cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal" : 10 Documents clear
KARAKTERISTIK BATUBARA FORMASI LATIH DAERAH GUNUNG TABUR, KABUPATEN BERAU, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Agus Didit Haryanto, Nana Suwarna, M. Ammar Azzam, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26320

Abstract

Indonesia memiliki beragam sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah batubara.Batubara dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik batubara yang terdapat pada Formasi Latihdaerah Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Metode penelitian dilakukandengan menganalisis 6 sampel batubara meliputi analisis litotipe, proksimat, peringkat, serta modelseam pada daerah penelitian. Berdasarkan analisis terhadap 6 sampel, batubara daerah penelitianmemiliki litotipe bright banded coal, kelembaban total berkisar 11,1-12,6 % (a.r.b.), zat terbangberkisar 41,8-43,4 % (a.d.b), sulfur total berkisar 0,65-2,7 % (a.d.b), karbon tertambat berkisar 45-46,7% (a.d.b), kandungan abu berkisar 2-4,6 % (a.d.b), dan nilai kalori berkisar 6284,6-6531 kal/g (a.r.b)dengan peringkat batubara subbituminous – high volatile bituminous-C. Seam batubara memperlihatkanketebalan yang berkisar dari 1-1,8 m, dengan sebaran berarah utara-selatan serta kisaran kemiringan 35-40°, dan pada beberapa area terlihat struktur splitting. Sehubungan dengan karakteristik yang baik,batubara tersebut dapat dimanfaatkan sebagai energi bahan bakar yang ideal.Kata kunci: karakteristik batubara, latih, litotipe, proksimat, peringkat
KESESUAIAN LAHAN UNTUK LOKASI RESAPAN BUATAN PADA LERENG TENGGARA GUNUNG GEDE, JAWA BARAT M. Nursiyam Barkah, Rai Ikhsan Wiratama, T. Yan WMI,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26325

Abstract

Telah dibangun sebuah resapan buatan pada Desa Titisan, Kecamatan Sukalarang, KabupatenSukabumi, Jawa Barat. Resapan buatan ini dibuat dengan tujuan untuk mengisi cadangan air tanah agarkuantitasnya dapat bertahan secara berkelanjutan. Tidak hanya itu, air yang ditampung oleh kolam padaresapan buatan ini juga dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar yang sering mengalami kesulitan airkarena dalamnya muka air tanah sehingga masyarakat tidak bisa menggunakan sumur untukmemperoleh air tanah. Akan tetapi, meskipun resapan buatan ini telah terbukti bermanfaat bagimasyarakat, sebuah pengkajian dibutuhkan untuk menilai apakah resapan buatan ini telah ditempatkanpada lokasi dengan karakteristik fisik lahan yang sesuai untuk meresapkan air atau tidak. Apabilapenelitian menunjukkan hasil yang negative, sebuah rekomendasi dibutuhkan agar resapan buatan inidapat berfungsi maksimal dalam mengalirkan air ke dalam tanah. Penelitian ini menggunakan limaparameter, di antaranya adalah jenis batuan penyusun, jenis tanah penutup, penggunaan lahan,kemiringan lahan, dan curah hujan. Hasilnya, resapan buatan menempati daerah dengan tingkatkesesuaian yang tinggi, yakni dengan skor 63,27 – 73,75. Dengan kata lain, resapan buatan pada daerahpenelitian telah ditempatkan sesuai dengan kriteria karakteristik fisik lahan yang maksimal dalammeloloskan air ke dalam tanah.Kata Kunci: Analisis kesesuaian lahan, curah hujan, jenis batuan, jenis tanah, kemiringan lahan,penggunaan lahan dan resapan buatan.
VARIASI BATUGAMPING DI QUARRY X FORMASI KLAPANUNGGAL, DAERAH CIBINONG, KECAMATAN CIBINONG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT Nanda Natasia, Fahmy Sanjaya, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26321

