Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kista Hidatid di Fossa Posterior: Ketika Infeksi Langka Menyerupai Tumor Otak Muhammad Lu’ai Maknun Saf; Muhammad Azzam Faaz; Gina Andyka Hutasoit; Arlin Rinni Tutu; Ika Magfirah; Franklin Lessyamana Sinanu
Aesculapius Medical Journal Vol 5 No 3 (2025): October
Publisher : Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/amj.5.3.2025.230-234

Abstract

Kista hidatid merupakan kista yang disebabkan oleh infeksi Echinococcus granulosus yang sering ditemui pada paru-paru dan hati. Kasus yang ditemukan saat ini merupakan termasuk kasus yang sangat langka, dimana berlokasi di otak. Kejadian kasus ini hanya mencakup sekitar 1–2% dari seluruh kasus. Kista hidatid intrakranial lebih sering ditemukan pada anak-anak, terutama di area supratentorial, sedangkan keterlibatan fossa posterior sangat jarang dilaporkan. Kasus ini pertama ditemukan di RSUD Undata, Palu, Sulawesi Tengah. Dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun yang datang dengan keluhan sakit kepala kronis dan kejang. Computed tomography (CT) kepala tanpa kontras menunjukkan massa kistik, berseptasi, berbatas tegas, tepi lobulated, non kalsifikasi, pada hemisfer cerebelli sisi kanan, menyempitkan ventrikel empat, mengakibatkan obstruktif hidrosefalus. Pasien menjalani ventriculoperitoneal (VP) shunt dan kraniotomi untuk eksisi lesi. Pemeriksaan histopatologi dilakukan sebagai penegakan diagnosis klinis, dimana menunjukkan adanya temuan khas yaitu brood capsul dan protoscolices. Memiliki manifestasi klinis yang sama seperti tumor otak, sehingga kista hidatik perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding pada lesi kistik di otak. Pemeriksaan CT scan dan konfirmasi histopatologi merupakan modalitas penting untuk diagnosis definitif. Tatalaksana utama adalah pembedahan dengan eksisi total disertai manajemen komplikasi seperti hidrosefalus. Laporan ini menyoroti pentingnya kewaspadaan klinisi terhadap presentasi atipikal kista hidatik fossa posterior agar tidak terjadi salah diagnosis sebagai neoplasma primer otak.  
Analisis Hubungan Tekanan Darah dengan Derajat Proteinuria pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Mamboro Kota Palu Citra Srikandhi; Intania Riska Putrie; Tri Setyawati; Devi Oktafiani; Muhammad Lu’ai Maknun Saf; Listawati Listawati; Dzaki Ahmad Fahrezi Amus
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026): JULI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58219

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi, termasuk gangguan fungsi ginjal seperti proteinuria yang merupakan salah satu indikator awal kerusakan ginjal. Namun, hubungan antara tekanan darah dan derajat proteinuria pada pasien hipertensi masih menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tekanan darah dengan derajat proteinuria pada pasien hipertensi di Puskesmas Mamboro Kota Palu. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 64 responden yang dipilih secara consecutive sampling. Pengukuran tekanan darah dilakukan menggunakan sphygmomanometer, sedangkan pemeriksaan proteinuria menggunakan metode dipstick urin, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia ≥60 tahun, didominasi perempuan, memiliki riwayat hipertensi ≥5 tahun, serta mayoritas mengonsumsi obat antihipertensi. Distribusi tekanan darah didominasi oleh hipertensi derajat 1, sedangkan hasil pemeriksaan proteinuria sebagian besar berada pada kategori negatif, dengan sebagian kecil menunjukkan hasil trace dan positif. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tekanan darah dengan derajat proteinuria (r = 0,051; p = 0,691), sehingga peningkatan tekanan darah tidak secara langsung berkaitan dengan peningkatan kadar protein urin pada responden. Meskipun demikian, pemeriksaan proteinuria tetap penting sebagai upaya deteksi dini gangguan fungsi ginjal pada pasien hipertensi.