Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Manajemen Peserta Didik di MTs Persis Lempong Garut Salman Fathurohman
TADBIR MUWAHHID Vol. 6 No. 1 (2022): Tadbir Muwahhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/jtm.v6i1.5150

Abstract

Banyak madrasah yang kurang memperhatikan manajemen peserta didik, sehingga kualitas dari lembaga tersebut kurang memuaskan, mulai dari proses perekrutan sampai peserta didik lulus. Penelitian dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen peserta didik di MTs Persis Lempong Garut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dimaksudkan untuk mengeksplorasi suatu gejala, sebuah fenomena atau realitas sosial yang ada. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data mengklasifikasi data dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun tahapan menganalisis data yaitu reduksi, display, dan verifikasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen peserta didik di MTs Persis Lempong Garut teraplikasi ke dalam 8 tahapan utama, yaitu:  analisis kebutuhan, rekrutmen peserta didik, seleksi peserta didik, orientasi peserta didik, penempatan peserta didik, pembinaan dan perkembangan peserta didik, pencatatan dan pelaporan peserta didik, serta kelulusan peserta didik dan alumni. Masing-masing tahapan kegiatan sangat menunjang pembelajaran dan pencapaian tujuan pendidikan.
Kontekstualisasi Konsep Ulul Albab dalam Al-Qur'an sebagai Tujuan Pendidikan Islam di Era Transformasi Digital Fathurohman, Salman
Al Mudzakarah Vol. 2 No. 2 (2025): Al Mudzakarah: Journal of Islamic Studies
Publisher : LPPM IAI PERSIS GARUT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65876/jis.v2i2.123

Abstract

Digital transformation presents new challenges for Islamic education, particularly in maintaining holistic and Qur’anic-oriented educational goals amid rapid technological advancement. Islamic education is required not only to produce learners who are technologically competent but also spiritually grounded, intellectually reflective, and morally responsible. One of the fundamental Qur’anic concepts relevant to this objective is Ulul Albab. This study aims to conceptualize Ulul Albab holistically as a goal of Islamic education in the era of digital transformation, analyze its relevance and implications for curriculum design and learning strategies, and formulate an Ulul Albab-based conceptual framework for contemporary Islamic education. This research employs a qualitative approach through a conceptual study and thematic analysis of Qur’anic verses related to Ulul Albab, particularly Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 190–191 and Q.S. Az-Zumar [39]: 9, supported by classical and contemporary Qur’anic exegesis. The findings indicate that Ulul Albab encompasses spiritual, intellectual, moral, and social dimensions that remain highly relevant as a normative foundation for value-oriented and ethical Islamic education in the digital age.
Ulul Albab Leadership and the Challenges of the Commodification of Education: A Philosophical Review Salman Fathurohman; Riyan Nuryadin; Agi Kurniawan; Ridwan Awaludin
TA'DIB: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 2 (2025): TADIB: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Al-Mas'udiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69768/jt.v3i2.103

Abstract

The phenomenon of the commodification of education has shifted the orientation of education from the formation of holistic human beings toward an economic instrument governed by market logic, efficiency, and profitability. This shift has contributed to a crisis of moral and intellectual leadership within educational institutions, where leaders tend to prioritize technocratic management over humanistic and ethical values. This article examines the commodification of education from a philosophical perspective and proposes the concept of Ulul Albab leadership as an alternative paradigm. Ulul Albab integrates three dimensions: dhikr (transcendental consciousness), fikr (critical rationality), and ‘amal (ethical–social responsibility), enabling educational leadership to be normative, reflective, and transformative in nature. This paradigm serves as an ethical critique of the dominance of market logic while simultaneously providing a philosophical framework for developing educational policies, organizational cultures, and practices that are inclusive, equitable, and oriented toward holistic human development. This study employs a qualitative approach based on a literature review of philosophical works and Islamic educational thought. The findings indicate that Ulul Albab leadership is not only normatively relevant but also carries practical implications for the management of contemporary educational institutions in the era of globalization and digitalization.
Epistemologi Pendidikan Islam Berbasis Tauhid: Tantangan dan Relevansinya di Era Digital Agi Kurniawan; Ena Sumpena; Salman Fathurohman; Ridwan Abdalloh
TA'DIB: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 1 No 2 (2023): TADIB: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Al-Mas'udiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69768/jt.v1i2.107

