Castia Stephani Sinaga
Universitas Sumatera Utara

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELESTARIAN BAHASA BATAK TOBA DI ERA GLOBALISASI : KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK Yohana Dwikartika Hutabarat; Immanuel Silaban; Castia Stephani Sinaga; Eldawati Limbong; Dani Maichel Gultom; Robert Sibarani
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1162

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh globalisasi terhadap penggunaan bahasa Batak Toba, mengidentifikasi faktor sosial-budaya yang memengaruhi vitalitasnya, dan merumuskan strategi pelestarian yang efektif. Menggunakan pendekatan etnografi dengan observasi partisipatif dan studi dokumentasi, penelitian menemukan adanya pergeseran bahasa yang signifikan.Globalisasi melalui media digital dan pendidikan formal mendorong dominasi Bahasa Indonesia di kalangan generasi muda, terutama di wilayah urban. Anak muda cenderung melihat bahasa daerah "kurang praktis," dan hanya menggunakannya dalam konteks informal atau adat. Fenomena ini menunjukkan adanya diglossia dan penurunan penggunaan lisan yang kontras dengan kekuatan bahasa dalam dokumentasi tradisional (adat dan gereja).Faktor kunci pelestarian meliputi peran keluarga sebagai ruang transmisi bahasa, dan sikap positif terhadap identitas etnis. Strategi pelestarian yang paling efektif adalah pendekatan hibrid, menggabungkan digitalisasi (aplikasi, kamus digital, gamifikasi, konten kreatif) dan revitalisasi tradisi (penggunaan bahasa dalam upacara adat dan kurikulum lokal), didukung oleh kolaborasi komunitas dan kebijakan pemerintah. Penelitian ini berkontribusi pada literatur antropolinguistik dan menawarkan rekomendasi praktis untuk menjaga kesinambungan bahasa Batak Toba sebagai warisan budaya di era modern.
Tradisi Songgot-Songgot Di Desa Aloban Bair : Kajian Tradisi Lisan Yohana Dwikartika Hutabarat; Castia Stephani Sinaga; Eldawati Limbong; Dion Nardi Pangaribuan; Immanuel Silaban
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10290

Abstract

The oral tradition of Songgot-Songgot among the Toba Batak people in Aloban Bair Village, Central Tapanuli, is a secret ritual known as mangupa/mangelek tondi, performed to restore the spirit following a disaster, including the flash flood of November 2025 that claimed 11 lives and triggered a trauma crisis, as well as the TNI’s piping project in April 2026. This qualitative study based on secondary data documents the 7 ritual stages (manggogot—scattering yellow rice and eggs; dekke nai arsik; mandok hata; tangiang; ulos Habonaran), symbolic meanings (reconstruction of the tondi; the duality of life and protection), and a 300% increase in frequency following the disaster. The findings confirm its effectiveness as communal psychospiritual therapy (85% recovery rate among victims), the assimilation of Protestant Christianity (97.65% of GKPI residents), and digital adaptation in the face of globalization and youth migration. Preservation strategies include audiovisual documentation, integration of trauma healing by the Social Services Department, indigenous school curricula, “Songgot Aloban” tourism (potential revenue of Rp500 million/year), and recommendations for a Central Tapanuli Regency Regulation. The research fills a gap in local linguistic anthropology, supports post-disaster policies, and revitalizes Batak Toba identity as a sustainable asset.