cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Geoscience Journal
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Padjadjaran Geoscience Journal adalah suatu jurnal Geologi berskala nasional yang mencakup berbagai pokok persoalan dalam kajian ilmu Geologi. Bidang kajian dalam jurnal ini meliputi Geologi Dinami,Geofisika, Geokimia dan Geothermal, Geomorfologi dan Penginderaan Jauh, Paleontologi, Petrologi dan Mineral, Sedimentologi dan Geologi Kuarter, Stratigrafi, Geologi Teknik dan Geologi Lingkungan serta Hidrogeologi
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal" : 9 Documents clear
Evaluasi Lahan Permukiman Berdasarkan Analisis Geologi Lingkungan Daerah Tanjungjaya Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat M Nursiyam Barkah, Bombom Rachmat Suganda, Auzan Amanatullah Agnar, Ciria Humanis,
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32180

Abstract

Dengan meningkatnya penduduk di Tanjungjaya, Kabupaten Kuningan seiring berjalannya waktu dan industrialisasi berdampak pada meningkatnya kebutuhan pemanfaatan ruang. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung lingkungannya dapat menimbulkan kerusakan pada daerah tersebut terutama daerah yang secara ekologis sangat rentan keberadaannya, seperti daerah resapan air, dan rawan erosi. Di daerah penelitian sendiri perkembangan penduduknya sangat cepat sementara lahan yang tersedia sangat terbatas sehingga diperlukan adanya pengembangan wilayah salah satunya menggunakan analisis kesesuaian lahan berdasarkan kemampuan lahannya. Analisa kemampuan lahan berupa karakteristik fisik batuan, kemiringan lereng, bahaya geologi, potensi air tanah, drainase, dan curah hujan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam penentuan kesesuaian lahan yang akan mengatur tata guna lahan. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan mengumpulkan data primer seperti peta geologi dan sekunder seperti peta Hidrogeologi, kemiringan lereng dll, dan metode kualitatif dengan menggunakan metode skoring, bobot dan overlay (timpang susun). Berdasarkan hasil pengolahan data analisis kesesuaian lahan, wilayah penelitian terbagi menjadi 3 wilayah, yaitu wilayah kemungkinan (33%) yang siap dikembangkan untuk menjadi permukiman, wilayah kendala (45%) yang siap dikembangkan untuk menjadi permukiman namun membutuhkan rekayasa teknik, dan wilayah limitasi (22%) yang tidak cocok untuk dijadikan lahan permukiman, namun cocok dijadikan daerah konservasi.Kata Kunci: Geologi lingkungan, kemampuan lahan, kesesuaian lahan, Kuningan, metode skoring, pengembangan wilayah
GEOLOGI DAERAH DESACAMPAKA DAN SEKITARNYA, KECAMATAN CIGUGUR, KABUPATEN PANGANDARAN, PROVINSI JAWA BARAT Cecep Yandri Sunarie, Retno Aulia Tungkagi,Mega Fatimah Rosana
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32186

Abstract

Secara Geografis, daerah penelitian terletak pada koordinat 108º 22’ 42,1068” - 108º 26’ 30,7392” BT dan 7º 33’ 48,0744” - 7º 37’ 34,7052” LS. Secara administratif terletak pada Daerah Cigugur dan sekitarnya, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Daerah pemetaan termasuk kedalam Peta Bakosutanal Lembar 1308-144 Limusnunggal dan sebagian 1308-142 Lembar Cijulang. Pemetaan dilakukan berdasarkan data permukaan dengan metode pengamatan singkapan secara langsung dan lintasan kompas. Geomorfologi daerah penelitian diklasifikasikan menjadi empat satuan, yaitu satuan geomorfologi perbukitan agak curam vulkanik, satuan geomorfologi perbukitan landai vulkanik, satuan geomorfologi perbukitan rendah landai denudasional dan satuan geomorfologi perbukitan sangat rendah landai denudasional. Stratigrafi daerah penelitian tersusun atas 4 satuan batuan dengan urutan stratigrafi dari yang tua hingga muda ialah satuan breksi (Pombx), satuan tuf (Pomt), satuan batugamping wackstone (Nmbgw) dan satuan batugamping packstone (Nmbgp). Satuan breksi dan tuf diendapkan pada lingkungan laut dalam yang kemudian terjadi jeda pengendapan hingga Miosen Awal dan diendapkan satuan batugamping wackstone dan packstone. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah kekar dan sebuah kelurusan punggungan. Berdasarkan pengamatan di lapangan, dan interpretasi menggunakan DEM dapat diketahui arah tegasan dari daerah penelitian adalah berarah barat-laut. Kondisi geologi dan geomorfolog seperti ini tentu berpotensi terjadi bencana seperti tanah longsor akibat struktur geologi yang berkembang dari kemiringan lereng yang curam. Namun, terlepas dari adanya potensi bencana yang mungkin terjadi, kondisi daerah penelitian juga memiliki potensi bahan galian berupa batugamping, aluvium dan tuf yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar konstruksi bangunan.Kata Kunci: Pemetaan, Geologi, Geomorfologi, Stratigrafi, Struktur Geologi
PENGARUH BEBAN GEMPA TERHADAP KESTABILAN LERENG TANAH DAERAH LIWA DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LAMPUNG BARAT, LAMPUNG R. Irvan Sophian, Prahara Iqbal, Haryadi Permana, Riansyah Widisaputra, Zufialdi Zakaria,
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32181

