Ahmad Yasin
Universitas Islam Negeri Mataram

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Integrasi Heutagogi, Peeragogy, dan Cybergogy Dalam Transformasi Pembelajaran Pendidikan Islam di Era Digital Muhammad Dodi Alfiansyah; Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Ahmad Yasin; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4976

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran pendidikan Islam. Transformasi tersebut menuntut adanya model pembelajaran yang tidak hanya berpusat pada guru, tetapi juga mampu mendorong kemandirian belajar, kolaborasi, serta pemanfaatan teknologi digital secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep heutagogy, peeragogy, dan cybergogy serta mengkaji integrasi ketiga pendekatan tersebut dalam transformasi pembelajaran pendidikan Islam di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data penelitian diperoleh dari berbagai literatur berupa buku, artikel jurnal ilmiah, prosiding, dan laporan penelitian yang relevan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa heutagogy menekankan kemandirian belajar peserta didik melalui konsep self-determined learning, peeragogy menekankan pembelajaran kolaboratif melalui interaksi antar peserta didik dalam komunitas belajar, sedangkan cybergogy menekankan pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran daring yang melibatkan aspek kognitif, emosional, dan sosial. Integrasi ketiga pendekatan tersebut dapat menciptakan model pembelajaran pendidikan Islam yang lebih adaptif, partisipatif, kolaboratif, dan inovatif di era digital. Dengan demikian, integrasi heutagogy, peeragogy, dan cybergogy berpotensi menjadi model transformasi pembelajaran pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan peserta didik pada era digital.
Analisis Indikator Evaluasi Empati dan Moderasi Beragama dalam PAI: Perspektif Kurikulum Berbasis Cinta Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Ahmad Yasin; Muhammad Dodi Alfiansyah; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4977

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan sosial siswa, termasuk pengembangan empati dan moderasi beragama. Namun, penerapan evaluasi yang sistematis terhadap kedua aspek tersebut masih memerlukan kajian mendalam, khususnya dalam konteks Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan indikator evaluasi empati dan moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan perspektif kurikulum berbasis cinta yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. Fokus utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana indikator tersebut dapat diukur dan diimplementasikan dalam konteks sekolah multikultural. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis hubungan antara evaluasi empati dan sikap toleransi siswa, serta mengevaluasi reliabilitas penilaian guru dalam mengukur moderasi beragama. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan menelaah berbagai literatur, jurnal, buku, dan artikel ilmiah yang kemudian direduksi dan dianalisis secara deduktif untuk merumuskan indikator evaluasi empati dan moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan perspektif kurikulum berbasis cinta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator evaluasi yang tepat melibatkan aspek afektif dan kognitif, di mana penilaian berbasis moderasi beragama dapat mempengaruhi pencegahan sikap eksklusivisme keagamaan di kalangan siswa. Oleh karena itu, asesmen autentik yang berfokus pada sikap inklusif sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran PAI di lingkungan sekolah multikultural.
Dinamika Pertumbuhan dan Perkembangan Pendidikan Islam Transnasional di Indonesia Serta Tantangan Bagi Madrasah dan Pesantren Ahmad Yasin; Muhammad Dodi Alfiansyah; Lalu Muhammad Fahmi Wirasaputra; Syamsul Arifin; Syarifudin Syarifudin
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 2 (2026): Mei
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i2.4978

Abstract

Tulisan ini berjudul “Tujuan Dinamika Pertumbuhan Dan Perkembangan Pendidikan Islam Transnasional Di Indonesia Serta Tantangannya Bagi Madrasah Dan Pesantren” membahas tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam tradisional, khususnya madrasah dan pesantren. Pendidikan Islam transnasional merujuk pada jaringan pemikiran, gerakan, dan lembaga pendidikan Islam yang memiliki keterkaitan dengan ideologi serta jaringan keislaman global di luar Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perkembangan pendidikan Islam transnasional di Indonesia serta implikasinya terhadap sistem pendidikan Islam yang telah lama berkembang dalam konteks keislaman lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pendidikan Islam transnasional di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, antara lain globalisasi pendidikan, mobilitas intelektual Muslim, jaringan organisasi dakwah internasional, serta perkembangan teknologi informasi. Fenomena ini memberikan kontribusi dalam memperkaya wacana keislaman dan mendorong pembaruan dalam sistem pendidikan Islam. Namun di sisi lain, keberadaannya juga menimbulkan sejumlah tantangan bagi madrasah dan pesantren, seperti munculnya perbedaan orientasi ideologi keagamaan, potensi pergeseran nilai-nilai Islam moderat, serta tantangan dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang kontekstual dengan budaya lokal Indonesia. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa madrasah dan pesantren perlu memperkuat identitas keislaman yang moderat, meningkatkan literasi keagamaan yang inklusif, serta mengembangkan kurikulum pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebudayaan lokal. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam di Indonesia dapat tetap relevan dan mampu menghadapi dinamika perkembangan pendidikan Islam di era globalisasi.
IMPLEMENTASI METODE TAHSIN IWR (ILMAN WA RUHAN) DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN Ahmad Yasin; Dwi Wahyudiati; Nurul Lailatul Khusniah; Ahmad Sulhan
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i2.10262

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the implementation of the Tahsin IWR (Ilman wa Ruhan) method in Qur'an learning at SMPIT Anak Sholeh Mataram. The study used a case study. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed using an interactive model that includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the implementation of the Tahsin IWR method was carried out through four main stages, namely opening, core activities, evaluation, and closing. This method integrates the scientific and spiritual dimensions in Qur'an learning. Learning takes place actively through direct practice of reading the Qur'an with teacher guidance. Evaluation is carried out continuously to correct student reading errors. The successful implementation of this method is supported by teacher competence, the availability of learning modules, a religious school environment, and student learning motivation. However, there are several obstacles, namely differences in student reading abilities, limited learning time, and lack of reading practice outside the classroom. This study concludes that the Tahsin IWR method is effective in improving Qur'an reading skills while shaping students' religious character. Therefore, this method is worthy of being developed as a Qur'an learning model in Islamic educational institutions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode Tahsin IWR (Ilman wa Ruhan) dalam pembelajaran Al-Qur’an di SMPIT Anak Sholeh Mataram. Penelitian menggunakan study kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi metode Tahsin IWR dilaksanakan melalui empat tahapan utama, yaitu pembukaan, kegiatan inti, evaluasi, dan penutup. Metode ini mengintegrasikan dimensi keilmuan dan spiritual dalam pembelajaran Al-Qur’an. Pembelajaran berlangsung secara aktif melalui praktik langsung membaca Al-Qur’an dengan bimbingan guru. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan untuk memperbaiki kesalahan bacaan siswa. Keberhasilan implementasi metode ini didukung oleh kompetensi guru, ketersediaan modul pembelajaran, lingkungan sekolah yang religius, dan motivasi belajar siswa. Namun, terdapat beberapa kendala, yaitu perbedaan kemampuan membaca siswa, keterbatasan waktu pembelajaran, dan kurangnya latihan membaca di luar kelas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode Tahsin IWR efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus membentuk karakter religius peserta didik. Oleh karena itu, metode ini layak dikembangkan sebagai model pembelajaran Al-Qur’an di lembaga pendidikan Islam.