Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi, termasuk gangguan fungsi ginjal seperti proteinuria yang merupakan salah satu indikator awal kerusakan ginjal. Namun, hubungan antara tekanan darah dan derajat proteinuria pada pasien hipertensi masih menunjukkan hasil yang tidak konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tekanan darah dengan derajat proteinuria pada pasien hipertensi di Puskesmas Mamboro Kota Palu. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 64 responden yang dipilih secara consecutive sampling. Pengukuran tekanan darah dilakukan menggunakan sphygmomanometer, sedangkan pemeriksaan proteinuria menggunakan metode dipstick urin, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia ≥60 tahun, didominasi perempuan, memiliki riwayat hipertensi ≥5 tahun, serta mayoritas mengonsumsi obat antihipertensi. Distribusi tekanan darah didominasi oleh hipertensi derajat 1, sedangkan hasil pemeriksaan proteinuria sebagian besar berada pada kategori negatif, dengan sebagian kecil menunjukkan hasil trace dan positif. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tekanan darah dengan derajat proteinuria (r = 0,051; p = 0,691), sehingga peningkatan tekanan darah tidak secara langsung berkaitan dengan peningkatan kadar protein urin pada responden. Meskipun demikian, pemeriksaan proteinuria tetap penting sebagai upaya deteksi dini gangguan fungsi ginjal pada pasien hipertensi.