Abstract

This study aims to analyze the epistemology of Islamic education based on tawhid and to examine its challenges and relevance in the digital era. The rapid development of digital technology has transformed the ways in which people acquire, manage, and disseminate knowledge, thereby creating a need to reconstruct the paradigm of Islamic education so that it remains rooted in divine values. This research employs a qualitative approach with a library research design, drawing upon various scholarly works related to Islamic epistemology, tawhid-based education, and digital transformation in education. The data were analyzed using content analysis techniques to identify the relationship between the concept of tawhid and the dynamics of contemporary learning. The findings reveal that tawhid serves as an epistemological foundation that positions revelation as the primary source of knowledge, which is then integrated with reason and empirical experience in the educational process. The main challenges in the digital era include information overload, a crisis of scholarly authority, the secularization of knowledge, and the weakening of spiritual value internalization in online learning environments. Nevertheless, the digital era also offers significant opportunities for the development of Islamic education through the utilization of technology as a medium for broader and more inclusive knowledge dissemination. This study affirms that the epistemology of Islamic education based on tawhid remains relevant as a foundation for building an integrative, critical, and value-oriented educational system aimed at forming individuals who are faithful, knowledgeable, and morally grounded amid the ongoing changes of the modern era.
Mahabbah Kepada Allah Sebagai Tujuan Utama Pendidikan: Analisis Tematik Atas Tafsir Ibnu Katsir Agi Kurniawan; Salman Fathurohman
Jurnal Pendidikan Educandum Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan Educandum
Publisher : Fakultas Pendidikan IAI Pangeran Dharma Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55656/jpe.v6i1.562

Abstract

Pendidikan yang hakiki tidak sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga membimbing peserta didik menuju kesadaran akan tujuan hidup yang bersumber dari nilai-nilai ketuhanan. Dalam praktik pendidikan Islam modern, aspek spiritual sering kali terabaikan, sehingga proses pembelajaran lebih berfokus pada aspek kognitif dan bersifat mekanis. Berangkat dari hal ini, penelitian ini mengajukan dua pertanyaan: (1) bagaimana Ibnu Katsir menafsirkan konsep mahabbah (cinta) kepada Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’an?, dan (2) bagaimana relevansi konsep tersebut sebagai orientasi pendidikan masa kini? Tujuan penelitian adalah mengkaji makna mahabbah dalam Tafsir Ibnu Katsir dan menganalisis relevansinya bagi pendidikan kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan dan analisis tafsir tematik. Data diperoleh dari sumber-sumber primer seperti Al-Qur’an, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhīm karya Ibnu Katsir, serta literatur pendukung seperti buku dan jurnal ilmiah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahabbah kepada Allah dalam penafsiran Ibnu Katsir bukan sekadar perasaan religius, melainkan kesadaran spiritual tertinggi yang terwujud dalam ketaatan kepada Rasulullah ﷺ, ketekunan dalam beramal saleh, dan komitmen terhadap ajaran Islam. Dengan demikian, cinta kepada Allah menjadi pondasi keimanan yang harus dibuktikan melalui ketaatan, kesetiaan, dan perbuatan baik. Konsep ini sangat relevan dijadikan dasar pendidikan Islam karena memadukan aspek spiritual, moral, dan emosional dalam pembelajaran. Nilai mahabbah tidak hanya mendorong pemahaman agama, tetapi juga penerapannya secara konsisten, sehingga pendidikan dapat membentuk insan yang paripurna: beriman, berilmu, dan berakhlak luhur.