Abstract

Batugamping merupakan batuan yang unik karena mempunyai sifat heterogen dari segikomposisi dan properti. Hal ini disebabkan oleh proses-proses diagenesa yang terjadi padabatugamping. Perkembangan batugamping yang sensitif terhadap perubahan kondisi geologi dapatmemberikan informasi berupa asal – usul pembentukan dari batugagamping itu sendiri. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui variasi batugamping yang berada di daerah penelitian. Metode penelitianyang digunakan adalah hasil pengamatan singkapan batugamping pada daerah penelitian yangkemudian diambil sampel dari singkapan batugamping yang nantinya di jadikan sayatan sampel untukdi deskripsi secara petrologi. Klasifikasi yang digunakan untuk deskripsi petrologi berdasarkankombinasi klasifikasi Folk, 1951 dan Dunham, 1961 dan juga dibagi berdasarkan tipe matriks danvisible porosity. Hasil penelitian menunjukan bahwa variasi batugamping pada daerah penelitian dibagimenjadi 5 (lima) variasi batugamping, yaitu Batugamping Mudstone dengan jumlah 9 sampel,Batugamping Packstone dengan jumlah 14 sampel, Batugamping Floatstone dengan jumlah 10 sampel,Batugamping Wackstone dengan jumlah 8 sampel dan Batugamping Rudstone dengan jumlah 13sampel dengan seluruh total sampel yaitu 54 sampel. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasanuntuk diri sendiri dan juga sebagai literatur untuk penelitian lebih lanjut tentang batugamping di QuarryX.Kata Kunci: Batugamping; Cibinong; Formasi Klapanunggal; Variasi
KARAKTERISTIK MIKROSKOPIS GRANIT TANJUNG BINGA, KECAMATAN SIJUK, KABUPATEN BELITUNG, KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Ahmad Subagdja , Kurnia A. Fachrudin, Hanifah N. Zakkiya, Mega F. Rosana,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26326

Abstract

Daerah penelitian terletak pada daerah Tanjung Binga, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Batuan tersusun atas granit yang merupakan pluton terbesar di Pulau Belitung. Granit merupakan batuan beku asam bertekstur kasar. Penentuan variasi granit Tanjung Binga dibutuhkan untuk mengetahui persebaran setiap jenisnya. Penelitian dilakukan dengan analisis megaskopis dan mikroskopis. Secara megaskopis batuan terdiri atas satu jenis batuan yaitu granitik. Secara mikroskopis daerah penelitian terdiri atas 4 jenis batuan yaitu monzogranit, sienogranit, sienit, dan sienit kuarsa. Monzogranit umumnya tersebar sepanjang pantai daerah penelitian, sienogranit tersebar pada bagian tengah daerah penelitian, sementara sienit kuarsa dan sienit berada pada bagian selatan daerah.Kata kunci : Granit, Variasi, Mikroskopis
KARAKTERISTIK PETROGRAFI LAVA SIANTU DAERAH SIJUK PULAU BELITUNG Ahmad Subagja, Kurnia Arfiansyah F., Kazhimah Rosyada, Mega Fatimah Rosana,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26322

Abstract

Salah satu keunikan Pulau Belitung adalah terdapatnya jejak gunungapi bawah laut purba berumurPerm-Karbon. Batuan gunungapi ini tersingkap di tepi pantai paling utara Belitung mulai dari TanjungSiantu, Tanjung Arabulan, Pulau Babi, Pulau Limaujering, Pulau Bira hingga ke Pulau Buluh.Penelitian ini mengkaji karakteristik batuan lava Siantu dengan pendekatan analisis petrografi sehinggadapat diinterpretasikan paragenesanya berdasarkan kenampakan tekstur dan komposisi mineralnya.Sebanyak empat belas sampel batuan digunakan untuk analisis petrografi menggunakan mikroskoppolarisasi. Kenampakan permukaan menunjukan bahwa batuan merupakan lava basaltik berstrukturmassif, autobreksi dan setempat menunjukan lava bantal. Secara mikroskopis, batuan berteksturafanitik-porfiritik, seriate, intergranular, dan glomeroporfiritik. Komposisi mineral terdiri atas olivin,plagioklas, piroksen, mineral opak, dan mineral sekunder berupa klorit, epidot, mineral lempung,karbonat, opak, oksida besi, kuarsa sekunder dan serisit. Batuan telah teralterasi kuat-sangat kuat. Jenisbatuan adalah basalt dengan seri magma tholeitik. Paragenesa mineral pada batuan secara berurutanadalah mineral opak, fenokris plagioklas, mikrofenokris plagioklas dan mikrofenokris piroksen, mikrolitplagioklas dan mikrolit piroksen. Kemudian, proses alterasi hidrotermal berlangsung dan menghasilkanmineral sekunder. Magmatisme yang membentuk lava Siantu menghasilkan dua tahapan kristalisasisehingga membentuk dua generasi fenokris, menjelang erupsi magma bergerak melambat, dan batuanmemiliki indikasi percampuran magma.Kata kunci: petrografi, tekstur, magmatisme, lava, Siantu, Belitung
PROBABILITAS LONGSOR PADA LERENG TAMBANG BATUBARA TERBUKA SISI SIDEWALL SELATAN PIT X, KALIMANTAN SELATAN Zufialdi Zakaria, Silvya Oktari Rusni,Raden Irvan Sophian,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26327

