracture Density, serta perbandingan beberapa unsur geoindikator yaitu Na/K, Cl / SO4, SO4 / HCO3 dan Cl / [Na/K]. Pada daerah penelitian didapat 2489 kelurusan punggungan dan lembahan dengan trend dominan timurlaut - baratdaya, dapat dikelompokkan tiga kelas densitas, yaitu Densitas Rendah dengan nilai densitas < 29000 m/km2, Densitas Sedang dengan nilai densitas 29000 – 34000 m/km2, dan Densitas Tinggi dengan nilai densitas > 34000 m/km2. Perbandingan rasio geoindikator menunjukkan zona upflow berada di baratdaya dari sumber panasnya yaitu Gunungapi Karua. Pada daerah penelitian, air panas mengalir ke arah baratdaya dari Gunungapi Karua, kemudian masuk ke zona upflownya dimana pada zona ini memiliki permeabilitas dan gradien suhu bawah permukaan yang paling tinggi. Air panas dari zona upflow kemudian mengalir lateral ke baratdaya - selatan ke zona outflow. Pada zona lateral flow ditemukan manifestasi berupa air panas kelompok Balla (APB-1, APB-2, dan APB-3) sedangkan pada zona outflow ditemukan manifestasi berupa air panas kelompok Cepeng (APC-2 dan APC-2)Kata Kunci: Panas Bumi Bittuang; Densitas Kelurusan; Outflow; Upflow; Geoindikator 
SWELLING POTENTIAL MENGGUNAKAN METODE FREE SWELL INDEX TEST DI DAERAH CILENGKRANG, KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT Zufialdi Zakaria, Nur Khoirullah., Annisa Ayuningtyas Pratiwi,Raden Irvan,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.654 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23188

Abstract

Daerah penelitian termasuk kedalam Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Daerah ini didominasi oleh tanah hasil lapukan batuan produk vulkanik berupa tuf, breksi dan lava andesit. Objek penelitian berupa tanah hasil lapukan produk vulkanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tanah mengembang dari sampel tak terganggu. Dari sampel tanah tak terganggu tersebut untuk mengetahui nilai indeks pengembangan dilakukan pengujian sampel menggunakan metode free swell index test. Nilai indeks pengembangan terbesar yaitu 22,73% dan nilai terkecil yaitu 2,86%. Daerah cilengkrang memiliki potensi tanah mengembang rendah sampai sedang.Kata Kunci : Cilengkrang, vulkanik, potensi tanah mengembang.
PROVENANCE BATUPASIR DAN BATULEMPUNG ANGGOTA TUF FORMASI WATURANDA, DAERAH KEBUMEN, JAWA TENGAH Aton Patonah, Hana Nur Aini, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1047.484 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23193

Abstract

Batupasir dan batulempung yang tersingkap di daerah Kedungwringin, Kec.Sempor, Kab.Kebumen, Prov. Jawa Tengah, termasuk ke dalam Anggota Tuf Formasi Waturanda. Sepengetahuan penulis hingga kini penelitian tentang provenance batupasir dan batulempung yang menyusun Anggota Tuf Waturanda tersebut belum pernah dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut, makalah ini difokuskan untuk menginterpretasikan batuan sumber (provenance) batuan penyusun Anggota Tuf Formasi Waturanda melalui pendekatan petrografi. Studi provenan dilakukan terhadap 3 sayatan tipis batupasir dan 2 batulempung yang mewakili sampel yang berasal dari daerah Kedungwringin. Batupasir berjenis feldsphatic graywacke dan lithic graywacke secara umum memiliki karakteristik ukuran sangat halus hingga sedang, menyudut tanggung hingga membundar, kemas tertutup sebagian terbuka, didominasi oleh mineral plagioklas, k-feldspar, piroksen dan litik batuan beku. Dari komposisi dan tekstur yang diamati, batuan ini berasal dari batuan beku volkanik dicirikan dengan dominansi mineral felspar, piroksen, dan gelas vulkanik. Berdasarkan persentase kandungan kuarsa monokristalin, kuarsa polikristalin, feldspar (plagioklas dan k-feldspar), dan fragmen batuan, batupasir dan batulempung daerah penelitian terbentuk pada tatanan tektonik busur magmatic (Magmatic Arc), yaitu bagian Transitional Arc.Kata kunci: Anggota Tuf Formasi Waturanda, provenance, petrografi, Sempor
HUBUNGAN NILAI KOEFISIEN GEMPA HORIZONTAL (Kh) DENGAN NILAI SAFETY FACTOR (FS) DAERAH CILENGKRANG, JAWA BARAT Nur Khoirullah, Zufialdi Zakaria, Raden Irvan Sophian, Agung Mulyo., Arif Fakhrudin Shobari, Iqbal J
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1065.062 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23189

