Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Digitalisasi Supply Chain Kuliner Khas Mataram untuk Menjaga Kesegaran Ayam Taliwang hingga ke Tangan Konsumen Luar Daerah Widia Febriana; Amalia Rosada; Ezar Amrullah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.6274

Abstract

Ayam Taliwang merupakan ikon gastronomi khas Kota Mataram yang memiliki potensi besar untuk dipasarkan secara nasional. Namun, karakteristik produk yang mudah rusak (perishable) menyebabkan distribusi ke luar daerah menghadapi tantangan serius, terutama dalam menjaga kesegaran, kualitas rasa, dan keamanan pangan selama proses pengiriman. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi digitalisasi supply chain sebagai strategi dalam menjaga kualitas Ayam Taliwang hingga sampai ke tangan konsumen luar daerah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menelaah titik-titik kritis dalam rantai pasok konvensional, mulai dari pengelolaan bahan baku di tingkat peternak, proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi last-mile antarpulau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) melalui sensor pemantauan suhu dan kelembapan secara real-time mampu mengurangi risiko kerusakan produk selama proses distribusi. Selain itu, integrasi sistem manajemen inventaris digital membantu pelaku usaha dalam mengontrol stok, memantau umur simpan produk, dan mempercepat koordinasi antara produsen, distributor, dan penyedia jasa logistik. Digitalisasi supply chain juga meningkatkan transparansi data distribusi sehingga pelaku usaha dapat melakukan pengambilan keputusan secara lebih cepat dan akurat ketika terjadi gangguan pada rantai dingin (cold chain). Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi digital pada rantai pasok kuliner tradisional menjadi kebutuhan strategis bagi UMKM kuliner di Kota Mataram untuk memperluas pasar nasional tanpa mengorbankan kualitas produk. Pemanfaatan teknologi digital tidak hanya meningkatkan efisiensi distribusi dan daya saing usaha, tetapi juga mendukung keberlanjutan bisnis kuliner lokal di era ekonomi digital.
Digitalisasi Supply Chain Kuliner Khas Mataram untuk Menjaga Kesegaran Ayam Taliwang Hingga ke Tangan Konsumen Luar Daerah Widia Febriana; Amalia Rosada; Ezar Amrullah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8454

Abstract

Ayam Taliwang merupakan ikon gastronomi Kota Mataram yang menghadapi tantangan besar dalam ekspansi pasar ke luar daerah, terutama terkait retensi kesegaran produk dan kompleksitas distribusi. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi digitalisasi supply chain sebagai solusi atas kerentanan kualitas produk kuliner tradisional yang bersifat perishable (mudah rusak). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menyoroti titik-titik kritis dalam rantai pasok konvensional, mulai dari pengelolaan bahan baku di tingkat peternak, proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi last-mile ke luar pulau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi berbasis Internet of Things (IoT) untuk pemantauan suhu secara real-time serta integrasi sistem manajemen inventaris digital mampu meminimalisir risiko kerusakan produk selama proses distribusi. Digitalisasi supply chain tidak hanya mendukung pengawasan pergerakan fisik barang, tetapi juga meningkatkan transparansi data dan efisiensi koordinasi antara produsen Ayam Taliwang dengan pihak logistik. Selain itu, sinkronisasi informasi dalam sistem rantai dingin (cold chain) terbukti berperan penting dalam menjaga kualitas, higienitas, dan cita rasa autentik produk hingga sampai ke tangan konsumen di luar daerah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi digital dalam rantai pasok merupakan kebutuhan strategis bagi UMKM kuliner di Kota Mataram untuk memperluas jangkauan pasar nasional tanpa mengorbankan kualitas produk. Dengan dukungan teknologi digital, UMKM kuliner tradisional memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan daya saing, efisiensi distribusi, dan keberlanjutan usaha di era ekonomi digital.
Pelatihan Simulasi Menggunakan Software Flexsim Muhammad Ari Kurniawan; Wahyu Sidiq Saputra; Ezar Amrullah; Adhisty Kartika Dewi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Wadah Publikasi Cendekia Vol 3 No 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat WPC
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/jpmwpc.v3i1.710

Abstract

Seiring perkembangan industri yang sangat pesat, seringkali sektor manufaktur menggunakan teknologi dalam mengembangkan usahanya. Untuk mencukupi pesatnya perkembangan dalam teknologi perlu adanya kemampuan untuk mengoperasikan perangkat lunak atau sofware simulasi. Pelatihan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat ini diselenggarakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam bidang simulasi tata letak industri. Kegiatan ini dirancang untuk mengatasi kesenjangan antara kurikulum perkuliahan dan kebutuhan dunia industri yang terus berkembang, khususnya dalam pemanfaatan teknologi simulasi berbasis perangkat lunak. Adapun tujuan spesifik dari pelatihan ini meliputi: (1) meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai konsep dasar dan penerapan simulasi tata letak; (2) mengembangkan keterampilan dalam merancang tata letak sistem industri secara sistematis dan Visualisasi dalam bentuk 3D yang dihasilkan melalui perangkat lunak Flexsim sangat bermanfaat dalam memberikan gambaran yang lebih realistis dan rinci mengenai proses dan alur kerja di lingkungan industri. Pelatihan ini dimulai dengan penyampaian informasi dan edukasi mengenai konsep dasar serta penerapan model simulasi tata letak menggunakan Flexsim melalui kegiatan daring selanjutnya untuk pelaksanaan pelatihan simulasi menggunakan sofware Flexsim untuk pembuatan layout industri dilaksanakan secara hybrid, yaitu melalui kombinasi metode daring dan luring, guna memberikan fleksibilitas dan aksesibilitas yang lebih luas bagi seluruh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pelatihan Flexsim ini berhasil meningkatkan kompetensi peserta dalam memahami konsep simulasi. Para peserta menunjukkan antusiasme dan kesungguhan yang tinggi selama proses pelatihan berlangsung. Tingkat pemahaman peserta terhadap materi tergolong baik, yang terlihat dari inisiatif mereka untuk membeli perangkat komputer atau laptop sendiri agar dapat mempelajari perangkat lunak Flexsim secara mandiri di rumah.
Determination of critical factors in the supply chain management of palmyra crafts using SWOT-AHP Ezar Amrullah; Purwanto Purwanto; Rahayu Praya Ningsih
Review of Management, Accounting, and Business Studies Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38043/revenue.v5i2.5663

Abstract

This study analyzed the critical factors in the supply chain management of the Palmyra handicraft industry in Central Lombok, Indonesia, using a SWOT-AHP methodology. The research aimed to identify strategic directions to enhance the industry's development by addressing strengths, weaknesses, opportunities, and threats. The findings highlighted key strengths such as increasing product demand, availability of raw materials, and high product quality. Conversely, weaknesses included limited financial capital, inadequate marketing capabilities, and the absence of a centralized production facility. Opportunities identified encompassed access to partnerships and capital, institutional support, and the application of appropriate technologies. However, threats such as raw material scarcity, declining interest among artisans, and rising supply chain costs posed significant challenges. The research concluded that prioritizing strengths and addressing critical weaknesses were vital for sustaining and growing the Palmyra handicraft industry. These insights provided actionable strategies for stakeholders to enhance competitiveness and operational efficiency.
Identifikasi Waste Pada Proses Double Saw Dalam Produksi Plywood Dengan Pendekatan Lean Manufacturing: Analisis Hambatan Ezar Amrullah; Dany Darma
JERA : Journal of Engineering Research and Application Vol 5 No 1 (2026): JERA : Journal of Engineering Research and Application
Publisher : Fakultas Teknik dan Rekayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51792/6fqmj115

Abstract

Penelitian ini menganggap pemborosan (waste) dalam proses double saw produksi plywood di Indonesia merupakan isu yang krusial yang berdampak pada efisiensi, biaya, dan keberlanjutan. Fokus penelitian tidak terbatas pada identifikasi jenis waste, tetapi juga pada analisis hambatan implementasi lean manufacturing menggunakan integrasi metode AHP-SAW. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi jenis waste dominan pada proses pemotongan plywood serta mengkaji hambatan yang menghalangi penerapan lean manufacturing di PT. XYZ, Jawa Tengah. Data penelitian dikumpulkan dengan metode observasi dan kuesioner kepada para pakar. Metode Borda dimanfaatkan untuk menentukan prioritas waste, sedangkan integrasi AHP-SAW dikembangkan untuk menentukan hambatan implementasi lean manufacturing berdasarkan lima kriteria kinerja (biaya, kualitas, waktu, fleksibilitas, dan inventory). Penelitian ini menunjukkan 3 waste dominan, yaitu waiting, inappropriate processing, dan defects. Hambatan utama implementasi lean mencakup aspek lemahnya komitmen manajemen, sistem evaluasi kinerja yang tidak memadai, keterbatasan fasilitas, resistensi pekerja, dan keterbatasan finansial. Penelitian ini menekankan pentingnya perbaikan waktu setup mesin, penguatan komitmen manajemen, serta peningkatan keterampilan pekerja. Implikasi praktisnya adalah diperlukan usaha proaktif yang mencakup aspek struktural, relasional, dan teknologi untuk memastikan keberhasilan implementasi lean manufacturing. Keberhasilan implementasi lean tidak hanya bergantung pada eliminasi waste, tetapi juga pada kemampuan organisasi untuk mengatasi hambatan struktural, relasional, dan teknologi.