Abstract

Analisis kestabilan lereng sangatlah penting karena dapat menjamin kelancaran produksi dankeselamatan kerja pada tambang terbuka. Analisis kestabilan lereng tidak cukup hanya denganperhitungan nilai faktor keamanan saja. Namun, perlu diperhitungkan nilai probabilitas kelongsorannya.Penelitian ini dilakukan pada desain lereng sidewall selatan pit X dengan metode probabilistik. Datastatistik yang dijadikan sebagai variabel acak yaitu nilai kohesi, sudut geser dalam, dan nilai unit weightmenggunakan metode Kolmogorov-Smirnov dengan metode sampling Monte-Carlo. Simulasikestabilan lereng menggunakan metode Morgenstern-Price berdasarkan kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb. Hasil simulasi menunjukkan bahwa desain lereng sidewall selatan tidak memenuhi kriterialereng stabil. Sehingga perlu dilakukan revisi desain. Revisi dilakukan dengan mengurangi nilai overallslope dengan memundurkan crest, mengurangi tinggi tiap jenjang, dan memperlebar lebar jenjang.Untuk penambahan jarak jalan di atas lereng, akan meningkatkan nilai faktor keamanan. Namun, padabatas titik tertentu, penambahan jarak beban tidak lagi berpengaruh terhadap peningkatan nilai FKmaupun PK. Sedangkan antara nilai FK dan PK memiliki hubungan yang berbanding terbalik, dimananilai FK yang semakin besar akan memperkecil nilai probabilitas kelongsorannya.Kata Kunci: Analisis kestabilan lereng, Metode probabilitas, Probabilitas kelongsoran, Faktorkeamanan
GEOLOGI DAERAH KACANGBUTOR DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BADAU, KABUPATEN BELITUNG Kurnia A. Fachrudin, Ahmad Subagdja, Aditya F. Putrananda, Mega F. Rosana,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26318

Abstract

Batuan intrusif granit yang terdapat di daerah Kacangbutor termasuk kedalam pluton granitoid Formasi Tanjung Pandan. Akan tetapi penelitian spesifik terkait karakteristik batuan dan tipe granit masih sedikit dilakukan di lokasi penelitian. Oleh karena itu peneltian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi dari aspek geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi sehingga dapat menginterpretasikan sejarah geologi di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah pemetaan geologi permukaan dan analisis mikroskopis dengan menggunakan metode petrografi. Geomorfologi lokasi penelitian terdiri atas morfologi pedataran agak landai sedimen dan perbukitan curam intrusi. Stratigrafi lokasi penelitian dari yang paling tua ke muda adalah Satuan Batupasir (PCbp) dan Intrusi Granit (Trig). Dibawah sayatan tipis ditemukan tekstur megakristalin feldspar dan kuarsa juga tekstur pertit dan grafik. Selain itu terdapat pula mineral aksesoris seperti apatit, zircon, dan monasit sebagai inklusi. Struktur geologi yang ditemukan berupa struktur kekar dan beberapa kekar telah terisi oleh mineralisasi.Kata kunci: Geomorfologi, Geologi Struktur, Kacangbutor, Stratigrafi.
PENGARUH GETARAN TERHADAP KESTABILAN LERENG UNTUK RENCANA PEMBANGUNAN EMBUNG DI DAERAH DESA CILELES, JATINANGOR, SUMEDANG, JAWA BARAT Raden Irvan Shopian, Safitri Nur Aulia, Zufialdi Zakaria,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26323