Abstract

Lokasi daerah penelitian memiliki morfologi perbukitan dan pegunungan yang didominasi lereng agak curam hingga curam sehingga memiliki potensi terjadinya bencana longsor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh beban gempa terhadap kestabilan lereng dan perbedaan nilai faktor keamanan lereng hasil uji triaksial dan geser langsung. Sampel tanah yang digunakan merupakan sampel tanah tak terganggu. Analisis Kestabilan lereng dilakukan pada kondisi static dan pesudostatic dengan metode limit equilibrium menggunakan software Slide V.06. Hasil penelitian didapatkan 1 jenis tanah, yaitu tanah berjenis lanau plasitisitas tinggi (MH). Hasil simulasi pada kondisi static menunjukan bahwa daerah penelitian memiliki lereng yang labil - kritis pada Profil A-B dan C-D, sedangkan Profil E-F dalam keadaan stabil. Saat diberikan nilai koefisien gempa horizontal (Kh) pada lereng tersebut terjadi penurunan nilai FS yang cukup signifikan dan menjadi tidak stabil karena memiliki nilai FS<1,07. Beban gempa akan mengurangi nilai FS, hal ini dimungkinkan karena gaya pseudostatic yang diasumsikan bergerak keluar arah lereng yang mempengaruhi tekanan air pori dan tegangan geser. Hasil simulasi menunjukan bahwa nilai direct shear memberikan nilai FS lebih besar dibandingkan nilai triaxial.
KERANGKA SEKUEN PENGENDAPAN BATUBARA BERDASARKAN ANALISIS NILAI SULFUR DAN KADAR ABU DAERAH BENTARSARI, KECAMATAN SALEM, KABUPATEN BREBES, PROVINSI JAWA TENGAH Reza Moh Ganjar Ghani, Satrio Fajar Pamekas, Nurdrajat,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.889 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23194

Abstract

Kandungan sulfur dan abu pada batubara merupakan karakteristik geokimia pada batubara yang dapat menginterpretasi kondisi lingkungan pengendapan. Kelimpahan sulfur sebagian besar dikontrol oleh derajat pengaruh air laut selama pengendapan batubara. Kontrol air laut pada batubara dapat mendeterminasi kerangka sekuen dari pengendapan batubara di daerah penelitian. Kadar abu yang berasal dari material anorganik dapat menginterpretasi tingkat suplai sedimen. Penelitian batubara di Daerah Bentarsari, Jawa Tengah masih minim, sehingga menjadi hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemetaan geologi dan measuring section (MS) pada satu sungai di daerah penelitian. Kemudian dilakukan analisis ultimat dan proksimat pada sampel batubara untuk memperoleh nilai sulfur dan kadar abu. Nilai sulfur dan kadar abu pada batubara digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasi kerangka sekuen pengendapan batubara di daerah penelitian. Data memperlihatkan bahwa nilai sulfur batubara di daerah penelitian fluktuatif. Hal ini juga menunjukkan bahwa pengaruh air laut juga tidak tetap (stabil). Pada penampang T01 nilai sulfur bervariasi dari 0,65% sampai 1,12%. Kerangka sekuen pengendapan memperlihatkan fase transgresi dan regresi yang berlangsung selama pengendapan batubara. Batubara di daerah penelitian memiliki kandungan abu tinggi (>15%) dan terbentuk pada tipe rawa low-lying swamp dengan suplai sedimen yang tinggi.Kata kunci : Sulfur, Bentarsari, batubara, transgresi, regresi.
SISTEM PANAS BUMI NON-VULKANIK DAERAH BUNTUNA, TOLITOLI, SULAWESI TENGAH, BERDASARKAN PENDEKATAN GEOLOGI DAN GEOKIMIA AIR PANAS Johanes Hutabarat, Dedi Kusnadi., Petrus Rony P. S, Agus Didit Haryanto,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.464 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23190

