Dampak dari discharge planning yang belum optimal adalah dapat meningkatkan angka rawatan ulang dan pada akhirnya pasien akan menanggung pembiayaan untuk biaya rawat inap di rumah sakit. pelaksanaan discharge planning belum maksimal dengan hasil 35,7% dan yang tidak dilakukan 64,3%, didukung oleh hasil observasi dilakukan yaitu pada lembaran discharge planning yang tidak terisi secara lengkap pada rekam medis pasien dan ada beberapa rekam medis pasien yang tidak memiliki lembaran discharge planning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian edukasi dalam penerapan discharge planning di ruang Nyimas Gandasari 1 RSD Gunung Jati kota cirebon. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana di ruang Nyimas Gandasari I RSD Gunung Jati Cirebon. Teknik pengambilan sampel yang digunakan total sampling dengan jumlah 16 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa responden yang melakukan discharge planning sebelum diberikan edukasi sebanyak 10 (62,5%) perawat dan responden yang tidak melakukan discharge planning sebanyak 6 (37,5%) perawat. Sedangkan setelah diberikan edukasi diperoleh hasil sebanyak 14 (87,5%) perawat melakukan discharge planning dan responden yang tidak melakukan discharge planning sebanyak 2 (12,5%) perawat. Disarankan perawat dapat lebih termotivasi untuk melakukan discharge Planning sesuai dengan ketentuan yang digunakan di Ruang Nyimas Gandasari I RSD Gunung Jati Cirebon.