Abstract

Desa Cileles merupakan bagian dari daerah Jatinangor, dimana di daerah tersebut belumditemukan adanya tempat penampungan air, maka dari itu diperlukan pembuatan embung untukmenampung air di daerah tersebut agar dapat digunakan oleh warga sekitar. Tujuan dari penelitianini adalah untuk mengetahui kondisi geologi teknik, kestabilan lereng, penanggulangan agar tidakterjadi longsor, dan untu mengetahui pengaruh getaran terhadap kestabilan lereng. Analisiskestabilan lereng yang dipakai dalam mencari nilai faktor keamanan lereng adalah metode Bishop.Setelah itu dilakukan perancangan rekayasa lereng single slope kemudian disusul dengan multislope agar didapat desain lereng yang aman dan optimal untuk mencegah kelongsoran terjadi.Hasildari penelitian ini berupa nilai faktor keamanan lereng pada kondisi sebelum dipengaruhi bebangempa dan setelah dipengaruhi beban gempa dengan periode perulangan 50 tahun. Pada penelitianini terdapat 5 titik yaitu pada titik 1, titik 4, dan titik 5 diperoleh nilai faktor keamanan yang stabilpada simulasi single slope. Sedangkan pada titik 2 dan titik 3 dilakukan simulasi multi slope,dimana titik 2 diperoleh nilai faktor keamanan yang stabil dan pada titik 3 masih dalam katagorikritis. Pada simulasi lereng yang tidak dipengaruhi gempa memiliki nilai faktor keamanan yanglebih tinggi dibandingkan lereng yang dipengaruhi gempa baik dalam single slope maupun multislope. Presentase penurunan nilai faktor keamanan jika dipengaruhi getaran pada single slopesekitar 60% - 70% dan pada multi slope nilai faktor keamanan yang diperoleh sekitar 65%-41%.Kata kunci : Kestabilan Lereng, Embung, Faktor Keamanan, Gempa, Desa Cileles
PALEOTEMPERATUR MIOSEN AKHIR PLIOSEN AWAL BERDASARKAN FOSIL FORAMINIFERA PLANGTONIK PADA FORMASI HALANG PADA LINTASAN ANAK SUNGAI GINTUNG, JAWA TENGAH Winantris, Dhanu Elfitra, Lia Jurnaliah,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26319

Abstract

Secara adminstratif daerah penelitian terletak di Anak Sungai Gintung, Purworejo Klampok, JawaTengah. Secara Geografis, daerah penelitian berada pada S 07o 30’ 09,4” dan E 109o 20’ 06,0”. LintasanAnak Sungai Gintung termasuk ke dalam Formasi Halang yang tersusun atas dominasi batupasir danbatulempung. Objek penelitian terdiri dari 42 sampel batuan yang diambil setiap interval 6 meter dansetiap perubahan litologi. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi paleotemperatur daerah penelitianberdasarkan kelimpahan foraminifera plangtonik. Pengolahan data foraminifera pada penelitian inidilakukan dengan mencari fosil indeks temperatur pada tiap sampel, serta analisis kuantitatif berupapersentase jumlah foraminifera penciri temperatur. Analisis rekonstruksi paleotemperatur menunjukkantelah terjadi perubahan temperatur sebanyak tiga kali yang bervariasi dari temperatur sedang (10o C – 20oC) hingga hangat (> 20o C) dan berubah kembali ke temperatur sedang.Kata Kunci: Foraminifera, Paleotemperatur, Miosen Akhir – Pliosen Awal.
KARAKTERISTIK HIDROKIMIA UNTUK MENGETAHUI SISTEM DAN PEMANFAATAN FLUIDA PANAS BUMI DAERAH KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR Boy Yoseph CSSSA, Andri Eko Ari Wibowo, Luciana Maorine Wita, Ildrem Syafri,
Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v3i5.26324

Abstract

Indonesia memiliki banyak wilayah panas bumi yang berasosiasi dengan lingkungan non-vulkanik.Salah satunya adalah daerah panas bumi Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Objekpenelitian dalam kajian ini adalah karakteristik geokimia fluida dari manifestasi permukaan denganmetode perhitungan kesetimbangan ion dan geotermometer. Manifestasi yang muncul di lapangan yaitumata air panas. Uji laboratorium dilakukan terhadap 5 sampel mata air panas. Suhu manifestasi berkisarantara 38°C-47 °C dan pH cairan berkisar dari 6,2 - 8,4. Sumber panas diperkirakan timbul dariaktivitas tektonik dan magmatik termuda (intrusi granit) yang terjadi pada Oligosen. Struktur geologiyang mengontrol area panas bumi Kutai Kartanegara didominasi oleh struktur berarah barat lauttenggarayang terkait dengan sesar Bengalon yang berada di utara. Sistem panas bumi KutaiKartanegara memiliki tipe air bikarbonat berdasarkan diagram Cl-SO4-HCO3. Perkiraan temperaturreservoir berdasarkan metode geotermometer air berkisar antara 130°C-160 °C. Menurut DiagramLindal, fluida panas bumi daerah Kutai Kartanegara dapat dimanfaatkan untuk pengeringan ikan,pengeringan kayu, ekstraksi alumina dengan Proses Bayer, dan pemandian air panas atau terapi airpanas (Balneologi). Kehadiran bikarbonat (HCO3) di sumber air panas dapat menyembuhkan beberapapenyakit seperti hipertensi, penyakit jantung, asterosklerosis ringan, dan gangguan saraf, sedangkankandungan natrium (Na) yang tinggi dapat menghaluskan dan mengembalikan elastisitas kulit.Kata kunci: Panas Bumi, Geokimia, Manifestasi Permukaan, Geotermometer, Diagram Lindal

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue