Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Dukungan Kelembagaan Desa terhadap Kinerja BUM Desa Melalui Kapabilitas Inovasi di Provinsi Jawa Barat Siti Nurmu’minah Fitriah; Wachyu Hari Haji
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 1 (Spesial Issue) (2026): "Dharma Samudera"
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/j0en4c50

Abstract

This study explores how leadership style and village institutional support contribute to the performance of Village-Owned Enterprises (BUM Desa), with innovation capability acting as a mediating mechanism in West Java. The research is grounded in the observed decline in BUM Desa performance rankings during the 2023–2024 period, which signals persistent limitations in sustaining and improving long-term BUM Desa performance. Existing empirical studies indicate that the performance of BUM Desa is closely linked to internal organizational dynamics, particularly leadership effectiveness, institutional arrangements at the village level, and the capacity to foster innovation. To empirically investigate these relationships, this study employs a quantitative approach with a causal explanatory design. Survey data were collected from 540 employees of legally established BUM Desa in West Java, with the sample size determined using the Slovin formula. The data were obtained through a structured questionnaire using a five-point Likert scale and analyzed using Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 3. The findings reveal that leadership style and village institutional support have a positive and statistically significant effect on BUM Desa performance. In addition, innovation capability directly enhances BUM Desa performance and partially mediates the effects of leadership style and institutional support on performance outcomes. These results underscore the strategic role of innovation capability as a key pathway through which leadership and institutional support translate into improved BUM Desa performance. Consequently, efforts to strengthen BUM Desa performance in West Java should prioritize the development of effective leadership practices and consistent institutional support to reinforce innovation capability and promote sustainable BUM Desa performance
Digital Competence, Knowledge Sharing, and Innovative Work Behavior: The Role of Absorptive Capacity Wachyu Hari Haji
MAR-Ekonomi: Jurnal Manajemen, Akuntansi Dan Rumpun Ilmu Ekonomi Vol. 4 No. 03 (2026): Jurnal Manajemen, Akuntansi dan Rumpun Ilmu Ekonomi (MAR-Ekonomi), 2026
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Digitalization has changed the way employees perform, communicate, and develop new work practices, particularly in higher education institutions and service organizations that increasingly rely on digital systems. However, digital competence and knowledge sharing may not automatically lead to innovative work behavior unless employees are able to absorb, process, and apply new knowledge. This study aims to analyze the effects of digital competence and knowledge sharing on innovative work behavior, both directly and through absorptive capacity as a mediating variable. This study employed a quantitative explanatory approach. Data were collected through a structured questionnaire using a five-point Likert scale from 254 employees working in higher education institutions and digitalized service organizations. The data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The measurement model met the required validity and reliability criteria, with all outer loadings above 0.70, AVE values above 0.50, and composite reliability and Cronbach’s alpha values above 0.70. The structural model showed that digital competence and knowledge sharing had positive effects on absorptive capacity, while absorptive capacity had a positive effect on innovative work behavior. However, the direct effects of digital competence and knowledge sharing on innovative work behavior were not significant. The specific indirect effects confirmed that absorptive capacity fully mediated both relationships. These findings indicate that innovative work behavior is not formed merely through digital skills or knowledge exchange, but through employees’ ability to absorb and apply knowledge in their work.
PENGARUH TIM KERJA DAN DISTRIBUSI BEBAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA BPSDM KEMENTERIAN DESA DAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL Widyanto Ramadhan; Wachyu Hari Haji
Journal of Social and Economics Research Vol 8 No 1 (2026): JSER, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v8i1.1570

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tim kerja dan distribusi beban kerja terhadap kinerja pegawai dengan motivasi kerja sebagai variabel mediasi pada BPSDM Kementerian Desa dan PDT. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) tingkat pusat di lingkungan BPSDM Kementerian Desa dan PDT. Jumlah sampel penelitian sebanyak 115 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik proportionate random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja, namun tidak berpengaruh terhadapa kinerja pegawai. Distribusi beban kerja tidak berpengaruh terhadap motivasi kerja dan terhadap kinerja pegawai. Selanjutnya, motivasi kerja terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Hasil pengujian mediasi menunjukkan bahwa motivasi kerja mampu memediasi secara penuh pengaruh tim kerja terhadap kinerja pegawai namun tidak memediasi pengaruh distribusi beban kerja terhadap kinerja pegawai. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja pegawai BPSDM Kementerian Desa dan PDT dipengaruhi oleh motivasi kerja. Oleh karena itu, strategi dalam memperkuat kerja sama tim, menata distribusi beban kerja secara adil, terlebih dahulu difokuskan dengan peningkatkan motivasi pegawai agar tercapai kinerja organisasi yang optimal.
PENGARUH TIM KERJA DAN DISTRIBUSI BEBAN KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DENGAN MOTIVASI KERJA SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA BPSDM KEMENTERIAN DESA DAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL Widyanto Ramadhan; Wachyu Hari Haji
Journal of Social and Economics Research Vol 8 No 1 (2026): JSER, June 2026
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v8i1.1570

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tim kerja dan distribusi beban kerja terhadap kinerja pegawai dengan motivasi kerja sebagai variabel mediasi pada BPSDM Kementerian Desa dan PDT. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) tingkat pusat di lingkungan BPSDM Kementerian Desa dan PDT. Jumlah sampel penelitian sebanyak 115 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan teknik proportionate random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja, namun tidak berpengaruh terhadapa kinerja pegawai. Distribusi beban kerja tidak berpengaruh terhadap motivasi kerja dan terhadap kinerja pegawai. Selanjutnya, motivasi kerja terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai. Hasil pengujian mediasi menunjukkan bahwa motivasi kerja mampu memediasi secara penuh pengaruh tim kerja terhadap kinerja pegawai namun tidak memediasi pengaruh distribusi beban kerja terhadap kinerja pegawai. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja pegawai BPSDM Kementerian Desa dan PDT dipengaruhi oleh motivasi kerja. Oleh karena itu, strategi dalam memperkuat kerja sama tim, menata distribusi beban kerja secara adil, terlebih dahulu difokuskan dengan peningkatkan motivasi pegawai agar tercapai kinerja organisasi yang optimal.
DINAMIKA KNOWLEDGE MANAGEMENT DAN KOMPETENSI ANALIS KEBIJAKAN DALAM MEMBENTUK KUALITAS EVALUASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DESA Anis Kurlia; Wachyu Hari Haji; Sabar Sabar
Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Vol. 9 No. 4 (2026): Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/b9vngn48

Abstract

Evaluasi kebijakan pembangunan desa memegang peran strategis dalam memastikan program pembangunan berdampak dan akuntabel, namun kualitasnya kerap tidak sebanding dengan kompleksitas tugas yang diemban. Penelitian ini bertujuan menggali praktik knowledge management, mengidentifikasi peran kompetensi analis kebijakan, menjelaskan pengaruh budaya organisasi, serta membangun penjelasan mengenai mekanisme ketiganya dalam membentuk kualitas evaluasi kebijakan pembangunan desa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis pada Pusat Evaluasi Kebijakan Pembangunan Desa dan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Data dikumpulkan melalui kuesioner mendalam terhadap tujuh informan lintas jenjang, observasi nonpartisipatif atas dua situasi kerja, dan telaah sepuluh dokumen resmi, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña serta langkah fenomenologis Moustakas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur knowledge management secara formal lengkap, tetapi spiral pengetahuan cenderung terputus pada jenjang operasional bawah; aktualisasi kompetensi analis lebih ditentukan oleh kesesuaiannya dengan lingkungan organisasi daripada oleh kompetensi individual semata; dan budaya organisasi berfungsi sebagai mediator sekaligus moderator yang menyalurkan pengaruh pengetahuan dan kompetensi terhadap kualitas evaluasi. Kualitas evaluasi terbentuk sebagai luaran sistemik melalui tiga pola, yaitu memberdayakan, melemahkan, dan mengompensasi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem pengetahuan, pelembagaan refleksi, dan pengelolaan sumber daya manusia yang berorientasi pada kualitas analisis.
Pemberdayaan UMKM melalui Pembukuan Digital, Inventaris Berbasis Spreadsheet, dan Pemasaran Digital Anita Ratnasari; Wachyu Hari Haji; Vina Ayumi; Steven Aditya Pratama; Lukas Lukas
Lentera Pengabdian Vol. 4 No. 03 (2026): Juli 2026
Publisher : Lentera Ilmu Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59422/lp.v4i03.1382

Abstract

Pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah masih menghadapi kendala pada pencatatan keuangan, pengelolaan stok, dan pemasaran digital yang belum terstruktur, sehingga membatasi kemampuan pelaku usaha dalam memantau arus kas, mengendalikan persediaan, dan memperluas jangkauan pasar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku usaha dalam memanfaatkan teknologi sederhana untuk mendukung pengelolaan usaha yang lebih tertib, efisien, dan adaptif. Metode kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dan aplikatif melalui identifikasi kebutuhan, pelatihan, praktik langsung, pendampingan, serta evaluasi. Kegiatan dilaksanakan pada 23 dan 30 Januari 2026 di Universitas Dian Nusantara dan Universitas Trilogi dengan peserta 30 pelaku usaha dari wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Materi yang diberikan meliputi pembukuan digital, sistem inventaris berbasis Google Sheets, penggunaan WhatsApp Business, dan pemasaran melalui media sosial. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta. Sekitar 60% peserta mulai menerapkan pencatatan keuangan digital, 55% mulai menggunakan sistem inventaris berbasis spreadsheet, dan 50% mulai memanfaatkan media digital untuk pemasaran produk. Dengan demikian, penerapan teknologi sederhana melalui pelatihan dan pendampingan mampu memberikan dampak awal terhadap keteraturan pengelolaan usaha, peningkatan literasi digital, dan kesiapan pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.