Enggel Angraini
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Makna Simbolisme dalam Lima Cerpen Kumpulan Jreng Karya Putu Wijaya: Kajian Semiotika Roland Barthes : The Meaning of Symbolism in Five Short Stories from the Collection Jreng by Putu Wijaya: A Semiotic Study of Roland Barthes Enggel Angraini; Maizar Karim; Ade Bayu Saputra
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2762

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan simbol-simbol dalam kumpulan cerpen Jreng karya Putu Wijaya, mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos dari simbol-simbol tersebut, serta mendeskripsikan klasifikasi simbolisme yang terkandung berdasarkan pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika model Roland Barthes. Data dikumpulkan melalui teknik hermeneutik dan dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Teori klasifikasi simbolisme yang digunakan dalam analisis ini bersumber dari tipologi simbolisme Parsons yang mencakup aspek konstitutif, kognitif, evaluatif, dan ekspresif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol dalam kumpulan cerpen Jreng membentuk pola tematik yang mendalam: (1) dalam cerpen Cermin, simbol cermin merepresentasikan krisis identitas; (2) dalam cerpen Kepala, simbol kepala merepresentasikan hilangnya kesadaran kritis; (3) dalam cerpen Dede, sosok Dede merepresentasikan marginalisasi nilai kemanusiaan; (4) dalam cerpen Hak, simbol hak merepresentasikan perjuangan keadilan sosial; dan (5) dalam cerpen Suara, simbol suara merepresentasikan kebebasan berekspresi yang terbungkam. Keseluruhan simbol tersebut beroperasi pada tataran denotasi, konotasi, hingga terbentuknya mitos yang berfungsi sebagai media kritik sosial, refleksi psikologis, dan pengungkapan persoalan eksistensial manusia.