Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perbandingan Hasil Pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Bakteri Tahan Asam (BTA) pada Pasien HIV Positif di Puskesmas Panarung, Palangkaraya Faradila, Faradila; Ghiffary, Ahmad; Qomariah, Nurul; Risdiansyah, Risdiansyah; Akbar, Muhammad Chairil Rizkyta; Sari, Rahmita
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.10441

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) tetap menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, terutama pada pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV). Diagnosis TB pada pasien HIV sering kali mengalami kendala akibat beban basil yang rendah dan gejala klinis yang tidak khas. WHO merekomendasikan penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM) seperti GeneXpert, namun keterbatasan distribusinya menyebabkan mikroskopis Bakteri Tahan Asam (BTA) masih banyak digunakan di layanan primer. Tujuan: Menilai tingkat akurasi dan kesesuaian antara pemeriksaan TCM dan BTA dalam mendeteksi TB pada pasien HIV positif. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 38 pasien HIV dengan gejala TB di Puskesmas Panarung, Palangkaraya, antara Desember 2024 hingga Juli 2025. Semua responden menjalani pemeriksaan TCM dan BTA secara bersamaan. Analisis data dilakukan menggunakan uji McNemar dan perhitungan nilai Kappa Cohen untuk menilai kesesuaian antar metode diagnosis. Hasil: Seluruh kasus TB (100%) terdeteksi oleh TCM, sedangkan BTA hanya mendeteksi 35 dari 38 kasus (sensitivitas 92,1%; spesifisitas 100%). Nilai Kappa Cohen sebesar 0,78 menunjukkan kesesuaian substansial antara kedua metode. Namun demikian, TCM menunjukkan performa diagnostik yang lebih unggul, khususnya pada pasien dengan imunosupresi berat. Kesimpulan: TCM lebih sensitif dibandingkan BTA dalam mendeteksi TB pada pasien HIV dan sebaiknya dijadikan metode utama dalam skrining TB pada kelompok risiko tinggi. Peningkatan akses terhadap TCM di layanan primer sangat penting dalam mendukung eliminasi TB tahun 2030.