Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS GAYA BAHASA DALAM PUISI "DEBINGI DI LORONG" KARYA ADE SISKA Corry Miranda
Wiyata Budaya: Jurnal Pendidikan Dalam Konteks Humaniora Vol. 2 No. 1 (2025): Wiyata Budaya
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/wiyatabudaya.v2i1.1194

Abstract

This article aims to reveal and analyze the language style used in the poem Debingi di Lorong by Ade Siska. Poetry is a literary work that expresses the poet's thoughts and feelings imaginatively and is composed by prioritizing the power of language in physical and spiritual structures. The poem was chosen because it is rich in stylistic elements that reflect social and emotional realities in depth. The method used in this study is a qualitative-descriptive approach with textual analysis of the language structure of the poem. The results of the analysis show that Ade Siska uses various figures of speech such as metaphor, simile, personification, repetition, and sound elements such as alliteration and assonance to create aesthetic and emotional effects. The language style functions not only as a language decoration, but also strengthens the meaning and message to be conveyed, especially in describing inner tension and complex social atmosphere. Thus, this poem is not only a beautiful literary work, but also full of meaning and reflection on the life of society. Artikel ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisis gaya bahasa yang digunakan dalam puisi Debingi di Lorong karya Ade Siska. Puisi adalah karya sastra yang mengungkapkan oikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengutamakan kekuatan bahasa dalam struktur fisik dan batin. Puisi tersebut dipilih karena kaya akan unsur stilistika yang mencerminkan realitas sosial dan emosional secara mendalam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis tekstual terhadap struktur bahasa puisi. Hasil analisis menunjukkan bahwa Ade Siska menggunakan berbagai majas seperti metafora, simile, personifikasi, repetisi, serta unsur bunyi seperti aliterasi dan assonansi untuk menciptakan efek estetis dan emosional. Gaya bahasa tersebut berfungsi tidak hanya sebagai penghias bahasa, tetapi juga memperkuat makna dan pesan yang ingin disampaikan, terutama dalam menggambarkan ketegangan batin dan suasana sosial yang kompleks. Dengan demikian, puisi ini tidak hanya menjadi karya sastra yang indah, tetapi juga sarat makna dan refleksi atas kehidupan masyarakat.
MAKNA SIMBOLIS SIGER LAMPUNG SAIBATIN SEBAGAI WUJUD SENI BUDAYA MASYARAKAT LAMPUNG SAIBATIN Corry Miranda; Gian Rahma Renvillia
Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/tiyuhlampung.v9i2.813

Abstract

Siger Lampung Saibatin is a traditional crown which has a deep symbolic meaning in the culture of the Lampung people. This research aims to understand the philosophical and symbolic values ​​of Siger Lampung Saibatin as a representation of the cultural identity of the Saibatin tribe. Siger is not only traditional jewelry used in traditional ceremonies, such as weddings and other traditional processions, but also reflects the social structure, status and cultural values ​​of the Saibatin community. With seven distinctive curves, Siger Saibatin symbolizes seven traditional titles passed down from generation to generation. This research uses descriptive qualitative methods through observation, interviews, literature study, and direct documentation of the customs of the Saibatin community. The research results show that Siger is not only a cultural identity but also a means to strengthen the community's sense of pride and ownership of traditional heritage. Siger has become a symbol of unification and binding of the cultural identity of the Lampung Saibatin people. Therefore, preserving culture through promoting education, academic research, and developing a culture-based economy is very important. By preserving the Lampung Saibatin Siger, it is hoped that Lampung's cultural identity can remain alive and relevant amidst Indonesia's cultural diversity.   Siger Lampung Saibatin adalah mahkota tradisional yang memiliki makna simbolis mendalam dalam budaya masyarakat Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai filosofis dan simbolik Siger Lampung Saibatin sebagai representasi identitas budaya suku Saibatin. Siger tidak hanya menjadi perhiasan adat yang digunakan dalam upacara tradisional, seperti pernikahan dan prosesi adat lainnya, tetapi juga mencerminkan struktur sosial, status, dan nilai budaya masyarakat Saibatin. Dengan tujuh lekukan khas, Siger Saibatin melambangkan tujuh gelar adat yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi langsung dari adat istiadat masyarakat Saibatin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Siger tidak hanya sebagai identitas budaya tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat rasa kebanggaan dan kepemilikan masyarakat terhadap warisan tradisional. Namun, modernisasi dan kurangnya dukungan pemerintah mengancam keberlangsungan tradisi ini. Oleh karena itu, pelestarian budaya melalui promosi pendidikan, penelitian akademik, dan pengembangan ekonomi berbasis budaya menjadi sangat penting. Dengan melestarikan Siger Lampung Saibatin, diharapkan identitas budaya Lampung dapat tetap hidup dan relevan di tengah keberagaman budaya Indonesia.