Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Integrasi Heutagogi, Peeragogy, dan Cybergogy Dalam Transformasi Pembelajaran Pendidikan Islam di Era Digital Muhammad Dodi Alfiansyah; Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Ahmad Yasin; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4976

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran pendidikan Islam. Transformasi tersebut menuntut adanya model pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru, tetapi juga mampu mendorong kemandirian belajar, kolaborasi, serta pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep heutagogy, peeragogy, dan cybergogy serta mengkaji integrasi ketiga pendekatan tersebut dalam transformasi pembelajaran pendidikan Islam di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data penelitian diperoleh dari berbagai literatur berupa buku, artikel jurnal ilmiah, prosiding, dan laporan penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa heutagogy menekankan kemandirian belajar peserta didik melalui konsep self-determined learning, peeragogy menekankan pembelajaran kolaboratif melalui interaksi antar peserta didik dalam komunitas belajar, sedangkan cybergogy menekankan pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran daring yang melibatkan aspek kognitif, emosional, dan sosial. Integrasi ketiga pendekatan tersebut dapat menciptakan model pembelajaran pendidikan Islam yang lebih adaptif, partisipatif, kolaboratif, dan inovatif di era digital. Dengan demikian, integrasi heutagogy, peeragogy, dan cybergogy berpotensi menjadi model transformasi pembelajaran pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan peserta didik pada era digital.
Analisis Indikator Evaluasi Empati dan Moderasi Beragama dalam PAI: Perspektif Kurikulum Berbasis Cinta Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Ahmad Yasin; Muhammad Dodi Alfiansyah; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4977

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan sosial siswa, termasuk pengembangan empati dan moderasi beragama. Namun, penerapan evaluasi yang sistematis terhadap kedua aspek tersebut masih memerlukan kajian mendalam, khususnya dalam konteks Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan indikator evaluasi empati dan moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan perspektif kurikulum berbasis cinta yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana indikator tersebut dapat diukur dan diimplementasikan dalam konteks sekolah multikultural. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis hubungan antara evaluasi empati dan sikap toleransi siswa, serta mengevaluasi reliabilitas penilaian guru dalam mengukur moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan menelaah berbagai literatur, jurnal, buku, dan artikel ilmiah yang kemudian direduksi dan dianalisis secara deduktif untuk merumuskan indikator evaluasi empati dan moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan perspektif kurikulum berbasis cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator evaluasi yang tepat melibatkan aspek afektif dan kognitif, di mana penilaian berbasis moderasi beragama dapat mempengaruhi pencegahan sikap eksklusivisme keagamaan di kalangan siswa. Oleh karena itu, asesmen autentik yang berfokus pada sikap inklusif sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran PAI di lingkungan sekolah multikultural.
Dinamika Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam Transnasional di Indonesia Serta Tantangan Bagi Madrasah dan Pesantren Ahmad Yasin; Muhammad Dodi Alfiansyah; Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei (on progress)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4978

Abstract

Tulisan ini berjudul “Tujuan Dinamika Pertumbuhan Dan Perkembangan Pendidikan Islam Transnasional Di Indonesia Serta Tantangannya Bagi Madrasah Dan Pesantren” membahas tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam tradisional, khususnya madrasah dan pesantren. Pendidikan Islam transnasional merujuk pada jaringan pemikiran, gerakan, dan lembaga pendidikan Islam yang memiliki keterkaitan dengan ideologi serta jaringan keislaman global di luar Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perkembangan pendidikan Islam transnasional di Indonesia serta implikasinya terhadap sistem pendidikan Islam yang telah lama berkembang dalam konteks keislaman lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan Islam transnasional di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain globalisasi pendidikan, mobilitas intelektual Muslim, jaringan organisasi dakwah internasional, serta perkembangan teknologi informasi. Fenomena ini memberikan kontribusi dalam memperkaya wacana keislaman dan mendorong pembaruan dalam sistem pendidikan Islam. Namun di sisi lain, keberadaannya juga menimbulkan sejumlah tantangan bagi madrasah dan pesantren, seperti munculnya perbedaan orientasi ideologi keagamaan, potensi pergeseran nilai-nilai Islam moderat, serta tantangan dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang kontekstual dengan budaya lokal Indonesia. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa madrasah dan pesantren perlu memperkuat identitas keislaman yang moderat, meningkatkan literasi keagamaan yang inklusif, serta mengembangkan kurikulum pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebudayaan lokal. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam di Indonesia dapat tetap relevan dan mampu menghadapi dinamika perkembangan pendidikan Islam di era globalisasi.
Internalisasi Etika Demokrasi Digital Berbasis Kearifan Lokal Bima dalam Penguatan Nasionalisme dan Persatuan Siswa Madrasah Munawir Hadi; Marzuki Marzuki; Muhammad Dodi Alfiansyah
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 5 (2025): Volume 5 Nomor 5 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/decive.v5i5.4306

Abstract

Ruang digital memperluas partisipasi siswa madrasah, tetapi juga memperbesar paparan hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi identitas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kecenderungan etika demokrasi digital berbasis kearifan lokal Bima dalam penguatan nasionalisme dan persatuan siswa MTsN 4 Bima. Penelitian menggunakan survei deskriptif kuantitatif terhadap 100 siswa melalui angket Likert 29 butir. Data dianalisis dengan persentase, rerata, kategori kecenderungan, dan reliabilitas Cronbach’s Alpha. Hasil menunjukkan reliabilitas keseluruhan 0,941; rerata etika demokrasi digital 4,45, nasionalisme 4,53, dan persatuan 4,46, semuanya sangat tinggi. Namun, skor tinggi dibaca secara kritis karena instrumen self report berpotensi mengandung bias kepatutan sosial dan belum membuktikan perilaku digital aktual. Temuan terendah terdapat pada ketahanan terhadap ujaran kebencian, penolakan konten pemecah belah, dan pengutamaan kepentingan bersama. Nilai Maja Labo Dahu, Nggahi Rawi Pahu, dan Tahompara Ndai Sura Dou Labo Dana dapat menjadi filter etis untuk menautkan literasi kritis, kesantunan digital, nasionalisme, dan persatuan dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
Asesmen Afektif dalam Pembelajaran PAI Berbasis Cinta; Sebuah Tinjauan Konseptual untuk Penguatan Karakter Religius Muhammad Dodi Alfiansyah; Lubna; Mukhlis
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 7 No. 2 (2026): May
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v7i2.1941

Abstract

Islamic Religious Education (IRE) plays a strategic role in shaping students’ religious character; however, learning evaluation in IRE remains predominantly cognitive-oriented, often neglecting affective dimensions that are central to character formation. This condition creates a gap between the ideal objectives of Islamic education and assessment practices in classrooms. Responding to this issue, this study aims to analyze the integration of affective assessment within love-based curriculum in Islamic Religious Education, examine its design and implementation, and explore its contribution to students religious character development. This research employs a qualitative approach using library research with a descriptive-conceptual design. Data were collected from scholarly journals, policy documents, and academic publications relevant to affective assessment, character education, Islamic education, and love-based curriculum. The data were analyzed using qualitative content analysis through data reduction, thematic categorization, and conceptual synthesis. The findings indicate that affective assessment based on a love-based curriculum shifts the assessment paradigm from judgment-oriented evaluation to humanistic and process-oriented assessment. Such integration emphasizes empathy, compassion, reflection, and meaningful teacher student relationships, enabling the internalization of Islamic values in students daily behavior. Furthermore, well-designed and authentically implemented affective assessment contributes significantly to the development of students religious character, including spiritual awareness, moral responsibility, and social ethics. This study implies that affective assessment should be positioned as an integral pedagogical instrument in Islamic Religious Education to support holistic and transformative learning aligned with the principles of love-based education.