Peningkatan jumlah lansia di Indonesia diikuti oleh meningkatnya prevalensi demensia yang belum diimbangi dengan perilaku pencarian layanan kesehatan yang optimal. Banyak lansia dengan demensia tidak terdeteksi dan terlambat mendapatkan penanganan akibat rendahnya health literacy dan keyakinan kesehatan yang keliru, seperti anggapan bahwa demensia merupakan proses penuaan normal. Kondisi ini memperlebar treatment gap dan meningkatkan beban keluarga serta sistem kesehatan. Penelitian ini menjadi urgen untuk mengidentifikasi peran health literacy dan health belief terhadap health seeking behavior sebagai dasar pengembangan intervensi keperawatan komunitas yang efektif dan berbasis bukti. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis hubungan health literacy dan health belief dengan health seeking behaviour pada lansia dengan demensia. Metode penelitian menggunakan desain penelitian yaitu deskriptif analisis korelasi dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen yaitu health literacy dan health belief serta variabel dependen yaitu health seeking behaviour. Penelitian dilakukan pada Bulan Januari 2025 di UPTD Puskesmas Dawe Kabupaten Kudus. Sampel penelitian sebanyak 106 lansia dengan Teknik purposive sampling. Kriteria Inklusi penelitian ini lansia yang berusia lebih dari 60 tahun, bisa membaca dan menulis, mampu berkomunikasi, dan tinggal di wilayah UPT Puskesmas Dawe. Kriteria Eksklusi, tidak mempunyai komplikasi penyakit berat, tidak disabilitas dan memiliki gangguan kognitif. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner health literacy 12, keyakinan Kesehatan HBM, dan perilaku pencarian bantuan kesehatan HCSBQ. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil Penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara health literacy dan health belief dengan health seeking behavior dengan nilai p value p=0,01 (p0,05).