Abstract

Daerah Penelitian yang berlokasi di Liwa dan sekitarnya, Lampung Barat merupakan daerah yang cukup sering terjadi bencana tanah longsor Iqbal, 2018). Selain gaya gravitasi, salah satu penyebab terjadinya gerakan tanah berupa tanah longsor adalah gempa. PGA (Peak Ground Acceleration) merupakan percepatan getaran maksimum yang timbul akibat adanya gempa. Litologi daerah penelitian berupa breksi, lava dan tuff bersusunan andesit sampai basalt berdasarkan pada data sekunder. Nilai PGA yang didapat berbeda pada setiap lereng, hal ini disebabkan karena getaran merambat pada media (litologi) yang berbeda-beda pada daerah penelitian. Simulasi analisis kestabilan lereng dilakukan pada kondisi statis dan dinamis. Pada kondisi statis seluruh lereng dalam keadaan stabil, sedangkan pada kondisi dinamis terdapat dua lereng yang mengalami perubahan menjadi labil (Bowles, 1989). Adanya penambahan beban gempa terhadap simulasi analisis kestabilan lereng dinamis berpengaruh kepada penurunan nilai faktor keamanan sebesar sampai dibandingankan pada kondisi statis.Kata kunci : Liwa, Lampung Barat, Longsor, Gempa, PGA, Analisis Kestabilan Lereng
KARAKTERISTIK BATUAN DI DAERAH CIBULE DAN SEKITARNYA, KECAMATAN CIBEBER, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT Dicky Muslim, Mega Fatimah Rosana, Aton Patonah, Raisya Nur Azizah, Zufialdi Zakaria,
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32187

Abstract

Secara administratif, daerah penelitian terletak di Desa Karangnunggal, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, dengan luas daerah penelitian 5km x 5km. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik litologi penyusun daerah penelitian berdasarkan hasil pemetaan geologi permukaan dan didukung oleh analisis petrografi. Hasil menunjukkan bahwa litologi di daerah penelitian tersusun atas batuan sedimen klastik, batuan vulkanik, dan batuan piroklastik yang dibagi menjadi empat satuan (4), yaitu Satuan Batupasir, Satuan Lava, Satuan Breksi Vulkanik dan Satuan Tuf. Satuan batuan dari tua ke muda adalah sebagai berikut, Satuan Batupasir (SBP) tersusun atas perselingan dan sisipan antara batupasir dan batulempung, struktur sedimen yang ditemukan adalah parallel lamination, reverse graded bedding, dan wavy lamination. Berdasarkan karakteristiknya, SBP ini disebandingkan dengan Formasi Anggota Batupasir dan Batulempung Formasi Citarum (Mts) dengan interpretasi lingkungan pengendapan laut dalam – dangkal. Satuan Lava (Slv) merupakan lava andesit dengan tekstur trachytic yang ditemukan pada analisis petrografi, Satuan Breksi Vulkanik (Sbv) merupakan breksi monomik tersusun atas komponen fragmen batuan beku andesit dan matriks batuan piroklastik tuf, dan Satuan Tuf tersusun atas piroklastik dengan dominan gelas, ketiganya disebandingka dengan Breksi Tufan, Batupasir, Lava dan Konglomerat (Pb), diinterpretasikan terendapkan pada lingkungan darat.Kata Kunci : Pemetaan geologi, karakteristik batuan, dan petrografi.
KARAKTERISASI POROSITAS KARBONAT BERDASARKAN ANALISIS PETROFISIKA PADA DELTA MAHAKAM, CEKUNGAN KUTAI Reza Mohammad Ganjar Gani, Yusi Firmansyah, Hidayat Mukmin, Haris Kurniawan Hidayat, Adrian Rahman A
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32182

Abstract

Dalam dunia produksi Migas salah satu hal penting setelah eksplorasi lapangan adalah pengembangan lapangan melalui POD (Planning of Development). Salah satu caranya adalah dengan melakukan perencanaan daerah pengembangan reservoir dari lapangan yang ada, melalui karakterisasi porositasnya, khususnya batuan karbonat. Lokasi Penelitian terletak di wilayah blok Delta Mahakam, Cekungan Kutai dan dilakukan pada 3 Lapangan (Hessonite, Beryl, dan Spinel-Nord) representatif dari Tren axis lapangan migas dari Delta Mahakam. Penelitian ini menggunakan data petrofisika untuk mengetahui karakteristik Porositas Karbonat menggunakan perangkat lunak Geolog 8, data Mud, Driling Info, Core Plug, dan Side Wall Core untuk mendukung identifikasi Karakteristik Karbonat dan diagenesanya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi analisis fasies dan lingkungan pengendapan dan analisis petrofisika yaitu analisis Kualitiatif, dan Kuantitatif. Berdasarkan analisis petrofisika pada lapangan Hessonite didapatkan untuk pendekatan kualitatifnya terdapat batuan karbonat (Tight) yang memiliki kenampakan Karakteristik Porositas Sekunder pada Sumur ADR-1 dan ADR-2, memiliki Litologi umumnya yaitu Calcareous Silisiclastic, dengan Fasiesnya yaitu Mixed Facies, keterdapatan lingkungan pengendapan di Lingkungan Lacustrine. Pada Lapangan Beryl didapatkan untuk pendekatan kualitatifnya terdapat batuan karbonat (Tight) yang memiliki kenampakan Karakteristik Porositas Sekunder pada Sumur ADR-3, ADR- 4 dan ADR-5, sedangkan pendekatan Kuantitatif didapatkan hasil Porositas Bulk 17% dan Porositas Sekunder 7%, memiliki Litologi umumnya yaitu Limestone-Dolomitic Limestone, dengan Fasiesnya yaitu Mixed Facies, keterdapatan lingkungan pengendapan di Lingkungan Laut (Patchy Reef). Pada Lapangan Spinel-Nord didapatkan untuk pendekatan kualitatifnya terdapat batuan karbonat (Tight) yang memiliki kenampakan Karakteristik Porositas Sekunder pada Sumur ADR-6, ADR-7 dan ADR-8, sedangkan pendekatan Kuantitatif didapatkan hasil Porositas Bulk 14% dan Porositas Sekunder 4-5%, memiliki Litologi umumnya yaitu Dolomitic Limestone, dengan Fasiesnya yaitu Mixed - Carbonate Facies, keterdapatan lingkungan pengendapan di Lingkungan Laut (Patchy Reef).Kata Kunci : Petrofisika, Mahakam, Porositas Bulk, Porositas Sekunder, Fasies.
ALTERASI HIDROTERMAL DAN TEMPERATUR BAWAH PERMUKAAN PADA SUMUR TB-03 LAPANGAN PANAS BUMI SMGP DAERAH SORIK MARAPI, KABUPATEN MANDAILING NATAL, SUMATERA UTARA Aton Patonah, Haris Siagian, Tubagus Gleamen , Agus Didit Haryanto,
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32188

Abstract

Lokasi daerah penelitian terletak di daerah Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Penelitian ini difokuskan untuk mengidentifikasi karakteristik alterasi hidrotermal dan temperatur dari sumur penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah petrologi dan XRD. Berdasarkan hasil penelitian, sumur TB-03 dari tua ke muda adalah litologi arenit kuarsa terubah, arenit litik terubah, lava andesit terubah, dan tuf litik terubah. Mineral alterasi yang hadir di daerah penelitian diantaranya mineral lempung, karbonat, kuarsa sekunder, serisit, klorit, epidot, anhidrit, dan oksida besi. Berdasarkan kumpulan mineral yang hadir, sumur dibagi menjadi beberapa zona diantaranya adalah zona smektit-klorit-kalsit dan zona illit-klorit-epidot. Korelasi dari data geotermometer dengan data temperatur terukur memperlihatkan bahwa terdapat selisih pada data temperatur yang terjadi akibat adanya injeksi pada zona reservoar sehingga temperatur terkini yang dilihat dari data landaian suhu lebih rendah. Zona reservoir pada sumur TB-03 pada kedalaman 1513-1780 mKU.Kata Kunci: geotermometer, reservoar, zona alterasi
PENENTUAN POTENSI LIKUEFAKSI BERDASARKAN WSRHC PADA TIMBUNAN MUARA TIGA BESAR UTARA, SUMATRA SELATAN Reynara Davin Chen, Raden Irvan Sophian, Zufialdi Zakaria, Gilang Perwira Adi, Jodistriawan Ersyari
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32183

Abstract

Pulau Sumatra merupakan pulau yang terbentuk sebagai hasil dari proses subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia sehingga pulau ini tergolong sebagai kawasan tektonik aktif. Kawasantimbunan Muara Tiga Besar Utara adalah timbunan in pit yang terletak di Sumatra Selatan memiliki potensiterjadinya likuefaksi karena kawasan ini terletak pada kawasan tektonik aktif dan material-material yang belumkompak. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan potensi likuefaksi pada material timbunan dan pondasitimbunan. Dilakukan metode pembobotan pada salah satu faktor klasifikasi pembobotan Waste Dump andStockpile Stability Rating and Hazard Classification System (WSRHC), yaitu faktor potensi likuefaksi untukmenentukan tingkat potensi likuefaksi yang mungkin terjadi. Hasil pembobotan menggunakan klasifikasi WSRHCmenghasilkan potensi likuefaksi pada pondasi timbunan yaitu tergolong tidak berarti. Sedangkan pada materialtimbunan tergolong sebagai potensi likuefaksi rendah.Kata kunci: WSRHC, Timbunan, Metode Pembobotan, Likuefaksi.
Analisis Kerapatan Kelurusan (Liniament Density) Untuk Pendugaan Zona Permeabilitas Di Daerah Gunung Patuha Agus Didit Haryanto, Takdir Toyib Polanunu , Emi Sukiyah
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32179

Abstract

Manifestasi panas bumi merupakan gejala di permukaan yang merupakan ciri terdapatnya potensi energi panas bumi. Manifestasi ini berhubungan erat dengan kondisi geologi, geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi daerah penelitian. Dalam menentukan manifestasi ini dapat dilakukan melalui metode remote sensing untuk melihat kelurusan-kelurusan punggungan dan lembahan dari daerah Gunung Patuha Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Kelurusan punggungan dan lebahan ini digunakan untuk menentukan zona permeabel dari lokasi penelitian, yang mana zona permeabel ini menjadi salah satu indikasi dalam penentuan manifestasi panas bumi.Analisis dari data yang dilakukan yaitu untuk menentukan kelurusan kerapatan (Liniament Density) melalui data citra DEM-SRTM dan diolah dalam diagram roset, selain itu dilakukan juga analisis pola aliran sungai pada daerah penelitian melalui data citra DEM-SRTM.Hasil analisis berdasarkan kelurusan-kelurusan punggungan dan lembahan diolah dalam diagram roset, dan diinterpretasikan arah kelurusan yang didominansi berarah barat laut-tenggara dan timur laut-barat daya. Juga berdasarkan analisis pola aliran sungai, yang berkembang didaerah penelitian yaitu pola aliran sungai radial dan pola aliran sungai paralel-sub paralel.Hasil analisis perhitungan kerapatan kelurusan (Liniament Density) di daerah penelitian memiliki tingkat kerapatan kelurusan yang bervariasi, ditunjukan dengan nilai kerapatan kelurusan rendah (7,21km-1), sedang (13,19Km-1), dan tinggi (17,64Km-1). Nilai tingkat kerapatan kelurusan menggambarkan zona permeable (zona lemah) pada batuan yang mengakibatkan kemunculan fluida dari sistem panas bumi dibawah permukaan (reservoir) muncul kepermukaan. Zona permeable dengan warna merah menunjukkan bahwa daerah itu memiliki densitas yang tinggi yaitu berwarna merah, dan untuk warna hijau muda menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki densitas yang rendah. Semua itu dilihat berdasarakan metode yang sudah digunakan, baik melalui interpretasi kelurusan punggungan lembahan dan interpretasi pola aliran sungai. Serta berdasarkan peta densitas, dengan titik manifestasi panas bumi pada koordinat 107,402 dan -7,166 yang telah disesuaikan dengan hasil peneliti-peneliti terdahulu.Kata kunci : DEM-SRTM, remote sensing, Liniament Density, Manifestasi panas bumi, permeable.
ZONA KONTAMINASI AIRTANAH DAN AIR PERMUKAAN DENGAN METODA INDEKS PENCEMARAN DI LERENG GUNUNG MANGLAYANG BAGIAN TENGGARA WILAYAH JATINANGOR DAN SEKITARNYA M Nursiyam Barkah, Wahyudi, Hanif Afrizal, M. Sapari Dwi Hadian,
Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal
Publisher : Unpad

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pgj.v4i5.32184

Abstract

Jatinangor mengalami perkembangan cukup pesat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, hal ini ditandai dengan tumbuhnya kawasan pendidikan, industri, manufaktur yang diikuti oleh pertumbuhan kawasan perdagangan dan jasa. Perkembangan yang cukup pesat ini membuat penurunan kualitas air di daerah Jatinangor akibat limbah domestik yang semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penyebaran kontaminasi di daerah penelitian. Penelitian ini menggunakan data geologi, pemanfaatan lahan dan data karakteristik sifat fisik, dan kimia airtanah maupun air permukaan. Berdasarkan karakteristik litologi, daerah penelitian disusun oleh satuan hasil vulkanik piroklastik tua 1 (HVPT 1), hasil vulkanik proklastik tua 2 (HVPT 2), hasil vulkanik piroklastik muda 1 (HVPM 1), hasil vulkanik piroklastik muda 2 (HVPM 2), hasil vulkanik piroklastik muda 3 (HVPM 3), dan hasil endapan danau muda (HEDM). Pemanfaatan lahan daerah penelitian meliputi pertanian, pemukiman dan industri. Pengambilan sampel dilakukan pada 28 stasiun air permukaan, 6 diantaranya teruji oleh laboratorium, dan 15 stasiun airtanah yang teruji laboratorium. Sampel tersebut selanjutnya dibandingkan dengan acuan standar baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan R.I No: 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang syarat syarat dan pengawasan kualitas air bersih untuk dapat mengetahui zonasi penyebaran kontaminasinya. Untuk mengetahui zona penyebaran kontaminasinya, data tersebut dianalisis menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP). Zonasi pada airtanah dengan kondisi baik tersebar pada bagian utara daerah penelitian dan sebagian kecil berada pada bagian tengah daerah penelitian, zonasi dengan tingkat pencemar rendah berada hampir menyelimuti seluruh wilayah penelitian dari sebagian utara hingga ke selatan daerah penelitian. Zonasi pada air permukaan dengan kondisi baik tersebar pada bagian utara daerah penelitian, zonasi dengan tingkat pencemar rendah berada hampir menyelimuti seluruh wilayah penelitian dari sebagian utara hingga ke selatan daerah penelitian.Kata Kunci: Jatinangor, Litologi, Pemanfaatan Lahan, Kontaminasi

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 4 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 9, No 1 (2025): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 4 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 3 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 2 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 8, No 1 (2024): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 6 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 5 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 4 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 3 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 2 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 7, No 1 (2023): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 4 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 3 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 2 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 6, No 1 (2022): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 6 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 5 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 4 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 3 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 2 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 5, No 1 (2021): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 6 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 5 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 4 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 3 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 2 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 4, No 1 (2020): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 6 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 5 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 4 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 3 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 2 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 3, No 1 (2019): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 6 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 5 (2018): Padjadjaran Geoscience Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 4 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 3 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 2 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 2, No 1 (2018): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 3 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 2 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal Vol 1, No 1 (2017): Padjadjaran Geoscience Journal More Issue