Abstract

Kabupaten Tolitoli merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah. Pada daerah Kabupaten Tolitoli ini banyak ditemukan manifestasi panasbumi salah satunya terletak pada Desa Buntuna, Kecamatan Baolan. Manifestasi panasbumi yang ditemukan berupa mataair panas dan kubangan air panas.Analisis kelurusan morfologi dilakukan untuk mengetahui struktur geologi daerah penelitian. Analisis geokimia pada manifestasi air panas dilakukan untuk mengetahui jenis air panas, asal air panas, dan pendugaan suhu bawah permukaan. Secara geologi daerah penelitian merupakan lingkungan non-vulkanik dengan litologi batusabak. Kemunculan fluida panasbumi diduga dikarenakan struktur berarah barat daya timur laut. Sampel air panas menunjukan air panas bertipe bikarbonat dan termasuk kedalam immature water. Hasil pengukuran geotermometer air Na/K Hasil pengukuran temperatur bawah permukaan menggunakan geotermometer Na/K memperkirakan bahwa temperatur reservoir adalah sekitar 170oC.Kata Kunci: Geologi, Geokimia, Panas Bumi, Toli-Toli
PEMODELAN SUMUR BATUAN INDUK BERDASARKAN ANALISIS GEOKIMIA ORGANIK PADA SUB – CEKUNGAN JATIBARANG, CEKUNGAN LAUT JAWA BARAT BAGIAN UTARA Reza Moh. Ganjar, Yusi Firmansyah, Rahmat Budiana, Emellia Bunga Amitama, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.693 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23195

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kepentingan kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan minyak dan gas bumi. Dalam kegiatan eksplorasi analisis geokimia organik digunakan untuk mengetahui kemampuan batuan induk dalam menggenerasikan hidrokarbon serta mengetahui karakteristik batuan induk dan hidrokarbon, sedangkan untuk pengembangan lapangan minyak dan gas bumi, analisis geokimia organik digunakan untuk mengetahui kondisi sumur secara berkala. Terkait kegiatan – kegiatan tersebut, dipilihlah lapangan Sub - cekungan Jatibarang, Cekungan Laut Jawa Bagian Utara sebagai daerah penelitian. Penelitian ini menggunakan analisis karakteristik batuan induk, analisis biomarker batuan induk dan hidrokarbon, serta analisis sejarah pemendaman menggunakan perangkat lunak Petromod 1D. Analisis dilakukan pada 3 sumur batuan induk (BA 1, BA 2, BA 3) dan 2 sumur hidrokarbon (EB 1 dan EB 2). Hasil analisis pada BA 1 menunjukkan bahwa batuan induk Formasi Jatibarang memiliki kemampuan yang bagus dalam menggenerasikan hidrokarbon yang telah bermigrasi sebanyak TR 40% pada waktu Pliosen. Hasil analisis pada sumur BA 2 menunjukkan bahwa batuan induk pada Formasi Talang Akar Non Marine memiliki kemampuan yang bagus dalam menggenerasikan hidrokarbon dan telah bermigrasi sebanyak TR 9% pada saat sekarang (Resen). Hasil analisis sumur BA 3 menunjukkan bahwa batuan induk pada Formasi Jatibarang memiliki kemampuan yang bagus dalam mengenerasikan hidrokarbon, yang telah bermigrasi sebanyak TR 40% pada Pliosen. Berdasarkan analisis biomarker, hidrokarbon pada sumur EB 1 dan EB 2 memiliki kesamaan karakteristik dengan batuan induk pada sumur BA 1 dan BA 2.Kata kunci : Geokimia organik, Batuan Induk, Hidrokarbon, Sub – Cekungan Jatibarang
ANALISIS KECENDERUNGAN ASPEK MORFOMETRI DENGAN STADIUM EROSI, DAS CIKAPUNDUNG, KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Edi Tri Haryanto, Pradnya P. R. Rendra., Destyo Prabowo, Nana Sulaksana,
Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.726 KB) | DOI: 10.24198/pgj.v3i4.23191

Abstract

Analisis daerah aliran sungai berdasarkan aspek morfometri sangat penting untuk memahami karateristik dan perencanaan pembangunan daerah tersebut. Beragam aspek morfometri digunakan untuk mengetahui nilai kuantitatif suatu daerah aliran, namun belum ada penelitian yang memberi gambaran hubungan antar aspek morfometri itu sendiri. Papper ini bertujuan untuk memberi gambaran hubungan aspek morfometri linear & areal dengan nilai Hypsometric Integral yang disajikan dalam bentuk kurva, dimana kurva tersebut menjelaskan peran tektonik terhadap nilai morfometri. Semoga paper ini dapat memberi wawasan untuk penelitian di masa depan yang berhubungan dengan morfometri.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue