Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Perlindungan Hak Perempuan dalam Kasus Cerai Talak dan Kekerasan dalam Rumah Tangga di Pengadilan Agama Probolinggo Samiatul Khusni; Khusnul Hitaminah; Mohammad Hendra; Samsul Huda
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/5vsspb35

Abstract

Permasalahan perlindungan hak perempuan dalam perkara cerai talak yang disertai kekerasan dalam rumah tangga menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara norma hukum yang berlaku dan praktik penyelesaiannya di pengadilan. Penelitian ini berfokus pada dua rumusan masalah, yaitu bentuk perlindungan hak perempuan yang diberikan dalam perkara tersebut serta hambatan yang dihadapi dalam perlindungan hak perempuan pada kasus cerai talak dan kekerasan dalam rumah tangga di peradilan agama Probolinggo. Penelitian menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan sociolegal untuk mengkaji implementasi aturan hukum dalam konteks faktual. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan hakim dan aparatur pengadilan, pengamatan langsung terhadap proses persidangan, serta penelaahan dokumen putusan cerai talak yang relevan. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif melalui tahap pengelompokan, penafsiran, dan penarikan makna berdasarkan keterkaitan antara temuan lapangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hak perempuan diwujudkan dalam bentuk pemberian hak ekonomi, penetapan kewajiban nafkah, serta penerapan pedoman mengadili perkara perempuan berhadapan dengan hukum. Namun demikian, efektivitasnya masih dipengaruhi oleh keterbatasan pembuktian dan struktur kewenangan peradilan yang membatasi integrasi aspek kekerasan secara menyeluruh dalam pertimbangan putusan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perlindungan hak perempuan dalam perkara cerai talak telah dijalankan secara normatif, tetapi pelaksanaannya belum sepenuhnya menjamin perlindungan yang komprehensif bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Kajian Upaya Preventif Kepala Sekolah dan Kepolisian dalam Mencegah Tindak Penculikan Anak: Studi Kasus di SDN Kanigaran 6 Probolinggo dwi wahyuni; mohammad hendra; khusnul hitaminah; hasan basri
Jurnal Hukum Lex Generalis Vol 7 No 7 (2026): Tema Hukum Pidana
Publisher : Himpunan Ilmu Hukum dan Ilmu Hukum Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56370/jhlg.v7i7.3375

Abstract

The high vulnerability of children to kidnapping, particularly after school, as occurred at SDN Kanigaran 6 Probolinggo, is a crucial concern in child protection efforts. The discussion shows that preventive measures include student supervision, a pick-up system, access restrictions, CCTV installation and police outreach. However, obstacles include limited supervisory staff, low parental discipline and a lack of supporting facilities. It can be concluded that effective child kidnapping prevention requires strong collaboration between schools, the police, parents and the community to create a safe environment for children
Kepastian Hukum Hak Waris Anak Luar Kawin Dalam Perspektif Hukum Perdata Abdur Rohim; Khusnul Hitaminah; Muhamad Dluha
Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum Vol 5, No 2 (2026): JPS (Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum)
Publisher : CV Widina Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59818/jps.v5i2.3178

Abstract

ABSTRACTThis study is motivated by the continuing legal uncertainty regarding the inheritance rights of children born out of wedlock under Indonesia’s civil law system. Although the Constitutional Court, through Decision No. 46/PUU-VIII/2010, has expanded recognition of the civil relationship between children born out of wedlock and their biological fathers, in practice, the implementation of this law has not been effective. The objective of this study is to analyze the legal certainty regarding the inheritance rights of children born out of wedlock from a civil law perspective and to examine dispute resolution mechanisms in the event of disagreements with other legitimate heirs. This study employs a normative legal research method using a legislative and conceptual approach, and utilizes primary, secondary, and tertiary legal sources analyzed qualitatively. The results indicate that although there has been normative progress through case law and administrative recognition, obstacles remain in the form of proving civil relationships, social resistance, and inconsistent judicial practices. In resolving inheritance disputes, John Rawls’s theory of justice is relevant because it emphasizes the principle of “justice as fairness,” namely equality of rights without discrimination based on birth status. In conclusion, harmonization of regulations and more inclusive legal standards of proof are needed to ensure substantive justice for children born out of wedlock. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh masih adanya ketidakpastian hukum terhadap hak waris anak luar kawin dalam sistem hukum perdata di Indonesia. Meskipun Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No. 46/PUU-VIII/2010 telah memperluas pengakuan hubungan perdata antara anak luar kawin dan ayah biologisnya, dalam praktiknya implementasi hukum tersebut belum berjalan secara efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kepastian hukum terhadap hak waris anak luar kawin dalam perspektif hukum perdata serta mengkaji mekanisme penyelesaian sengketa apabila terjadi perbedaan pendapat dengan ahli waris sah lainnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan konseptual, serta menggunakan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat kemajuan normatif melalui yurisprudensi dan pengakuan administratif, masih ditemukan hambatan berupa pembuktian hubungan keperdataan, resistensi sosial, dan belum seragamnya praktik peradilan. Dalam penyelesaian sengketa waris, teori keadilan John Rawls relevan digunakan karena menekankan prinsip justice as fairness, yaitu kesetaraan hak tanpa diskriminasi status kelahiran. Kesimpulannya, diperlukan harmonisasi regulasi dan pembuktian hukum yang lebih inklusif untuk menjamin keadilan substantif bagi anak luar kawin.
Realisasi Pembinaan Akhlak dan Kepribadian Warga Binaan Rutan Kraksaan Berdasarkan Permenkumham Nomor 35 Tahun 2018 Tamara Inka Shona; Khusnul Hitaminah
Jus et Civitas : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 1 (2026): Juli 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Zainul Hasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61974/jpm.v1i1.210

Abstract

This study analyzes the implementation of moral and personality development programs for inmates at Class II-B Kraksaan Detention Center in accordance with the Regulation of the Minister of Law and Human Rights Number 35 of 2018 on the Revitalization of Penitentiary Services. Using an empirical juridical method with a descriptive qualitative approach, data were obtained through observations and documentation. The results indicate that the programs are conducted through religious, educational, skill-oriented, and socio-psychological activities designed to foster behavioral improvement and prepare inmates for reintegration into society. Observations revealed significant challenges, including overcrowding, inadequate facilities, and limited human resources, which hinder the effectiveness of the programs. This study highlights the novelty of providing empirical evidence of the regulation’s implementation at Kraksaan Detention Center and emphasizes the urgency of strengthening revitalization efforts to ensure that rehabilitation and reintegration objectives are effectively achieved.
Upaya Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Probolinggo Dalam Penanganan Black Campaign Pada Masa Pemilihan Kepala Daerah M. Vila Rian Dewantara; Khusnul Hitaminah; Hasan Basri
Reglementary : Journal Of Law Vol. 1 No. 1 (2026): Juli 2026
Publisher : LPPM STIH ZAINUL HASAN KRAKSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61974/rjol.v1i1.215

Abstract

The General Election Supervisory Agency (Bawaslu) is a non-ministerial institution with the authority, duty, and obligation to supervise the implementation of general elections and regional head elections in accordance with Law Number 7 of 2017 concerning General Elections. This study focuses on the efforts of the General Election Supervisory Agency of Probolinggo Regency in addressing black campaigns during the 2024 regional head election, as well as the obstacles faced in handling such campaigns.The purpose of this research is to identify the efforts of Bawaslu Probolinggo Regency in managing black campaigns during the 2024 regional election and to analyze the challenges encountered in the process. The research method used is empirical juridical, with a sociological approach. Primary data sources were obtained through interviews, field observations, and document studies relevant to the research topic. Secondary data sources include laws and regulations, books, journals, and previous research.The findings show that the efforts made by Bawaslu Probolinggo Regency in handling black campaigns during the 2024 regional election included cooperation with relevant parties, such as the establishment of Gakkumdu (Integrated Law Enforcement Center) to supervise criminal violations, collaboration with the General Election Commission (KPU), online media, and the implementation of public outreach on the importance of ethical campaigning and the dangers of black campaigns. However, Bawaslu faces several challenges, such as the widespread use of unofficial or fake accounts for black campaigns, limited human resources, and budget constraints in addressing the violations that occur.